
Madu di Dasar Perih
kata-kata datang membawa sayap
dari sarang yang tak pernah genap.
ia mengerumuni meja,
mengisap sisa dari sari-sari bahasa
yang kupetik sebelum senja selesai.
barangkali lidahku telah lama
menyimpan madu dari luka:
setiap suku kata yang kucicipi
meninggalkan getir di ujung puisi;
seakan bahasa hanya tahu kembali
ke tempat pertama ia disakiti.
pernah aku menyembunyikan satu bunga getir;
tak kuberi nama, tak kuberi tafsir.
sebab rindu yang lekas diterjemahkan
kerap kehilangan duri
yang membuatnya hidup dalam ingatan.
kemudian kata-kata mulai saling menyengat,
berebut sarang, berebut makna.
aku memunguti sayapnya yang jatuh
dari percakapan yang kian rapuh,
menyusunnya menjadi sunyi
agar luka memiliki bahasanya sendiri.
sebenarnya, untuk apa mencari makna
jika setiap kata pulang membawa luka?
barangkali yang kita cari selama ini
adalah nama bagi kehilangan,
sebutir madu di dasar perih
yang tak habis-habis kita cicipi.
Yogyakarta, 2026
Gravitasi
aku menatap langit malam,
untuk menyalakan rasa ragu dan rasa ingin tahu.
tak peduli seberapa banyak
bintang yang mesti kuhitung,
dari yang remang,
hingga yang menjerat pandang.
perlahan aku menarik napas,
seakan bersiap menembus ruang
dengan pura-pura yakin
bahwa hukum alam pasti menuntun.
hingga akhirnya,
aku menjadi debu
di antara cahaya yang melayang,
juga di antara ruang dan waktu,
meski aku tak ‘kan pernah bisa
menjelaskan segala sesuatu;
karena ini hidup,
lebih dari menyerahkan diri,
ketika melintasi
gravitasi yang perlahan
menarikku untuk kembali.
Yogyakarta, 2026
Biografi Lubang Kancing
aku tak pernah mengira
kancing itu melepaskan diri
dari baju yang kau pilih.
tapi tubuh serupa lemari,
kehilangan pakaian
pada suatu hari.
sejak itu, aku tak lagi tahu
ke mana sesuatu yang hilang
menyimpan bentuknya, kembali?
jarum hanya mengenali kain,
di antara benang yang berkali-kali
menarik masa lalu ke masa kini.
barangkali begitulah kehilangan:
sebuah lubang tetap terbuka
setelah kancing itu pergi,
dan benang terus mencari
bekas yang tak lagi rapi.
Yogyakarta, 2026
Baju Seluruh Penantian
akulah kancing yang terlepas
dari baju seluruh penantian,
sejak jemarimu mengembalikan
kusut kepada asal-benang.
dan kaulah jarum yang memilih
pada siapa tubuhmu
hendak dijahitkan—
sedang aku, tubuh yang
masih berlubang-kesunyian.
Yogyakarta, 2026
- Puisi Agus Widiey - 20 October 2026
