
Perahu itu selalu kembali sebelum subuh, meski tak pernah ada yang melihat kapan ia berangkat. Di Tanjung Luar, laut biasanya berisik oleh suara mesin tempel dan sumpah-serapah nelayan yang memaki arus. Tapi perahu milik La Nuru, perahu kayu bercat biru pucat dengan satu lubang paku di lambung kiri, selalu sandar dalam diam. Tak ada suara dayung. Hanya bau asin dan sisik ikan yang tertinggal di papan geladak.
La Nuru tidur di perahu itu seperti bangkai paus yang terlepas dari arus. Mata terpejam rapat, napas pelan, dada naik turun nyaris tak terlihat. Kadang tubuhnya basah kuyup oleh embun laut, kadang kering oleh angin timur. Di sana, ia tak bergerak, tetapi laut telah memberinya ikan. Orang-orang Bugis di Tanjung Luar tak pernah sepakat mengenai dari mana hal ajaib itu tiba.
“Ilmu,” kata sebagian.
“Malas,” kata yang lain.
“Pamali,” bisik yang paling pelan.
Yang jelas ia selalu seperti bangkai cumi jika tidur di perahunya. Berbeda jika ia tidur di rumah atau tempat selain perahu itu, La Nuru hanya tidur dua jam sehari. Selebihnya ia terjaga dengan mata bening seperti mata ikan baronang yang baru diangkat dari jaring. Siang hari, saat panas memukul pelabuhan seperti palu, La Nuru duduk di bawah bayang perahunya. Ia tak pernah ikut musyawarah dengan nelayan lainnya, tak ikut ribut soal harga solar, tak juga ikut marah pada tengkulak. Ia hanya mengasah pisau fillet-nya pelan-pelan, seolah takut pisau itu mendengar. Di dekatnya, Daeng Ramma berdiri dengan tangan terlipat di dada. Sarungnya rapi, kopiahnya bersih, suaranya selalu terdengar lebih keras dari ombak. “Kau ini, Nuru,” kata Daeng Ramma, “kau kira laut bukan bagian dari kampung kita? Kampung orang-orang beradat?”
La Nuru mengangkat kepala sedikit. “Laut tidak keberatan,” katanya pendek.
Daeng Ramma mendengus. “Laut itu punya penjaga. Orang Bugis tahu itu. Kau tidur di perahu seperti mayat hanyut. Kau mau bawa sial ke kampung?”
La Nuru kembali mengasah pisau. Suara besi bertemu batu terdengar pelan, konsisten. Pisau itu selalu diasah setiap siang, meski jarang dipakai memotong apa pun selain ikan yang sudah mati. Pisau itu, seperti tidurnya, adalah kebiasaan yang tak pernah berubah.
Malam hari di rumah panggungnya, La Nuru duduk sendirian. Ia memang tak pernah menikah. Rumah itu pun sederhana. Hanya lampu minyak dan jam dinding tua yang jarumnya bergerak lebih lambat. Ia menatap jam itu lama. Jarum panjang bergerak satu kali. Pukul tujuh, ia masih terjaga dan matanya belum berat. Baru ketika jarum mendekati angka delapan, tubuhnya seperti diputus dari dunia. Ia rebah di tikar dan jatuh ke tidur yang dalam, keras, seperti batu dilempar ke laut. Tak ada mimpi. Atau bahkan suara-suara dalam mimpi.
Jam itu berhenti berdetak selama ia tidur. Ketika La Nuru terbangun pukul sepuluh lebih empat belas, jam kembali berdetak seolah malu ketahuan berhenti. La Nuru tak pernah tahu, bahwa jam-jam lain tak pernah berhenti, sehingga sebenarnya malam itu ia keluar pukul dua belas lebih empat belas. Sejak kecil, tidurnya memang begitu. Di kapal ayahnya dulu, ia bisa tidur di tengah badai. Pernah jatuh dari geladak, tubuhnya terbentur kayu, tapi ia tetap tertidur. Ayahnya bilang, “Anak ini tidurnya dijaga laut.” Ayahnya percaya bahwa Patoetoe, pelindung orang-orang Bugis, menjaga La Nuru di kapal dengan cara-cara ajaib. Namun, sejak ayahnya mati, orang-orang tak lagi menyebutnya berkah.
***
Perahu La Nuru kembali dengan muatan penuh tongkol, kerapu, dan dua ekor pari kecil. Jaringnya utuh, tak ada yang robek. Padahal malam sebelumnya arus kuat, dan dua perahu lain pulang dengan tangan kosong. Daeng Ramma berdiri di dermaga, memandangi ikan-ikan itu lama.
“Kau pakai apa?” tanyanya.
“Jaring,” jawab La Nuru.
“Tidak ada doa? Tidak ada menyan?” La Nuru menggeleng. Orang-orang mulai berbisik tentang tidur yang terlalu dalam. Tentang laut yang memberi ikan pada orang yang tak bangun. Tentang orang Bugis yang melupakan adat Bugis.
Saat La Nuru tertidur di perahunya seperti biasa, seseorang melempar batu kecil ke lambung perahu. Tak keras. Hanya cukup untuk memastikan ia benar-benar tidur. Ia tak bergerak. Batu kedua. Ketiga. La Nuru tetap diam. Napasnya tetap pelan. Seseorang berbisik, “Lihat. Seperti mati.” Mereka bergerak mendekati jaring.
Besoknya, jaring La Nuru robek. Robekannya rapi, lurus, seperti dipotong pisau yang tajam dan diasah pada siang hari. Ia duduk lama memandangi jaring itu. Tidak marah. Ia hanya mengambil pisau fillet-nya, dan mengasahnya lebih lama dari biasanya. Daeng Ramma datang sore hari. “Kau lihat sendiri,” katanya. “Laut tidak suka orang yang tidak menghormatinya. Kampung ini tidak bisa menanggung sial satu orang.” La Nuru menatap laut di kejauhan. Ombak kecil, langit bersih.
“Apa yang kaumau?” tanya La Nuru.
“Tidurlah di rumah. Jangan lagi tidur di perahu. Itu bukan cara Bugis.”
La Nuru mengangguk pelan. Malam itu, ia tidur di rumah. Hanya dua jam. Namun, tubuhnya tak jatuh sedalam biasanya. Setiap suara membuat matanya terbuka. Angin di sela papan, langkah orang lewat, bahkan detak jam yang berhenti terlalu lama. Pukul dua, ia bangun dengan kepala berat. Ia keluar rumah, berjalan ke dermaga. Perahunya tak ada di sana.
Perahu itu ditemukan siang hari, terbalik di teluk kecil seolah sengaja ditinggalkan. Daeng Ramma tak berkata apa-apa. Orang-orang hanya menatap La Nuru, menunggu reaksinya. Ia tak berteriak. Tak juga menuntut apa-apa dan siapa-siapa. Ia mengangkat perahunya bersama-sama, membalikkan kembali, dan mengikatnya di dermaga.
Ia kembali tidur di perahu. Angin timur bertiup lebih kencang. Ombak mulai naik. Orang-orang memilih tinggal di rumah. La Nuru berbaring di geladak, pisau fillet di sampingnya, jaring yang sudah dijahit ulang tergulung rapi. Ia jatuh tidur. Tidur kali ini lebih dalam dari biasanya. Tengah malam, ombak memukul lambung perahu keras. Air masuk sedikit demi sedikit. Tali ikat perahu menggesek kayu, menjerit. La Nuru tak bangun. Perahu terlepas.
Esoknya, perahu itu ditemukan jauh dari pelabuhan. Jaringnya penuh ikan. La Nuru masih tidur. Ketika orang-orang menarik perahu itu ke darat, ia baru terbangun. Matanya terbuka perlahan, seperti ombak laut yang surut. Daeng Ramma berdiri paling depan.
“Kau hampir mati,” katanya. La Nuru duduk, meraih pisaunya, dan mulai membersihkan ikan. “Hampir,” katanya pelan. Sejak hari itu, tak ada lagi yang mengganggu tidurnya.
Orang-orang Bugis di Tanjung Luar kembali melaut seperti biasa. Perahu-perahu berangkat dan pulang. Doa tetap dibaca. Menyan tetap dibakar. Dan setiap subuh, sebelum azan, satu perahu biru pucat selalu sudah ada di dermaga, dengan La Nuru yang tidurnya lebih dalam dari laut.
- La Nuru Tidur di Perahu itu - 20 September 2026
