Buku dan Baju

Bulan Juli ini Jogja dipenuhi pameran buku. Dari satu pameran ke pameran lain waktunya saling berurutan, juga tempatnya saling berdekatan. Hanya dengan memperhatikan promo pameran dan poster-poster acara di media sosial, sudah cukup untuk merasakan riuh-rendahnya. Ada semacam nuansa, juga sejenis keyakinan, bahwa suasana perbukuan Jogja telah mulai mendekati masa-masa emasnya, seperti sekira satu dekade lalu. Sebagai bagian darinya (mau tak mau), tapi terutama sebagai pembaca, bagi saya, ini adalah keadaan yang menyenangkan. Tapi, pada saat yang sama, juga terasa sedikit menekan.

Untuk orang yang tak terlalu nyaman dengan mal dan pasar, tak juga terlalu tertarik dengan tempat hiburan, pameran buku untuk saya selalu terasa sebagai pasar malam—hal yang di masa kecil saya jarang saya temukan. Dalam deretan lapak-lapak buku, entah ketika menemukan buku baru yang mengejutkan, atau buku lama yang penting namun terlewatkan, atau buku mahal yang tiba-tiba banting harga, saya seperti menemukan bianglala, komidi putar, atau bombom car; selalu ada adrenalin dan dopamin yang meluap-luap pada setiap perjumpaan yang menyenangkan atau mengejutkan dengan buku-buku, entah kenapa begitu. Dan karena itu, ada rasa nyandu dengan pameran buku—seperti para penggemar ponsel jenis baru dengan pameran teknologi, atau bapak-bapak penghobi mobil dengan pameran otomotif. Saya tahu, beberapa pameran buku tak perlu dikunjungi, tapi toh saya tetap saja datang.

Acara pameran buku yang terlalu sering, dengan buku yang itu-itu saja, dengan acara yang “begitu-begitu” saja, yang bisa dipertukarkan dari satu pameran ke lain pameran, atau dengan tema yang bisa dibicarakan oleh siapa saja, kadang membuat kita merasa meh dan mampeh; minat terhadap buku yang semakin spesifik, entah karena pekerjaan atau karena faktor umur, juga membuat kita mesti pilih-pilih pameran, mana yang mesti didatangi dan mana yang bisa dilewatkan; juga, persentuhan yang terlalu intens dengan dunia buku, dan pengetahuan yang sudah kadung terlalu banyak tentang dapur perbukuan (dan terutama dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya), membuatnya jadi hal yang rutin saja. Tapi, itu kadang tetap tak menghentikan saya untuk datang, melihat-lihat, dan pulang dengan menjinjing belanjaan.

Dan bahkan rasa bersalah pun tak mampu menghentikan saya untuk datang.

*** 

Bertahun-tahun lalu kesenangan dan kebanggaan saya berbelanja buku-buku dipatahkan oleh seorang kawan sekerja. Ia adalah gadis Jakarta yang dengan bangga menyebut dirinya gaul, yang dengan membusung dada mengaku sebagai pemuja Agnes Monica—posisi yang membuatnya gigih menangkal ekspansi musik Soneta dan suara Rhoma Irama di ruang kerja yang dilakukan beberapa pria Jawa.

“Ih, duit segitu kalau dibelikan baju dapat banyak tuh,” katanya, setelah saya menyebutkan bahwa saya bisa menghabiskan hampir sepertiga gaji saya yang sebenarnya tidak besar untuk belanja buku setiap bulannya.

Ia, tentu saja, tidak sedang menghina—kami berkawan baik, dan saya tahu ia orang yang baik. Ia, hampir pasti tanpa sengaja, hanya sedang membanting saya dari ketinggian untuk jatuh tepat setara dengan hal yang selama ini saya anggap rendah. Baginya, beli buku sama saja dengan beli baju, sama-sama melayani keinginan. Bedanya hanya barangnya saja: yang satu dluwang, satunya lagi gombal.

Saya tentu saja tak serta-merta insaf, kemudian membeli buku dengan cara yang lebih bijaksana. Dalam beberapa hal saya malah makin ngawur. Maklum, sepanjang menjadi karyawan, lalu sepenuhnya hidup dari menulis, saya nyaris tak memiliki apa-apa dan membeli apa-apa selain buku. Namun, jelas, berbelanja buku tak lagi sama dengan sebelumnya. Kata-kata kawan itu selalu menghantui saya.

Lebih-lebih ketika konstelasi perniagaan buku di Jogja, pada satu ketika, diharu-biru oleh kemunculan Yusuf Agency, yang menentukan harga lewat berat-ringan buku saat dijinjing tangan, sehingga semua buku tampak masuk akal untuk dibeli—atau, setidaknya, beberapa buku yang tidak seharusnya dibeli terlalu bagus untuk dilewatkan karena begitu murahnya. Jika Anda mengalami atau setidaknya melihat sendiri masa-masa itu, betapa orang-orang keranjingan berebutan buku-buku yang diunggun-serakkan begitu saja, kerumunan pembeli buku benar-benar sepenuhnya sama dengan kerumunan di sebuah stand pasar kaget yang mengobral celana dalam 10 ribu-tiga. Dan semakin lama semakin terbukti bahwa kata-kata kawan tentang kesamaan beli buku dan beli baju itu semakin benar saja.

Tapi, tentu, saya masih saja keras kepala. Saya terus membeli buku dan menciptakan alasan-alasan baru, entah untuk mempertahankan diri dari serangan tapi terutama untuk meyakinkan diri sendiri dari sikap ragu: bahwa saya tak bisa melakukan hal lain selain menulis, dan karena itu semakin membutuhkan buku; bahwa saya semakin dalam terlibat dalam dunia buku dan sastra, dan karena itu menumpuk buku adalah niscaya; bahwa, sekali lagi, hingga usia kepala empat saya tidak punya dan tidak beli apa-apa selain buku, jadi kenapa itu dipersoalkan. Dan masih banyak lagi.

Dan untuk itu, setiap menemukan kutipan yang membela orang-orang yang menumpuk buku, dari Umberto Eco hingga Aan Mansyur, akan saya sambut dengan anggukan keras dan perasaan menang: saya tidak sendirian! Tapi, pada akhirnya, jika benar-benar dibutuhkan, saya akan kembali pada pendirian lama dan yang paling fanatik saya pegang: bahwa, bagaimana pun, buku lebih baik dari baju.

(Tentu saja buku lebih baik dari baju—mana bisa sebaliknya? Saya seorang penulis, hidup dari royalti buku-buku yang saya kerjakan, dikenal dan mendapat tempat di dunia perbukuan, tentu saja saya akan meninggikan produk dari dunia yang saya geluti; kalau saya adalah Ivan Gunawan atau Anna Wintour, ucapan saya bisa jadi sangat berbeda.)

Tapi, bagaimana pun, rasa bersalah itu masih ada di sana. Itu sesekali bisa menjadi kendali. Saya membutuhkan jeda, perlu mengerem diri. Biasanya dengan menunjukkan sedikit rasa sesal. Dulu bisa berupa semacam solilokui kepada diri sendiri, semacam “Oke, mungkin pameran buku berikutnya aku tak belanja dulu”, atau “Stop dulu beli buku sejarah, toh tak akan dibaca dalam waktu dekat”. Kini, di depan istri, saya kadang meminta maaf jika merasa sedikit kebablasan soal pengeluaran untuk buku.

Untuk yang disebut terakhir, saya perlu melakukan itu karena, sebagai suami dengan pekerjaan yang tidak menghasilkan gaji bulanan yang tetap, dan dengan demikian tak selalu bisa memberinya anggaran belanja yang jumlahnya cukup atau stabil, saya tak ingin bersikap tak adil. Juga, itu sejenis gestur yang menunjukkan bahwa saya terbuka untuk ditegur.

Tapi, biasanya adegannya akan berakhir sama: pertobatan itu akan berhenti ketika untuk pertama kalinya diuji. Sementara, permintaan maaf kepada istri kebanyakan berujung kepada kalimat-kalimat permakluman—yang, lucunya, memang sangat saya harapkan. “Tak apa, toh itu hasil kerjamu sendiri,” atau “Ya bagaimana lagi, kamu membutuhkannya untuk kerja, ‘kan?”, atau kalimat-kalimat sejenis itu.

Demi permakluman yang demikian pemurah, tentu saja saya betul-betul berhenti. Masalahnya, seperti yang sudah-sudah, itu tak akan bisa berlangsung lama. Setelah sebuah buku lusuh dengan judul unik lewat di lini masa Facebook, atau sebuah memoir berbahasa Inggris dari pemain sepakbola tak terlalu terkenal nongol di akun penjual buku langganan, atau sebuah pameran kecil dengan lapak yang aneh tapi menyenangkan, silap itu akan kembali lagi.

Dan seperti semua jenis dosa, rasa bersalah tak pernah benar-benar bisa membuat kita berhenti melakukannya.  

***

Kawan itu mengatakannya di tahun 2004. Dan 21 tahun telah lewat sejak itu, saya masih dengan segar mengingatnya—dan saya yakin saya akan terus mengingatnya sampai kapan pun ketika saya kembali membeli buku. Dan dengan buku yang semakin banyak, dalam rak-rak yang dipajang di ruang tamu (bahkan ruang tamu saya nyaris hanya berisi buku), yang komposisi penataannya mengutamakan jenis buku tertentu dibanding buku lainnya, saya tahu perkataan teman itu memang banyak benarnya.

Saya jadi mengingat apa yang paling saya sukai ketika pulang dari belanja buku: menaruh buku-buku itu di tengah kerumunan kawan-kawan, membukai pembungkus plastiknya satu-satu, menandatangani buku-buku itu di depan mereka, dan sering kali dengan rasa bangga bercerita bahwa buku tertentu, tak seperti yang kebanyakan orang tahu, bisa saya dapatkan dengan harga yang jauh lebih murah. Belakangan, ketika kerumunan maya lebih nyata dari kerumunan yang sebenarnya, saya akan dengan bersemangat untuk memfoto buku-buku tersebut, lalu mengunggahkan di media sosial, tentu dengan memastikan bahwa buku-buku itu cukup unik untuk tak dipertukarkan dengan foto buku orang lain. Setiap jempol yang nongol, komentar kekaguman, juga pertanyaan-pertanyaan (baik yang dijawab atau yang sengaja diabaikan), adalah kenikmatan.   

Juga, ada sejenis kecenderungan, saya suka membawa-bawa buku yang mungkin tak dibaca orang lain di dalam tas ketika saya pergi ke suatu tempat. Tak selalu saya baca, tentu saja; hanya sesekali dikeluarkan untuk memastikan bahwa orang lain memperhatikannya, syukur-syukur bertanya itu buku apa, beli di mana, dan berapa harganya—dan saya mungkin akan menyediakan 15-30 menit berikutnya untuk membicarakannya.

Dan mengapa buku-buku tebal berbahasa Inggris itu ada di bagian paling atas rak, sementara buku-buku tipis terjemahan Obor atai Jalasutra atau Navila atau Basabasi ditumpuk di bawah? Itu jelas agar saya mudah melihatnya, mengaguminya berlama-lama, menemukan sedikit rasa bangga betapa hebat buku-buku itu, dan betapa hebat orang yang mengumpulkannya. Juga, tentu saja, agar ia mudah dilihat oleh orang yang datang ke rumah, oleh kawan-kawan yang berkunjung, oleh tamu-tamu dari jauh, oleh mahasiswa-mahasiswa yang mencoba mencari teladan dan inspirasi.

Anda tak perlu memberi tahu saya bahwa, dalam pola dan cara yang hanya sedikit saja bedanya, hal-hal semacam itu juga dilakukan oleh mereka yang suka membeli baju. Kami hanya berbeda soal apa yang dikumpulkan: yang satu dluwang, satunya lagi gombal. Teman saya sudah memberi tahu, bertahun-tahun lalu.   

Mahfud Ikhwan
Latest posts by Mahfud Ikhwan (see all)

Comments

  1. nie Reply

    Kkk, lucu. Rasanya lucu, mirip yang saya lakukan. Tapi TBR saya menumpuk dan gak selesai-selesai.

    • rio aditya Reply

      Sebelumnya aku juga beli buku terlalu over, penyebabnya ngak pengen ketinggalan mungkin karna terlalu banyak FYP dimedosos soal buku. Sekarang aku bener bener fokus baca yang aku beli biar ngak TBR( to be read), dan aku enjoy ngak ada penyesalan😁

  2. Alfarius Reply

    Sampai sekarang, belum pernah menyesal membeli buku tiap bulan, bahkan tiap minggu. Penyesalannya hanyalah mengapa saya tidak mempunyai uang yang agak berlebih, agar buku-buku yang saya mau dapat segera terbeli dan dipajang di perpustakaan pribadi. Haha.

  3. teddy m Reply

    saya dulu juga hobi beli buku. setiap bulan minimal sekali ke togamas atau gramedia. setiap ada pameran buku pasti antusias datang dan borong banyak buku. tapi hal itu langsung berhenti setelah 2 th lalu saya kena stroke, lumpuh separuh dan kehilangan pekerjaan. masih ada sejumlah buku yang belum sempat dibaca pula saat masih sehat dulu. berbahagialah mereka yang masih bisa membeli dan membaca buku baru.

  4. verlus Reply

    Dari cerita yang diatas sangat menarik banget buat saya baca awal nya saya masih ragu eh malah keterusan karna pengen baca sambil rebahan mumpung dulu juga pernah baca di perpustakaan sampai” saya catat balik agar bisa baca di rumah soalnya asik banget tapi saya percaya buku itu bagus karna kita bisa pelajari apa yang kita dapat dari semua cerita itu walaupun dulu saya belum bisa baca saya pelajari lah pelan” agar saya bisa mendapatkan hasil dari buku itu fiks buku lah yang bikin kita pintar dan pelajaran. okay terimakasih banyak buku ku

  5. Noibenia Reply

    Lagi nikmatin banget bisa beli buku dengan budget dan waktu yang ditentukan. Terus udah nandain buku mana aja yang mau dibeli berikutnya. Sungguh nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan.😊 Pasti bisa punya financial freedom untuk beli buku kapanpun dan harga berapum.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!