Mengingat (dan Membaca Ulang) Lagaan di Hari Kemerdekaan

Banyak hal yang belakangan mengingatkan saya kepada Lagaan, film India yang rilis 24 tahun lalu. Pertama-tama, Hari Kemerdekaan kita yang, bukan kebetulan, selalu berdekatan dengan hari kemerdekaan India (15 Agustus). Juga, film-film yang rilis di sepanjang atau menjelang Agustus ini (biasanya untuk menyambut/memanfaatkan keriuhan peringatan Hari Kemerdekaan), entah di Indonesia maupun di India—semisal War 2 di Mumbai dan Merah Putih: One for All di Jakarta. Tak ketinggalan, isu meroketnya berbagai jenis pajak di Indonesia belakangan ini, yang berpuncak pada pembangkangan sipil di Pati dan beberapa daerah lainnya. Ya, Lagaan adalah kisah pembangkangan petani miskin India akibat pajak yang dibebankan ke mereka.

Lagaan, sejak menonton kali pertama di awal 2000an dari CD bajakan yang saya sewa di Theatre Disc di Jl. Colombo, tak pernah bisa lagi menjadi sekadar film India untuk saya. Ia bukan hanya salah satu film terbaik yang pernah dibuat India, tapi juga salah satu film olahraga terbaik yang pernah ada. Lagaan juga adalah salah satu film antikolonial terbaik yang pernah saya tonton—untuk saya pribadi, film ini memberi gambaran yang mudah lagi pula gamblang tentang apa itu (karya) pascakolonial, setelah bertahun-tahun hanya membacanya dalam buku.

Tak kurang penting, Lagaan “memulihkan” hubungan saya dengan film India, setelah saya patah hati dan menjauh akibat gelombang dongeng cinta-eskapis-terlalu-manis yang bertubi-tubi membanjiri sinema India usai kesuksesan Kuch Kuch Hota Hai (1998) dan moncernya Shah Rukh Khan. Setelah perjumpaan dengan Lagaan, saya menyisir lapak-lapak CD bajakan di Jogja maupun Jakarta, untuk menemukan The Legend of Bhagat Singh (2002), Meenaxi: Tale of Three Cities (2004), Gandhi, My Father (2007), hingga 3 Idiots (2009), ketika film hasil unduhan ilegal telah menggantikan kepingan. Jika tak salah ingat, film ini juga yang, ketika ia diremehkan, membuat saya membela film India seperti membela diri saya sendiri, satu semangat yang kemudian menjiwai tulisan-tulisan menggebu tentang sinema India yang nanti terbit sebagai Aku dan Film India Melawan Dunia.  

Dan ingatan akan Lagaan, kisah sekelompok petani miskin India yang mencoba merebut haknya dan memperjuangkan kebebasannya dari sang penindas dengan mengalahkan mereka lewat pertandingan olahraga, selalu mengapung kembali setiap saya menjumpai film-film—di Indonesia maupun di India—yang menjual nasionalisme dan patriotisme dalam cara dangkal dan gampangan. Lagaan adalah film perjuangan tanpa adegan perang, tanpa terlalu banyak letupan senapan, tanpa slogan-slogan yang tinggi mengangkasa, jenis film yang semakin ditinggalkan di India, dan masih sulit dibuat di Indonesia.

***

Dalam Spirit of Lagaan: The Extraordinary Story of the Creators of A Classic (2002), buku yang mencatat asal-mula dan tiap detail proses diproduksinya film Lagaan, Satyajit Bhatkal menggambarkan bahwa Lagaan adalah “Gagasan yang nyaris kandas”. Karena, pada masanya, di Bollywood, film semacam itu hampir mustahil dibuat.

Akhir ‘90an, Mumbai dipenuhi oleh film-film cinta anak muda kota, dan kaya—dan kalau bisa tinggal di luar negeri. Cerita cinta antarbenua ala Dilwale Dulhaniya Le Jayenge (1995), atau pencinta egois yang sukses memiliki siapa pun yang diinginkan dalam Kuch Kuch Hota Hai (1998), lengkap dengan tari, lagu, tata busana, dan wajah putih-pualam para bintangnya, menjadi standarnya. Dan ini membuat Bollywood, seperti ditulis Bhatkal, memiliki aturan tak tertulis bahwa “Kamu tidak boleh membuat film tentang masa lampau! Kamu tidak boleh membuat film berlatar desa! Kamu tidak boleh membuat film dengan klimaks olahraga sebagai ujung cerita! Kamu tidak boleh menampilkan jagoanmu pakai dhoti dan bundi! dst.” Dan karena Lagaan melanggar itu semua, hampir tak ada produser dan bintang film besar yang mau menyentuhnya. Termasuk di dalamnya Shah Rukh Khan.

Aamir Khan, bintang besar Bollywood yang akhirnya membintangi sekaligus memproduserinya, bahkan sempat menolak mentah-mentah ide film ini ketika pertama kali mendengarnya. “Ini aneh dan sama sekali tak masuk akal, Ash,” kata Aamir kepada Ashutosh Gowariker, orang yang memiliki ide film ini, yang tak lain juga sahabatnya sendiri.

Ashutosh Gowariker memang patut diragukan. Ia aktor yang kariernya tak ke mana-mana. Ia pernah satu film dengan Aamir dalam Holi (1984), sama-sama sebagai figuran; ia bahkan bermain di dua film (Chamatkar [1992] dan Kabhi Haan Kabhi Naa [1993]) bersama Shah Rukh Khan. Barangkali karena tak memiliki wajah seorang bintang seperti dua rekannya, ia meninggalkan akting untuk beralih ke penyutradaraan. Tapi, nasibnya tak lebih baik. Dua film pertamanya, Pehla Nasha (1993) dan Baazi (1995) gagal. Maka, ketika pada pertengahan 1996 ia datang kepada Aamir Khan, kawan sekaligus bintang yang bermain untuknya di Baazi, Aamir menasihatinya untuk mencari ide lain. “Dua filmmu sudah gagal. Sekarang saatnya cari ide yang asyik, yang aman, jangan yang aneh-aneh,” kata Aamir.

Tapi Ashutosh pergi untuk kembali lagi. Setengah tahun kemudian, ia kembali datang untuk membujuk Aamir menyimak ceritanya, cerita yang sama, yang ditolak Aamir sebelumnya. Ashutosh yakin, Aamir tak tertarik karena hanya mendengar cerita yang masih berupa kerangka. Kini ia membawa skenario utuh. Aamir keki, tapi ia mau mendengarkan.

Dan setelah ia membaca seluruh naskah di depan Aamir (sesuatu yang memang menjadi tradisi di Bollywood), “dengan mengerahkan seluruh pengalamannya di teater, seluruh peran yang pernah dimainkannya di film, seluruh karya yang pernah dikerjakannya,” demikian Bhatkal menulis, Ashutosh berhasil meluluhkan hati dan kepala Aamir. Aktor yang dikenal keras kepala itu, yang sebelumnya mengatakan tak akan mengubah keputusannya soal naskah itu, dibuat gemetar. Aamir tertawa, mendesah, dan menangis. Dan ia memuji Ashutosh tak habis-habis.

Tapi, segera setelah memuji naskah itu, Aamir membuat takut Ashutosh ketika ia bilang bahwa ia takut ikut ambil bagian dalam film itu. Karena, Aamir tak yakin ada produser yang mau membiayainya, terutama untuk membiarkan film itu dibuat sebagaimana seharusnya. Aamir menyarankan Ashutosh mengontak bintang lain sekaligus mencari produser yang mau membiayai karena mempertimbangkan naskahnya.

Ashutosh menginginkan Aamir menjadi produsernya, tapi Aamir menolak. Menjadi produser adalah hal terakhir yang akan dilakukannya, kata Aamir. Ia anak sekaligus keponakan seorang produser film. Aamir tahu belaka kerumitan dan kegentingan yang mesti ditanggung orangtua dan pamannya, dan ia tak ingin mengalaminya.

Berbulan-bulan Ashutosh mondar-mandir membawa naskah itu ke studio-studio Bollywood, membuat janji dengan bintang-bintang film besar India. Hasilnya nihil. Beberapa bintang menyatakan tertarik, tapi tak ada tindak lanjut apa-apa. Beberapa produser mau mendanai, tapi mengajukan syarat agar bujetnya dipangkas atau jalan ceritanya diubah. Jadi sudah seperti sebuah keputusan: “Lagaan mungkin adalah naskah yang hebat, tapi pasar India belum siap,” tulis Bhatkal.

Lewat setahun kemudian, Ashutosh kembali datang kepada Aamir Khan. Kali ini Aamir bersama keluarganya: bapak (Tahir Hussain, seorang produser legendaris dalam sinema India), ibu (Zeenat Hussain, juga berasal dari keluarga film), dan istrinya (Reena Dutta), dan Jhamu Sughand, pemodal yang membiayai Rangeela (1995), film Aamir yang sedikit aneh namun sukses besar. Di depan mereka, Ashutosh kembali membacakan keseluruhan dari 155 halaman naskah Lagaan. Kali ini bukan hanya Aamir Khan saja yang tersentuh, tapi seluruh yang hadir. Pada momen inilah semua orang meyakinkan Aamir untuk memproduseri sendiri film itu. Maka berdirilah Aamir Khan Production.

Dan sisanya adalah sejarah.

Lagaan (Pajak Tanah), sering juga ditulis sebagai Lagaan: Once Upon Time in India rilis pada 2001, lima tahun setelah Ashutosh mengemukakan idenya. Meski berhadap-hadapan dengan Gadar: Ek Prem Katha, film besar lain yang menyajikan tema nasionalisme dalam cara yang sangat berbeda, yang dibintangi bintang besar Sunny Deol, Lagaan mencetak banyak hal hebat dalam sejarah sinema India. Ia merajai loket-loket bioskop sekaligus ajang-ajang penghargaan di India maupun di dunia internasional; Lagaan menjadi film India ketiga setelah Mother India (1957) dan Salaam Bombay (1988) yang masuk nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik dalam ajang Oscar 2002, sebelum akhirnya kalah dari No Man’s Land. Ia disukai penonton India sekaligus dikagumi kalangan perfilman sendiri, sesuatu yang jarang terjadi di industri film India. “Film yang sempurna,” kata Amitabh Bachchan, yang juga terlibat menjadi naratornya.

Baik untuk Aamir maupun untuk Ashutosh, Lagaan adalah sebuah titik balik penting. Setelah Lagaan, Aamir adalah Khan yang relatif berbeda dibanding Khan-Khan lainnya, baik sebagai bintang/aktor dan terutama sebagai produser. Film-film yang dibintanginya maupun yang dibuatnya membuatnya dilihat tak hanya sebagai seorang superstar sebagaimana Shah Rukh atau Salman, tapi juga seorang pengubah industri. Dengan film-film seperti Rang De Basanti (2006), Taare Zameen Par (2007), 3 Idiots (2009), Peepli Live (2010), PK (2014), dan Dangal (2016), ia tak hanya mengubah trajektori karirnya, tapi juga mengubah wajah sinema India—untuk seterusnya.

Ashutosh Gowariker, pasca-Lagaan, kini adalah sutradara elit di Bollywood; tak ada lagi yang mengingat kegagalannya di awal ‘90an dengan film-film terlupakan seperti Pehla Nasha dan Baazi. Semua bintang kini berebut untuk membintangi film-filmnya. Semua produser ingin menaruh uang untuk proyek-proyeknya. Menyusul Lagaan, ia kemudian membuat Swades (2004) yang dibintangi Shah Rukh Khan, dan epos Jodhaa Akbar (2008) yang dibintangi Hrithik Roshan dan Aisywaria Rai.

“Sederhananya,” simpul Shubhra Gupta dalam 50 Films That Changed Bollywood (2016), “Lagaan mengubah cara Bollywood membuat film-filmnya”.

*** 

Tapi tak ada yang membuat saya mengingat kembali (dan membaca ulang) Lagaan melebihi apa yang sedang ramai menjadi perbincangan di kalangan publik India sendiri, hari-hari ini. Yaitu berkait kontroversi usai diumumkannya daftar memenang National Film Award (ajang penghargaan film India tertinggi sekaligus paling disegani yang disponsori oleh negara) pada awal Agustus 2025 ini. Kebetulan yang menarik, tahun ini, dewan juri National Film Award diketuai oleh Ashutosh Gowariker.

Kehebohan pertama adalah kemenangan untuk pertama kalinya Shah Rukh Khan sebagai aktor terbaik dalam film Jawan (2023). Sementara industri Bollywood bergemuruh oleh penghargaan ini, karena raja mereka akhirnya mendapatkan mahkotanya (setelah menunggu begitu lama), publik India secara umum dibuat mengernyitkan dahi. Tak ada yang meragukan kualitas keaktoran King Khan; penampilan cemerlangnya di film-film bermutu seperti Swades (2004) dan Chak De India (2007) sangat pantas untuk membuatnya mendapatkan National Award, meski sayangnya terabaikan. Tapi untuk permainannya di Jawan, sebuah film aksi yang menumpukan jualannya pada suara ledakan dan efek visual, adalah sebuah keputusan aneh. Beberapa pihak menyebut, ini adalah “pembalasan personal” Ashutosh karena dulu Swades, filmnya setelah Lagaan, dan terutama akting Shah Rukh Khan, diabaikan juri National Award di masanya.

Tapi kontroversi terbesarnya tentu saja penghargaan Film Terbaik untuk The Kerala Story. Film ini, yang sukses di pasar karena dukungan politik partai penguasa namun dikritik habis oleh para pengamat karena dianggap menyebar kebencian dan perpecahan komunal, adalah sebuah visualisasi atas teori konspirasi yang dipercaya oleh kalangan nasionalis Hindu India bahwa ada yang disebut sebagai operasi “Love Jihad”, yang mengklaim laki-laki Muslim secara sengaja menikahi para perempuan Hindu untuk di-Islamkan kemudian direkrut masuk ISIS. Bukan saja telah membuat marah banyak kalangan karena klaimnya yang tanpa dasar (yang mencantumkan narasi “32.000 gadis Hindu dan Kristen hilang dari Kerala telah direkrut oleh ISIS setelah sebelumnya diislamkan” ketika trailernya keluar pada awal November 2022), ia juga dianggap sebagai alat kampanye Bharatiya Janata Party (BJP) untuk mendiskreditkan Islam sekaligus mendiskreditkan Kerala, negara bagian di India yang paling sulit dimenangkan oleh BJP. Dan ketika National Film Award memenangkannya, ini bukan hanya melanjutkan kontroversi yang telah berlangsung hampir tiga tahun tetapi juga membuat orang mempertanyakan kecenderungan politik sang ketua dewan jurinya, Ashutosh Gowariker.

Lewat film-film seperti Lagaan (perlawanan petani atas kolonialisme), Swades (insinyur NASA yang memilih pulang ke India dan membangun desanya), dan Jodhaa Akbar (salah satu kisah cinta antar-agama paling agung dalam sejarah India), Ashutosh selama ini dianggap telah mempromosikan pandangan antikolonial, antikasta, harmoni antaragama, sekaligus mengkampanyekan nilai-nilai Gandhian. Itu membuatnya disejajarkan dengan para tokoh Parallel Cinema yang punya kecenderungan progressif. Namun, ada fase penurunan ketika film-filmnya yang kemudian, mulai dari drama cinta yang aneh dalam What Your Raashee (2009), film berseting kolonial yang lain Khelein Hum Jee Jaan Sey (2010), hingga film pra sejarah yang ambisius Mohenjo Daro (2016), secara berturut-turut gagal di pasaran. Lalu tibalah Panipat (2019), film epik berlatar Pertempuran Panipat pada abad ke-18 antara Kerajaan Marathi di India dengan Dinasti Durrani dari Afghanistan, jenis film “historis” yang tren di masa pemerintahan Narendra Modi, yang menempatkan raja-raja Hindu sebagai pahlawan sementara raja/perwira Muslim sebagai penjahatnya—lihat misalnya Padmavaat (2018), Kesari (2019), Tanhaji (2020), dan Samrat Prithviraj (2022). Dari seorang sutradara progresif, orang-orang mulai melihat Ashutosh memiliki kecenderungan ke Kanan.

“Karir Gowariker menunjukkan bahwa tidak setiap filmmaker bisa tumbuh sebagai auteur. Beberapa—mungkin banyak—habis bensin, berpuas diri, atau, lebih buruk lagi, cuma jadi corong kekuasaan,” tulis Debiparna Chakraborty di Outlook India belum lama ini.

Mahfud Ikhwan
Latest posts by Mahfud Ikhwan (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!