
Warung Kopi Teh Saudara
ada yang menganyam sesuatu di balik jendela kayu. saudara. kursi rotan bicara sendiri. saudara. berapa tahun usia bau rempah di tangan nenek. nenek yang kini menjelma biji-biji matahari di dada cucu-cucunya. saudara. hangat udara sore. wangi madu teh telang. uap kopi dan rambut ikal kekasih. saudara.
silangan kayu di atap-atap. daun pintu jendela bercat hijau. lantai belang blonteng. patung budha dan tembok putih. saudara. di sana arah sejarah menguat. merebus keringat dalam toples warisan. saudara. bertahun melipat-lipat lelah menjadi bunyi. merambati urat tangan-tangan muda. saudara.
duduklah bersanding malam yang kian remaja. dengarlah suara-suara di halaman. anak-anak menanam kebahagiaan. di sini. saudara. di rumah kecil dari susunan renungan dan keramaian. dalam diri. saudara.
Suryaden, Mei 2026
Suara Malam Basah
buat: Aryok
Suara itu bukan teriakan seorang remaja. Ia telah menjelma wayang di tengah zaman. Berani bicara pada pacar tanpa nama. Suara itu. Berlari mendatangi langit. Bicara lagi jari telunjuk dan keinginan. Berpijar-pijar membuat jejak lewat catatan dan buku harian.
Kata-kata merangkai dirinya menjadi perahu. Berlayar menjemput apa menjadi siapa. Beramai-ramai menertawai luka-luka.
Jauh.
Jauh kemudian. Seperti apa bentuk masa depan. Bicara lagi keluarga. Semakin jauh. Bunyi genderang. Dari dalam tubuh. Beradu dengan mungkin.
Yogya, 2026
Catatan Perjalanan buat Wati
kulit wajahmu matahari setengah matang. ada titik-titik tak dikenal menetap di kedua pipimu. keringat dan tawa bergelantungan di ujung-ujung rambutmu. kening dan pelipismu mencokelat terasa pahit manis seperti usia. pagi terbit di dadamu yang kian mengencang. alam memberimu sejarah dan kekayaan sepanjang tahun.
ayah dan ibumu menghilang ketika berjalan di tengah hutan bersamamu. hutan yang memberimu sayang. hutan menghangatkan tubuhmu sepanjang hidup. tak ada yang menaruh dendam duka. semua merambat membuat jalur-jalur. membuat oksigen dari rasi bintang yang berkelip-kerlap di matamu.
Kuala Lumpur, Feb 2026
Selamat Datang Seni Rupa
Aku merasakan datangnya sepasang tanah. Sepasang matahari. Sepasang bulan. Sepasang bintang. Sepasang api. Sepasang air. Sepasang udara. Sepasang batu. Sepasang gunung. Sepasang hutan. Sepasang laut. Semua berdegup-degup hening. Berjalan sendiri menemui gelap terang. Menemui pertanyaan dan jawaban. Menemui kebingungan dan garis lurus. Menemui arsiran luka dan liku. Menemui benturan titik-titik. Membiarkan segalanya menyentuh tubuh. Merapikan dirinya. Menemukan kekuatan dan kelemahan. Menemukan lupa dan ingatan.
Tak ada sepasang hidup tenang. Mencari siapa pergi siapa datang.
Aku menunggu berdebu-debu.
Kuala Lumpur – Jogja, 2026
- Puisi Andy SW - 9 June 2026
- Sajak-Sajak Andy SW - 1 November 2022

Ridwan Kh
Warbiyasah. Itu da si gundul di warung kopi teh saudara o Bung?
Andy SW
Mana pwisik kamu nan teranyar? Dah bikin susunan diksi berpitalitas lom?