
pedas lada hitam di lidah sungai
kayu manis itu, tersangkut pada lidah sungai
mewangikan jalur-jalur sejarah
yang hanyut ke dada waktu adalah rasa manisnya
meski orang-orang portugis berkilah
tapi kulitnya mengeras bagai benteng penjajah.
seseorang berkulit putih, meneropong ke segala kuala
mencari bandar untuk singgah
melempar tali dan mengikat
berkacak pinggang
tangannya mengarah ke sungai carang
ia tahu itu jantung persinggahan
aroma rempah, masuk ke hidungnya
orang memanggil afonso de albuquerque
pistolnya tertanam di pinggang
menanam niat yang jahat
ia datang hanya untuk mengutip rempah
di tanah melayu yang basah
mendongengkan harapan pada petani
setelah kehangatan menggetarkan dada
rupanya ia membawa gelombang ke darat
menghela ke penanam:
“lada hitam, kayu manis, cengkeh, dan asam kandis”
hanyut kemudian diempaskan.
ia cari segala bumbu-bumbu
sempat juga mencuri di lubang lesung
juga mengutip rimah-rimah mimpi
yang berserak di pinggir tasik
kemudian menghanyutkan keresahan.
tak menemukan usai pada kusut
petaka zaman selalu dibisukan
terlihat rempah disepahkan
di lantai rumah panggung.
anak-anak hanya tahu jalan raya
sedangkan sungai tinggal sampah
sejarah telah jadi hutan
yang didiami para pendurhaka
tanah-tanah tempat rempah tumbuh
tertanam gedung
disebut sebagai pohon kekuasaan
membuat kita takut bernaung di bawahnya
sebab mereka merasa tuhan
bicaranya seperti kayu manis
ludah seperti santan yang senantiasa meresap
membuat ia lupa pada jejak masa lalu.
seolah-olah masa lalu dipedaskan lada hitam
tak ada yang terpisah dari rasa hangat
selain lidah menjilat bumbu yang abadi
serasa dihuni kelaparan
aroma rempah yang terus dijajah.
alahmak, disebabkan rempah
yang berkerabat akan merasa kesal
rasa pedas dan pahit lada hitam
telah digigit sejarah di sungai-sungai
pahit akan dikenang-kenang
pedasnya akan melekat di lidah sungai.
rimbo panjang, 2024
kita pernah berjumpa di pasar onan
“apakah kau menetap di sana?”
sedangkan danau terpanjang
bulan, bintang menerangi jalan-jalan.
di matamu ada bekas goresan
membentuk ukiran gorga batak toba
yang serupa ukiran-ukiran bunga
sejak tahun 1971 orang-orang berdatangan
berkunjung melewati bukit-bukit
jejaknya timpa-menimpa
menghapuskan jejakmu
seperti kita tak lagi ada.
aku menyebutnya pasar onan
barangkali kau lebih tahu tentang pasar itu
bentuk-bentuk sopo yang berjajaran
tinggi menjulang mata
mengangkat kepala
bekas kolonial belanda duduk bermain
“apakah kau masih ingat tahun 1936?”
peristiwa yang bersejarah dalam darah.
“aku tak mau bepisah!”
sudah berulang kali pernyataan itu dibuat
kerisauan yang merambat
membuat akarnya sebagai pengingat
bahwa kita pernah berjumpa di pasar onan
oleh-oleh yang kau berikan itu
masih tergantung dalam hatiku.
pekanbaru, 2025
aku menunggu di bukit singgolom
jantungku bergetar menunggu
malam terlalu panjang
sedangkan langit mulai menjemputnya
senja mulai berwarna jingga
kau belum juga datang
padahal waktu telah singkat dalam batin kita.
ratusan pengunjung mulai pulang
aku terasa kosong
terbawa oleh matahari yang tenggelam
ke dalam danau toba
terasa dinginnya ke sum-sum rindu
“kau belum juga sampai?”
sementara suasana sunset di sudut danau
telah menjadi teka-teki untuk kita.
kuingin,
tanganmu ada dalam genggamanku
sambil menyaksikan lintong ni huta, meat dan tara bunga
360 derajat view danau toba
tak ada bukit-bukit yang mengganggu
kita akan menulis di sini
mendekap puisi-puisi yang panjang.
cepatlah,
malam sudah datang
aku kedinginan di sini
langkah waktu sayup-sayup datang mengusir.
kau sengaja membiarkanku
lalu menjadi makam tua
atau menyuruhku naik ke atas bukit dolok
yang lebih tinggi
agar kau bisa melihatku
berapa lama menunggu?
gading marpoyan, 2025
mata kerinduan dan kesadaran saling beradu
:Tasbiha Nur Alima Maryam
ada malam pada matamu
mengisahkan rindu padaku
diembus angin yang menggelombangkan
hati dan wajahmu terlukis murung
meski aku tahu, bisik hatimu hanya cerita-cerita
tentang permainan dan juga perjalanan hidup
bangkai masa lampau
terus tersangkut dalam ingatan
tertusuk dalam hati.
sebagai kewajiban mata yang beradu dengan kesadaran
untuk mengalirkan kesedihan
ke sekujur tubuh madah
telah dibagikan ke anak:
“jangan berpisah dengan malam nak,
sebab mata selalu memaksa
melupakan kekasih pertama
cinta yang telah melahirkan engkau ke dunia
hasil dari pertemuan
yang telah diciptakan
dari maha sayang.” ucapanku saat engkau lahir.
aku menunggu di pintu tanah
setelah keluarga singgah untuk menangis
terus teringat masa lalu yang telah diperam
tak ada kenyamanan pada sejarah untuk menggairahkan.
tiba-tiba aku ditinggalkan waktu
berharap ada yang terang dari laut hidup
memberi corak pada kegelapan yang menggalaukan
dan menghilangkan dingin di gubuk luka.
segalanya berbelok ke hulu tanpa lampu
mengharuskan aku melawan kegelapan
dan bekas seteru di antara sabda-sabda
tentang pertanyaan-pertanyaan yang mungkin aku lupa jawabannya
setiap kata-kata tak dapat dijawab
melahirkan patahan-patahan kerisauan
bahwa cambukan kenangan
jadi mimpi burukku saat mengigau
dalam tidur nyenyakmu.
- Puisi Joni Hendri - 26 August 2025


Tia
puisinya bagus