Puisi Moch Aldy MA

Mengingat Akar

 

aku nyaris lupa bagaimana suara ibu

ketika memanggil namaku

sedang ayah selalu pergi

lebih pagi dari matahari &

pulang setelah lampu padam

keduanya umpama negara

yang jauh—penuh cedera janji

 

tumbuh dari diam ke diam

yang tak sempat direkam

dari renggang ke renggang

yang tidak pernah penuh

kecuali oleh bayang-bayang

diriku sendiri

 

sayang tak ada anak

yang mampu menyibak

mengapa jarak lebih panjang &

lebih lengang

ketimbang waktu

 

ingatan memang

yang paling pandai

memotong bawang.

 

(2025)

 

 

 

Apakah Ayah Menangis Ketika Sendirian?

 

aku tidak pernah lihat ayah menangis

bahkan ketika burung kesayangannya mati

ia hanya sibuk menyuruhku

memangkas rambut &

mematikan televisi

 

aku terlalu takut bertanya &

ayah

umpama mesin-mesin lainnya

tidak pernah bercerita

 

ia selalu pulang larut

membawa campuran bau bensin

matahari &

parfum murahan

 

seumur hidup aku belajar

membaca wajahnya

seperti belajar mengaji cuaca

 

aku tidak tahu apakah ayah menangis

tapi aku pernah memergoki ia

tengah malam

sendirian duduk diam di teras

mengisap dalam rokoknya &

menatap sesuatu yang begitu jauh

yang terlalu purba untuk kumengerti

 

sejak itu aku sotoy berteori:

ada tangisan yang tidak keluar dari mata

tapi dari cara seseorang bercokol

terlalu lama

dalam gelap.

 

(2025)

 

 

 

 

Mendengar The Strokes

 

di kamar yang tak punya musim

kau memutar abnormal baru

terdengar silet di atas vinil

 

ia tak menyapa

tapi mengiris pelan:

satu kenangan masa kecil

yang tak punya tanggal

 

ada keringat yang jatuh perlahan

di sela-sela ketukan drum

ada gitar yang kering & tajam

ada yang menari

ada yang meraung-raung

menafsirkan kedewasaan

dengan bahu yang layu &

tempo yang memuakkan

 

seseorang bernama ayah & ibu

mengucap maaf

suaranya parau macam lift tua

yang turun tanpa tahu

lantai mana yang dituju

 

tapi tak ada janji ditegas dua kali

kau telanjur lelah jadi kuda tuli

sehingga lidah telah patah

menyisakan riff yang jangly &

kecewa yang bersandar

di pengujung hari

 

kau menyebutnya karya seni

aku menyebutnya:

puisi yang disamarkan jadi bising

agar tak seorang pun tahu

ia sedang menangis begitu nyaring.

 

(2025)

 

 

 

Mendengar Hozier

 

di kepalanya bersemayam

pukul tiga pagi

kopi hitam

sangsi-sangsi &

diam tuhan

yang mesti rapat-rapat

disimpan sendiri

 

ia tahu beberapa sakit-cedera

tidak lahir dari peristiwa

tapi dari bisu langit &

cara mata orang lain bekerja

 

sebabnya ada hari-hari

di mana ia percaya

satu pelukan lebih mujarab

ketimbang seratus sabda nabi

dalam seribu kitab

 

barangkali adalah wajar

ia tak pernah bermimpi jadi api

hanya ingin menjadi

sesuatu yang tetap tinggal

setelah semuanya habis

terbakar sabar.

 

(2025)

Moch Aldy MA
Latest posts by Moch Aldy MA (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!