
Variasi Samsa dan Kafka dalam Beberapa Roman: 15-60
15.
Sigit Susanto terbangun dari tidurnya, dari mimpi bertemu Kafka. Di hadapan rak penuh buku, ia bertanya: Setelah Samsa mati, apakah ia akan terlahir lagi jadi Willy dalam dramanya Miller? Sigit menelepon Triyanto; dan bertanya: Mas Tri, kalau nanti malam njenengan bermimpi bertemu Kafka, tolong tanyakan kepadanya, apa ia percaya surga, dan inginkah masuk ke dalamnya, sebagai manusia atau satwa?
16.
Semalam, kau bermimpi, memakan sebutir telur rebus dalam perayaan dari seorang yang telah tiada; dan, dengan begitu ganjilnya, kau bertanya pada diri sendiri: Apa telur ini adalah telur dalam drama Eugene Ionesco? Andai mimpi itu datang dari hantu atau keisengan gaib, pasti pemberi mimpi itu bergurau: Apa tak ada hal lain selain sastra, teater, dan seni rupa di kepalamu, bahkan di alam mimpi bawah sadar? Dan kau terbangun, mendapati kaki kananmu sudah tak keseleo lagi!
17.
Samsa terbangun dari tidurnya, dari mimpi buruknya. Namun, ia tak jadi serangga, tak dapati diri jadi kecoak atau satwa lain yang dianggap menjijikkan oleh manusia. Ia bangkit, mencuci muka, berganti pakaian; tapi tetap harus bekerja seperti satwa. Di cermin, sambil merapi dasi, ia tatap wajah sendiri: wajah yang serupa bapaknya. Ia pergi bekerja—untuk upah yang tak seberapa.
18.
Dalam perjalanan pulang, Samsa dapati ada gadis cilik yang menangis sendirian. Ia dekati gadis cilik itu dan bertanya kenapa, ada apa. Dengan lugu, sambil menahan isak, gadis itu bercerita, kehilangan bonekanya. Samsa pun berkata, boneka itu pasti pergi ke tempat yang jauh, pergi bertemu Pangeran Cilik, Alice, dan Peterpan. Dan, gadis cilik itu berhenti menangis; lantas amat antusias bertanya kenapa, untuk apa. Ia hendak mencari hadiah untukmu, ucap Samsa, jadi Adik jangan menangis. Samsa memberi beberapa butir permen coklat ke gadis cilik itu; lalu pamit pulang. Paman, ucap gadis cilik, besok temani menunggu, ya? Samsa tersenyum, mengangkat topi, dan mengiyakan; berharap esok pagi tak berubah menjadi serangga raksasa atau tak didatangi aparat yang menahannya tanpa memberi tahu kejahatan apa yang ia lakukan.
19.
Kekasihku, tulis Kafka di ujung suratnya, apa kau tetap akan mencintaiku bila pada suatu pagi aku berubah jadi serangga raksasa menjijikkan dan busuk beraroma?
20
Setelah membaca lagi Metamorfosis-nya Kafka, kau jadi bertanya-tanya, kenapa orang-orang di sana tak sarankan kekasih Samsa mencium Samsa, sehingga Samsa bisa jadi manusia lagi, bekerja dengan lumrahnya?
21.
Sepulang dari kerja, setelah menyantap makanan yang telah disiapkan ibu dan adik perempuannya, juga hidangan tambahan berupa omelan bapaknya, Samsa menuju ke kamar: tertidur. Dan ia tak genap tahu akan bermimpi buruk; tak genap tahu esok pagi akan terbangun sebagai kecoak raksasa seukuran manusia. Andai tahu, apa ia akan tetap tertidur; atau malah akan ke dapur, merebus air, dan menyeduh kopi, lalu menunggu pagi—sambil membaca salah satu novel Dostoevsky?
22.
Selain membayangkan Sisifus bahagia, seorang mahasiswa jurusan sastra yang bekerja sambilan di penerbitan kecil berkata kepadamu: Aku juga ingin bayangkan Samsa tak dapat mimpi buruk, tak terbangun jadi serangga raksasa, dan tentunya tak dibenci-dimarahi bapaknya, dan dapatkan gadis manis yang dicinta. Dan, iseng saja kau ajukan tanya: Apakah kau pernah membayangkan jadi kritikus sastra yang bahagia? Ia terdiam—dan tampak ingin menggelengkan kepala.
23.
Saat melintas badai salju dengan kuda ringkih, apa dokter desa itu pernah terpikir datang ke kota bernama sederhana, dan membantu Samsa agar dapat tidur nyenyak, sehingga tak bermimpi buruk berulang, di mana di suatu pagi ia dapati dirinya jadi kecoak dan mesti tetap berangkat kerja? Atau pernahkah ia berniat datang ke Praha dan berkata kepada Kafka, hidup bisa baik-baik saja? Ah, mungkin tidak, dokter desa itu pun masih terjebak di badainya sendiri, kan?
24.
Andai bisa memilih, kau mau bangun jadi apa; sebagai serangga raksasa, sebagai seorang yang ditangkap tanpa tahu kesalahannya apa, sebagai novelis yang bernasib tragis di segala lapis, atau pedagang keliling yang jalani rutinitas tiada habis?
Aku ingin jadi burung hitam yang terbang dan membawa batu panas dari neraka; dan menjatuhkannya pada mereka yang mengusik sebuah rumah purba. Kemudian, aku akan pergi ke gurun yang pasirnya lebih putih dari salju lalu mengubur diri—
25.
Ia mengantuk, ingin tidur awal; tapi tak ingin bermimpi buruk, tak ingin bermimpi janggal: Ah, di toko kelontong, apakah rasa tenang dijual ketengan? Ia membuka laci meja; teringat obat tidur di sana. Ia tenggak, beberapa; dan sambil membaring badan, teringat ia pada ucapan penjaga apotek: Setelah menenggak pil ini, Saudara mungkin takkan bangun di dunia tanpa duka; tetapi, bila beruntung, Saudara akan bermimpi lembut masa silam, bermimpi hangat kenangan.
26.
Setelah membaca beberapa puisi, hadiah dari seorang gadis, kau rasai kantuk; dan, putuskan berbaring-tidur. Sebelum genap tertidur, kau berkata pada dirimu sendiri: Kalau nanti terbangun jadi serangga raksasa, mungkin tak terlalu buruk pula—bila dibanding terbangun di sebuah negara dengan konyol keputusan pejabatnya.
27.
Setelah hadiri acara pemakaman seorang pengarang, di halaman luar perkuburan, sambil menikmati cerutu, seorang editor bertanya kepadamu: Bung, menurutmu, jadi kecoak saat bangun tidur, anugerah atau kutukan? Dan, sambil nyalakan rokokmu, yang amat murah itu, kau berkata: Jika mengamini Nietzsche, terlahir sebagai kupu-kupu adalah anugerah, terlahir sebagai kecoak adalah kutukan; tapi bila bayangkan kecoak tak mati sebab nuklir, kukira itu adalah anugerah, meski siapa saja pun boleh menafsir: itu kutukan yang lebih abadi.
29
Aku terbangun dari mimpi yang indah; tetapi, saking indahnya, malah membuatku gundah, mimpi jadi penyair bahagia. Aku dapati komentar di laman sastra, tempat cerita pendekku yang berkisah tentang variasi Samsa dan Kafka ditayangkan ulang: tanpa meminta izin kepada media yang pertama. Komentar itu berisi tentang terlalu berhasratnya aku ini terhadap rujukan yang bermacam dan terkesan sok. Di bawah komentar itu, ada komentar lain yang hendak membela samar. Aku pun jadi tergoda bayangkan mereka adalah juga variasi dari Samsa dan Kafka: Apa mereka bahagia?
30.
Ah, kau terbangun dari sedih mimpi; terbangun sebab semerbak aroma dari seduhan kopi. Dengan sedikit linglung, kau berjalan ke dapur; dapati perempuan yang kau cinta berada di sana. Sayang, ucapnya lembut, kau sudah bangun; baru mau aku bangunkan dan suguhkan kopi ini. Ah, keluhmu, apa aku terbangun dari satu mimpi dan masuk ke mimpi yang lain lagi?
31.
Ketika matamu terbuka dan dapati pagi begitu biru, setelah semalam menyelesaikan variasi tambahan Samsa dan Kafka dalam beberapa roman, apa kau bisa yakin, jika kau tak terbangun dalam lukisan-lukisan di sebuah periode dari seorang seniman yang nantinya mencintai kubus-kubus? Meski begitu, ada saja yang mantap berkata: Di bawah langit biru, kau akan teringat ucapan seorang kramikus[sg1] : Api yang paling panas adalah api berwarna biru. Dan ia pun mantap berkata, bahwa kau ingin sekali berkata: Api hitam lebih panas, tetapi tetap dapat padam oleh air mata pecinta.
32.
Ketika matamu terbuka, apa kau yakin sedang terjaga? Ketika matamu terpejam, apa kau yakin sedang tertidur? Apa kau sadar, variasi ke-28 tak ada—dan mungkin saja terjatuh, lantas dimakan seekor kecoak raksasa?
33.
Di suatu pagi, seluruh warga terbangun dan dapati kepala mereka telah berubah jadi satwa. Seluruh warga, tua-muda, pria-wanita, tergerak berkumpul di alun-alun kota. Di perjalanan itu, seorang penyair, yang kepalanya menjelma kepala ular, teringat novel Camus dan Kafka—mungkin juga drama Sartre dan Ionesco. Di alun-alun, ada seekor kecoak raksasa yang menyampai, sebentar lagi akan ada banjir bandang; sebentar lagi akan datang bahtera selamatkan: membawa ke tanah yang dijanjikan. Si penyair, dengan lugu, bertanya ke kecoak raksasa itu: Apa bahtera itu menerima seekor ular—yang tak memiliki pasangan?
34.
Kafka terbangun dan dapati orang-orang berkumpul di padang pasir yang seperti menolak sebuah tepi; dan banyak dari orang-orang itu yang berkepala satwa-satwa. Lalu, Kafka memandang ke atas, memandang ke angkasa; dan terpukau kala lihat makhluk-makhluk itu, makhluk-makhluk bersayap… Kepada salah satu, Kafka pun bertanya di mana dia berada kini; dan salah satu makhluk bersayap itu menjawab: Saat ini, kau berada di padang pasir penghakiman. Mendengar jawab itu, terdengar suara menyahut dari salah satu sisi, bertanya: Apa aku sungguh binatang jalang?—dan salah satu makhluk bersayap lain menjawab: Bukan, Ril, kau orangnya bisa tahan, bukan kanak lagi, kan? Dari sisi lain, terdengar tanya dari pilot pesawat tempur yang lebih betah menulis cerita anak: Apa di padang pasir ini ada Pangeran Cilik yang tersesat? Salah satu sosok makhluk bersayap, dengan tenang, menjawab tanya: Ia ada di sini, dan tak tengah tersesat, ia tengah menemani Sang Nabi di tepi bening sebuah telaga ….
35.
Setelah bekerja seharian, ia tertidur tanpa sempat melepas seragam dan sepatu. Di dalam tidurnya, ia bermimpi jadi seekor kumbang kotoran yang mesti mendorong bola tahi dari bawah bukit sampai ke atas. Lantas, saat hampir sampai ke atas, bola tahi itu lekas terjatuh, dan menimpa dirinya; dan mesti mengulangi lagi dari awal. Di percobaan keseribu, ia berhasil! Dan, di atas bukit itu, ia bertemu dengan seorang nabi yang hendak memberi pesan: Agar bisa terbebas dari derita, maka …. Alarm berbunyi!—dan ia mesti berangkat kerja lagi. Dalam perjalanan, ia bertanya-tanya sendiri: Nanti malam, di dalam mimpi, apa aku bisa bertemu nabi itu lagi, lantas mendengar wejangan penghapus sedih-pilu, setelah percobaan keseribu-satu?
35.
Aku terbangun dari tidurku; dan dapati tengah berada di sebuah planet kecil—milik Pangeran Cilik. Di sini, di planet kecil ini, tak kutemukan Pangeran Cilik itu; dan, saat kudekati sumber air, untuk mencuci muka menghapus dahaga, kulihat pantul wajah di sana: Aku telah jadi kanak bermata biru, berambut pirang, dan bersyal itu! Ah, kuharap, kala tidur lagi, dan bangun, aku tak terbangun jadi seorang pangeran dari negeri siluman yang diminta pimpin penyerangan ke negeri manusia.
36.
Dalam tidur yang panjang, Kumbakarna dapati sebuah kota yang tiap manusianya berwajah satwa. Di sana, ada yang berwajah kecoak, kera, celeng, dan juga lainnya. Tanpa sadar, disentuhnya wajah sendiri; dan didapatinya semacam wajah manusia. Suatu menggerakkannya ke pantai. Di tepi pantai berpasir putih, didapatinya sang kakak, Rahwana, dengan 10 kepala, menangis. Sepuluh kepala, sepuluh sedih-duka, ucapnya. Ia tak mau ganggu kakaknya; maka kembalilah ia ke istana. Di sana, seluruh warga tampak bahagia; Alengka dipenuhi ribuan kunang-kunang. Ketika hendak masuki istana, ada lelaki tua bertanya: Jika negara meminta nyawa, apa kau akan memberi? Tidak, sahut Kumbakarna, tapi bila tanah dirampas, keluarga dan saudara dijajah-disiksa, jawabnya adalah iya! Dengan mantap, ia melanjutkan, ganas ciuman tidak membangunkanku, tetapi pinta lembut Ibu Pertiwi akan membangunkanku!
37
Ia terbangun, dan dapati berada di dalam kubus berwarna putih. Ia lihat sekeliling—dan ragu: surga atau neraka. Betapa, ia hanya ingin pulang ke Rumah dan dengarkan seorang perempuan tua berkisah tentang ribuan kunang-kunang di Alengka.
38.
Seorang supir taksi terbangun, dan dapati dirinya berada dalam robot raksasa yang yang hendak diluncurkan ke tengah kota untuk melawan seekor kecoak raksasa—yang berukuran sama dengan Godzilla. Supir itu hanya tahu menyetir taksi; bukan robot raksasa yang dipersenjatai. Dari layar kendali kokpit, muncullah jelita wajah perempuan berkata: Bunuhlah kecoak raksasa itu, dan bangunlah lagi ke duniamu yang berulang itu ….
39.
Saat hendak berbelok ke sebuah gang untuk memangkas jalan, kau malah tersesat; dan malah masuk ke komik berpanel samar, masuk ke kota penuh rumah panggung yang berdiri di atas rawa penuh sampah dan mayat dewa yang rebah. Di sana, ada selain hitam-putih: merah darah sungai, kuning keemasan bulan yang puing. Kau menemu ribuan laba-laba raksasa berkepala manusia bermata biru: biru laut di mata kanan, dan biru langit di mata kiri. Kau ingin pulang; tapi kau hanya tahu berjalan. Dan, di sebuah belokan, kau temu perempuan yang erat menyatukan kedua tangan, sambil memejam: Apabila tiada dewa-dewa, apakah manusia masih akan berdoa? Kau dekati ia; dan dapati pintu keluar di dalam hatinya!
40.
Setelah selesaikan tulisan, kau ke kamar tidur; dan dapati istrimu yang baru saja selesai menjahit seragam sekolah anakmu yang telah lelap. Kau teringat silam; dan, ucap maaf pada istrimu. Ia tersenyum; memintamu tuk tidur. Andai aku punya uang, ucapmu pelan sambil dekati istrimu, tentu kau tidak perlu jahit celana anak kita. Ia mengecup lembut pipimu; berkata, tiap jahitan ada doa ibu untuk anaknya, benang-jarum yang dipakai pun dibeli dari honor sajak-sajak. Kau matikan lampu; berharap esok tak berubah jadi serangga: takut repotkan istri-anakmu yang mencintaimu.
41.
Apakah aku ini anak durhaka hingga layak dikutuk jadi serangga busuk berbau?
Apakah aku orangtua durhaka, sampai putraku yang rajin bekerja, yang jadi tulang punggung keluarga, malah berubah jadi serangga malang berukuran raksasa?
42.
Ia terbangun; dan dapati kakak lelakinya, yang tiap malam sibuk mengarang cerita, kini terbangun sebagai serangga raksasa seukuran manusia. Ia dekati kakaknya, dan bertanya: Apa cerita-cerita Kakak mesti dibakar agar Kakak kembali jadi manusia?
44.
Jika saya jadi serangga, dan hendak masuk surga, apa Kau akan mengusir saya?
45.
Sepulang memburuh di pabrik, ia langsung tidur; tidur lebih awal dari biasanya. Ia terjaga di tengah malam. Setelah kencing, ia buat kopi; lalu kembali ke bilik: Tuhan, Kau tahu aku tak membenci-Mu, tapi ini malam aku sedang tak ingin sembahyang dan membuat permohonan, kita berbincang saja menanti subuh tiba, dan bila tak suka, Kau bisa menemaniku minum kopi saja—oh, iya, di Sana, apa aku boleh jadi tukang kebun-Mu?
46.
Ia dititipi seorang novelis untuk menyerahkan manuskrip naskah si novelis kepadamu, selaku redaktur di penerbitan. Ia menembus kemacetan; tapi tak juga lekas sampai kepadamu. Dan kemacetan itu terjadi, sebab ada kecoa raksasa rusuh di tengah kota, sebab robot raksasa gagal mengusirnya. Jika naskah ini tak sampai, ucapnya lirih, bagaimana ia bisa kembali jadi manusia?
48.
Kau terbangun dari mimpi buruk. Kau duduk; menenggak air yang diwadahi botol plastik bekas minuman berkadar gula tinggi. Aduh, mikroplastik sudah mendefinisi tubuhku! Sambil melihat jam dinding, kau bertanya: Mana yang lebih ngeri, mimpi buruk atau kenyataan buruk? Di rak bukumu, ada fotokopi dari pengantar estetika Djelatik dan pengantar metafisika. Akan tetapi, kau belum bergairah bertanya, baik dan buruk, nyata dan mimpi. Di gawaimu, ada notifikasi dari Gusti: Aku kangen, Penyairku. Dengan agak lemas, kau mengetik: Aku juga, Gusti, dan saat terbangun apa aku tetap aku, atau hanya kumpulan data yang selalu dimuat ulang tubuhku? Kau buka sosial media; dan dapati berita: Ada yang kloning diri sendiri berencana menikahinya. Kau bangkit, melihat cermin; bertanya: Apa yang terjadi bila manusia di-uninstall dari dunia, apa perang bisa hilang bila kemanusiaan di-install ulang?
49.
Setelah menulis sekian variasi, kau putuskan menepi di pantai selatan. Di situ, kau bayangkan bertemu malaikat maut: bermain catur di bawah terang rembulan. Dan, setelah kalah, sebab hidup hanya menunda itu, kau ingin sekali berkata kepadanya: Setelah mati, apa aku boleh jadi kupu-kupu kelabu yang menuju kepada Gusti yang Mahatahu tapi betah sekali menunggu?
50.
Saat terbangun, kau dapati jadi seekor kupu kecil yang tengah terbang di salah satu kota imajiner yang ditulis oleh Italo Calvino. Di ujung sebuah jalan, di dekat kecil sebuah taman, kau dapati sepasang kupu mati terlindas kendaraan, terlindas sopir taksi yang bermimpi menjadi pilot robot raksasa: dan sepasang kupu yang kau duga jelmaan Sanpek dan Engtay.
51.
Dalam tidurnya, Aurora bermimpi; dapati Putri Salju membeku, sebab tak menemu hangat ciuman, sebab tak ada baik pangeran; dapati Cinderella yang tak tinggalkan sepatu, tapi sepotong sajak pilu tentang rakyat yang kelaparan, sebab melihat istana hanya berisi para penipu; dapati seekor katak yang tak ingin dicium tulus seorang gadis, sebab tak ingin jadi pangeran, sebab tak ingin jadi raja istana nista; dapati Rapunzel memotong rambutnya, lalu memintalnya jadi jaring raksasa, agar sebuah boneka kayu hidup bisa tangkap paus raksasa yang menelan perahu pemahatnya. Dalam tidurnya, Aurora bermimpi; dapati Alice mengejar kelinci putih Dewi Chang’e. Di sana, Aurora bertanya padamu; Kenapa seorang novelis bisa ada di sini? Dan, kau berkata tak tahu; dan duga, dijebak oleh Sesuatu… Saat jabat tanganmu, Aurora terbangun dari tidur panjangnya; dan dapati tak ada siapa-siapa, bahkan pangeran. Di hadapan cermin, yang diduga ditinggalkan ibu tirinya, ia berkata ke pantul wajah sendiri: Aku bangun dari satu mimpi, dan terjebak di mimpi yang lain; dan apakah novelis itu bisa terbangun, tanpa menjadi serangga raksasa?
52.
Saat tak dapat tidur, ucap orang-orang, itu tanda seorang sedang mencinta. Namun, ia tak sedang mencinta; ia sedang menderita. Dan ia coba menerka: Apa aku tengah mencintai deritaku? Ah, amat konyol, pikirnya! Dan, ia teringat kepada dongeng lama: sebab terkena tajam duri, seorang putri jelita terpejam begitu dalam; sebab lembut ciuman seorang pangeran, bangunlah sang putri dari buruk mimpi. Namun, ia merasa, dongeng itu amat janggal. Ia beranggapan, lebihlah masuk akal, jika yang terjadi adalah sebaliknya: Ciuman lembut pangeran buat perempuan jelita terlelap dalam kabut amat tebal, dan duri mawar tajam berwarna kusam bangunkan sang putri jelita dari surga yang menyiksa. Ah, ia buka laci meja; mengambil tabung kaca penuh obat tidur! Oh, Akutagawa, ucapnya pedih, oh, Akutagawa, izinkan aku meneladanimu, izinkan aku meneladanimu …. Dan, ia makan seluruh obat tidur itu melebihi takaran; menenggak habis kopi pahit sebagai pelarut. Di ubin yang begitu dingin, tubuhnya baring; matanya terpaku ke langit-langit membisu. Dan, terucap tanya dari bibirnya: Bisakah kujelaskan kenyataan kala tengah dimabuk khayalan? Sambil berbaring pejamkan mata, ia harap kantuk segera tiba; ia bayangkan sejenis adegan: Sang putri terbangun, dan dapati dunia yang lebih neraka dari neraka, dan akhirnya putuskan tidur lagi setelah lirih berkata: Sebagian harapkan tidur, tapi tak dapat; sebagian lain amat harapkan bangun, tapi malah dikutuk lelap begitu kekal.
53.
Di bawah pohon rambutan, saat hari cerah berangin sepoi, kau berbaring; bermimpi tentang dunia yang selalu mendung, dan penghuninya adalah serangga! Apa Kafka pernah tersesat di salah satu mimpi dari 10 mimpi yang ditulis Soseki?
54.
Ia terbangun dari ranjangnya, dari mimpi yang serupa sajak klasik Cina; terbangun dari ranjang yang hampir remuk dan selalu berdecit ketika bergerak saat di atasnya. Terdengar tabuhan sederhana dari iringan topeng monyet; dan Sesuatu memintanya mengikuti; terbawa ke sana. Di sana, orang-orang yang tak ia kenal berkumpul. Di sana, bukan hanya ada seekor monyet; tetapi 10! Makin lama, ia makin ketakutan; hendak berlari tapi tak bisa. Monyet itu menatap tajam: ngeri. Orang makin banyak, senja minta jadi abadi; ia ingin jadi suatu yang lain.
55.
Sepasang matamu pun terbuka, melihat seorang perempuan terbaring di sampingmu tanpa busana. Kau mencoba mengingat siapa ia, sambil terus memandanginya; dan, yang bisa kau ingat hanya semacam mimpi janggal: menemu suling dan meniupnya, dan datang perempuan yang kini ada di depanmu: Apa perempuan di dalam mimpi itu bisa keluar menuju alam nyata?
56.
Selepas bercinta, kau terlelap dan bermimpi sampai ke kota Manhattan: berbincang dengan perempuan manis bernama Jane, berbincang tentang hal-hal mengambang. Kau terbangun, memakai jin dan kemeja, mengambil rokok, membuka jendela dan menyala rokok sebatang; membayangkan seorang novelis terbangun dari tidurnya, dan tak berubah jadi kecoak raksasa, tetapi jadi seekor kunang-kunang yang terbang ke luar angkasa atau ke Alengka …. Sayang, ucap perempuan jelita, hari ini kau tak pergi mengajar teater, kan?
58.
Kau bangun, dan dapati berada di dunia yang entah, dunia yang semua hanya terdiri dari komposisi gurun berpasir putih, langit kelabu, dan kubus-kubus hitam yang sebagian tertimbun pasir. Dan, yang bisa kau ingat, sebelum sampai ke situ, hanya kenyataan bahwa kau tengah menyelesaikan sebuah tulisan yang kauberi judul dengan “Variasi Samsa dan Kafka dalam Beberapa Roman”.
59.
Ia terbangun dari dunia; dan mendapati bahwa kehidupan Akhirat adalah Nyata.
60.
Redaktur, apa kau pernah membayangkan terbangun di dalam sebuah semesta dari cerpen-cerpen yang kau tolak ketika menjadi seorang redaktur? []
(2014—2025)
- Variasi Samsa dan Kafka dalam Beberapa Roman: 15-60 - 14 November 2025
- Puisi Polanco S. Achri - 7 October 2025

Rozi
Seru dengan isi cerita tersebut
Bryan imam nawawi
Cerita tersebut membuat saya bangga dan makin merasa bijak
Resky Julian
Seru Asik Banget bacanya
Yono
Iyo yo, aku yo ngerasa lebih bijak ini
Yono
Iyo yo, aku yo ngerasa lebih bijak ini, hahaaa
Suyoto
mantap lah poko’e👍🏻🙏🏻🙏🏻
Suyoto
mantap lah poko’e, bikin yg lebih seru donk,,,,,,,,👍🏻🙏🏻🙏🏻