
“Uni, apakah Tuhan sudah mati?”
Rania menanyakannya pada siang yang terlalu terang di nagari kami, ketika matahari seperti dipaku tepat di tengah langit dan tidak bergerak ke mana-mana. Bayangan pohon mangga di halaman rumah gadang kami jatuh pendek dan kaku, seolah enggan menyentuh tanah lebih jauh. Atap seng yang meski sudah berkarat tetap memantulkan cahaya tajam. Udara terasa panas tapi tidak menyengat—jenis panas yang membuat penduduk nagari lebih banyak diam di dalam rumah.
Aku sedang menjemur padi di tikar pandan, di halaman rumah gadang peninggalan nenek dari garis ibu. Butir-butir gabah yang masih lembab menempel di telapak tanganku. Bau gabah basah bercampur lumpur dari sungai kecil yang membelah nagari kami—sungai yang sejak kecil kami kenal sebagai tempat mandi, mencuci, dan bermain, tapi juga tempat orang-orang tua berpesan agar kami berhati-hati.
“Apa?” tanyaku, berharap aku salah dengar.
“Apakah Tuhan sudah mati?”
Ia duduk di bangku kayu panjang dekat tiang rumah, kaki kecilnya tak menyentuh tanah. Matanya tidak memandangku. Ia menatap langit ranah minang yang birunya seperti tak bertepi, dengan kesungguhan yang membuat pertanyaan itu terdengar seperti kesimpulan yang hampir jadi.
“Kenapa Rania bertanya begitu?”
“Uda-Uda di sekolah bilang orang yang mati ada di atas.” Ia menunjuk lurus ke biru kosong. “Ibu dan Ayah juga di atas, kan, Uni?”
Aku mengangguk pelan.
“Kalau semua yang di atas itu mati, Tuhan juga di atas. Berarti Tuhan juga mati?”
Logikanya sederhana. Bersih. Tanpa cela.
Seekor burung pipit melintas cepat. Bayangannya meluncur di tanah seperti garis yang lewat sebentar lalu hilang di dekat tangga kayu rumah. Aku ingin menjadikan burung itu jawaban, tapi ia sudah hilang.
“Tuhan tidak mati,” kataku akhirnya.
Ia menoleh. “Kalau begitu, kenapa Dia tidak menolong Ibu waktu jatuh?”
Pertanyaan kedua itu lebih berat dari yang pertama.
Angin bergerak pelan, menggoyangkan kain hitam yang masih tergantung sejak malam doa dan talqin tujuh hari itu. Bau kemenyan dan kayu gaharu seperti belum benar-benar pergi dari ruang tamu, tempat penduduk nagari dulu duduk bersila membaca Yasin. Surau di ujung kampung belum pernah seramai itu sejak Ramadan terakhir.
Aku masih ingat bunyi teriakan pertama hari itu. Bukan teriakan panjang—lebih seperti napas yang tersedak.
Ibu hanya ingin membilas padi-padi yang tercecer di tepi sungai. Batu-batu di sana memang licin. Lumut tipis menempel seperti minyak. Orang-orang tua sering bilang, jangan percaya pada batu sungai saat musim hujan panjang.
Ayah sedang memanggul kayu bakar dari ladang di seberang. Ketika tubuh Ibu tergelincir dan menghilang dalam percikan air cokelat, Ayah tidak berpikir. Kayu itu ia lemparkan. Ia melompat.
Orang kampung berlarian dari sawah. Cangkul ditinggalkan di pematang. Caping terjatuh. Seseorang membawa bambu panjang. Yang lain mengikat tali ke pinggangnya sendiri dan mencoba turun lebih dekat ke arus. Nama Tuhan dipanggil berkali-kali, bercampur dengan seruan, “Allahu Akbar!” seperti orang mengetuk pintu yang tak kunjung dibuka.
Air sungai saat hujan berbeda. Ia bukan hanya air. Ia membawa tanah runtuh dari bukit, akar patah dari tebing, dan sesuatu yang lebih gelap—sesuatu yang membuat manusia terasa kecil, meski dibesarkan dengan petuah bahwa adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
Tubuh mereka ditemukan jauh dari titik jatuh. Tersangkut di rumpun bambu di belokan sungai. Tangan Ayah masih menggenggam ujung baju Ibu ketika diangkat. Jemarinya kaku. Seolah bahkan maut pun tidak bisa memisahkan niatnya untuk menyelamatkan.
Di ruang tengah rumah gadang, kain kafan terasa terlalu putih di antara ukiran pucuak rabuang yang menghitam dimakan usia. Bau sabun, tanah basah, dan air mata bercampur. Para niniak mamak duduk bersila. Doa dilantunkan. Talqin dibacakan pelan.
Sejak hari itu, Rania sering menengadah ke langit di atas nagari kami.
***
“Aku ingin mati.”
Ia mengatakannya beberapa minggu setelah rumah kembali sepi dari pelayat. Lapau kembali ramai oleh cerita harga beras dan kabar dari rantau. Surau kembali sunyi seperti biasa.
Suara sendok di piring terdengar terlalu keras di dapur.
“Kenapa?”
“Agar bisa bertemu Ibu. Kalau mati dibawa ke atas, kan?”
Aku menahan napas. “Hidup juga dari Tuhan.”
“Kalau Tuhan hidup,” katanya pelan, “kenapa Dia diam waktu Ibu jatuh?”
Aku tidak pernah merasa sekecil itu di depan seorang anak.
Malamnya aku mendengar ia berdoa sendiri di kamar yang menghadap halaman. Bukan doa yang diajarkan di sekolah atau di surau. Ia membuat kalimatnya sendiri.
“Tuhan, kalau Engkau ada, jangan sembunyi.”
Kata sembunyi itu menusukku lebih dalam daripada kata mati.
***
“Aku ingin jadi burung.”
“Kenapa burung?”
“Burung bisa ke langit tanpa harus mati.”
Ia mulai memperhatikan setiap burung yang melintas di atas atap gonjong rumah gadang kami. Pipit, gagak, bahkan bangau yang sesekali singgah di sawah. Ia bertanya apakah burung juga punya Ibu di atas sana.
Suatu sore ia berdiri di tengah halaman, merentangkan tangan, membiarkan angin dari arah bukit mengangkat ujung bajunya.
“Kalau aku cukup ringan, aku bisa terbang, kan, Uni?”
Aku ingin berkata tidak. Tapi takut kata tidak justru akan membuatnya kecewa. Jadi aku diam saja.
***
“Air ini ke mana?” tanyanya suatu hari ketika kami berdiri di pematang sawah, memandangi air sungai yang kembali meninggi. Semalam, hujan tak lelah bekerja.
“Ke laut.”
“Lalu dari laut?”
“Ke langit. Jadi awan, lalu jadi hujan lagi.”
Ia terdiam lama, memperhatikan pusaran kecil di dekat batu.
“Berarti sungai juga bisa ke langit.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat setelah itu. Setiap kali kami melewati titik tempat Ibu jatuh, aku berjalan lebih cepat. Ia justru melambat.
Kadang ia memandangi arus dengan tatapan yang tidak bisa kutafsirkan. Bukan takut. Bukan juga berani.
***
Pagi itu kabut menggantung tipis seperti kain kasa yang belum diangkat dari wajah nagari. Dari kejauhan terdengar ayam berkokok bersahut-sahutan. Tanah lembap. Rumput masih menyimpan sisa hujan semalam.
“Uni, aku ikut,” katanya ketika melihatku membawa cangkul ke sawah pusako kami yang tinggal sedikit.
Ia masuk sebentar, lalu keluar dengan gaun putih terbaiknya. Pita kecil di pinggang. Sepatu hitam mengilap yang biasa ia pakai saat salat Id di lapangan dekat balai adat.
“Kenapa pakai itu?”
“Kalau menghadap Tuhan harus dengan yang terbaik. Aku mau berdoa di sawah.”
Aku ingin tertawa agar suasana ringan. Tapi tidak ada yang lucu.
Kami berjalan menyusuri pematang. Air sungai tinggi. Suaranya seperti desah panjang yang tidak pernah selesai.
Di titik itu ia berhenti.
“Uni,” katanya, “kalau aku tidak bisa jadi burung…”
Angin membuat gaunnya bergerak pelan. Seperti sayap yang belum sempurna.
Langkahnya maju satu tapak.
Batu itu memang licin. Aku tahu itu. Lalu tubuhnya oleng. Tanganku terburu kuulur. Untuk sepersekian detik aku yakin aku bisa menariknya kembali. Aku merasakan ujung jarinya menyentuh telapak tanganku.
Lalu kosong.
Ia jatuh tanpa jeritan panjang. Hanya satu suara pendek yang segera ditelan arus. Gaun putih itu mengembang sesaat di atas permukaan sungai, seperti burung yang ragu mengepak sebelum akhirnya tenggelam.
Orang kampung berlarian. Lagi. Semua terulang sama seperti dulu. Teriakan. Bambu panjang. Nama Tuhan kembali dipanggil dari tepi sungai yang sama.
Aku berdiri membeku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak memanggil-Nya.
***
Langit pagi itu bersih sekali di atas ranah Minang. Tidak ada awan. Tidak ada burung. Tidak ada tanda bahwa siapa pun sedang menatap ke bawah.
Surau tetap berdiri di ujung kampung. Lapau tetap ramai menjelang sore. Sawah tetap ditanami. Sungai tetap mengalir.
Aku teringat pertanyaan pertama Rania.
Apakah Tuhan sudah mati?
Aku tidak tahu. Mungkin Tuhan tidak mati. Mungkin yang mati adalah keberanian kita untuk percaya tanpa syarat, meski sungai menelan yang kita cintai. Mungkin yang mati adalah keyakinan bahwa langit selalu berarti keselamatan, padahal dari sanalah hujan turun dan membuat sungai membesar.
Kami dibesarkan dengan petuah bahwa adat basandi syarak, dan syarak basandi Kitabullah. Tapi di tepi sungai itu, aku tidak tahu lagi apa yang sedang bersandar pada apa. Atau mungkin Tuhan tetap hidup—dan justru kita yang terlalu kecil untuk memahami cara-Nya bekerja, seperti sungai yang tetap mengalir meski warga kampuang berteriak memanggil nama-Nya di tepinya.
Sejak hari itu, aku tidak lagi bertanya apakah Tuhan sudah mati.
Aku hanya tahu, setiap kali aku menengadah ke langit di atas rumah gadang kami, aku tidak lagi mencari wajah-Nya. Aku mencari jejak gaun putih yang pernah mengembang sebentar sebelum ditelan arus. (*)
- Apakah Tuhan Sudah Mati? - 31 July 2026
