
Rumah ini masih bau Mama. Baunya menempel di kayu-kayu tua, di kelambu yang makin menguning, di bantal yang lekuk kepalanya belum juga rata. Sudah setahun, dan tak seorang pun berani menepuk bantal itu.
Orang kampung bilang hujan adalah berkat. Bagiku ia tamu lama yang membangunkan kenangan. Ia datang dengan rintik yang menggigit atap seng, menetes lewat celah, membasahi kayu, dan semua yang sudah dikubur ikut bangun. Bau tanah becek, bau keringat yang lama mengering, bau tubuh Bapa yang selalu berkeringat dingin setiap kali gerimis mulai turun.
Selama hujan, Bapa duduk di serambi, seperti orang menunggu bus yang sudah bertahun-tahun tidak lewat. Matanya menempel pada air yang jatuh. Kadang kupikir ia sedang menonton Mama menari di sana.
Dan kadang, di bawah lampu minyak, matanya singgah padaku agak lama. Di lenganku, di leherku, di pinggul bajuku yang jatuhnya kebetulan sama persis dengan baju Mama dulu. Napasnya tersendat, tangannya mencengkeram pinggir kursi, seperti orang menahan diri agar tidak berdiri. Aku tahu tatapan itu bukan untukku. Tapi akulah yang kena.
Sejak itu aku belajar berjalan di rumah sendiri seperti tamu yang tidak lama-lama di serambi, tidak dekat-dekat lampu.
Hujan terus jatuh. Tak ada yang bicara. Rumah ini sudah jadi museum bagi semua yang telah pergi.
***
Masalahnya mulai dari hal yang remeh yakni celana dalamku hilang. Yang merah jambu, yang kusimpan khusus untuk keperluan yang lebih penting daripada dipakai.
Di kampung kami, orang percaya kalau hujan panjang tak mau berhenti, lemparlah celana dalam ke atap. Entah siapa yang memulai. Nenek-nenek bersumpah itu manjur, para lelaki pura-pura tidak mendengar. Seminggu lalu aku mencobanya, setengah iseng. Hujan berhenti sebelum lonceng Angelus. Kain itu kuambil lagi dengan galah bambu, kulipat, kusimpan di lemari. Orang tidak membuang barang yang manjur.
Maka ketika langit kelabu lagi dan doa rosario di Oe Bimofa mulai terdengar, aku mencarinya. Lemari kubongkar, jemuran kuperiksa, kolong tempat tidur kusisir. Kosong. Kain sekecil itu raib seperti ditelan bumi.
“Bapa,” kataku senja itu, saat hujan mengetuk atap dengan irama yang sama. “Bapa lihat celana dalam pink saya?”
Bapa menatapku. Matanya seperti kaca buram. “Tidak,” katanya, serak seperti daun kering digesek angin. Itu jawaban yang selalu ia pakai untuk pertanyaan yang tidak mau ia jawab.
Mama tidak mungkin. Mama pergi setahun lalu, tepat di hujan kedua bulan Oktober. Menurut Bapa, Mama pulang dari kebun membawa bakul penuh ubi, langit tiba-tiba geram, petir menyambar, dan Mama meninggal di tempat. Cuma itu. Tapi orang kampung punya versi lain, yang mereka ceritakan sambil menurunkan suara, pagi-pagi sebelum berangkat: Mama melempar celana dalamnya ke atap, minta langit menahan hujan sampai ia pulang. Langit tidak suka diatur. Sesajen berubah jadi kutukan.
Aku tidak melihatnya. Aku di kota, di antara klakson, ketika kabar itu masuk lewat telepon yang putus-putus. Aku baru sampai seminggu kemudian, waktu tanah kubur Mama masih basah dan celana dalamnya masih tersangkut di tepi atap seng, pudar, tak ada yang berani mengambil. Sejak itu rasa bersalah ikut tinggal di rumah ini, duduk di kursi yang dulu milik Mama.
Dan sekarang celana dalamku hilang. Aku tidak suka kebetulan semacam itu.
***
Hilangnya kain itu seperti membuka pintu yang seharusnya dibiarkan tertutup. Bapa yang biasanya hanya diam kini mulai bicara sendiri, pada dinding, pada angin yang masuk lewat jendela. Badannya menyusut seperti baju yang kebanyakan dicuci.
Lalu datang Bibi Cantik, adik Mama. Begitulah orang kampung memanggilnya, dan ia tak pernah keberatan. Katanya ia datang karena kasihan. Ia membersihkan rumah dengan beringas, seolah mau menghapus semua jejak Mama, memasak untuk Bapa, duduk terlalu dekat, bicara dengan suara yang dilunak-lunakkan. Awalnya aku bersyukur. Lagi pula ia juga kehilangan kakaknya, mungkin caranya berduka memang dengan menyapu. Tapi lama-lama kulihat Bapa makin mengerut, seperti binatang yang terjepit.
Suatu kali kudapati mereka di dapur. Bibi sedang menyuapi Bapa. “Biar saya saja,” katanya. Bapa kaku, wajahnya pucat, matanya mencariku seperti minta tolong.
Puncaknya malam itu, ketika kudengar mereka bertengkar. Suara Bibi melengking: “Kenapa kau tak bisa melupakan dia? Aku di sini sekarang!” Lalu isak Bapa, tersedu-sedu seperti anak kecil.
Besoknya kuperpanjang cutiku dan kusuruh Bibi pulang. “Ini bukan rumahmu,” kataku. Ia marah, air matanya meleleh, dan jelas itu bukan air mata sedih. “Kau tidak tahu apa yang terbaik untuk dia!” serunya, lalu pergi naik ojek dengan wajah orang yang kalah sidang.
Sekarang tinggal aku dan Bapa dan sepi.
Suatu malam aku terbangun oleh suara dari kamar Bapa. Desah yang pendek-pendek, seperti orang menahan napas supaya tidak menangis. Atau menahan sesuatu yang lain. Dari celah pintu kulihat lampu minyak berkedip. Tak ada yang bisa kulihat, tapi suaranya ada, bersama gesekan kain dan napas yang berat. Aku mundur, perutku mual. Pikiranku loncat ke celana dalamku yang hilang, ke murungnya Bapa, ke pertengkaran dengan Bibi. Aku tak mau menyelesaikan hitungannya.
Keesokan paginya, waktu aku menjemur, Bapa lewat. Tangannya tanpa sengaja menyentuh celana dalamku yang basah di tali. Hanya sebentar, tapi jarinya berhenti, lalu mengusap—pelan sekali, cepat sekali. Usapan orang yang sudah kehilangan banyak hal. Ia kaget sendiri, wajahnya bersemu malu dan panik, lalu pergi dengan langkah gontai seperti maling ayam yang ketahuan.
Aku tahu siapa pencurinya.
Anehnya aku tidak marah. Yang datang justru sedih, dalam seperti sumur.
Siang itu aku masuk gudang, mencari kesunyian. Di balik kaleng cat kutemukan sebuah kotak kayu tua yang belum pernah kulihat, kira-kira delapan belas kali delapan belas sentimeter. Isinya tersusun rapi, berlapis-lapis seperti pakaian bayi, celana dalam pinkku yang hilang, belasan lainnya, beberapa helai lusuh milik Mama, dan di dasar, dibungkus plastik, selembar kain pudar yang kukenal. Yang dulu tersangkut di tepi atap seng. Bapa pasti memanjat sendirian, entah kapan, mungkin malam hari. Diam-diam aku berdoa semoga tidak ada milik Bibi Cantik.
Aku terduduk. Di luar hujan mulai lagi. Kotak itu museum paling kecil di dunia, dan penjaganya cuma satu orang.
Tidak ada yang mesum di dalamnya. Yang ada hanya seorang lelaki yang menyimpan apa saja yang pernah dilempar ke atap, atau bisa dilempar ke atap, supaya langit kehilangan alasan untuk mengambil siapa-siapa lagi dari rumah ini. Mungkin juga supaya ia punya sesuatu untuk dipegang. Mungkin dua-duanya. Aku tidak tahu. Yang kutahu, anaknya kini tak punya kain untuk dilempar.
Kulipat lagi semuanya, kutaruh kembali ke dalam kotak, kututup, dan kukembalikan ke balik kaleng cat. Tentang suara malam itu aku tak pernah bertanya. Ada yang lebih baik dibiarkan jadi suara.
***
Sorenya hujan turun lagi. Bapa sudah di serambi. Kubawakan dua gelas kopi dan duduk di sebelahnya. Lama kami diam. Lalu kutanya, pura-pura lupa, “Bapa lihat celana dalam pink saya?”
Bapa menatap hujan. “Tidak,” katanya.
“Ya sudah,” kataku. “Tidak usah dicari.”
Malam itu kami menunggu hujan reda, berdua, tanpa melempar apa-apa ke atap.
