Puisi Novan Leany

Mereka yang Merubuhkan Subuh

                        : 1960+

 

Mulai tahun enam puluh

setiap pagi masih jauh, abah 

selalu memindahkan warna langit 

ke pipinya dan ibu termenung 

menimang kesedihan

dari balik pintu

 

baginya kemenangan,   selalu 

datang terlambat persis tambat 

nasehat pengangkut barang 

pada ferry terakhir 

di tiap basah pelabuhan,   dengan 

dendam pada kejauhan 

masa lalu

 

 tetapi

 

ia tetap pulang hari ini 

dengan kaos pedagang, tempat 

senja menyimpan amis sungai, 

aku menyambutnya riang:

“Abah memang hebat

wajahnya nampang

pada koran pagi, sedang 

memeluk tiang pasar persis

gelang gigi hiu memeluk 

lengan masa kecilku” 

 

ia cuma diam seperti jam

seperti cermin retak tak 

mengenang senyuman 

seorang pun, tapi masih

diusapnya ubunku persis 

renyai tempias menyemai 

rasa lelah di bantal kami 

 

tengoklah, tengok 

abah terbaring menyamar 

jadi obat nyamuk bakar

di kolong ranjang tempat 

adik menyimpan tawa

di kaki lemari lapuk 

yang tak mampu lagi 

memikul beban 

masa depan kami;

bertarung dengan decak cicak 

usai lebih dulu bersitahan, 

mengatup mimpi 

yang tinggal separuh

 

rumah sebesar nasib,     terselip 

dalam keranjang daging,

tempat keturunan kami 

memimpikan toko-toko 

dan kios saling bersilangan 

membelah jalan bikinan

negeri seberang,

”kalian

orang 

terbelakang”, 

katanya 

 

apapun bahasa tak kami 

mengerti, eja sebagai

kampung halaman

 

begitulah 

surat izin usaha, pengap kota, 

 bertudung sunyi 

di atas meja makan

(antara takut dan duka

dalam berkah sendawa)

 

tak ada lebih penting,    selain

bingkai foto keluarga

ditukar selembar poster

bertuliskan,

“kami 

menolak 

relokasi” 

sebagai penutup lubang 

dinding-dinding dapur

dan tak ada jawaban. 

 

Tak 

ada 

cuma tangis 

adik sesekali, 

menukar suara 

perut lapar kami 

juga lalat-lalat 

berdengung 

seakan berkata 

“kalian 

belum

kalah”

 

abah, mengapa ibu 

tak ingin lagi 

 

menimang kami?

 

2025

 

 

 

Setelah Katedral Samarinda

 

Engkau tak tahu, satu-satunya 

tersisa di mataku adalah 

jendela tak terkunci, 

tempat anak-anak melarikan 

diri dari sekolah yang lebih 

membelenggu dari perangkap

guru usai kabur ke bulan-

bulan di kalender yang 

tak ada tanggal merah

 

Nyanyian-nyanyian harapan

dijepit pekik sirine pemadam

dan dadaku dipenuhi bangkai-

bangkai mainan; Egrang, Gasing, 

dan layang-layang, kutarik harga diri 

yang lebih murah dari buku-

buku pelajaran juga mercon Busi; 

hidup cuma meletupkan trauma 

masa lalu dan bau mesiu itu, 

menguar melalui napas

lelah mulut ibuku 

 

Sepotong bayang wajah kecilku

tak lagi selenggang dulu, 

ia terkaca pada banjir kampungmu 

menanti dilarutkan waktu 

ke parit seperti puisi, menggenang 

ke bendungan folder. ke trotoar, 

dilindas truk, mengering,

lalu disapu tukang 

pembersih jalan

sedang ayahku,

dapatkah kau bayangkan,

usai terbenam ia di beranda 

menghela sakitnya

sabung ayam dan judi online?

 

Aih bungul,

impian serupa Tempakul

terbenam di sandal dan bungkus sampo 

memikul-mikul kesedihan 

di balik lumpur usia

dapatkah aku sematkan 

telur nasib ke di dinding

-dinding doamu?

 

Bagaimana engkau tahu, 

minggu pagi ini aku ketiduran

tak ada jendela untuk melarikan diri

sedang anak kecil dalam diriku 

tak henti-hentinya mengejar 

layang-layang

 

mengapa tak di matamu?

 

 

2024

 

 

Sepinggan 

            

Dan di piring waktulah

turis-turis itu mendarat

dengan garpu dan pisau di tangan

yang matanya tak mau mengerling

dari batang leher saudaramu

(kau tahu bahwa setiap hidangan

hanya wajah kegembiraan 

yang sepenuhnya meragukan)

 

“Apalah lagi hendak kau santap meneer, 

sebab, matahari hanya kuning ceplok telur 

yang kita sisakan pada suapan terakhir; 

terik yang sunyi sebuah pulau 

dengan musim yang tak pasti”

 

Namanya dijajah sayang, 

kehidupan tak mungkin sehalus 

menyelai punggung roti, tatkala

hari-hari mengibar pergi pada 1527

kali itu bandara kuyup, bau aspal basah 

yang membuatmu bertanya,

 

“Beginikah pula bau muntahan 

orang lapar di kelasi, yang mengendurkan 

jalur sungai dari pergelangan nadi kami?”

 

Usia hanya retak tanah 

pada makam moyangmu

yang kadang tak berbentuk 

seperti masa lalu, juga 

patahan-patahan tombak

dikerat akar dan lumut

yang tertimbun menjadi rahasia

(kau menduga itu milik budak dari 

negeri seberang yang pernah 

menjemput kepulangan ibumu)

 

“Kami tahu baginda Jayakarsa akan angkat bicara, 

dan memenggal kepalanya”

 

Tapi kau tak mau aku ikut menjelajahi

kisah perih dalam lintasan pulau ini, 

sebab kau tahu, akan ada kapal-kapal

melabuhkan sejarah dan pesawat

yang mendarat sekaligus memuntahkan

dongeng tentang leluhurmu sedang

di tengah ladang itu, rumah hilang makna

tinggal tiang Lamin tempat saudaramu 

menyematkan Bening dan Jala

yang menyimpan amis iwak persis

angin membangunkan api

pada umbul rambut rimba; 

segumpal kabut kenangan pada bukit

yang menghalau mata

pada sebuah jurang 

yang ingin kau jengkal sampai 

ke lubuk ingatanmu,

 

Dan kau tahu di piring waktulah 

bahwa setiap hidangan

hanya wajah kegembiraan 

yang tak membuatmu berarti

 

2023/2025

 

 

 

 

Bening 

 

Bukanlah iwak 

dikau yang aku timang 

di balik punggung nak,

dan sebagai penunggu sungai

yang meruas arus di pusarmu

tak berarti karena berkulit licin

kita saling berlepasan

terperangkap jala-jala kota yang dingin 

dari Hulu ke Ing Martadipura

adalah kecemasan, katamu

 

Kau kenali aku, 

lewat petunjuk langit sembab

adalah mata penjinak gaung gelombang 

yang terhenyak kaku serupa Baung

lepas dari tombak, begitulah jika kau lihat 

betis kampung yang pincang 

macam nyiur tumbang

usai disepak tongkang

 

Kabarnya, 

seorang bangsawan yang tengah lelah 

menyusun embun dari langit Timur

adalah rengekmu nak, riuh Harimau 

yang mengasah kukunya ke badan

risalah kampung halamanku 

(alamak janganlah buat pula tanda

agar pemburu pulang kemari)

 

“Pasang taringku untuk Beningmu,

sebelum tumpul dan copot oleh orang kota 

buat cangklong dan hiasan dinding

O, kabarkan aum ini ke ladang

ayun aku dalam budi luhurmu, Ine

 

Di kampungmu ini,

peristiwa terkubur dan 

musim-musim tak tanggal di dada

sementara kelahiran terus terjadi, 

Mahakam terbuat dari liang dan tongkang

dan bau lembah batu 

kian dengus ke ubun pagi

seperti kematian janggal 

moyangmu, rekah 

dari sepah-sepah 

di lidah kompeni

 

Nak, jikalau kau tahu kehidupan kita

terkamlah segala pendatang

jangan sembunyi bagai tapai, 

di hidung manis

kelat ia ke muka

tapi harus wani bagai umbi,

dari tanah ia memberi,

memberi ke rumah sunyi, 

ke punuk malam, ke bilik-bilik pagi

seakan-akan kau bertamu

pada rasa lapar yang tak pantas

untuk seorang penakut

 

Maka jauhilah remang, sebab 

apa yang hendak dirampas

dalam rahim sempadan lainnya 

yang berdarah adalah

aroma daun basah

dari tanda rinai terakhir

titisan datuk leluhurmu

yang dijawab pokok-kayu 

sebagai rimba masa lalu

 

2022/2024

Novan Leany
Latest posts by Novan Leany (see all)

Comments

  1. AAM Reply

    Bagus ini puisinya maknanya dalam semua. Isu dan pesannya tersampaikan. Saya paham bgt krn pernah rantau juga ke Samarinda, Kaltim

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!