Piano Motinggo

…and they lived happily ever after

1

“Ceritakan aku masa kecilmu, Motinggo,” pinta Klara Akustia, istrinya, dengan terbata-bata. Motinggo berhenti mendulang. Ia seka sisa bubur yang menempel di sudut bibir perempuan itu dengan celemek yang tergantung di lehernya.

“Seperti kau, Klara, sewaktu lahir kepalaku berkarak keluar dari rahimnya,” kata Motinggo, kemudian menyiapkan sejumlah obat––Bisoprolol, Candesartan, Furosemide, dan Metformin––ke dalam mangkuk kecil yang dulu, dulu sekali, biasa mereka gunakan untuk meletakkan saus.

Kau pun membasuh bersih tubuhku yang berkarak, batin Klara Akustia, lalu ia menukas, “Bukankah tiap sehabis mandi, sebelum menghangati perutku dengan minyak kayu putih, kau rutin menyemprotkan parfum Zwitsbaby––sehingga badanku tak berkarak, buluk, karena sewangi aroma bayi?”

Motinggo terenyuh. Ia mencondongkan badannya ke depan, berangsur menyuapkan satu per satu obat, dan mengulurkan air hangat ke mulut Klara Akustia dengan sedotan.  Lalu, “Ibu ngeden mendorongku. Napasnya megap-megap. Kakinya biru seperti ubi cilembu,” lanjutnya. Kemudian ia usap dagu istrinya yang basah.

Bersandar tumpukkan bantal dan kepala kasur, selonjoran, Klara Akustia terlihat tengah memikirkan sesuatu. Ia bermenung. Memelas. Kesedihan mengemuka di wajahnya. Ia lalu meraih tangan Motingo dan meremas punggung serta telapak tangannya dengan sayang. Sebentar, ia memejam. Betapa ia tahu, badannya yang putih pun telah melebam sebam sejak beberapa minggu lalu.

“Aku netek di payudaranya. Ibu cemas bila aku tersedak …. Ia mengusap-usap kepalaku dan aku terlelap tidur di lengannya. Saat merengek diambilnya aku, digendong, dan ditimang-timang. Dia rajin menggelitiki perutku––”

Suara Motinggo tertahan. Ia menjeda keterangannya ketika dari dalam kamar dilihatnya Zigy, anjing golden––yang sedari tadi mondar-mandir, celingak-celinguk––mengendus entah apa di lantai ruang tamu.

“Sini! Ke sinilah, Zigy!” lambai Motinggo kepada satu-satunya anggota keluarga mereka di rumah ini. Tak menggonggong, anjing itu mendekat, lalu merangsek masuk ke dalam kamar tidur. Motinggo melanjutkan.

“––dengan jari, hidung, dan kadang dagu. Berulang pula ia menciumi kaki dan pantatku. Didudukkannya aku berpangku di pahanya dan betapa menggembirakan bermain perosotan dan jungkat-jungkit di kakinya.”

Setengah terpejam, Klara Akustia menjawab, “Kau pun seringkali mengelus lembut punggung dan rambutku––meninabobokkan aku––sampai aku tertidur. Kau jugalah yang rajin menetek susuku, mencucup putingku sepersis me-ngempengi puting ibumu.” Bersuara lemah, remasan tangannya belaka yang semakin mengeras. Ia bersedih merasa-rasai payudaranya yang tak lagi kencang: bagai balon kehabisan angin.

Mendengar itu, Motinggo tersentak, melongo pelo di tubir tempat tidur. Mereka bersitatap, lama sekali, sampai Klara Akustia menaikan alis matanya, melotot, menuntut kelanjutan cerita.

“Sehabis mandi, Klara, Ibu suka mencemongi mukaku dengan banyak bedak. Ia khawatir meninggalkan aku sendirian di rumah. Karena itu, ibu berhenti bekerja.” Suara baritonnya sedikit serak, nyaris tak terdengar.

“Tak ingin meninggalkan aku sendirian terkapar di rumah, kau pun berhenti bekerja. Karenanya, kau gagal dipromosikan sebagai guru besar,” simpul Klara Akustia. Sorot matanya padam, sekali waktu mengharu biru, lalu cemas, meski terkadang merasa terlipur.

Motinggo menghela napas berat. Kemudian bangkit dari duduk, mencuci bersih tangannya, mengembalikan kotak obat ke letak semula, dan pria paruh baya bertubuh tambun itu, tertatih-tatih menelentangkan kepala Klara Akustia kembali berbaring di atas bantal. Ia tarik selimut dari kaki, pinggang, hingga ke sebatas leher istrinya.

Percakapan itu menyita perhatian Zigy, yang tengah meringkuk di lantai, dan mencuri-curi pandang. Dua bola matanya sayu, berair, mengesankan kesedihan. Zigy lalu berposisi tegak. Mendongak. Motinggo setengah berjongkok, menggaruk-garuk kepala anjing itu, dan berkata, “Iya, Klara, akan kembali sembuh. Kau jangan bersedih, Zigy. Jangan bersedih ….”

Zigy menaik-turunkan telinganya dan menjulur-julurkan lidahnya––ia seolah tahu perintah Motinggo: menjaga Klara Akustia. Maka, ia patuh. Bersiap siaga. Kembali meringkuk, berposisi sphinx, dengan meletakkan kepala berbantal kakinya sendiri.

Motinggo lantas menyeret langkahnya yang berat keluar dari kamar dan, dengan urutan seperti berikut, ia akan bersinglet dan bercelana pendek dan melakukan berbagai pekerjaan memberesi seisi rumah. Di luar kendali istri, beginilah bakti seorang suami:

1) mengepel dan menyapui lantai; 2) menyuci-menjemur-menyetrika-melipat-pakaian; 3) mengurus kotoran Zigy dan Klara Akustia; 4) serta menyiapkan santap siang Zigy dan sepiring salad buah, termasuk bolu kukus, sebagai kudapan Klara Akustia.

2

Sepanjang hari, berpekan, berbilang bulan, kondisi kesehatan Klara Akustia berangsur memburuk. Penyakit komplikasi membuat tubuhnya tandas, melemas dan kian mengurus. Kulitnya mengerut. Rambutnya memutih. Tetapi renta matanya begitu bersih dan jernih. Ia menolak tindakan untuk menghilangkan sumbatan pembuluh darah di kepala. Ia menolak rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit adalah simbol dari rasa sakit. Maka serangan stroke kedua muskil terhindari.

Paling tidak sebelum ajal, pikir Klara Akustia kemudian, ia ingin dirawat dan menjadi pasien Motinggo di rumah. Tubuhnya yang kurus, tak perlu ditusuk jarum infus, dan tanpa selang-selang oksigen menempel di hidung atau mulut. Selain itu, Motinggo, yang setiap saat bertugas seperti suster atau dokter jaga, akan mengawasi kamarnya, menanyainya, menemaninya––setiap waktu.

Sungguh, sakit tua memang menyebalkan, dan Klara Akustia hanya ingin tertidur pulas di atas kasur empuknya sendiri dan bukannya ranjang-luncur. Maka, begitulah, di area kamarnya, harus bebas aroma karbol disinfektan sebab, seperti katanya kepada Motinggo, “Aku hanya ingin bebauan khas kamar kita.”

Tertegun, jatuh iba, Motinggo mengiyakan, hanya mengiyakan, dan menukas, “Besok atau lusa, warnanya … akan aku cat ulang.”

Tidak sulit bagi Motinggo untuk mewujudkannya. Ia ingin memanjakan––atau lebih tepatnya––meremajakan Klara Akustia seperti awal pernikahan mereka dulu. Meladeni seluruh permintaannya yang, dengan ataupun tanpa syarat, akan senantiasa ia kerjakan. Kecuali bahwa ada satu-dua yang tak ia turuti, semisal, antara lain––menolak kunjungan dokter mengontrol riwayat kesehatannya dan berhenti meminum obat.

Maka, di dalam kamarnya, selalu ada keriangan. Klara Akustia tak pernah benar kekurangan hiburan. Ia betah, teramat betah, dan hanya meminta Motinggo, suaminya, menata rapi ornamen serta memugar kembali sepetak ruang berukuran 4 x 6 meter itu sedemikian rupa––seindah yang ia bisa––agar jauh dari kesan usang, menjemukan, serupa bangsal ICCU atau IGD sebuah rumah sakit:

  1. Piano Steinway & Sons milik Motinggo (ia senang melihat Motinggo bertahan berlama-lama di depan piano, giat menulis partitur, dan bergulat dengan setumpuk buku);
  2. Dua lukisan berukuran besar bermotif selekeh, coreng-moreng, yang seakan tanpa sapuan kuas di atas bidang kanvas. Mirip lukisan Pollock. Tetapi bukan Pollock;
  3. Meja panjang dengan berbagai benda memori, artefak, yang disusun-abadikan dengan rapi dan bersih di atasnya:
  4. Turntable,
  5. Sederet pelat vinyloldies’ tahun 60’an, yakni Velvet Underground, David Bowie, Billie Holiday, Stravinsky, Charlie Parker, Jack Lesmana,
  6. Chinese box berisi perhiasan,
  7. Setumpuk majalah dan tabloid,
  8. Setangkai bunga lili di dalam jambangan,
  9. Bermacam-macam obat,
  10. Serta seperangkat kosmetik.
  11. Potret pernikahan;
  12. Foto wisata keluarga (Klara & Motinggo & Zigy);
  13. Boneka Teddy dan Babushka Rusia kado wedding Anniversary ke-30 mereka;
  14. Kerlap-kerlip lampu tidur beraneka warna––disertai lonceng kecil dan bola-bola––yang melingkari stan seperti pohon Natal;
  15. Rak berkoleksi sepatu kets, high heels, pumps sepersis katalog koleksi Imelda Marcos (Fuck Marcos!);
  16. Guci Cina dengan motif burung hong dan bergrafin aksara Han berukiran indah;
  17. Serta dua poster film, Saturday Night Fever (1977) dan Chungking Express (1994), berukuran 28 x 22 cm dan berbingkai kaca terpajang di dindingnya.

Klara Akustia ingin kamarnya serupa museum kehidupan bagi dirinya sendiri. Kecuali bahwa tidak ada televisi di dalamnya. Sebab Motinggo waswas, dan tak ingin merawankan perasaan Klara Akustia––dengan tayangan sinetron murahan, kabar-berita penyiraman air keras, siaran pers anak-anak sekolah yang keracunan makanan, OTT kasus korupsi, dan perang dan perang dan perang.

Meski demikian, di kamarnya, selalu juga ada sedikit ruang bagi kejang-gigil seturut demamnya yang tinggi. Selebihnya hanyalah soal kesakitan––perkara berat yang selalu membuat badannya lungkrah––menyapa kehidupan serta menunggu kematian dan, sebagaimana kematian yang ditunggu-tunggu itu, menurutnya, pastilah sebentuk kematian yang indah. Tetapi, siapakah yang lebih dulu––Klara Akustia atau Motinggo atau Zigy?

Maka, saban hari Motinggo bersusah payah, sekuat usaha, mengemban tugas membasuh bersih tubuh Klara Akustia yang separuh lumpuh separuh mati rasa. Membersihkan kotoran yang melekat di pantat; memasangkan popok; dan menyalini bajunya yang basah oleh keringat (ataukah oleh air kencing dan rembesan cairan yang keluar dari duburnya?). Termasuk rajin memotong simetris poninya.

“Kau semakin muda––dan kembali gadis––bila berponi,” seloroh Motinggo seraya menyisir rambut istrinya yang setengah basah. Seingat Motinggo dulu, rambut bondol berponi yang ia keringkan dengan hair dryer ini, sering Klara Akustia semiri; kadang pirang, terkadang berwarna-warni.

Perempuan itu tersipu. Senyumnya bungah––semringah.

“Kau ingat? Kau ingat, tidak?” Motinggo lantas berdiri dan gegas ke almari. Ia mengambil album foto hitam-putih. “Lihat, Klara, lihatlah! Sewaktu ajojing di Tanamur. Ingat? Kau berdansa-dansi dengan rambut cantik ini. Nyentrik. Secantik dia,” pungkasnya. Tangannya menunjuk majalah Vogue bersampul Audrey Hepburn yang berdiri tegak di atas meja nakas.

Klara Akustia tertawa terpingkal-pingkal. Sekeras yang ia bisa.

“Adidas––” gurau Motinggo.

Perempuan itu terdiam sejenak, seolah sedang mengingat sesuatu yang lain––To See & To Be Seen, Tanah Abang Timur, clubbing, “AHOI!”––kesemuanya sambung-menyambung di dalam kepalanya.

“––Anak Disko dari Selatan,” sahut Klara Akustia, dengan nada riang.

Melihat foto Polaroid di album itu, api dalam dadanya menyala. Wajahnya semburat, putih mengilat. Betapa foto itu mengesankannya. Begitu mengesankannya.

3

Bila malam bertambah malam dan Klara Akustia tak dapat tertidur pulas, mengigau, atau terbangun sepertiga malam karena menahan rasa sakit akibat batuknya yang terus berderak-derak, Motinggo akan berlekas-gegas mendatanginya. Selalu berlekas-gegas.

Ia akan mengelus-elus dada istrinya yang kembang-kempis, menenangkannya, dan kembali menidurkannya dengan memijat atau memainkan sebuah waltz. Permainan pianoyang, sebenarnya sudah Klara Akustia dengar 3 kali dalam sehari, 21 kali dalam seminggu, 90 kali sebulan, dan 1.080 kali selama setahun. pendeknya, ia suka Motinggo memainkannya. Mengantar tidurnya dengan resital-piano-kamar yang begitu memukau, mempesona.

Sebab, Klara Akustia ingat, saat Motinggo menempuh program fast-track-master-PhD di Universitas Sussex, untuk melipur perasaan nelangsa sebab jemu menungguinya sendirian di kota––lelaki itu menghadiahinya stensilan partitur, not-balok maupun not-angka, yang ia karang dan tercetak di atas berlembar kertas HVS berserta kepingan compact disc rekamannya. Klara Akustia menerimanya senang hati. Mendengarkannya setiap hari. Sepuas-puasnya.

Sekembalinya Klara Akustia tertidur, lantas mendengkur, Motinggo akan membetulkan letak kerah piyamanya dan menjumputi berhelai rambut  gugur dari kasur. Lalu menyenderkan keningnya ke kening istrinya, merengkuh pipi, mengecup bibir, dan berbisik lirih (agar ia tak terbangun), “Tidur, Klara, tidurlah ….”

Sementara itu, ia sendiri akan melangkah mundur perlahan, merapatkan punggungnya ke dinding dan, dengan satu gerakan merosot, jatuh terduduk serta memeluk lutut. Saat itulah, dengan tatapan kosong seperti bermenung, ia saksikan istrinya meringkuk di atas kasur. Sebentar, ia ikut terlelap––ia lelah oleh pekerjaannya seharian.

Tapi, sebenarnya, ia tak benar-benar tertidur. Ia setengah terjaga.

4

“Sebelum aku lumpuh, Motinggo…,” ucap Klara Akustia ketika Motinggo mendorong kursi roda ke teras belakang rumah,  “ceritakan aku awal pertemuan kita.” 

Begitulah, gumam Montiggo, Klara Akustia akan mengajukan––selalu mengajukan––pertanyaan yang nyaris sama setiap harinya, entah saat sarapan, berjemur atau kesulitan tidur. Sementara itu, Motinggo, berkat kemahiran bekas seorang pengajar, telah menyiapkan stok jawaban yang kurang-lebih telah ia hafal di luar kepala.

Berkardigan rajut dan melilit sehelai syal berwarna kuning kepondang di lehernya, berjemur, Klara Akustia, kemudian Zigy, kembali mendengar Motinggo mengisahkan sebermula kisah kasih mereka dulu. Secuplik cerita yang, anehnya, selalu membuat sepasang bola mata perempuan itu berkaca-kaca.

Di pelataran gelanggang kampus Depok, di dalam rangkaian acara kamping dan api unggun 1994, ketika suatu malam Minggu, Motinggo––pianis yang berjemari panjang itu––pamer aksi dengan menari-narikan jemarinya di atas tuts piano. Berkemeja flannel dengan kancing setengah terbuka dan berambut acak-acakan,ia memainkan sebuah gubahan musik yang bertolak dari lagu Strange Fruit, Billie Holiday: dodekafoni, 12-nada, ala Schoenberg.

Mendengar itu, dari deretan belakang bangku penonton, perasaan Klara Akustia bergetar. Ia memandang takjub. Terpikat. Lalu bertepuk-tangan. Meskipun musik itu di telinganya terdengar asing, chaos––tak lazim, tetapi juga getir, bahkan menyayat-nyayat, pada hari kesekian setelah resmi berkencan, saat santap ayam pop di Melawai, diistilahkan Motinggo sebagai ‘iman seorang pianis’.

“Musik semacam itu,” kata Motinggo seraya bertekuk lutut di hadapan istrinya. Ia bertugas sebagai fisioterapis––dan bukannya cleaning service––pagi ini. “Adalah penggambaran ‘Semangat Zaman,” sambungnya, kemudian menekukkan tumit Klara Akustia, lalu meluruskannya lagi, berkali-kali––seolah-olah tengah memompa kaki.

Yang jelas, lagu Billie Holiday yang berkisah ihwal orang-orang-berkulit-hitam di Amerika Selatan yang digantung di pohon itu nantinya, bertahun-tahun kemudian setelah mereka menikah, kerap ditembangkan Motinggo kepada Klara Akustia––sampai hari ini. Sebuah lagu pilu yang, semenyayat apa pun ia, selalu mengingatkan perempuan itu juga kepada Papua. 

Usai beroleh giliran mentas, lalu turun panggung, Motinggo beserta sejumlah mahasiswa-karibnya, yang sebagian besar antimiliter itu, yang sebetulnya adalah “anak menteng” dan/atau “anak kolong” (Klara Akustia sendiri, seingat Motinggo, bertetangga rumah dengan Presiden Suharto), tengah meriung di bawah sebatang pohon rindang dengan beceng semi otomatis H&K USP40 di pinggang, tongkat kasti maupun stik golf, dan ketapel beserta pisau lipat. Merkea berjaga-jaga. Seraya menghabiskan setengah lusin bir, dan mempercakapkan rencana subversi berikutnya.

Sebab beberapa hari yang lalu, sebelum acara api unggun, di kampus Salemba acara diskusi Ikatan Mahasiswa Djakarta (ataukah Ikatan Mahasiswa Dansa-Dansa––IMADA) sempat dibubarkan paksa oleh tentara. Segerombolan aparat berlagak sok-jago yang berpakaian preman itu––yang, barangkali, berjumlah setengah kompi dari Kremlin (Keramat Lima), bermobil Kijang Super, merangsek masuk ke dalam kampus. Adu mulut dan bentrokkan tak dapat terhindarkan. Itulah alasan Motinggo dan kawan-seiringnya bersiap. Mewanti-wanti kalau datang serbuan susulan.

Mereka, mahasiswa-mahasiswa yang bersiap-siaga itu, sebetulnya sudah membangkang sejak dari dalam rumah. Bahkan salah seorang dari mereka, khususnya yang ber-beceng itu, merupakan anak pejabat tinggi ABRI. Tak jarang anak menteri ataupun pembesar Golkar. Motinggo berbeda. Meskipun tak bermukim di Menteng dan bukan “anak kolong”, ayahnya adalah begawan ekonomi, lulusan Harvard, dan konon PSI––liberal––serta mendukung ide masyarakat terbuka.

Sementara mahasiswa lain sedang riuh berdansa-dansi di lapangan, masih di acara kamping itu, Klara Akustia, yang berpakaian baggy, berambut bob, dan berlaku kemayu, datang menghampiri sang pianist ke tempat kongkownya. Mula-mula ia memberikan sebuh buku Thomas Paine––“Common Sense”––kepada Motinggo, berbasa-basi sebentar, dan kemudian mengundang lelaki itu ke sebuah pertemuan Imada.

“Lusa, di kampus Salemba, ada diskusi lanjutan Imada … tentang terbitan berkala koran Sydney Morning Herald, karya David Jenkins, yang berjudul “Suharto and His Generals”. Ini undangan terbuka, datanglah, saya akan senang jika kau ikut berdiskusi.”

Dari Salemba, sehabis acara diskusi dan dine in di restoran Trio di bilangan Cikini, malamnya Motinggo mengajak Klara Akustia ke Megaria––menonton Chungking Express (1994)––yang segera setelahnya menjadi salah-satu daftar pendek film favoritnya.

Dari Megaria, selepas membeli roti Tan Ek Tjoan di depan Taman Ismail Marzuki, Motinggo menemani Klara Akustia ke gerai kosmetik di Plaza Indonesia. Berbelanja gincu dan celak mata. Keluar-masuk konter––membeli pereda nyeri dan inhaler. Begitulah, dalam kencan, Motinggo membawakan kantong belanjaan Klara Akustia dan perempuan itu khidmat menggamit lengannya.

Seusainya, di lantai basemen mal, di dalam kokpit mobil, berdua mereka saling bersentuhan tangan––saling genggam-menggenggam. Di bawah lampu parkiran yang remang, meredup-redam, saluran radio seketika mengudara. Tepat ketika penyiar yang bersuara seperti Tuti Aditama, presenter acara Dunia Dalam Berita, yang biasa mereka saksikan di TVRI itu mewartakan diberedelnya sejumlah koran-majalah, Motinggo dan Klara Akustia berciuman. Rakus. Tak putus-putus. Sampai bibir lelaki itu berdarah.

“Pendeknya, sejak hari pemberedelan itu, kita marah besar sekaligus bergaul dekat dan rapat,” ucap Motinggo sambil berdiri memeluk badan. Ia telah selesai memandu Klara Akustia melatih otot-ototnya.

“A-aku ingat setelah mal itu, kita menghabiskan sisa malam di Pub Jaya. Mendengar blues, mendengar slow rock,” akhirnya Klara Akustia angkat biacara. Tergeragap dan patah-patah.

Masa lalu segera berlintasan di kepala Klara Akustia. Ia juga ingat (sebenarnya separuh lupa), ketika malam berhujan lebat di Jakarta, sebelum melantai ke Green Pub di Gedung Djakarta Theater, atau Pitstop Discotheque di Hotel Sari Pasifik, atau di Tanamur, ia dan Motinggo sempat berhenti di anjungan tunai mandiri sebuah bank swasta di Jalan Gatot Subroto.

Di balik bilik ATM, Motinggo menyelipkan tangannya ke sebalik jaket kulit Klara Akustia dan, dengan lengan setengah melingkar bergerak ke dadanya, kemudian melakukan gerak meremas––seperti hand grip.

“Kau cabul, dan sedikit kurang ajar,” tutur Klara Akustia berterus terang.

Ancur…,” desis Motinggo, dengan tawa lepas. “Itu rahasia negara.”

“Tapi Zigy sudah mendengarnya!” seru Klara Akustia, lalu kembali bersandar ke kursi roda, seusai mengelus-elus gemas kepala Zigy––anjing kesayangannya.

“Kalau ATM itu di Jalan Gatsu, Sayang,” Motinggo mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri seolah tengah mengingat sesuatu. “Aku kira––kalau tidak salah ingat––kita ke Tanamur.”

“Kau keliru. Aku kira kita ke––” sangkalnya ragu, berpikir keras, sesaat kemudian, “––Peacock?”

Motinggo menggeleng. “Belum ada Peacock waktu itu,” cermatnya meyakinkan istrinya.

Di Tanamur, diskotik paling ikonik bagi anak muda Jakarta kala itu, yang semakin malam kian cabul dan makin bejat, Klara Akustia menegak segelas-dua gelas Maccalan 18 disertai berbotol-botol bir. Betapa modis ia saat itu. Bergincu merah tebal. Berpakaian cerah dan serbakurang dengan punggung terbuka––slip dress, mencolok mata––dan tak lepas dari jerat incaran hipster ibukota bermata liar.

“Kau joget lincah semalaman suntuk di Tanamur. Mirip film Saturday Night Fever, tetapi lebih menyerupai orang kesurupan,goda Motinggo, dengan mencolek dagu perempuan itu. “Dan beda pakaianmu antara malam Minggu dan mengabdi ke Sekolah Minggu.”

Klara Akustia senyum, lalu mengulumnya, serta pura-pura menanyakan, ke mana mereka pergi setelah dari Tanamur.

Semua muda-mudi pun tahu, dalam mabuk, asmara yang membara––meletup-letup, akan selalu berujung ke atas kasur. Maka begitulah, dengan Mercy Tiger-nya, mereka bergerak meningalkan “dunia gemerlap”, untuk bersenang-senang menuntaskan kencan, membiakkan asmara, ke sebuah vila bernuansa alam di luar Kota Jakarta.

Melaju di jalan lengang dan berliku, meliak-liuk, sambil mengemudi mereka bergiliran––ganti-bergantian––mengisap berbatang ganja. Tertawa-tawa. Lelaki itu senang. Klara Akustia sama senang. Ia setengah telanjang.

“Sejenis proyek kenakalan kawula muda,” kata Motinggo. “Itulah beda antara JP––: Jakarta Project dan MP––: Manhattan Project. Yang pertama menggembirakan, sedang yang kedua sebaliknya.”

Klara Akustia mengangguk berkali-kali tanda setuju.

Ia kemudian memandang mata Motinggo dan kembali bertanya, “Kenapa, dulu, kita rutin sekali foya-foya, berpesta semalaman, tetapi juga berdiskusi?”

“Kita jemu, Sayang––frustrasi. Tentara sedang kuat-kuatnya. Itu dua tahun sebelum serentetan penculikan-penangkapan aktivis, dan empat tahun jelang bangkrutnya rezim militer Harto,” begitu komentar Motinggo.

Terkait hal itu, Klara Akustia tersenyum. Miring. Mulutnya terlihat perot ke kanan. Ia seperti bahagia sekaligus tidak berbahagia. Sebab … situasi 32 tahun lalu itu masih sama, batinnya, lalu beralih pandang ke bagian pekarangan tanaman yang telah layu dan meranggas. Menurut Klara Akustia, Daun-Daun-Hijau-Tua itu harus segera tanggal, agar pucuk baru tumbuh.

Di vila, Motinggo ingat benar, bagaimana Klara Akustia yang masih teler dan kelelahan sehabis asyik-masyuk itu meminta, dan nyaris mendesak, agar lelaki itu segera melamarnya dan, setelah bersilang pendapat panjang, hanya menghasilkan gagasan tinggal bersama sebagai kesimpulan. Hidup bersama. Berbahagia.

“Lagi pula, kau belum lulus diwisuda waktu itu, dan sudah berani mengajakku menikah,” kata Motinggo, seraya memiringkan tangannya di jidat.

Meskipun Klara Akustia bertinggal di Jalan H. Agus Salim, dekat Gereja Theresia, persis di belakang Hotel Nikko (sekarang Hotel Pullman), perempuan itu mengajak Motinggo (tentu dengan paksaan) menyewa sebuah apartemen bersama di sekitar Salemba. Satu tahun mereka tinggal bersama, sampai akhirnya Motinggo berangkat sekolah ke Sussex Timur, dan perempuan itu khidmat menungguinya di Bandara Soekarno-Hatta sekembalinya ia ke Jakarta.

“Bahkan, rasanya,” kata Motinggo melanjutkan, “selama di Salemba kau sering sekali mengajakku kelayapan––‘night drive’, istilah anak-anak sekarang––nyaris setiap malam, dari Pusat ke Barat, ke Timur, ke Selatan …. Menyusuri panggung dangdut sepanjang Jalan Blora, makan babi merah di Gang Gloria, hingga mukamu jelek, menggemuk dan kekenyangan.” Dan, bagi Motinggo, begitu banyak kegembiraan lainnya di Jakarta.

Kegembiraan lain itu, misalnya––ngeceng di Roti Bakar Eddy; in-line-skate di Aldiron Plaza atau Taman Suropati; bermain biliar; mengamati penjaja cinta dan para petualang malam yang mengantongi panasilin di Kramat Tunggak; berburu lapakan DVD film porno di Glodok; membeli majalah Gadis edisi terbaru di Kwitang; dan menumpangi becak dari HI ke Kebayoran; serta, tentu saja, berdemonstrasi.

Dan segalanya begitu berarti. Semuanya––segalanya––begitu berarti.

Sebetulnya dua tahun lalu, Motinggo masih sering mengajak Klara Akustia berpergian ke bar, sekali sepekan, sepersis rutin mereka semasa muda belia dulu. Sampai suatu hari, naasnya, mereka tak lagi dapat berpergian. Bukan karena usia tua, bukan, melainkan karena kondisi kesehatan Klara Akustia yang semakin memburuk. Betapa menyedihkan.

“Bila masa tuaku bernasib menyedihkan, Motinggo. Setidaknya masa mudaku sangat bahagia. Aku tak pernah menyesalinya seumur hidup,” ucap Klara Akustia lebih kepada dirinya sendiri. Ia menekukkan wajah. Lekuk kelopak matanya sayu seperti mengantuk.

Motinggo setengah membungkuk, dan kemudian mengangkat dagu istrinya. Soal itu ia berkata: “Kehidupan berubah, Sayang, tetapi kenangan tidak.”

Dari tempatnya mengintip, Zigy, anjing golden itu, merangsek ke bantal sofa yang melesak. Amblas. Motinggo berteriak keras. Dengan patuh anjing itu meloncat, lalu kembali telungkup di dekat kursi roda. Ekornya belaka yang bergoyang-goyang. Namun begitu, ia––Zigy––satu-satunya saksi bisu bagi kesetiaan Motinggo dan Klara Akustia.  

Demikianlah. Selepas berjemur, Motinggo disertai Zigy, kembali mendorong Klara Akustia kembali ke kamar. Motinggo memapahnya, dan meletakkan kepalanya kembali bersandar pada bantal. Meremas tangangnya, merengkuh pipinya, dan mendaratkan satu kecupan ke bibirnya. Menarik selimut sampai ke sebatas lehernya, dan lalu berbisik lirih (agar ia tak terbangun), “Tidur, Klara, tidurlah….”

4

Motinggo mendengar Zigy menggonggong, persisnya menyalak, dari dalam kamar induk. Berulang-ulang dan panjang. Ia lalu berlari gusar––tunggang-langgang. Ia saksikan Klara Akustia telah ambruk dan terbujur menggelesot di dekat ranjang. Lelaki itu serba terburu mengembangkan tangan, memeluk, dan terbungkuk-bungkuk mengangkat perempuan itu kembali ke pembaringannya.

Klara Akustia mengerang-erang meraung kesakitan. Mulutnya bergerak-gerak, tetapi yang keluar hanya gumaman. Motinggo berusaha meredakan––dan sekaligus menenangkan––istrinya itu dengan mengusap-usap dadanya. Namun, ia hanya mengerang, terus mengerang, dan semakin mengerang.

Pemandangan itu membuat hati Motinggp sakit dan tak tertahankan. Alangkah perih. Ia seketika jatuh terduduk di lantai. Kepalanya pening. Tubuhnya melayang-layang. Berdenging pula suara-suara tertambat di kepala––bergema panjang: Bebaskan aku, Motinggo. Bebaskan aku…

Ia terbayang orang-orang berpayung hitam, berpakaian serbahitam, berjalan panjang mengantar ibu bersemayam. Teringat orang-orang bersila melarung kembang tujuh rupa, air mawar membasuh tanah, konkret-semen dan epitaf. Bendera kuning, rumah duka dan karangan bunga. Kain lampin dan peti mati. Tubuh ibu dan tubuh Klara Akustia yang sedekap terlentang.

Dengan belas kasih––atau berat hati?––ia berdiri lalu menggiring Zigy keluar kamar dan memaksanya masuk ke dalam kandang. Anjing itu berguling-guling. Ia terus mengaing-ngaing.

Sekembalinya ke kamar, setelah mengurung Zigy ke dalam kandang, ia ratapi Klara Akustia. Lantas, dari kejauhan, betapa lelaki itu berniat membebaskan kesakitan istrinya dari ranjang mautnya sendiri. Wajahnya perempuan itu tampak letih dan sedih. Napasnya megap-megap. Matanya mendelik tatkala menghela napas, dan mengerjap-ngerjap ketika melepaskannya.

Motinggo menghampiri Klara Akustia dan duduk terisak-isak di sampingnya. Lalu, begitu pelan, ia ambil batal dari tempatnya. Saat itulah, dengan gerakan cepat, ia benamkan bantal itu melengkung indah ke sepenuh wajah istrinya. Ia dorong tubuhnya ke depan, dan terus ke depan.

 Suara-suara terus bermunculan di kepala Motinggo. Bergema panjang.

Ceritakan aku masa kecilmu, Motinggo ….

Berkekuatan penuh ia, Motinggo, mendorong lengannya lebih dalam, lebih dalam lagi. Sedalam-dalamnya yang ia bisa.

Ceritakan aku awal perkenalan kita, Motinggo ….

Motinggo mencengkram bantal sedemikian erat, lebih erat lagi. Sekuat yang ia bisa.

Klara Akustia pun tahu, sangat tahu, ia harus membantu Motinggo dengan menahan napasnya di tenggorokkan. Ia tak berontak, tak menggelinjang––sebab ia tahu, Klara Akustia, istrinya itu, merestui tindakkannya. Urat lehernya belaka yang semakin menegang. Napasnya tertahan. Sesak. Cepat atau lambat, ia akan melemas dan kehabisan napas. Sekarat.

Motinggo angkat bantal dan, bersamaan dengan itu, terangkat pulalah segala kesakitan yang menjangkiti tubuh Klara Akustia. Matanya yang sayu telah melorot dan terkatup. Wajahnya––wajah orang mati. Dadanya tak lagi kembang-kempis.  Ia raup wajah istrinya dan mendapati telapak tangannya basah. Menangiskah Klara? bisiknya.

Maka, begitulah, ia tarik selimut dari kaki, pinggang, hingga ke sebatas leher istrinya. Lalu menyenderkan keningnya ke kening perempuan itu, merengkuh pipi, mengecup bibir, merasa-rasai napasnya yang tak berembus lagi, dan berkata lirih, sangat lirih (agar ia tak terbangun), “Tidurlah, Klara. Tidurlah…”

Setengah menangis setengah tertawa, ia hidupkan turntable-nya, mengambil pelat Billie Holiday, dan lalu berkumandang lagu Strange Fruit––lagu kesukaan Klara Akustia.Ditingkahi panjang-pendek nyanyian dan suara Zigy yang meraung, seutas tali panjang bersimpul akan membuat tubuh Motinggo melayang––terayun-ayun, seperti buah aneh yang menggelayuti ranting pepohonan.

Pandega Marta, Juni 2026

Krisnaldo Triguswinri
Latest posts by Krisnaldo Triguswinri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!