
Beliau adalah Muhammad bin ‘Ali Abu ‘Abdillah ad-Dasatani. Julukan beliau adalah syaikh al-masyayikh, tuan guru dari seluruh tuan guru. Tentu beliau mendapatkan julukan seperti itu bukan tanpa alasan, tapi karena betul-betul mensamudera di bidang keilmuan, tidak ada tandingannya di masanya.
Beliau sungguh alim di dalam berbagai keilmuan. Tidak saja yang berkaitan dengan ilmu-ilmu keislaman, tapi mencakup berbagai macam keilmuan. Termasuk ilmu-ilmu terapan di dalam kehidupan. Orangnya sangat tawaduk, sangat rendah hati di hadapan orang lain, terutama di hadapan orang-orang yang juga berilmu.
Beliau memiliki pembicaraan yang betul-betul detail tentang apa saja yang dihadapinya. Beliau juga memiliki isyarat-isyarat yang begitu lembut yang membutuhkan kejelian hati untuk bisa memahaminya dengan benar. Secara spiritual, beliau sepantaran dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani.
Nisbat kehendak Syaikh Abu ‘Abdillah ad-Dasatani meliputi tiga orang sekaligus, di antaranya adalah Syaikh ‘Ami al-Bisthami, anak laki-laki dari saudara laki-laki Sulthan al-‘Arifin, Syaikh Abu Yazid al-Bisthami. Kehendak tersebut sangat bergemuruh di dalam diri beliau.
Untuk apa? Untuk mengukuhkan hubungan spiritualnya dengan Allah Ta’ala. Hubungan spiritual dengan hadiratNya adakalanya lewat ketersambungan dengan seseorang. Ketika terhubung dengan orang itu, makin kuat rasanya adanya ketersambungan dengan hadiratNya.
Di dalam Kitab Kasyf al-Mahjub, bab tentang Asrar at-Tauhid, al-Hujwiri menyebutkan bahwa dirinya mendengarkan dari Syaikh as-Suhlaki, dia termasuk sahabat Syaikh Abu ‘Abdillah ad-Dasatani, bahwa pada suatu hari gerombolan belalang datang di Bistham. Menyerbu seluruh pohon dan tanaman.
Sehingga dari saking banyaknya belalang, pepohonan dan tanaman menjadi gelap, gelap sekali. Orang-orang pada menjerit dan menangis. “Ada apa dengan jeritan ini? Kenapa orang-orang pada menangis?” tanya Syaikh Abu ‘Abdillah ad-Dasatani kepada orang-orang.
Di antara mereka ada yang menjawab kepada beliau: “Dari saking banyaknya belalang, hati manusia menjadi ciut karena itu.” Beliau kemudian berdiri. Memandang ke atas bubungan. Beliau lantas bertawajjuh ke langit. Belalang itu kemudian terbang semuanya. Pindah dari negeri Bistham, entah ke mana.
Pada waktu ‘ashar, tidak ada satu pun belalang di Bistham yang tersisa. Semua telah pergi karena Syaikh Abu ‘Abdillah ad-Dasatani. Mereka tidak makan satu daun pun di Bistham. Dengan kuasa Allah Ta’ala, semua belalang telah lenyap. Tidak satu pun yang tersisa.
Beliau wafat pada bulan Rajab tahun empat ratus tujuh belas Hijriah. Sebuah kehilangan yang luar biasa. Dunia menangis karena itu. Matinya orang alim adalah matinya alam. Beliau betul-betul pindah, dari dunia ini menuju ke alam kubur. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Mu’min asy-Syirazi & Syaikh Abu Ishaq asy-Syami - 24 April 2026
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku #2 - 17 April 2026
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku - 10 April 2026

