
Buat Teman Penyair yang Melakukan Program
Diet Ekstrem dan Mengalami Writer’s Block
Bawalah pinggan keramik ini
Ke ceruk lapar di meja bacamu,
Dengarkan desir pada haru yang ngilu,
Serta detak waktu yang merambat di udara.
Amatilah bercak gulai yang diam-diam
Menyusun aneka majas di atas serat kayu,
Hiruplah kepul kaldu dari mangkukmu
Hingga setiap metafora kembali peka.
Arahkan ujung larik itu perlahan-lahan
Pada muslihat irisan lengkuas juga cabai,
Ambil warna Zico Albaiquni di tembok itu
Lalu cecap doa abadi, atau dunia fantasi.
Jangan bimbang dengan lipatan lemak yang,
Semakin meleber di sekitar perut dan pinggang.
Pandulah ingatan ke rak koleksi bukumu,
Kembali mengorak sejarah, mengupak filsafat.
Taruhlah kamus di sebelah sendok dan garpu
Dan timbanglah dua-tiga kata kerja utuh,
Waspadalah pada bumbu yang berlebih,
Atau kata sifat yang mengaburkan abstrak-konkret.
Izinkan jeda mengendap di rongga matamu,
Dalam geletar senyap kilau fajar membubarkan kabut.
Jangan biarkan kefanaan merusak kesuwunganmu,
Sebab kasak-kusuk sajak tak tunak,
Kelak mengutukmu.
2026
Di Hadapan Gulai Tembusu
Bersama Czesław Miłosz
Saat jam makan siang, sepotong usus melingkar
Terendam kuah kuning bersantan kental. Jejak
Ketumbar dan letupan cabai mengambang,
Menghapus sisa amis yang telah tuntas dibilas.
Kau sisihkan bayang musim gugur Lithuania
Dari ingatan, menyesap ini hidangan dengan
Lapar yang canggung. Tenda terik khatulistiwa,
Ramah menyambutmu selepas rute panjang
Dari lanskap yang terbakar. Kemarin, rudal
Membuka Selat Hormuz, asap kilang Sharan
Menghitam di atas Teheran. Tapi di sini, kita
Duduk di hadapan kiamat nikmat gulai tembusu
Di lapak nasi kapau—suapan demi suapan—
Racikan rempah dari lubuk tungku Agam. Lalu
Selembar tisu menyeka keringat dahi, sebelum
Sejarah mencuci kedua tangan kita di kobokan.
2026
Pada Suatu Kalimat Majemuk
Kuingat Yalta dari tumpukan paragraf Chekhov,
Seekor anjing pomeranian berlari di antara spasi,
Membawa seorang perempuan berpayung
Ke dalam kalimat. Rahasia dilipatnya hati-hati,
Menyerupai tiket kereta,
Masuk ke saku mantel Gurov yang kesepian.
Di kamar hotel, usai irisan semangka yang ganjil,
Cinta cuma kalimat majemuk yang menunda titik.
Mungkin kau paham, betapa Moskwa dan pelukan
Adalah jarak tempat pagar-pagar kayu kelabu
Berdiri memisahkan rindu dari kata ganti orang.
Di koridor teater yang temaram, sebelum takdir usai,
Tubuh mereka menggigil tanpa dilingkupi tanda baca,
Dan pada anak tangga yang memendam percakapan,
Sebuah janji tergelincir keluar dari tanda petik,
Menghamparkan duka yang menolak mencapai epilog.
2026
Hanya Cinta yang Bisa Membahagiakan
Sekaligus Menyakitkan Seperti Ini
Semalam, pada kantuk
Yang belum benar-benar genap,
Kau menjelma di Terminal Keberangkatan.
Wajahmu kusut,
Khas penumpang yang ditekuk lelah
Kursi kelas ekonomi.
Tanganmu menenteng selembar boarding pass,
Menjauh dari konter lapor diri,
Lalu dengan nada yang terlampau datar
Kau berkata,
“Pesawatku segera lepas landas.”
Aku tersenyum,
Diam-diam merayakan pertemuan
Yang tak pernah tercetak
Di jadwal penerbangan mana pun.
Kita lalu berbaris
Di jalur imigrasi internasional.
Kau meletakkan halaman biodata paspormu
Di atas kaca mesin pemindai,
Melepas topi dan masker,
Lalu menatap pasrah pada lensa
Kamera autogate.
Palang otomatis berpendar hijau
Dan terbuka.
Tak ada petugas yang perlu repot
Membolak-balik dokumen masa lalu,
Atau memastikan siapa di antara kita
Yang sebenarnya telah lama menjadi
Warga negara asing
Di hati masing-masing.
Barangkali, sistem bandara di kepalaku
Ini memang didesain begitu presisi;
Sekadar untuk memberi stempel keberangkatan
Pada paspormu berulang kali,
Dan membiarkanku tertahan sebagai pengantar
Yang tak pernah punya tiket
Untuk ikut terbang.
Menjelang pagi,
Saat boarding call terdengar
Dari pelantang suara,
Kau menoleh—seolah aku baru saja
Memanggil namamu.
Padahal aku hanya termangu
Di luar batas kaca pemisah,
Terbangun dengan dada yang penuh
Sekaligus bengong-bego.
Menerka-nerka,
Suara alarm dari meja sebelah mana
Yang baru saja menggema,
Merenggutmu kembali,
Dan mengosongkan kepalaku lagi.
2026
- Puisi Astrajingga Asmasubrata - 11 August 2026
- Puisi Astrajingga Asmasubrata - 29 April 2025
- Sajak-Sajak Astrajingga Asmasubrata - 26 July 2022

anisa rahmayanti
penasaran sama dapur penyairnya, masakan puisinya selalu lezat. ya allah tolong, aku mau juga aaaaaak