Puisi Joni Hendri

 

pedas lada hitam di lidah sungai

 

kayu manis itu, tersangkut pada lidah sungai

mewangikan jalur-jalur sejarah

yang hanyut ke dada waktu adalah rasa manisnya

meski orang-orang portugis berkilah

tapi kulitnya mengeras bagai benteng penjajah.

 

seseorang berkulit putih, meneropong ke segala kuala

mencari bandar untuk singgah

melempar tali dan mengikat

berkacak pinggang

tangannya mengarah ke sungai carang

ia tahu itu jantung persinggahan

aroma rempah, masuk ke hidungnya

orang memanggil afonso de albuquerque

pistolnya tertanam di pinggang

menanam niat yang jahat

ia datang hanya untuk mengutip rempah

di tanah melayu yang basah

mendongengkan harapan pada petani

setelah kehangatan menggetarkan dada

rupanya ia membawa gelombang ke darat

menghela ke penanam:

“lada hitam, kayu manis, cengkeh, dan asam kandis”

hanyut kemudian diempaskan.

 

ia cari segala bumbu-bumbu

sempat juga mencuri di lubang lesung

juga mengutip rimah-rimah mimpi

yang berserak di pinggir tasik

kemudian menghanyutkan keresahan.

 

tak menemukan usai pada kusut

petaka zaman selalu dibisukan

terlihat rempah disepahkan

di lantai rumah panggung.

 

anak-anak hanya tahu jalan raya

sedangkan sungai tinggal sampah

sejarah telah jadi hutan

yang didiami para pendurhaka

tanah-tanah tempat rempah tumbuh

tertanam gedung

disebut sebagai pohon kekuasaan

membuat kita takut bernaung di bawahnya

sebab mereka merasa tuhan

bicaranya seperti kayu manis

ludah seperti santan yang senantiasa meresap

membuat ia lupa pada jejak masa lalu.

 

seolah-olah masa lalu dipedaskan lada hitam

tak ada yang terpisah dari rasa hangat

selain lidah menjilat bumbu yang abadi

serasa dihuni kelaparan

aroma rempah yang terus dijajah.

 

alahmak, disebabkan rempah

yang berkerabat akan merasa kesal

rasa pedas dan pahit lada hitam

telah digigit sejarah di sungai-sungai

pahit akan dikenang-kenang

pedasnya akan melekat di lidah sungai.

 

rimbo panjang, 2024

 

kita pernah berjumpa di pasar onan

 

“apakah kau menetap di sana?”

sedangkan danau terpanjang

bulan, bintang menerangi jalan-jalan.

 

di matamu ada bekas goresan

membentuk ukiran gorga batak toba

yang serupa ukiran-ukiran bunga

sejak tahun 1971 orang-orang berdatangan

berkunjung melewati bukit-bukit

jejaknya timpa-menimpa

menghapuskan jejakmu

seperti kita tak lagi ada.

 

aku menyebutnya pasar onan

barangkali kau lebih tahu tentang pasar itu

bentuk-bentuk sopo yang berjajaran

tinggi menjulang mata

mengangkat kepala

bekas kolonial belanda duduk bermain

“apakah kau masih ingat tahun 1936?”

peristiwa yang bersejarah dalam darah.

 

“aku tak mau bepisah!”

sudah berulang kali pernyataan itu dibuat

kerisauan yang merambat

membuat akarnya sebagai pengingat

bahwa kita pernah berjumpa di pasar onan

oleh-oleh yang kau berikan itu

masih tergantung dalam hatiku.

 

pekanbaru, 2025

 

aku menunggu di bukit singgolom

 

jantungku bergetar menunggu

malam terlalu panjang

sedangkan langit mulai menjemputnya

senja mulai berwarna jingga

kau belum juga datang

padahal waktu telah singkat dalam batin kita.

 

ratusan pengunjung mulai pulang

aku terasa kosong

terbawa oleh matahari yang tenggelam

ke dalam danau toba

terasa dinginnya ke sum-sum rindu

“kau belum juga sampai?”

sementara suasana sunset di sudut danau

telah menjadi teka-teki untuk kita.

 

kuingin,

tanganmu ada dalam genggamanku

sambil menyaksikan lintong ni huta, meat dan tara bunga

360 derajat view danau toba

tak ada bukit-bukit yang mengganggu

kita akan menulis di sini

mendekap puisi-puisi yang panjang.

 

cepatlah,

malam sudah datang

aku kedinginan di sini

langkah waktu sayup-sayup datang mengusir.

 

kau sengaja membiarkanku

lalu menjadi makam tua

atau menyuruhku naik ke atas bukit dolok

yang lebih tinggi

agar kau bisa melihatku

berapa lama menunggu?

 

gading marpoyan, 2025

 

 

 

mata kerinduan dan kesadaran saling beradu

:Tasbiha Nur Alima Maryam

 

ada malam pada matamu

mengisahkan rindu padaku

diembus angin yang menggelombangkan

hati dan wajahmu terlukis murung

meski aku tahu, bisik hatimu hanya cerita-cerita

tentang permainan dan juga perjalanan hidup

bangkai masa lampau

terus tersangkut dalam ingatan

tertusuk dalam hati.

 

sebagai kewajiban mata yang beradu dengan kesadaran

untuk mengalirkan kesedihan

ke sekujur tubuh madah

telah dibagikan ke anak:

“jangan berpisah dengan malam nak,

sebab mata selalu memaksa

melupakan kekasih pertama

cinta yang telah melahirkan engkau ke dunia

hasil dari pertemuan

yang telah diciptakan

dari maha sayang.” ucapanku saat engkau lahir.

 

aku menunggu di pintu tanah

setelah keluarga singgah untuk menangis

terus teringat masa lalu yang telah diperam

tak ada kenyamanan pada sejarah untuk menggairahkan.

 

tiba-tiba aku ditinggalkan waktu

berharap ada yang terang dari laut hidup

memberi corak pada kegelapan yang menggalaukan

dan menghilangkan dingin di gubuk luka.

segalanya berbelok ke hulu tanpa lampu

mengharuskan aku melawan kegelapan

dan bekas seteru di antara sabda-sabda

tentang pertanyaan-pertanyaan yang mungkin aku lupa jawabannya

setiap kata-kata tak dapat dijawab

melahirkan patahan-patahan kerisauan

bahwa cambukan kenangan

jadi mimpi burukku saat mengigau

dalam tidur nyenyakmu.

Joni Hendri
Latest posts by Joni Hendri (see all)

Comments

  1. Tia Reply

    puisinya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!