Manajemen Risiko Perbankan

            Cerita ini saya dengar dari seorang sekuriti bank.

            Dia sudah bekerja dua puluh tahun di bank itu. Upahnya memuaskan. Keluarganya dapat hidup layak. Sekali dalam dua pekan mereka makan malam di alun-alun kota. Sekali sebulan mereka berkeliling mal, meski tidak membawa pulang apa-apa. Anak perempuannya mengambil sekolah vokasi perbankan di kampus negeri kota dan ingin suatu hari jadi pegawai bank.

            Sekuriti bank itu merasa cukup oke, walaupun berdiri dan melayani nasabah dari pukul delapan hingga pukul empat selama dua puluh tahun terasa membosankan menurut pengakuannya. Tapi, dia oke. Berdiri-dirinya itu membuatnya bisa belajar menikmati waktu senggang dan waktu-waktu yang menjenuhkan. Bila kakinya lelah, dia duduk di sofa panjang, melihat sepatu-sepatu nasabah bank, melihat monitor nomor antrean, menonton iklan banknya sendiri di televisi ruang tunggu, mencermati poster-poster bank, memandangi lampu-lampu bank yang sepuluh kali lebih banyak daripada rumahnya sendiri, dan mengamati wajah tegas teller-teller bank di balik dinding pembatas. Dan ia mendengar suara berdering usai uang dihitung mesin.

            Lalu bila kakinya mulai nyeri lantaran terlalu lama duduk, dia akan berdiri lagi dan melangkah bermeter-meter, berjalan lambat di pelataran bank dengan tangan di belakang. Dia melihat pohon, mengamati sinar matahari yang menjulur-julur mengintip di sela daun yang rindang, atau bayangan daun-daun di depan ujung kakinya yang berayun pada susunan batako. Dan kota. Dia sering sekali melihat kota melaju kencang di seberang bangunan banknya. Kota yang tak pernah kehilangan napas membuat dia tak jarang merasa cemas. Sekuriti bank lalu akan kembali ke pintu, tempat ia semestinya berada, sesaat nasabah datang, atau ketika cemasnya kian naik ke kepala.

            Dalam waktu-waktunya itu, dia melihat banyak sekali orang. Orang-orang keluar-masuk selama dua puluh tahun. Dia bisa melihat seratus wajah dalam sehari. Tampang orang dari berbagai latar belakang. Dan ia belajar untuk tidak sekali-kali menilai orang. Tetapi, dia tetap melakukannya. Salah seorang yang dia nilai ini, dan yang paling dia nilai, ialah laki-laki tua berjanggut putih, berambut putih, dan kulitnya memutih dengan corak pigmentasi cokelat tersebar di sekujur tubuhnya.

            Orang tua itu rajin datang selama tiga bulan terakhir itu. Kunjungannya punya dua pola tersendiri, kadang-kadang tiga kali sepekan, atau dua. Kalau dia datang Senin, maka dia akan datang lagi di hari Rabu dan Jumat. Kalau dia muncul di hari Selasa, maka sekuriti bank itu akan melihatnya lagi di hari Kamis. Orang tua itu selalu datang pukul sepuluh atau sesekali seusai jam makan siang. Sekuriti bank melayaninya mengisi formulir pengiriman uang.

            Akan tetapi, karena bank selalu ramai dan antrean begitu panjang, orang tua itu selalu keluar lebih dulu sebelum nomor antreannya dipanggil. Sekuriti bank mencermati kebiasaan itu, tapi dia tak pernah bertanya. Lagipula orang tua itu selalu beralasan ingin merokok di luar, atau ada sebuah telepon masuk yang mesti dia angkat. Dan seterusnya orang tua itu tak pernah kembali. Urusannya tak pernah selesai. Dia bakal balik lagi lepas selang sehari. Sekuriti bank kemudian berpikir, dia harusnya datang lebih pagi, paling pagi kalau perlu. Tapi, orang tua itu tak pernah melakukannya. Dia selalu datang di jam paling sibuk.

            Bertanyalah sekuriti bank itu suatu kali, “Saya mulai mengingat wajah Bapak. Bukankah kemarin Bapak datang kemari untuk persoalan yang sama?”

            “Kemarin saya tidak ke sini.”

            “Oh, kemarinnya lagi maksud saya.”

            “Oh.” Orang tua itu terguncang. “Saya ada keperluan dengan orang bank,” kata dia.

            Sekuriti bank mengangguk-angguk.

            Dari telinga kanannya, dia mendengar orang tua itu mendiktekan informasi tentang dirinya sendiri, nama, nomor rekening, alamat tempat tinggal, jumlah uang yang akan ditransfer, dan nomor tujuan rekening, nama si penerima, dan alamat penerima. Sekuriti bank lama-lama telah mengingat semua itu. Nama nasabah ini …, nomor rekeningnya ini …, tinggal di …, nominal uangnya dua puluh juta.

            “Dua puluh juta?” tanya dia sebelum sempat orang tua itu mengatakannya.

            “Dua puluh juta.”

            “Mariam Poli?”

            Orang tua itu tercengang. “Loh, tahu dari mana?”

            “Bapak selalu datang kemari.” Sekuriti bank tersenyum dan terus menuliskan nama si calon penerima di lembaran formulir.

            “Tidakkah Bapak berkenan melakukan transaksi via digital?” tanya si sekuriti bank. “Itu lebih praktis, mudah, simpel, tak payah mengantre.”

            Orang tua itu tak menghiraukannya.

            “Ini hari Senin, lebih-lebih ini awal bulan. Bapak harusnya datang lebih pagi, paling pagi,” kata dia saat menyodorkan nomor antrean ke orang tua itu.

            “Tidak masalah. Terima kasih,” jawabnya, dan orang tua itu melangkah tertatih mengambil kursi kosong di pojok.

            Dia duduk menundukkan kepala. Lima belas menit berlalu, dia telah jatuh tepekur dan tidur. Satu jam dia tidur pulas tanpa terguncang sedikit pun di tengah uang-uang berdering. Lima belas nomor lagi, dan nomor di karcis antreannya akan muncul di layar.

            Di waktu-waktu itu, sekuriti bank merenungkan informasi yang dia miliki tentang orang tua ini. Pakaiannya kaus biasa, kadang-kadang kemeja, dan celananya sesekali celana kain pendek atau jins panjang, dan semuanya tampak tua dan kumuh. Tapi, dia selalu pakai sandal jepit yang sama, putih kekuning-kuningan. Mungkin dia menyimpan uang pensiunnya di bank ini, pikirnya.

            Lalu ia membentangkan informasi lain dalam pikirannya. Nama, alamat, dan nomor-nomor rekening sejauh ini tidak penting. Yang penting adalah nama penerima, kota penerima, dan tujuan pengiriman. Mariam Poli, luar kota, dan pernikahan. Ada sebuah cerita di sana, seorang laki-laki tua yang, barangkali, tinggal sendiri atau ditinggal sendiri, mesti berurusan dengan, kemungkinan, anak atau cucu atau sekadar kerabat keluarga, dan Mariam adalah nama kedua yang paling mustahil dimiliki laki-laki setelah Putri. Seorang perempuan yang akan menikah, simpulnya. Tapi, tiga bulan sudah berlalu, dan uang dua puluh juta belum tuntas juga dikirimkan. Kapan si Mariam Poli itu akan mengadakan pernikahannya?

            Sementara lelaki tua itu masih tertidur di kursi.

            Dan ketika nomor antreannya dipanggil berkali-kali, lelaki tua itu sudah tak ada di bangkunya. Sekuriti bank terkesiap dan celingak-celinguk di tengah-tengah ia melayani segerombol nasabah lain yang baru datang.

            Orang tua itu, di hadapannya, lenyap, seakan tenggelam di lautan manusia yang bergelombang dalam deru dering-dering uang.

            “Ada apa?” tanya nasabah di sebelah dia.

            Sekuriti bank tak menjawab.

            Hari itu dia bersumpah akan mengonfrontasi orang tua itu bilamana datang lagi. Dan orang tua itu pasti datang.

            Orang tua itu datang lusa kemudian, hari Rabu, di jam yang sama, mengenakan kemeja kuning dan celana kain panjang, serta sepasang sandal jepit buluk.

            Sewaktu orang tua itu muncul di pintu, dia segera berkata ketus, “Apa sebenarnya masalah Bapak?”

            Kedua bilah bahu orang tua itu terlonjak.

            “Masalah saya? Apa masalah saya?” tanya dia, terheran-heran.

            “Ya, masalah Bapak. Bapak selalu datang ke bank ini meminta formulir dan meminta tolong formulirnya diisikan hanya untuk kemudian pergi begitu saja tanpa menyelesaikan satu pun urusan dan persoalan.”

            Orang tua itu tersenyum-senyum. “Lalu di mana masalahnya?”

            Sekuriti bank menghela napasnya yang berat. “Apa sebetulnya maksud kedatangan Bapak ke bank ini?”

            “Tidak ada,” kata orang tua itu terkekeh.

            “Memangnya ada hukum yang melarang orang masuk ke dalam bank?” kata dia lagi. “Lagipula,” kata orang tua itu, “sewaktu-waktu bisa saja saya akan berdiri di hadapan teller sebagaimana orang-orang lain dan menyerahkan formulir yang telah Saudara isi. Siapa tahu.”

            Sekuriti bank itu terdiam. Dia mendengutkan ludahnya.

            “Siapa tahu?” dia bergumam.

            Hari itu dia pulang selepas mengisikan formulir orang tua itu lagi hanya untuk orang tua itu kemudian pergi sebelum nomor antreannya muncul di layar monitor. Dia pulang menemui istrinya dan anaknya yang baru menyelesaikan kelas manajemen risiko perbankan sore itu. Lalu malamnya, dia menarik uang di ATMnya dan mengajak mereka semua ke mal, dan kali itu mereka berbelanja, lalu melipir ke alun-alun kota dan makan apa saja.

            Di benaknya, dia terus-menerus bertanya, “Siapa tahu?”

            Seperti bulan dan bintang-bintang yang bergelantungan terus hingga sisa malam di saban malam, dan seperti dering uang dihitung yang lengket di kepalanya, pertanyaan itu terus dia bawa bertahun-tahun, dan seterusnya, sebagaimana orang tua itu terus datang padanya di hari-hari yang berpola itu, dan dia terus mengisikan formulir-formulir slip pengiriman uang, mencatat nama lelaki tua itu, alamatnya, nomor rekeningnya, menuliskan nama Mariam Poli, nomor rekeningnya, alamatnya, dan luar kotanya, terus, terus-menerus, bahkan sampai laki-laki tua itu telah jadi sepikun-pikunnya tentang dirinya sendiri dan tujuannya selain pergi ke bank dan pergi sebelum nomornya dipanggil, tetapi dia terus begitu, sampai akhirnya sekuriti bank itu pensiun, dan dia menghentikan terusnya.

            Dia sudah tua sekarang, berambut putih, dan seluruh kulitnya, terutama bagian wajah, tampak kendur seolah meleleh, dengan corak-corak pigmen yang cukup kentara.

            Hingga dia pensiun sekalipun, dia tak pernah tahu bagaimana nasib orang tua itu. Lebih-lebih Mariam Poli dan bakal pesta pernikahannya.

            “Siapa yang tahu,” kata sekuriti bank itu di hadapan saya.

            Saya mengambil beberapa catatan tentangnya. Lalu menaikkan kepala. “Begini,” kata saya, “dari awal semenjak putri Bapak membawa Bapak kemari, seluruh cerita Bapak selalu kembali kepada cerita tentang orang tua itu.” Saya mendehem. “Bagaimana kira-kira Bapak mengungkapkan seluruh perasaan tentang lelaki tua itu dengan kata-kata?”

            Mantan sekuriti bank memandang ke luar jendela. Sinar matahari di antara gedung-gedung kota menyiram wajahnya. Matanya berkilau seperti kaca. Air matanya mengeras di sudut dua kelopaknya.

            Dia menggeleng pelan. “Hidup,” kata dia dengan suara parau. Wajahnya gelisah.

            Saya meletakkan pena di atas buku catatan dan mencoba menenangkan napas sendiri.

            “Bukankah anak Bapak pekan depan akan menikah?” tanya saya.

            Lelaki tua itu mengangguk.

            “Itu sebuah berita gembira, bukan?”

            Agak lama dia diam, lalu menoleh. Mulutnya tersenyum.

            Saya menatap wajahnya. Sepasang matanya. Hanya bibirnya yang menyungging, sedang matanya tidak. Mata itu beku seperti kerikil batu.

            Sesaat saya hendak mencatat sesuatu, lelaki tua itu telah kembali memulai ceritanya dari awal lagi. Dari awal lagi.

            “Saya sudah bekerja dua puluh tahun di bank itu ….”

            Dia tersenyum luas sekali.[]

Yogyakarta, Agustus 2026

Nuzul Ilmiawan
Latest posts by Nuzul Ilmiawan (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!