Perjalanan Panjang Benda-Benda

Mantel Bulu Imitasi

Saat bekerja di binatu, Marsudi tidak pernah benar-benar mengamati pakaian-pakaian yang ia tangani. Sampai suatu hari ia mengenali mantel bulu imitasi milik Marsuni, saudara kembarnya yang telah meninggal dunia. Bagaimana sepotong mantel milik seseorang yang telah meninggal hampir sepuluh tahun lalu bisa menemuinya di binatu ini, tak ada hubungannya dengan kegaiban atau pun misteri ilahi. Itu hanyalah perjalanan panjang sebuah benda yang seolah-olah memutuskan ingin bernyawa.

Marsudi yakin sekali itu mantel bulu imitasi yang sama, bukan sekadar mirip. Sebab Marsuni pernah membuat tambalan dan jahitan kecil di sisi dalam kerah serta ujung lengan sebelah kanan, dan jejak-jejak perbaikan itu masih ada di sana. Sejak itulah Marsudi memperlakukan si mantel dengan amat hati-hati seolah benda itu terbuat dari cangkang telur emas. Marsudi tidak menyatukan si mantel bersama pakaian-pakaian lain demi menjaga bulunya yang hanya terbuat dari serat sintetis tidak semakin ramus. Si mantel diberi pewangi ekstra. Dikeringkan lebih lama. Disetrika dengan amat teliti dan penuh sayang seolah pakaian itu bernyawa dan akan menjerit “aw” bila tidak diperlakukan dengan lemah lembut. Seandainya si mantel boleh dilaminasi sendiri tanpa perlu dicampur bersama pakaian lain, akan Marsudi lakukan dengan senang hati. Pada akhirnya, Marsudi ditegur oleh sang majikan.

“Mantel bulu itu dan pakaian-pakaian ini satu pemilik,” kata majikannya, “kenapa tidak ditangani berbarengan?”

Marsudi berbohong dengan mengatakan bahwa ia mengira mantel itu dibawa oleh orang yang berbeda.

Pemilik baru mantel bulu itu memancing rasa ingin tahunya. Marsudi memeriksa tanggal pakaian itu dibawa dan akan diambil dari binatu. Paket reguler. Nama pelanggan: Marietta. Pada hari Marietta datang untuk mengambil pakaian bersihnya, Marsudi sudah mematut diri di balik bukaan menuju ruang depan. Marietta adalah seorang perempuan baya di usia 60-an, bertubuh gempal dengan raut wajah seperti orang yang belum tidur dua malam. Namun, rambutnya yang dicat hitam membuatnya terlihat lima tahun lebih muda. Tak ada cara untuk memastikan apakah perempuan itu memang Marietta, pemilik mantel bulu imitasi yang baru. Bisa jadi ia hanya kerabat atau asisten rumah tangga yang disuruh mengambil pakaian di binatu. Satu-satunya cara—untuk memastikan apakah orang itu benar Marietta—tentu saja adalah bertanya langsung.

Marsudi keluar lewat pintu belakang sesaat setelah Marietta meninggalkan binatu.  Seolah-olah mereka hanya berpapasan secara kebetulan, Marsudi membuka percakapan dengan mengomentari bagaimana cuaca akhir-akhir ini yang tak bersahabat, membuat ia  malas mencuci pakaian sendiri.

“Bekerja di binatu membuatku suka membayangkan seperti apa kira-kira karakter manusia berdasarkan pakaian-pakaian ini,” katanya kemudian.

Semula Marietta tidak menaruh curiga sampai kata binatu meluncur dari mulut si orang asing. Ia melirik kantong plastik berisi susunan pakaian bersih yang dilaminasi lalu lelaki dihadapannya. “Kamu membuntuti saya?” Ia melirik ke belakang ke arah binatu yang baru saja ia tinggalkan.

Marsudi tidak mencoba membohongi perempuan baya itu. Akhirnya dari mulut si karyawan binatu meluncur pengakuan yang ternyata tidak sulit-sulit amat untuk didedahkan. “Mantel bulu yang ada dalam kantong pakaian bersih itu dulu milik saudari kembarku,” kata Marsudi, “tapi kalau boleh tahu, apakah Anda Marietta dan apakah mantel bulu itu sekarang milikmu?”

Marietta memicingkan kedua mata dengan sorot curiga. Ia benci cara orang asing itu menyebutkan namanya. Orang-orang memanggilnya Rietta tanpa menyertakan huruf e yang ada di antara i dan t. “Panggil saja Rietta,” katanya dingin. “Dan ya, mantel bulu yang kamu maksudkan ini milik saya, meskipun kalau boleh jujur, saya tidak tahu dulunya mantel ini milik siapa. Yang pasti saya tidak memperolehnya dari thrifting meskipun saya penggemar pakaian-pakaian bekas. Jika pernah mendengar tentang banjir besar yang terjadi di Kabupaten B beberapa tahun silam, kau akan mengerti kenapa akhirnya seseorang mengenakan pakaian dari orang-orang asing yang belum pernah mereka temui.”

Marietta lanjut menceritakan bahwa dirinya adalah salah satu korban banjir yang rumahnya tenggelam hingga atap. Ia bersama kakak perempuannya, Amietta, yang waktu itu telah lansia dan Pedro bocah remaja yang ia adopsi, mengungsi di bubungan atap sampai sebuah sekoci penyelamat datang. Mereka dibawa ke tenda-tenda pengungsi yang telah disediakan oleh tim penyelamat bencana dari ibukota provinsi, diberi makanan yang kebanyakan berupa mi instan lalu setelah seminggu, berdatangan kardus-kardus sumbangan yang salah satunya berisi pakaian bekas. Marietta tidak ingin terlalu banyak mengenang tentang hari-hari naas itu. Hari-hari ketika dingin, muram dan lengas menjadi tiga kata sinonim. Pada hari kedua di tenda pengungsi, Amietta meninggal karena infeksi paru-parunya semakin parah. Tinggallah Marietta dan si bocah adopsi, Pedro, di dunia tempat hitam dan putih hanya boleh bersisian, bukan berbaur. Pedro mengais salah satu kardus sumbangan dan menemukan mantel bulu yang menurutnya tidak cocok dipakai oleh wanita seusia Marietta karena terlalu norak. Marietta mengambil mantel bulu itu dari tangan Pedro, tidak peduli siapa pemiliknya dahulu seperti ia tidak peduli kata orang-orang bahwa ia tidak cocok mengenakan mantel bulu itu.

Kisah itu terlalu panjang untuk sebuah perkenalan singkat di trotoar, beberapa meter dari binatu tempat Marsudi bekerja dan bersua kembali si mantel milik saudari kembarnya. Ia menghargai keterbukaan Marietta atau Rietta atas sepenggal kisah hidupnya dan bagaimana ia akhirnya memiliki si mantel bulu lalu pindah kemari. Semasa hidup, Marsuni sangat menyayangi mantel bulu itu. Kini benda yang sama berjasa memberikan kehangatan bagi Marietta.

Marsudi berdoa agar hari itu bukan hari terakhir mereka bertemu. Harapan Marsudi menjadi kenyataan—tapi dengan si mantel bulu, bukan Marietta. Setidaknya seminggu atau dua minggu sekali, Marietta membawa si mantel bulu ke binatu tempat Marsudi bekerja. Kadang-kadang tanpa menyertakan pakaian-pakaian lain. Marsudi menduga bahwa Marietta sengaja membawa si mantel bulu ke binatu supaya ia punya kesempatan bersua benda peninggalan saudari kembarnya.

Marsudi menceritakan pertemuannya dengan si mantel bulu saat berziarah ke makam Marsuni pada satu hari Minggu yang cerah. Ini dilakukannya dengan penuh keengganan dan rasa bersalah. Marsuni sangat menyayangi si mantel bulu imitasi sehingga tidak mungkin akan menyertakannya bersama pakaian-pakaian sumbangan untuk para korban banjir di Kabupaten B dulu.

Malam setelah mereka menyerahkan dua kardus mi instan dan sekardus pakaian bekas ke rumah Pak RT sebelum dikirim keesokan pagi, Marsuni menggeledah seisi lemari untuk mencari si mantel bulu. Seloyang pakaian kotor dan pakaian bersih yang belum dikeluarkan dari mesin cuci juga digeledah hingga berserakan di lantai. Seisi rumah digeledah. Namun, si mantel bulu imitasi tidak ada di mana-mana.

Mereka bertengkar, Marsudi dan Marsuni. Marsuni menuduhnya telah memasukkan si mantel bulu ke dalam kardus untuk para korban banjir. Marsudi bersumpah demi kedua orang tua mereka yang telah meninggal dunia bahwa ia tidak pernah dan tidak akan mungkin melakukan itu. Sewaktu mengepak pakaian-pakaian bekas ke dalam kardus, Marsudi dibantu oleh Yolanda, tunangannya. Marsudi yakin Yolanda tidak mungkin keliru memasukkan mantel kesayangan Marsuni ke dalam kardus. Yolanda tahu mantel itu kesayangan Marsuni.

Namun, perasaan Marsudi mulai tak enak—dan ia mati-matian menyangkal firasat buruk itu. Secara empat mata, ia bertanya kepada Yolanda tentang si mantel bulu. Dengan raut kaget dan rasa bersalah yang dilebih-lebihkan, Yolanda meminta maaf telah tak sengaja memasukkan mantel bulu Marsuni ke dalam kardus bersama pakaian-pakaian lain. Marsudi bisa memaafkan tunangannya, tapi belum tentu Marsuni. Marsudi menyuruh perempuan itu mengaku dan meminta maaf kepada saudari kembarnya.

Di sisi lain, Marsuni tak lagi kaget dan sedikit banyak telah menduga Yolandalah pelakunya. Yolanda tidak hanya merebut Marsudi dari dirinya, tapi juga menginginkan mantel bulunya sekalipun imitasi. Betapa serakah. Menginginkan dua padahal telah memiliki salah satu. Menyumbangkan si mantel bulu pada para korban banjir seolah adalah langkah yang adil. Sebab itu, berarti baik Yolanda maupun Marsuni sama-sama tidak memiliki mantel bulu itu. Namun, Yolanda tetap memiliki Marsudi dan mereka berencana segera menikah.

Marsudi tak punya uang untuk menggelar pesta mewah, tapi minimal menyelenggarakan akad nikah di KUA. Mereka akan mengenakan jas dan gaun sewaan. Sepasang cincin pernikahan yang dibeli dari menguras tabungan, akan meresmikan hubungan mereka.

Seminggu sebelum hari H, Marsuni keluar dari rumah dan memutus segala bentuk komunikasi dengan Marsudi. Tiga hari sebelum hari H, mayat perempuan ditemukan di kamar hotel murahan di pinggiran kota, diduga korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh terduga pelaku yang baru ditemukan berbulan-bulan kemudian. Marsudi menolak percaya mayat perempuan itu saudari kembarnya, meskipun uji forensik membuktikan demikian. Pernikahan Marsudi dan Yolanda tak pernah terjadi. Beberapa tahun kemudian, karena kesulitan keuangan, ia menggadaikan cincin pernikahan yang tak pernah mereka pakai.

Kisah ini terlalu rumit untuk sebuah ziarah singkat di makam saudari kembarnya, beberapa kilometer dari binatu tempat Marsudi bekerja dan bersua kembali mantel bulu imitasi kesayangan Marsuni.

Cincin Nikah Sementara

Dunia belum kiamat hanya karena mereka menikah tanpa cincin kawin. Ketika Tania berhenti berharap, Sabri membawa pulang sepasang cincin emas yang tampak masih baru, dua hari sebelum mereka menikah di kantor catatan sipil. Meskipun masih terlihat baru, kedua cincin itu tidak dibeli dari toko emas. Sabri menemukannya dari pelelangan dengan harga yang jauh lebih murah. Kadar karatnya memang tidak terlalu tinggi. Namun, Sabri meyakinkan kekasihnya, bukan itu yang terpenting. Cincin hanyalah simbol ikatan pada taraf permukaan. Janji nikah tetaplah yang paling penting di atas segalanya. Tania hampir berhasil diyakinkan sampai ia melihat nama yang terarsir di sisi dalam cincinnya: Marsudi Hamdani. 22 April 2013.

Sesungguhnya tidak masalah apakah mereka mengenakan cincin perak atau pun titanium sebagai simbol ikatan. Masalahnya ia tidak menikahi seorang lelaki bernama Marsudi Hamdani, tetapi ia mengenakan cincin kawin berarsir nama orang itu dan tanggal pernikahan mereka, ia dan Sabri, adalah 28 Mei 2022 bukan 22 April 2013. Sabri juga tidak menikahi seorang perempuan bernama Yolanda Kamila melainkan Tania Citra Sari, tetapi nama perempuan asing itulah yang tersemat di sisi dalam cincin di jari manisnya.

Mereka akan melewati hari-hari baik dan hari-hari buruk mengenakan cincin berlabel nama dan tanggal pernikahan dua pasangan asing yang tak pernah mereka temui. Siapa gerangan Marsudi dan Yolanda, pemilik sebenarnya dari cincin nikah berusia sembilan tahun ini? Kenapa mereka tidak menebus cincin pernikahan mereka dari pelelangan? Apakah mereka bahkan masih bersama? Bagaimana kalau ada mitos terkait mengenakan cincin berarsir nama orang lain? Bagaimana kalau hubungan mereka, Tania dan Sabri, tidak akan langgeng karena memakai cincin kawin dari dua orang yang kemungkinan telah berpisah?

Sabri berjanji cincin-cincin itu hanya sementara—toh petugas pencatatan sipil tak akan memeriksa arsiran nama di sisi dalam cincin dan mempermasalahkan ketidakcocokan nama. Begitu ia mendapatkan rezeki ekstra, Sabri janji, akan ia pesankan cincin nikah khusus dari toko emas berarsir nama dan tanggal pernikahan mereka berdua. Tania muak dengan lelaki miskin penuh janji. Tetapi tak ada lelaki kaya yang pernah mendekatinya. Lelaki kaya penuh tipu muslihat, tapi setidaknya tidak sulit menepati janji.

Pernikahan itu berlangsung singkat dan sangat biasa, hanya dihadiri mereka berdua, seorang petugas pencatatan sipil dan dua orang saksi yang tak lain adalah sepasang suami istri penjaga rusun.

Pada malam-malam sulit memejamkan mata, Tania akan memandangi cincin di jari manisnya di bawah cahaya lampu. Cincin itu agak kebesaran di jari manisnya sedangkan cincin Sabri justru sesak sehingga sesekali harus ia pindahkan ke jari kelingking. Lambat laun ia mulai bisa melihat sisi menarik dari mengenakan cincin berlabel nama dan tanggal pernikahan orang asing. Ia tidak penasaran dengan perempuan asing yang namanya terarsir pada cincin Sabri. Ia lebih penasaran pada lelaki asing yang namanya menempel sepanjang hari pada jari manisnya. Siapakah Marsudi Hamdani yang namanya tergurat paten di cincin yang ia pakai? Apakah ia masih hidup? Berapa usianya sekarang? Seperti apa wajah dan tinggi tubuhnya?

Marsudi mampu memesan cincin khusus dari toko emas untuk pernikahannya. Itu menandakan dari sisi ekonomi Marsudi lebih unggul daripada Sabri. Tania membayangkan Marsudi mengungguli suaminya dalam segala hal. Seandainya Sabri bernama Marsudi, Tania tentu tidak perlu merasa memakai cincin yang salah. Sungguh aneh rasanya menikah dengan lelaki bernama Sabri, tapi memakai cincin dengan nama lelaki lain setiap hari. Seperti menyimpan sosok lelaki lain yang tak terlihat, tapi dapat selalu ia rasakan keberadaannya. Lambat laun sosok Marsudi hidup dalam benaknya seperti kekasih imajiner.

Sekali dua kali ia tak sengaja membisikkan nama Marsudi ketika Sabri sedang menindihnya. Dalam benak Tania, Marsudi adalah lelaki latin berkulit cokelat dan berperut rata. Marsudi tidak mendengkur ketika tidur dan tidak langsung ketiduran setelah bercinta. Marsudi punya penghasilan yang tidak mengharuskan mereka tinggal di rusun kumuh seperti saat ini. Marsudi memesan cincin khusus dari toko emas berarsir nama lengkapnya: Tania Citra Sari. Marsudi adalah seluruh kebalikan dari Sabri suaminya.

Sendirian di rusun selama Sabri bekerja, bayangan tentang Marsudi kian menjadi-jadi. Di waktu-waktu itu Marsudi adalah tukang parkir swalayan berusia dua puluhan yang tinggal di bilik sebelah. Memasuki sore, Marsudi adalah bapak-bapak kepala empat yang sanggup memenuhi seluruh permintaan Tania tanpa hitung-hitung. Di malam hari, ketika Sabri mulai mendengkur selepas letih bekerja, Marsudi kembali menjadi si Amerika Latin berkulit cokelat dan berperut rata yang ereksinya masih sekeras dahan matoa dan ampas tubuhnya sesegar air kelapa. Tiga versi Marsudi hidup di benak Tania berganti-ganti sesuai waktu dan suasana hati. Namun, terlepas dari versi mana pun, Marsudi adalah Marsudi, seseorang yang tak pernah ia lihat dan temui, seseorang yang hanya berupa sebuah nama di jari manisnya. Namun, sialnya ia rindukan seperti mantan kekasih yang masa lalunya belum selesai. Perasaan ini jelas kutukan. Cincin itu adalah kutukan.

Tania mencopot cincin itu dan meletakkannya di atas meja di sisi tempat tidur. Ia bisa kembali bersetubuh dengan suaminya nanti malam tanpa bayang-bayang Marsudi di antara mereka. Orang tentu mengira karena mereka pengantin baru, persetubuhan seharusnya masih tengah panas-panasnya. Namun, yang baru dari mereka berdua hanyalah status pernikahan, bukan hubungan badan. Mereka telah bersetubuh ratusan kali sebelum menikah dan di sanalah letak kesalahannya. Ia, Tania, sejujurnya menemukan titik kebosanan sebab Sabri tidak variatif dan jenis yang lebih suka dilayani daripada sama-sama saling melayani, di mana seks diperlakukan sekadar sebagai kebutuhan biologis, bukan lagi hubungan intim. Sabri tidak mengetahui kesalahannya—yang baginya bukan kesalahan—sebagaimana Tania, sebelum mengenakan cincin berarsir nama lelaki lain, tidak menyadari bahwa dirinya begitu bosan dengan suaminya sendiri.

Sabri mengamati raut wajahnya ketika mereka sedang bergumul dan bertanya kenapa Tania tidak tampak bergairah seperti biasa. Diam-diam Tania belum memasang kembali cincin nikah sementara di jari manisnya. Sabri tidak perlu tahu sebab jika lelaki itu tahu, itu akan menyinggung perasaan lelaki itu lantas menuduh Tania tidak menghargai cincin pemberian. Sabri sendiri menyematkan cincin nikah sementara di jari manis atau kelingking sepanjang hari. Tak pernah dicopot barang sehari, baik saat di rumah maupun saat di tempatnya bekerja. Rekan-rekan kerjanya bertaruh cincin nikah hanya bertahan paling lama satu tahun pertama—setelah itu, tempatnya adalah rumah gadai. Syukur-syukur jika masih peduli untuk ditebus. Sungguh kuno orang yang masih mengaitkan janji pernikahan dengan sebuah benda seperti cincin. Setidaknya demikian orang-orang di lingkaran pergaulan Sabri berpendapat. Namun, Sabri bukan jenis lelaki macam itu. Dan itulah kelemahan—atau justru kelebihannya. Jika ada istilah yang lebih tepat itu adalah kolot.

Ya, Tania setuju suaminya kolot. Begitu kolot sampai-sampai tidak pernah menonton film biru padahal dari sanalah ia bisa belajar variasi bersetubuh. Begitu kolot sampai tidak menyadari—atau sesungguhnya tidak peduli—bahwa seorang istri juga butuh fantasi liar dan suami bertanggung jawab memenuhi fantasi itu. Tanpa tanggung jawab itu, jangan salahkan jika para istri mencari cela dari keretakan yang tak pernah sudi ditambal. Menghadirkan Marsudi adalah cara Tania menambal galur-galur retak yang tak pernah disadari selama ini. Maka dipasangnya kembali cincin nikah sementara itu sehingga dirinya dan Sabri, kembali bisa bercinta dengan seolah-olah penuh gairah meskipun dalam benaknya, Tania bercinta dengan lelaki lain bernama Marsudi.

Keliaran Tania merekahkan senyuman Sabri sejak bangun pagi. Demikian hampir setiap hari. Tania adalah aset berharganya. Sabri tidak butuh istri yang sanggup memberinya tujuh orang anak, pintar memasak, dan bersih-bersih. Kenyataannya Tania hampir bisa dikatakan pemalas: malas mandi, malas bergaul, malas bangun pagi dan belum ingin punya anak. Apa jadinya bila perempuan seperti Tania menjadi seorang ibu. Sabri masih menginginkan perempuan liar yang selalu sanggup memuaskannya setiap hari, bukan seorang ibu muda yang sibuk mengurus bayi lantas tak sempat mengurus diri sendiri. Jangan sampai istrinya menjelma serbet kumuh dan tak ingin lagi menjadi seekor kuda liar.

Sabri mencium dahi dan bibir istrinya sebelum berangkat kerja. Baru saja ia melangkah keluar pintu, ia sudah kembali karena melupakan sesuatu. “Yolanda, aku lupa botol minumku.”

Tania terpaku di depan pantry, menatap tembok di depannya dengan tercenung. “Kamu manggilku apa?”

“Tania. Tentu saja aku memanggilmu Tania.”

Tania mendengkus lalu menjerit: Pembohong, lantas melontarkan botol berisi air mineral ke arah wajah suaminya. Sabri berhasil berkelit. Botol mengenai bingkai pintu lalu melenting lalu jatuh menggelinding di lantai koridor. Tania berlari menghampiri suaminya dan memukul-mukul dada lelaki itu. Dari bibirnya meluap caci maki dan sumpah serapah. Ia mengira Sabri lelaki setia, katanya, ternyata tidak berbeda dari kebanyakan laki-laki. Berani-beraninya Sabri memikirkan perempuan lain selama mereka bersama, perempuan yang bahkan belum pernah ditemuinya di mana pun. “Buang cincin itu, buang cincin itu!” Dicopotnya cincinnya sendiri dari jari manis dan dilontarkannya ke luar pintu. Sabri melakukan hal yang sama, tapi tidak melontarkan cincinnya keluar melainkan diselipkan ke dalam saku celana. Lalu lelaki itu berkata, “Kamu salah dengar!” Ia memegangi pergelangan tangan istrinya, mencegah lebih banyak tonjokkan dan gamparan menimpa dada dan wajahnya. Tania mulai mengamuk seperti orang kesurupan sebab Sabri menolak membuang cincin berarsir nama perempuan asing yang namanya baru saja terlontar—yang katanya tak sengaja—dari bibir lelaki itu.

Pintu-pintu sepanjang koridor terbuka, kepala-kepala mengintip, sebagian memberanikan diri melangkah keluar untuk menyaksikan pertengkaran itu secara langsung. Tidak ada yang aneh dari pemandangan suami istri sedang bertengkar. Hampir setiap minggu selalu ada setidaknya sepasang suami istri muda bertengkar hebat di salah satu lantai. Suami dituduh selingkuh, suami dituduh memberikan uang belanja kepada ibu secara diam-diam, suami dicurigai menghabiskan uang untuk judi online, suami melarang istri ikut arisan, dan berbagai permasalahan rumah tangga. Maka setelah beberapa waktu menguping, para tetangga segera kehilangan minat pada permasalahan rumah tangga Sabri dan Tania. Kecuali satu orang, dan orang itu adalah perempuan baya dari bilik sebelah. Sabri memelototinya karena berdiri terlalu lama di tengah koridor, menyaksikan pertengkaran yang bukan urusannya, tapi seolah-olah urusannya.

Perempuan baya itu memunggut cincin emas yang dilontarkan Tania di lantai koridor. Ia menunggu sampai Sabri pergi sambil memegangi botol air minum yang tadi hampir mengenai kepalanya, untuk menyerahkan kembali cincin itu pada Tania. Mereka belum saling mengenal, Tania dan perempuan baya itu. Panggil saja saya Rietta, katanya kepada Tania yang masih sesengukan. Mereka pernah sesekali berpapasan di tangga dan parkiran. Marietta familer dengan tampang suami istri Sabri dan Tania, tapi Tania tidak mengenal Marietta.

Tania menganggap perempuan baya itu melanggar batas privasi lantas bersikap dingin ketika Marietta berada di dalam unitnya. Tania menolak menerima cincin itu kembali. Marietta meletakkan cincin di atas meja lantas meninggalkan bilik. Ketika hari memudar, Tania sedikit merasa bersalah mengingat sikap dinginnya terhadap si tetangga tua. Sebagai permintaan maaf, ia mencoba menemui perempuan baya itu di bilik sebelah.

Marietta menempati bilik sebelah itu bersama seorang pemuda yang bekerja sebagai tukang parkir di swalayan terdekat. Tania menduga pemuda berwajah latin itu anak Marietta. Ketika ia datang, Marietta sedang menjahit tambalan pada sisi dalam sebuah mantel bulu di atas pangkuannya, sedangkan si pemuda sedang mengutak-atik sebuah kamera saku, benda yang sudah hampir tak pernah dilihat Tania beberapa tahun belakangan. Tania tidak meminta maaf secara langsung. Hanya dengan menanyakan apa yang sedang Rietta lakukan, ia sudah merasa bersikap ramah terhadap si tetangga. Tania berdiri di dekat ambang pintu, tidak dipersilakan masuk ataupun duduk sebab satu-satunya perabotan adalah kursi yang sedang ditempati oleh Marietta untuk menjahit tambalan di mantel bulunya. Si pemuda sendiri selonjoran di ujung kasur. Sungguh bilik yang sederhana, hampir kosong melompong. Tania menunggu Marietta memperkenalkan pemuda itu kepadanya, tapi itu tidak pernah terjadi. Kehadiran si pemuda membuat kunjungan Tania jadi tak sekadar basa-basi tanpa tujuan. Semakin lama memandang si pemuda—bangun tubuhnya yang proporsional dan kulitnya yang cokelat terbakar—semakin amarah dari pertengkaran tadi pagi dengan Sabri meredup. Namun, ketika Tania melangkah semakin jauh ke dalam bilik, Marietta menyuruh si pemuda keluar. Pemuda itu menurut sambil mengantongi kamera digital di saku celana olahraganya yang gombrong. “Itu anakmu?” tanya Tania setelah ia dan Marietta tinggal berdua.

Ada jeda sesaat sebelum Marietta akhirnya menjawab, Ya, itu anak adopsiku. “Kalau boleh tahu kenapa kamu bertengkar dengan suamimu pagi tadi?” Marietta mengalihkan pandangan dari mantel bulunya kepada Tania seolah pertengkaran itu lebih penting baginya daripada bagi Tania dan Sabri sendiri. Dasar orang aneh, pikir Tania, memutuskan tidak menjawab pertanyaan si tetangga. Marietta menyarankan Tania untuk bermalam di biliknya bila ia masih sebal untuk berdekatan dengan suaminya malam nanti. Tania berkata terima kasih tapi suaminya akan semakin berang bila ia tidur di bilik tetangga hanya karena pertengkaran sepele.

Hari itu mengawali pertemanan kecil di antara keduanya. Pertemanan kecil adalah cara untuk menjelaskan tentang dua orang yang dekat tapi tidak benar-benar akrab, tidak juga bisa dibilang asing satu sama lain. Mereka tidak punya kesamaan sehingga hampir tak ada topik obrolan yang dapat merekatkan keduanya. Barangkali satu-satunya kesamaan mereka adalah perasaan bosan. Diam-diam Tania menganggap perempuan baya itu aneh karena selalu mengenakan mantel bulu yang lebih cocok dipakai penyanyi dangdut saat bernyanyi di kafe. Namun, ia mendekati si tetangga tua demi akses pada pemuda berwajah Amerika Latin. Marietta menerima Tania demi bisa merasakan menjadi orang normal yaitu orang yang punya setidaknya satu orang teman. Marietta punya Pedro, anak adopsi yang tinggal bersamanya, tapi Pedro tidak termasuk teman dalam arti sesungguhnya. Mengetahui nama si pemuda adalah kemajuan baru dalam langkah pendekatan Tania yang nyaris selalu sia-sia, sebab biasanya Marietta sangat tertutup perihal pemuda itu. Si perempuan baya sangat tertutup perihal apa saja. Setiap kali Tania menanyakan sesuatu tentang dirinya atau Pedro, akan serta merta dialihkan dengan pertanyaan tentang kehidupan Tania dan Sabri sendiri. Sungguh menjengkelkan. Tania tak diberi kesempatan untuk mengulik informasi tentang pemuda itu. Ini terbukti ketika Tania bertanya berapa usia Pedro.

“Dua satu. Saya minta setelah ini kamu berhenti bertanya-tanya tentang dia. Terima kasih,” kata Marietta dengan datar dan tanpa menatap lawan bicaranya.

Kejengkelan Tania pada Marietta mendekatkan kembali hubungannya dengan Sabri. Sebab ia tak punya siapa-siapa untuk mendengarkan pendapat sinisnya tentang apa saja, siapa saja. “Dia bisa dengan leluasa menanyakan masalah kita, tapi dia sendiri sangat tertutup tentang hidupnya.”

“Untuk apa kamu mau tahu tentang perempuan tua seperti dia dan anak adopsinya? Tidak ada yang menarik dari mereka.”

“Aku cuma ingin mengetahui usia anak adopsinya.”

“Untuk apa?” Sabri menatapnya dengan kedua alis berkerut. Tania terdiam. Menatap raut keras suaminya, ia jadi teringat permasalahan terakhir mereka dan tergoda untuk mengungkitnya kembali. “Omong-omong soal cincin-cincin itu, dijual saja lalu beli yang baru.”

“Harga emas sedang naik. Kalau pun dijual, tidak akan cukup untuk beli cincin baru dengan kadar atau gram yang sama.”

“Terserah. Intinya, dijual saja. Dunia belum kiamat hanya karena kita tidak pakai cincin kawin.”

Tania ada benarnya. Termasuk pagi itu ketika ia mendengar Sabri memanggilnya dengan nama perempuan asing yang belum pernah suaminya temui di mana pun: Yolanda, perempuan yang membuat Marsuni kehilangan mantel bulu imitasi kesayangan dan karenanya membuat Marietta memiliki mantel bulu imitasi kesayangan.

Kamera Saku

Kamera digital jenis kompak sudah mulai ketinggalan zaman ketika Marietta membelikannya untuk Pedro. Benda itu diperolehnya dari toko barang bekas. Benda itu masih berfungsi dengan baik dan luarannya masih mulus persis seperti barang baru, kata si penjaga toko. Ia membelikannya untuk Pedro sebagai hadiah ulang tahun ke tujuh belas. Kalau dipikir-pikir, itu benda pertama yang Marietta belikan untuk Pedro sejak mereka pindah dari Kabupaten B paskabanjir besar.

Banjir tak hanya memorak-porandakan rumah kontrakan yang telah mereka tempati bertahun-tahun, tapi juga menjungkirbalikkan kehidupan Marietta dan anak adopsinya, yang waktu itu masih dua belas tahun. Pemilik rumah tiba-tiba berkata akan menempati rumahnya kembali. Marietta tahu itu tidak benar. Mereka tak diizinkan lagi tinggal di sana karena tunggakan berbulan-bulan dan karena jengkel jasad Amietta sempat disemayamkan di sana.

Di kota yang baru, Kota K, keuangan Marietta yang terbatas hanya sanggup untuk menyewa sebuah bilik rusun di pinggiran kota. Rusun itu berada satu kompleks dengan sebuah swalayan dan tempat pembuangan sampah umum. Kondisinya kumuh, luar dan dalam. Bilik-biliknya tanpa perabotan. Ada sedikit perasaan lega bahwa pada fase kehidupan ini, Ameitta tidak ada lagi untuk merasakan apa yang mereka, ia dan Pedro, alami. Amietta tidak pantas menempati rusun kumuh, menghidu aroma sampah yang kerap terbawa angin dan membuat paru-parunya makin bengek. Amietta telah tenang di alam sana, meninggal secara terhormat di tenda pengungsian. Mereka yang masih hidup justru harus melanjutkan penderitaan baru di tempat berbeda.

Tidak terasa mereka bertahan di Kota K selama hampir sepuluh tahun. Ketika mereka baru pindah, Pedro masih setinggi bahunya; kini pemuda itu tumbuh menjulang seperti pohon cemara. Dengan bahu lebar dan otot-otot lengan yang pejal, Pedro terlihat lebih dewasa daripada usianya. Fisiknya yang sehat membuat pemuda itu diterima bekerja sebagai tukang pikul di toko bangunan. Gajinya tidak banyak, tapi sanggup untuk membayar sewa rusun dan memenuhi kebutuhan bulanan. Marietta tidak lagi bekerja. Dulu ia masih menerima pesanan menjahit sebelum mata dan punggungnya tidak bisa lagi diajak kerja sama. Lagipula, mesin jahit kesayangannya hanyut terbawa banjir dan tak pernah lagi ditemukan. Kondisi keuangannya yang sekarang tidak lagi memungkinkan ia untuk membeli mesin jahit baru. Marietta cukup puas berleha-leha di rumah selama Pedro pergi bekerja, hanya meninggalkan bilik rusun untuk berbelanja di swalayan terdekat atau mengantarkan pakaian kotor ke binatu. Selesai bekerja Pedro langsung kembali ke rusun, sesekali menyambi jadi tukang parkir di swalayan. Marietta melarang pemuda itu keluyuran di waktu-waktu senggang. Pedro tidak perlu menjalani masa muda seperti para pemuda lain. Pergaulan bisa merusak kebiasaan yang baik dan Pedro adalah pemuda yang baik, Marietta tidak ingin lingkungan yang buruk mengontaminasi anak yang telah ia besarkan dengan bersih sejak usia tujuh tahun. Pedro menuruti perintah-perintah itu tanpa perlawanan dan keterpaksaan.

Termasuk ketika Marietta mengajukan sebuah permintaan besar yang membalikkan kehidupan mereka 360 derajat: Marietta ingin mengubah status mereka dari ibu dan anak menjadi sepasang suami istri. Tidakkah Pedro merasa ganjil dan canggung tinggal seatap dengan lawan jenis yang tak memiliki hubungan darah dengannya, tapi saat yang sama tidak boleh ia setubuhi—meskipun ingin? Lain cerita bila Marietta adalah ibu atau bibi sungguhan. Pedro tidak perlu repot-repot mencari perempuan asing di luar sana untuk dipacari, mengumpulkan mahar untuk melamar si gadis dari kedua orang tuanya, mengadakan pesta pernikahan yang merepotkan dan buang-buang uang, lalu membangun kehidupan rumah tangga di suatu tempat yang belum tentu melibatkan Marietta.

Pedro hanya memiliki Marietta dan sebaiknya begitu selamanya. Dulu Marietta mengadopsi pemuda itu dari panti asuhan yang sudah hampir ditutup. Anak-anak mulai mengadu nasib di jalanan sebab pengurus panti tidak sanggup lagi menyekolahkan ataupun memberi mereka makan setiap hari. Suatu hari Marietta melihat seorang bocah laki-laki bermata lentik dan hidung kerucut duduk di undakan tangga sambil memeluk lutut. Naluri keibuannya tergerak, tapi ada sesuatu yang lain, yang tidak pernah dapat ia jelaskan saban kali ia memandangi Pedro sampai hari ini. Tak pernah pula ia ceritakan tentang perasaannya itu pada Amietta—ia takut dihakimi. Alasan ia membawa bocah itu pulang adalah karena ia ingin membesarkannya seperti anak sendiri, demikian penjelasan Marietta pada sang kakak.

Sejak itu Mariettalah dunia Pedro. Tahun ini Marietta akan berusia 60. Seumur hidupnya, ia tak pernah menikah ataupun menjalin hubungan dengan lawan jenis. Adapun Pedro telah mencapai usia yang matang secara hukum saat Marietta mengajaknya menikah, yaitu sembilan belas. Sungguh sayang jika Marietta harus merelakan Pedro pada perempuan lain setelah membesarkan anak lelaki itu dengan kedua tangannya sendiri. Jika dulu Pedro melayaninya sebagai seorang ibu, tidak jadi masalah jika kini pemuda itu melayani Marietta sebagai seorang istri. Jika dulu Marietta mengurus Pedro sebagai anak sendiri, tidak jadi masalah jika kini ia mengurus Pedro sebagai pasangan.

Yang jadi masalah adalah omongan orang.

Pengurus rusun tidak mempermasalahkan siapa yang menempati bilik rusun itu dengan siapa selama tarif sewa tetap dibayarkan. Tantangan terbesar adalah menghadapi pertanyaan dan penilaian para tetangga. Tiga tahun pertama, mereka masih mengaku sebagai ibu dan anak. Di tahun keempat—sampai sekarang—tepat setelah mereka resmi menikah di catatan sipil, baik Pedro maupun Marietta berhenti menjawab pertanyaan tentang status hubungan mereka. Namun orang-orang yang tidak bertanya biasanya telah memiliki asumsi sendiri: Marietta adalah ibu dan Pedro adalah anak, tidak bisa lebih jelas lagi. Marietta tidak masalah tetap dikira sebagai ibu dari pemuda tampan itu selama tak ada yang mengganggu Pedro dan mencoba merebut pemuda itu darinya. Untung tak ada yang pernah tampak menggugah hati Pedro selain kamera saku pemberian Marietta dan Marietta sendiri.

Pada malam setelah diberi kamera saku, Pedro yang masih tujuh belas tahun memotret Marietta yang telanjang bulat di atas kasur. Pagi hari ia memotret Marietta yang juga telanjang bulat keluar dari kamar mandi. Ia memotret Marietta setelah mereka berhubungan badan untuk kali pertama. Hampir setiap hari ia memergoki Pedro masturbasi di pagi hari. Karena kasihan, Marietta membuka diri untuk anak adopsinya dan Pedro tidak menolak. Bagaimanapun selama bertahun-tahun mereka hanya berdua dan di dalam bilik rusun itu tak ada banyak hal yang dapat mereka lakukan; maka sudah sepantasnya mereka menikah sehingga yang disetubuhi Pedro setiap hari—saat si pemuda berusia sembilan belas—adalah istrinya, bukan ibunya. Meskipun kenyataannya Marietta tidak merasakan apa pun—tapi setidaknya mereka tidak berzina dan Pedro menjadi lelaki dewasa seutuhnya. Ia membiarkan Pedro memotret selangkangannya yang gelap penuh jembut dan dua gelambir buah dada yang menjuntai di atas perut seperti pepaya California. Hampir semua koleksi foto di dalam memori internal berisi foto-foto Marietta tanpa sehelai benang.

Pada saat-saat senggang, Pedro akan memandangi foto-foto itu kembali seperti lelaki dewasa memelototi majalah dewasa. Pedro tidak punya gambaran apa pun tentang dunia seksual ataupun menyadari bahwa di luar sana barangkali ada tubuh lain yang lebih indah dan lebih mulus dan lebih liat dan lebih muda. Entah ia tidak tahu atau tidak berminat. Baginya konsep keperempuanan adalah Marietta yang berusia baya dengan galur-galur keriput dan uban dan sendi-sendi kaku dan aroma minyak angin.

Suatu hari ia sedang menyalin koleksi fotonya ke dalam folder baru ketika disadarinya terdapat folder lain berisi foto-foto di luar foto-foto Marietta. Bila ia mengeluarkan kartu memori, folder itu tidak dapat diakses. Jadi ia memasang kartu memori kembali dan membuka folder yang terdapat di sana. Folder itu berisi foto-foto dari orang-orang yang tak ia kenal. Beberapa foto menunjukkan seorang lelaki dan seorang perempuan di sebuah kamar hotel. Foto-foto lain menunjukkan para lelaki dan para perempuan di suatu tempat terbuka menyerupai taman atau tempat wisata. Orang-orang tertawa. Orang-orang minum bir kaleng. Foto-foto lain memperlihatkan anak-anak bermain di pantai. Lalu lebih banyak perempuan, berbeda-beda ekspresi dan latar belakang tempat.

Berapa kali pun Pedro memandangi foto-foto itu, tak seorang pun dari mereka ia kenali atau pun pernah jumpai. Marietta melihatnya memelototi foto orang-orang asing dan berkata, “Pemilik lamanya pasti lupa menghapus foto-foto itu sebelum menjual kamera.” Lalu menyarankan Pedro menghapus semua foto yang tak memiliki nilai nostalgia bagi mereka itu. Pedro pura-pura telah menghapusnya. Sejak itu ia harus menunggu sampai Marietta tidur atau sedang pergi mengantarkan pakaian ke binatu untuk memandangi foto-foto itu kembali, berpura-pura sedang mengenang masa di mana dirinya pernah menjadi bagian dari sekelompok orang. Semakin sering memandangi foto-foto asing itu, semakin Pedro menyadari ia tidak memiliki jenis kehidupan lain seperti orang-orang kebanyakan. Foto-foto dalam memori internalnya sendiri hanya berisikan foto-foto Marietta yang telanjang atau Marietta yang sedang menjahit, tak ada orang-orang bercengkerama di tempat wisata atau anak-anak bermain di pantai. Itulah alasan kenapa foto-foto asing dari orang-orang asing itu cukup berarti dan tak berniat dihapusnya. Ia boleh berpura-pura bahwa orang-orang itu adalah kerabatnya yang tinggal di tempat jauh. Ia bisa bercerita pada orang-orang di tempat kerja dan jika mereka minta bukti, ia akan menunjukkan foto-foto itu.

Suatu hari Marietta membeli TV tabung bekas dari tabungan yang ia kumpulkan sewaktu masih menjahit. TV tabung sangat berguna baginya yang sehari-hari hampir tidak pernah ke mana-mana. TV tabung juga sangat berguna bagi Pedro yang tidak pernah bergaul dan tak pernah melihat sisi lain kehidupan. TV meluaskan pandangannya, membuatnya bukan lagi katak dalam tempurung. Ia paling menyukai berita tengah malam karena berbagai hal diberitakan di sana mulai dari demo mahasiswa, kenaikan harga bahan pokok, bencana alam, kecelakaan lalu lintas, kejadian kriminal, permasalahan-permasalahan hidup yang membuatnya sadar bahwa dibandingkan sebagian orang di dalam tabung TV itu, ia dan Marietta menjalani kehidupan yang sangat biasa. Suatu malam ditayangkan kasus-kasus femisida yang sangat populer dalam sepuluh tahun terakhir. Salah satunya adalah penemuan mayat perempuan telanjang di sebuah kamar hotel yang berlokasi di pinggiran kota. Sebelum dibunuh perempuan itu diduga dianiaya dan diperkosa, setidaknya mengacu pada kondisi jasad dan jejak-jejak kekerasan di tubuhnya. Pelaku adalah kekasihnya sendiri. Foto wajah korban dan pelaku dimunculkan di sudut kanan atas berita. Nama korban Marsuni. Entah bagaimana foto keduanya meninggalkan perasaan familiar. Pedro yakin sekali pernah melihat perempuan dan lelaki itu di suatu tempat, mungkin secara tak langsung, tapi yang pasti wajah mereka terpatri di sudut benaknya seperti kawan lama yang biasa ia lihat setiap hari sebelum tiba-tiba menghilang dalam waktu lama. Akhirnya ia sadar pernah melihat korban dan pelaku dari kumpulan foto yang terdapat di kartu memori kamera sakunya. Ia membuka foto-foto itu kembali. Ternyata pelaku dan korban adalah lelaki dan perempuan yang berfoto di sebuah kamar hotel. Bukan kamar hotel persis yang menjadi lokasi penemuan mayat, melainkan kamar hotel yang berbeda. Bulu kuduk Pedro seketika meremang. Sialan, pikirnya, orang-orang ini ternyata bermasalah. Ia menyimpan foto orang-orang bermasalah. Sudah benar Marietta menyuruhnya menghapus foto-foto itu.

Pedro ingin menceritakan penemuan ini pada Marietta, tapi akan ketahuan bahwa ia belum menghapus foto-foto asing dari orang-orang asing. Kini setelah mengetahui fakta di balik lelaki yang foto-fotonya mendominasi folder, Pedro merasa seperti saudara yang dikhianati. Ia telah menganggap lelaki itu sebagai kerabat jauh yang nanti akan ia ceritakan pada orang-orang di tempat kerjanya; siapa sangka lelaki itu seorang pembunuh. Menghapus foto-fotonya tak lantas menghilangkan kegelisahan Pedro. Ia ingin menceritakan kebetulan yang terjadi itu pada seseorang selain Marietta. Maka suatu hari ia bercerita pada anak penjaga rusun di lantai satu. Lupita menyimak ceritanya dengan penuh minat dan tidak menganggapnya mengada-ngada. Lupita menyarankannya mencari tahu lebih jauh tentang pembunuhan itu dari internet, tapi Pedro berkata ia belum diizinkan punya ponsel, dari mana ia bisa mengakses internet. Lupita menyarankan mereka pergi ke warnet. Pedro harus berkorban jika ia tertarik untuk memecahkan misteri pembunuhan itu. Akan tetapi, ia tidak bermaksud memecahkan misteri apa pun sebab Marietta tak akan menyukai tindakannya.

Satu hal yang pasti bercakap-cakap dengan Lupita membuka pemahaman baru Pedro tentang perempuan. Lupita memancarkan kesegaran dan di dekatnya udara terasa ringan. Pedro tidak muluk-muluk membayangkan menyentuh buah dada gadis itu atau mencium bibirnya. Namun, sekali bayangan itu berkelabat, ia segera merasa bersalah pada perempuan baik yang telah membesarkannya dan bahkan bersedia mengangkat dirinya jadi suami. Pedro menyalahkan kamera sakunya. Jika bukan karena foto pelaku dan korban yang ada dalam kameranya, ia pasti tidak akan punya alasan untuk mengobrol dengan gadis lain. Akhirnya ia menghapus semua foto dalam folder dan hanya menyisakan foto-foto Marietta. Pedro kehilangan cerita tentang kerabat jauh yang mungkin akan ditanyakan oleh seseorang kepadanya suatu hari. Ia akan kehilangan kenangan tentang orang-orang yang bahkan tak pernah ia temui dan tak pernah mengenalnya. Ia akan kehilangan cerita atau setidaknya apa yang berpotensi menjadi cerita.

Tahun 2022 hampir tak ada lagi yang menggunakan kamera saku untuk memotret di jalan. Demi kepraktisan, orang-orang menggunakan telepon genggam yang dilengkapi fitur kamera. Namun, Marietta tetap tidak membolehkan Pedro menggunakan telepon genggam meskipun saat itu si pemuda telah bekerja di toko bangunan. Sebab, telepon genggam membuat orang jadi suka menyimpan rahasia. Dan Marietta tidak suka rahasia.

Akan tetapi, suatu hari Marietta mengecat seluruh uban di rambutnya dan mengenakan mantel bulu imitasi yang norak itu kembali. Pedro pun menduga ada rahasia yang sedang bercokol di antara mereka. Ini mulai terjadi tak lama setelah mereka kedatangan tamu, seorang perempuan yang baru pindah di bilik sebelah. Itulah pertama kali mereka menerima tamu sejak pindah ke rusun itu. Si tamu adalah perempuan muda yang baru saja bertengkar hebat dengan suaminya dan untuk alasan yang tidak Pedro mengerti, tiba-tiba merasa perlu bertandang ke bilik mereka. Perempuan itu hanya berbicara dengan Marietta. Obrolan mereka tidak jelas sehingga Pedro makin yakin perempuan itu tidak seharusnya ada di sana. Namun, justru dialah yang akan disuruh keluar setiap kali perempuan itu datang. Pedro tidak rela meninggalkan bilik dengan Marietta dan perempuan itu hanya berdua.

Suatu hari ia memergoki Marietta berdandan di depan cermin sambil memandangi wajahnya dengan penuh minat. Pedro menatap bayangan perempuan tua itu dengan perasaan terluka. Betapa Marietta menjelma dari perawan tua penuh uban menjadi perempuan lansia yang peduli mengecat rambut. Amietta hampir seusianya dulu ketika meninggal di tenda pengungsian. Di usia yang sama saat ini Marietta justru baru mulai berdandan.

“Siapa namanya?” bisik Pedro ke arah punggung Marietta. Si wanita tua membiarkan hening menggantung di atas mereka. Tetapi Pedro tahu nama perempuan tetangga itu: Tania. Ialah alasan Marietta kembali mengenakan mantel bulu sialan yang masih terus ditambal. Tania dan Marietta dua makhluk yang sangat berbeda, tapi punya kesamaan: sama-sama sering ditinggal suami pergi bekerja. Pada jam-jam senggang, mereka mungkin bertemu, mungkin Tania ke bilik mereka atau Marietta bertamu ke bilik tetangga. Tania yang bertengkar dengan suami dan tidak lagi memakai cincin kawin di jari manis kiri membuka harapan di hati Marietta. Pedro membenci bayangan itu. Ia membenci cara Marietta memandangi perempuan tetangga itu. Lalu ia menyadari satu hal: Tania tidak menyadari siapa Marietta. Sebuah senjata ampuh dalam genggaman si pemuda. Bila Tania mengetahui perasaan Marietta, perempuan itu tak akan pernah lagi melangkahkan kaki ke bilik mereka. Pedro mengancam. Marietta cepat-cepat mengelapi bedak dan lipstik di depan cermin dengan punggung tangan. Ia berkilah bahwa ia berdandan untuk membuat pas foto baru, bukan untuk siapa-siapa.

Pembohong!

Ada luka dari masa kecil yang belum sembuh. Pedro menangis memandangi foto-foto Marietta yang diambilnya saat perempuan itu berusia 55 dan ia 17. Marietta tidak boleh mengadopsi orang lain selain Pedro apalagi seorang perempuan. Orang lain tidak boleh melihat Marietta dalam keadaan telanjang. Seluruh gurat keriput dan uban di rambut Marietta hanya milik Pedro. Beginilah rasanya dikhianati. Air mata lelaki itu berjatuhan di atas layar kamera. Marietta mengajaknya menikah sampai melarangnya pakai telepon genggam hanya supaya Pedro tidak meninggalkannya demi seorang gadis. Tetapi itu bukan nafsu apalagi cinta. Marietta hanya takut hidup sendirian di masa tua dan semakin dianggap sebagai orang aneh. Marietta berkata itu tidak benar, buktinya ia mengadopsi Pedro bukan seorang gadis.

Pembohong! Aku melihat caramu menatapnya!

Kamera sakunya tidak bisa lagi dinyalakan. Bahkan setelah batreinya diganti baru. Pedro mengetuk-ketuk benda seukuran telapak tangan itu lalu berkali-kali menekan shutter. Tetap saja tidak menyala. Rahang si pemuda mengeras. Bukan karena kamera itu begitu berarti setelah hampir menjadi benda antik. Air matanya yang membasahi sisi dalam lensa mungkin membuat benda itu rusak. Barangkali bukan karena air mata, barangkali masa pakai benda itu berakhir saat itu juga. Lagipula Pedro tak berminat lagi melihat foto-foto Marietta telanjang.

Malam hari ketika Marietta tertidur, ia mengambil mantel bulu dan turun ke lantai bawah. Di belakang gedung, ia menyulut si mantel. Pagi hari Marietta mencari-cari mantel kesayangannya hingga menyebabkan keonaran sepanjang koridor. Tania tidak keluar untuk bertanya apa yang terjadi. Tania tidak peduli. Seperti ia tidak peduli pada cincin yang ia lempar ke lantai koridor saat bertengkar dengan Sabri—sebelum dipunggut oleh Marietta dan dikembalikan. Di manakah cincin itu sekarang? Bukan urusan Pedro. Urusannya hanyalah menyingkirkan benda yang menjadi penyaluran ekspresi terlarang kekasih tuanya. Untuk kali kedua si mantel bulu dijauhkan dari pemiliknya yang belum rela berpisah padahal perpisahan adalah keniscayaan dan perpisahan membuka jalan bagi benda-benda untuk terlepas dari pemiliknya dan melakukan perjalanan panjang seolah mereka bernyawa. Tetapi perjalanan panjang benda-benda berhenti di sana.

Cicilia Oday
Latest posts by Cicilia Oday (see all)

Comments

  1. Khikmatul Husna Reply

    Menarik tapi rumit. Semuanya terhubung. Sekejap seperti ikut terhanyut ke dalam ceritanya.

  2. Sari Reply

    Benda-benda menghubungkan tokoh-tokohnya tapi sayangnya kurang menghubungkan cerita-cerita tokohnya. Kirain bakalan ada plot twist misal ternyata di masa lalu Tania mengenal Marsudi atau kerabatnya Marsudi, dll. Hehehe…

  3. Bianto junior Reply

    Tentu, ini adalah salinan teks dari gambar yang kamu unggah:
    Malam hari ketika Marietta tertidur, ia mengambil mantel bulu dan turun ke lantai bawah. Di belakang gedung, ia menyulut si mantel. Pagi hari Marietta mencari-cari mantel kesayangannya hingga menyebabkan keonaran sepanjang koridor. Tania tidak keluar untuk bertanya apa yang terjadi. Tania tidak peduli. Seperti ia tidak peduli pada cincin yang ia lempar ke lantai koridor saat bertengkar dengan Sabri—sebelum dipungut oleh Marietta dan dikembalikan. Di manakah cincin itu sekarang? Bukan urusan Pedro. Urusannya hanyalah menyingkirkan benda yang menjadi penyaluran ekspresi terlarang kekasih tuanya. Untuk kali kedua si mantel bulu dijauhkan dari pemiliknya yang belum rela berpisah padahal perpisahan adalah keniscayaan dan perpisahan membuka jalan bagi benda-benda untuk terlepas dari pemiliknya dan melakukan perjalanan panjang seolah mereka bernyawa. Tetapi perjalanan panjang benda-benda berhenti di sana.
    Apakah kamu ingin saya membantu menganalisis alur cerita atau karakter dalam potongan teks ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!