Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani #4

Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani mengatakan bahwa para ulama dan orang-orang yang murni menyembah Allah Ta’ala di dunia itu sangat banyak. Banyak sekali. Sampai tidak terhitung dari saking banyaknya. Di tengah banyaknya jumlah ulama dan orang-orang yang murni menyembah itu sangat sedikit orang yang mencari ridaNya.

Kenapa orang yang ingin mencapai rida Allah Ta’ala itu sedikit sekali, setidaknya kalau dibandingkan dengan jumlah ulama dan orang-orang yang murni menyembah hadiratNya? Karena ingin untuk menjadi ulama itu bisa dipelajari dan ingin menyembah hadiratNya dengan benar juga bisa dipelajari.

Tapi untuk mencapai rida hadiratNya? Sebentar dulu. Rida itu merupakan puncak kedudukan rohani tertinggi. Ada ulama yang mengatakan bahwa puncak kedudukan yang tertinggi itu adalah cinta. Baik rida maupun cinta, subjeknya itu adalah Allah Ta’ala, tak mungkin manusia, manusia hanyalah merupakan obyek.

Dari sini kemudian menjadi jelas kenapa jumlah orang yang menjadi ulama sedemikian banyak, kenapa orang yang mengabdi hadiratNya dengan benar juga banyak. Sementara orang yang ingin mencapai ridaNya itu sangat sedikit, orang yang ingin mencapai cintaNya juga sedikit.

Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani juga mengatakan bahwa hati yang paling bercahaya itu adalah hati yang di dalamnya tidak bersemayam makhluk apa pun. Di dalam hati itu hanya ada satu hal, tidak ada apa pun yang lainnya. Hati itu hanya menyimpan Allah Ta’ala.

Berarti dengan demikian, keluarkan apa pun dari dalam hati itu, agar ia senantiasa bercahaya, biarlah ia menjadi “tempat” persemayaman bagi Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya hati itu hanyalah merupakan persinggahan bagi hadiratNya, satu-satunya. Bukan merupakan tempat bagi sesuatu yang lain.

Dan paling utamanya perbuatan, masih menurut Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani, adalah perbuatan yang di dalamnya tidak ada pikiran tentang makhluk. Yang ada hanyalah renungan tentang keagungan Allah Ta’ala, yang ada hanyalah renungan tentang keindahan hadiratNya, titik.

Rezeki yang halal, menurut beliau, adalah rezeki yang diperoleh dengan cara yang benar dan didapat dengan segenap kesungguhanmu. Rezeki yang halal itu sangat penting untuk keberlangsungan sembah sujud kita kepada Allah Ta’ala, bukan asal rezeki bisa kita konsumsi.

Dan teman terbaik itu, menurut beliau, adalah orang yang hidupnya semata murni karena Allah Ta’ala. Rasanya tidak mudah untuk mendapatkan orang seperti yang diinginkan oleh Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani itu. Di antara seribu orang, mungkin hanya satu atau dua orang yang memenuhi kriteria tersebut.

Sungguh tidak mudah untuk mendapatkan kawan seperti yang diinginkan oleh beliau, apalagi di sebuah zaman seperti sekarang ini, di mana kesenangan nafsu menjadi panglima dan mesti diikuti oleh dimensi hidup yang lain. Mengikuti zaman sekarang, kita akan menjadi hancur karenanya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!