Di Luar, Tak Ada Lagi Gonggongan Anjing

Sepasang lelaki, pada suatu malam yang mendung, di pojok taman, di sela-sela minum ciu, membicarakan bibir perempuan yang duduk agak jauh di depan mereka. Lelaki Satu mengatakan bibir perempuan itu mengingatkannya pada seorang janda yang pernah mengajaknya bercinta.

            “Itu adalah peristiwa paling mendebarkan dalam hidupku,” katanya sambil mengeluarkan sebatang rokok, kemudian menyulutnya, mengisap asap, dan membumbungkan asap itu ke arah langit, meski, tentu saja, si asap tak akan pernah sampai ke langit. Sementara itu, Lelaki Dua hanya menatap kosong ke arah kawannya.

            “Perempuan itu tiba-tiba mencengkeram bajuku dari belakang. Aku ketakutan. Itu jelas. Aku masih mahasiswa baru waktu itu. Dan … ngewe adalah sesuatu yang belum pernah kupikirkan sebelumnya.”

            “Coli?” celetuk Lelaki Dua.

            “Itu nggak cuma kupikirkan.”

            Lelaki Dua manggut-manggut. Ia agak menyesal setelah mengatakan ‘coli’. Sebab, itu membuat cerita Lelaki Satu berhenti sejenak. Terjeda. Sesuatu yang terjeda kadang memang membosankan. Lelaki Dua ingin bertanya bagaimana lanjutan cerita itu, tapi ia urungkan. Ia mengambil batang rokok, menyulutnya, mengisap asap dan mengembuskan asap itu dalam bentuk lingkaran, dan telunjuknya sengaja dicocol-cocolkan ke tengah lingkaran itu. Ia tak membayangkan itu lubang perempuan. Ia hanya bosan saja, dan agaknya masih asing berada di taman ini, di kota ini.

            “Kamu ingat kisah Nabi Yusuf?” Lelaki Satu memulai perbincangan lagi.

            “Siapa Nabi Yusuf?”

            “Oh, iya, lupa. Kamu lulusan SD. Dan … nggak pernah ngaji.”

            “Ya, nggak pernah ngaji. Dulu pernah ada yang jualan buku kecil berisi kisah-kisah nabi, tapi aku nggak tertarik beli. Aku lebih suka beli permen Yosan.”

            “Kamu tahu Siti Zulaikha mencengkeram belakang baju Nabi Yusuf sampai baju itu sobek?”

            “Udah dibilangin aku nggak tahu, kok.”

            “Ya udah. Nggak perlu kulanjutkan ceritaku. Yang jelas waktu itu peristiwa yang kualami mirip dengan apa yang dialami Nabi Yusuf. Eh, bukannya di SD ada pelajaran agama? Bukannya pasti ada pelajaran mengenai kisah-kisah nabi? Astaga. Jangan-jangan kamu nggak pernah mengikuti pelajaran agama. Atau … ya, ya, ya, kamu memang sengaja nggak mau membahas soal ini? Harusnya kamu tahulah Nabi Yusuf. Setidaknya, penjelasan soal wajah cakepnya. Atau, setidaknya kamu pernah dengarlah nama Nabi itu. Aduh. Bahaya, anak jalanan sepertimu sampai nggak kenal Nabi Yusuf.”

            “Apa hubungannya anak jalanan sama kisah Nabi Yusuf?”

            “Hmm. Nggak ada hubungannya juga, sih. Cuma aku suka saja sama perempuan yang agresif seperti Siti Zulaikha.”

            “Aku nggak tertarik.”

            “Hmm.” Lagi-lagi hmm. “Ya udah lupakan saja.”

            Sementara itu, perempuan yang bibirnya mereka bicarakan, kini membuka jaketnya. Malam ini tentu terasa gerah. Di langit, mendung makin tebal. Bibir perempuan itu juga tebal, sensual. Lelaki Satu memandang lagi perempuan itu. Ah, tidak, tidak. Lelaki Satu itu memandang bibir perempuan itu. Ia melumat bibir bawahnya sendiri. Duh, mak, Tuhan memang maha sempurna. Ia menciptakan bibir perempuan yang begitu menggairahkan. Ia menciptakan serpih-serpih surga yang bisa kita nikmati di dunia.

            Pembahasan soal Nabi Yusuf sudah tidak ada lagi. Dan memang sudah seharusnya tidak ada pembahasan mengenai itu di situ. Tidak ada hubungannya juga. Lelaki Satu tidak melanjutkan ceritanya. Ia fokus melihat bibir perempuan itu. Lelaki Dua tidak begitu peduli. Ia malah melihat Lelaki Dua sedang melumat bibirnya sendiri. Ia lalu menuang ciu ke gelas plastik.

            “Ini terakhir,” katanya sambil menyodorkan gelas plastik ke Lelaki Satu.

            “Kamu minum saja.”

            “Aku nggak terlalu suka minum ciu banyak-banyak.”

            “Oh, ya? Sini.” Lelaki Satu menyahut gelas itu, meski dari gelagatnya, ia sudah agak keliyengan. Ia meminum ciu dari gelas terakhir yang membuatnya benar-benar mabuk. Lelaki Dua menyulut rokok lagi. Mengisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya, sekali lagi seperti yang sering ia lakukan, membuat lingkaran asap, telunjuknya dicocol-cocolkan ke lingkaran itu, dan ia tidak membayangkan itu adalah lubang perempuan.

***

Sepasang lelaki pulang dari taman begitu tahu perempuan dengan bibir yang memesona itu pergi. Ia pergi dibawa laki-laki dengan postur tubuh tinggi besar, pakaiannya rapi, memakai kacamata hitam, jam tangan mahal—dan ini yang tidak boleh dilewatkan—cakep, dan membawa mobil.

            “Memang begitulah nasib,” kata Lelaki Satu tidak begitu jelas, “ia kerap memihak orang-orang cakep dan berduit.”

            Lelaki Dua tidak peduli. Bukan karena ia sedang sibuk memanggul Lelaki Satu yang sempoyongan karena terlalu mabuk, tapi memang ia tidak terlalu tertarik dengan perempuan yang dibahas Lelaki Satu.

            Mereka memasuki lorong-lorong gelap. Menuju kos paling murah dan kumuh di kota itu. Kos yang bahkan pemiliknya lupa tata cara membenahinya. Malam makin larut. Beberapa anjing menggonggong. Menggonggongi mereka. Menggonggongi sepasang lelaki yang sama-sama punya nasib tidak jelas di perantauan: satunya sarjana yang bekerja serabutan, yang uangnya dihabiskan untuk membayar kos murah, makan, dan mabuk-mabukan. Satunya lagi sebenarnya kuli bangunan. Hanya, sekarang sedang nganggur dan ke kota itu ia ingin mencari pekerjaan. Tubuhnya memang tinggi, gempal, tapi tidak membuatnya bernasib baik seperti lelaki yang membawa perempuan tadi. Perempuan yang bibirnya mereka bahas sewaktu di taman.

***

Di dalam kos paling murah dan kumuh di kota itu, yang bahkan pemiliknya lupa tata cara membenahinya, Lelaki Satu roboh. Atau sengaja merobohkan diri. Tubuhnya lunglai.

            “Kamu kebanyakan minum,” ujar Lelaki Dua.

            Lelaki Satu tidak menyahut. Ia bahkan sudah seperti tidak peduli dengan keadaan dunia.

            “Biasanya kamu minum berapa botol, sih? Atau sebenarnya memang cuma satu botol dan kamu sudah benar-benar mabuk? Kayaknya terlalu lama hidup di kota membuatmu jadi lemah.”

            Lelaki Satu tetap tidak menyahut. Matanya memejam.

            “Bahkan untuk bicara saat mabuk pun, kamu nggak mampu.” Lelaki Dua masih ngoceh meskipun ia tidak dihiraukan sama sekali.

            Lelaki Dua keluar dari kos. Ia mencari kamar mandi. Sungguh, ini adalah tanda kos yang murah. Kos yang harganya lumayan mahal tentu kebanyakan mempunyai kamar mandi dalam. Di perjalanannya ke kamar mandi, berada di kamar mandi, kencing, cuci muka, dan selepas dari kamar mandi, ia memikirkan Lelaki Satu yang bisa-bisanya bergairah dengan bibir perempuan tadi. Itu adalah bibir yang mahal. Untuk menciumnya, kau harus kaya raya terlebih dahulu. Lihat saja gelagat si pemilik bibirnya. Dari gerak-geriknya saja dia enggan menatap orang-orang malang, orang-orang yang kumal pakaiannya, orang-orang yang untuk membeli makanan atau rokok saja berpikir berulang kali. Sementara itu, Lelaki Satu tentu adalah bagian dari orang-orang malang itu. Untuk mabuk saja ia harus nunggu momentum, yaitu ketika ia memiliki uang lebih banyak dari biasanya, dan itu pastilah peristiwa yang jarang sekali.

            Lelaki Dua masuk kos, bercermin untuk memastikan wajahnya sudah bersih selepas cuci muka. Ia mematikan lampu dan merebahkan tubuhnya di samping Lelaki Satu.

***

Di luar, malam makin larut. Beberapa anjing masih menggonggong. Tak ada yang tahu, sekarang mereka sedang menggonggongi siapa. Mungkin masih ada manusia yang lewat. Atau mungkin jin yang lewat. Tapi itu tak terlalu penting bagi Lelaki Dua yang kini berbaring di samping Lelaki Satu.

Di dalam keremangan (ada sedikit cahaya lampu dari luar yang masuk kos lewat sela-sela jendela yang berongga), Lelaki Dua memandangi wajah Lelaki Satu..

Di luar, tak ada lagi gonggongan anjing. Hanya terdengar lirih ranting-ranting pohon terpiuh angin.[]

Daruz Armedian

Comments

  1. Khairur Rosikin Reply

    Lelaki Tiga sedang mengetik…

  2. fajar Reply

    aku menyukainya

  3. fajar Reply

    shibaljygc love

  4. sembilansembilan Reply

    cerpen yang setidaknya bisa menggambarkan berbagai permasalahan di kota besar; prostitusi; alkohol murahan utk melupakan persoalan sejenak ; sarjana dg kerja serabutan; pengangguran…
    terkadang sastra memang lebih jujur bicara kenyataan.

  5. Queen Reply

    aku suka menulis membaca mengarang

  6. Queen Reply

    ingin membaca karangan atau imajinasi yg ada di dalam buku

  7. Affa Reply

    Kritik sosial yang menggambarkan bagaimana kemiskinan merenggut hak seseorang untuk bermimpi dan memiliki, memaksa mereka kembali ke sarang kumuh tempat mereka hanya bisa merenungi nasib yang seolah sudah digariskan.

    Gonggongan anjing yang tidak ada, ketika “kalian berdua” rebah, menarik sekali.

  8. aditya Reply

    kerenn

  9. Miza Reply

    Menurutku cerita ini sudah cukup bagus dan aku ckup menyukainya

  10. apollo Reply

    yeah, tidak terlalu buruk

  11. gordon Reply

    endingnya lelaki dua ga cium bibir lelaki satu kan?

  12. sifa anindita Reply

    kaya kisah nyata gsi

  13. ssan Reply

    menyenangkan membaca permainan kata dan makna implisit yang membuat menebak nebak dari awal hingga akhir cerita ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!