Puisi Muhammad Aswar

Di Iran, Setelah Ribuan Malam

 

1.

Di tahun pertama perang,

mereka bermain raja dan ratu,

menghitung bintang di langit sujud,

suara air dari kolam-kolam bundar,

gema sandal di lorong Isfahan,

dan nama-nama anak

yang belum tahu cara lari dari suara.

 

Lalu perang tumbuh dewasa,

menyusun aturan baru:

pemenangnya adalah

yang pulang sendiri,

dengan kantong-kantong cerita

dan mata yang tak lagi memuat langit.

 

Kini pemenang itu

menapaki debu

dengan cara yang tak mengusik siapa pun,

memakai kalung

dengan liontin setengah sayap,

dan tugas berikutnya:

melupakan yang lainnya.

 

Perang menua

meninggalkan pecahan tembikar,

salinan puisi,

dan surat-surat yang menguning

bersama nama-nama

yang tak lagi diucap.

 

2.

Seribu tahun sejak Ferdowsi

menyusun Shahnameh.

Teheran runtuh diam-diam,

dan aku terdampar

di lorong Zahhak.

 

Bayangan datang

dan pergi

melewati retakan dinding.

Tak satu pun mirip Rustam.

Ia dulu akan menempuh tujuh gunung

demi secangkir teh

yang kupanaskan perlahan.

 

Kini tehnya dingin.

Dan dingin,

tak jarang lebih tajam dari kematian.

 

3.

Kendi ini kutemukan

di antara jeda listrik dan udara.

Sepi membuatnya tampak seperti warisan.

Di dalamnya,

tumbuh sesuatu

yang bahkan Jamshid tak sempat beri nama.

 

Akan kutunjukkan pada Rustam,

saat ia tiba dari utara.

Kami akan melintasi

padang, jalan, dan perbatasan,

dan siapa pun yang menghirupnya

akan tahu

apa yang tak bisa diselamatkan.

 

Asal Rustam tidak terlambat

untuk mendengar

lagu ini,

yang hampir tak sempat kutulis.

 

4.

Kalau Rustam datang,

akan kuberikan daftar-daftar yang kubuat

untuk menipu waktu:

daftar makanan yang susah didapat,

buku yang hilang dalam penggerebekan,

teman yang tak lagi menyapa,

lagu-lagu yang dibisukan,

kota-kota yang kutulis

di balik label teh,

dan daftar hal kecil

dengan catatan di pinggir:

kami masih di sini.

 

5.

Seolah aku mendengar musik

dari retakan tembok,

seolah bisa kucium mawar Shiraz,

dan bau pasir dari Karaj,

seolah kusentuh langit

yang gugur dari kata “bertahan,”

seolah kulihat pesan pendek

yang tak pernah sampai,

seolah aku seekor burung

yang hanya membawa bulu.

 

6.

Bumi mengitari matahari

sekali lagi—

tanpa musim,

tanpa perayaan,

tanpa negeri

yang terasa seperti rumah.

 

Bayanganku

terjebak dalam botol minyak,

memantulkan:

lukisan taman denganmu di tengahnya,

cahaya di balik kain jendela,

aksara Hafez

yang ditulis di balik nota toko,

keramik retak,

napas terakhir,

dan buah delima

dengan biji berserak

di reruntuhan Persepolis.

 

7.

Di Iran,

setelah ribuan malam,

seseorang akan bicara pada seseorang lainnya.

Warung teh akan buka

untuk pelanggan lama.

Langkah kecil

akan kembali terdengar

di lorong tua Qazvin.

Burung akan terbang

dan dibiarkan pergi.

Perempuan akan berjalan

tanpa memeluk bayang-bayang.

 

Laki-laki akan menyebut nama mereka

tanpa menyusutkan suara.

Anak-anak akan belajar

tentang planet,

bukan tentang penjara.

Ayam-ayam desa

tak lagi mengais

tubuh manusia.

 

Perdebatan akan berlangsung

tanpa peluru.

Awan akan lewat

di atas motor menuju toko roti.

Sebuah tangan akan melambai

tanpa alasan.

 

Matahari akan terbit

bagi yang bangun

dan bagi yang tidak.

Dan sesuatu yang biasa

akan kembali terjadi

di bawah matahari.

Muhammad Aswar
Latest posts by Muhammad Aswar (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!