
Di Iran, Setelah Ribuan Malam
1.
Di tahun pertama perang,
mereka bermain raja dan ratu,
menghitung bintang di langit sujud,
suara air dari kolam-kolam bundar,
gema sandal di lorong Isfahan,
dan nama-nama anak
yang belum tahu cara lari dari suara.
Lalu perang tumbuh dewasa,
menyusun aturan baru:
pemenangnya adalah
yang pulang sendiri,
dengan kantong-kantong cerita
dan mata yang tak lagi memuat langit.
Kini pemenang itu
menapaki debu
dengan cara yang tak mengusik siapa pun,
memakai kalung
dengan liontin setengah sayap,
dan tugas berikutnya:
melupakan yang lainnya.
Perang menua
meninggalkan pecahan tembikar,
salinan puisi,
dan surat-surat yang menguning
bersama nama-nama
yang tak lagi diucap.
2.
Seribu tahun sejak Ferdowsi
menyusun Shahnameh.
Teheran runtuh diam-diam,
dan aku terdampar
di lorong Zahhak.
Bayangan datang
dan pergi
melewati retakan dinding.
Tak satu pun mirip Rustam.
Ia dulu akan menempuh tujuh gunung
demi secangkir teh
yang kupanaskan perlahan.
Kini tehnya dingin.
Dan dingin,
tak jarang lebih tajam dari kematian.
3.
Kendi ini kutemukan
di antara jeda listrik dan udara.
Sepi membuatnya tampak seperti warisan.
Di dalamnya,
tumbuh sesuatu
yang bahkan Jamshid tak sempat beri nama.
Akan kutunjukkan pada Rustam,
saat ia tiba dari utara.
Kami akan melintasi
padang, jalan, dan perbatasan,
dan siapa pun yang menghirupnya
akan tahu
apa yang tak bisa diselamatkan.
Asal Rustam tidak terlambat
untuk mendengar
lagu ini,
yang hampir tak sempat kutulis.
4.
Kalau Rustam datang,
akan kuberikan daftar-daftar yang kubuat
untuk menipu waktu:
daftar makanan yang susah didapat,
buku yang hilang dalam penggerebekan,
teman yang tak lagi menyapa,
lagu-lagu yang dibisukan,
kota-kota yang kutulis
di balik label teh,
dan daftar hal kecil
dengan catatan di pinggir:
kami masih di sini.
5.
Seolah aku mendengar musik
dari retakan tembok,
seolah bisa kucium mawar Shiraz,
dan bau pasir dari Karaj,
seolah kusentuh langit
yang gugur dari kata “bertahan,”
seolah kulihat pesan pendek
yang tak pernah sampai,
seolah aku seekor burung
yang hanya membawa bulu.
6.
Bumi mengitari matahari
sekali lagi—
tanpa musim,
tanpa perayaan,
tanpa negeri
yang terasa seperti rumah.
Bayanganku
terjebak dalam botol minyak,
memantulkan:
lukisan taman denganmu di tengahnya,
cahaya di balik kain jendela,
aksara Hafez
yang ditulis di balik nota toko,
keramik retak,
napas terakhir,
dan buah delima
dengan biji berserak
di reruntuhan Persepolis.
7.
Di Iran,
setelah ribuan malam,
seseorang akan bicara pada seseorang lainnya.
Warung teh akan buka
untuk pelanggan lama.
Langkah kecil
akan kembali terdengar
di lorong tua Qazvin.
Burung akan terbang
dan dibiarkan pergi.
Perempuan akan berjalan
tanpa memeluk bayang-bayang.
Laki-laki akan menyebut nama mereka
tanpa menyusutkan suara.
Anak-anak akan belajar
tentang planet,
bukan tentang penjara.
Ayam-ayam desa
tak lagi mengais
tubuh manusia.
Perdebatan akan berlangsung
tanpa peluru.
Awan akan lewat
di atas motor menuju toko roti.
Sebuah tangan akan melambai
tanpa alasan.
Matahari akan terbit
bagi yang bangun
dan bagi yang tidak.
Dan sesuatu yang biasa
akan kembali terjadi
di bawah matahari.
- Puisi Muhammad Aswar - 19 August 2025
- Puisi-Puisi Muhammad Aswar - 5 October 2021
- Renungan Puisi dan Manusia dari Mars - 8 September 2018

