Puisi Ervin Kumbang

 

Di Studio

 

kulitku dan kulit mereka kini tak lagi berbeda
meski aku datang dari gelombang yang itu-itu
juga

 

sepatu, kulit, rambut yang berminyak, kecuali
anak-anak perempuan yang melambaikan
tangannya padaku sewaktu kupilih duduk
di sudut

 

–mereka punya kelembutan yang lain

 

juga barangkali karena sofa dan warna abu-abunya
ruang persegi empat ini tak lagi terasa
mengintimidasi

 

atau mungkin karena sudah kutumpahkan ke lantai
langitlangit yang mereka kenal namun tak pernah
bisa mereka jelaskan

 

dengan bantuan sedikit listrik dan suara yang
datang dari lima sentimeter es di balik bumi

 

patut dicatat pula

 

pohon besar cuaca mendung singkong goreng
dan kopi instan di gelas plastik menjadi jembatan
di halaman ini

 

sambil mengingat-ngingat seberapa hutan tempat ini
sebelum bola golf melayang memasuki telaga

 

2025

 

 

Di Tempat Umum

 

di tempat umum
aku adalah mata yang menimbang
satu demi satu, sejauh jangkauan pandang
dengan begitu kukendalikan kesemrawutan
yang berlarian di balik hoodie hitam

 

sesekali,
ketika mata menembus bingkai langit malam
dengan gedung-gedung apartemen yang tak lagi punya apa-apa
lelaki-lelaki tua di sudut sana
            tertangkap menimbang-nimbang wajahku

 

Martin Aleida salah satunya
waktu Stasiun Manggarai belum punya eskalator

 

atau terkadang perempuan-perempuan tua

 

semuanya sadar ketika kami sama-sama sadar
dan aku tak lagi heran dengan bakat terhubung
pada dunia orang-orang tua itu

 

apa yang mempertemukan kami, barangkali,
karena menunggu dan bersimpang adalah tujuan
di tempat ini

 

di lift
gadis-gadis berdiri di sela-selaku
dan pembuluhku terlalu hangat
untuk wajah suci yang tersingkap
sebagai apa yang engkau sebut kecantikan
dalam dirimu sendiri

 

2025

 

 

Bergerak ke Arah yang Paling Lembut

 

berdiri orang jarak sejengkal. sore hari
dan kami terperangkap di gerbong. kemudian
suara bayi gelisah seperti yang sudah-sudah
merayapi syaraf tempat pasang surutnya
pertanyaan tentang rasa nyaman dan
keberanian pada kekacauan

 

dua eksemplar komik Tintin warna merah
mengintip dari plastik hitam. baru dan panas.
menyimpan tawa anak-anak selepas azan

 

permen dan es krim. coklat dan puding.
udang, petai, dan cabe merah. bertemu
dalam migrain di sisi kanan.

 

di dalam kepala yang itu juga
borobudur dipugar dengan lego
serta tangga yang menjulur
ke lubang di atas langit malam
mengimbau dan mengimbau

 

2025


 

 

Sepuluh Tahun yang Itu

 

kecuali lingkaran nongkrong yang kian mengecil
aku merasa sepuluh tahun yang itu tak pernah
beranjak dari dadaku

 

sempat kucabuti rambut-rambut putih pertama
sampai seorang puanjantan salon langgananku
memberitahu bahwa puncak ubun-ubunku mulai
botak

 

sejak itu aku tak peduli–putih biarlah putih

 

kemudian datang kesempatan untuk kembali
ke suasana itu namun dengan waktu dan cambuknya
yang menatap menang dari kejauhan

 

ganja dan anggur murah bergulir seperti dulu
gurauan yang khas muncul kembali dan lepas
tawa yang jarang sepecah itu–kembali jadi kamerad

 

ada juga merah darah yang memudar di cuping hidung
gigi yang tanggal dan lidah kendur seakan sepuluh
tahun di depan telah tiba secepat itu

 

aku kenal mereka dan mereka mengenalku
begitu pula aroma rumput yang kami duduki ini
tetapi gelisahnya selalu baru dan tak bertanggungjawab

 

andai tak ada cakrawala
aku akan berputar-putar saja di sini
aku bergelut, setidaknya, aku bergelut

 

2025

Ervin Kumbang
Latest posts by Ervin Kumbang (see all)

Comments

  1. Putri Reply

    Puisi basi,sampah.

    • Admin Reply

      komen yang mantap andai setelah tanda koma dikasih spasi dulu.

    • arpan Reply

      ya ampun, kak. sebaiknya, kakak belajar dulu perihal tanda baca.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!