
Aswatama
Sebuah malam melata ketika kapak
dendam mengetuk pasak,
mengutuk tiang-tiang tenda
Di saku jubahmu,
ingatan seorang
ayah
pecah.
“Panggil aku dendam,”
——setelah sebuah tikam.
Langit warna jintan
membalsam di keningmu.
Darah menoreh bekas pada terpal
sementara kau hikmati dengus
akhir napas tersengal.
“Selamat tinggal!”
Tapi barangkali watak dari nafsu
: menagih lebih, meski satu perih tuntas
tertoreh pada halaman tawarikh.
Maka setelahnya adalah jerit,
dan selebihnya adalah kutukan:
sebuah lakon, yang harus terus berjalan.
***
Beberapa saat
sebelum ia melangkah seperti dares tua
ke pangkal langit utara, ke arah tiga ribu masa, ia
telah tahu bahwa ia akan kalah, sebetulnya. Ia
telah tahu bahwa pada sebuah malam ketika ia
melata, dan menggasak pasak seperti landak pada
tiap tiang penjaga, “kemenangan” barangkali
hanyalah usaha mengisi
tubuh dengan udara—atau
dengan cara
apa saja.
(2026)
Kelahiran Kedua
telunjuk kananmu yang getas
menuding ke arah dada kiriku yang ranggas.
kosong tukasmu
dan mega pun berderak; mega tembaga
di ufuk tangisku yang melata.
“sebab di kepalamu masih berenang
jutaan ikan yang mengembara, hanya
demi mencari, di manakah asin bahari”
“angkat lagu dan bunyikan rampak rebana,
anakku. petiklah kecapi sunyi beriringkan
gambus itu. tiuplah sangkakala pada bulan baru,
bulan yang purnama, di langit hari raya kita
—sebelum nanti hati kian mungkir
dihanyutkan sebak banjir.”
tapi tuhan berputing jantan, ayah
—telah membuat seligi tajam bertimbalku
mengacung begitu kekal.
telah juga ia titiskan kehausan musa
di dadaku yang basah, supaya aku jadi burung
di gigir sampan, mereguk secebis asin lautan.
di hari depan, di hari kamulyan, biarlah kurawi
takdirku sendiri sebagai padang yang tak sempat
dicatat hijau baris kitab-kitab turatsmu.
(2026)
Nocturno de la Columna
kaurengkuh mataku untuk memasuki kesakitan
mahapanjang:
leher darah
berkalung cecabang duri,
dan sebandul
burung
mati.
di sanggulmu,
seekor capung dan kupu-kupu membeku ke dalam abu
setiap kali ia
mengambil rupa putih sprei
kamar tidurmu yang jelita
lalu selembar kaca
menggambar sisa hening
yang tak kuasa dikecup mata kamera.
mengambang ia, mengambang
serupa ranjang
di atas gurun gersang.
sungguh
jahitan merahmu
hanya menghalau raut sejarah
: dinding rahim hancur
dan janin tak sempat tertidur.
waktu tak lagi
berjentera
pada cermin patio
yang membelahmu jadi dua
siapakah di antara bayang
lembar sepi yang terkembang?
rasa takut sekadar raga hampa,
yang bisa dihuni siapa saja
—kau sendiri, kau yang lain,
juga kau yang manapun
— persis tiap kali
kupandang paras bekumu.
Inilah waktu abu, bagimu.
dan abu adalah tempat
burung mati tak lagi bernyanyi.
dua anjing gundul
berbaring di luar pintu yang terkunci barangkali anjing-anjing lazarus
menanti sisa meja,
menjilati borok tualang patah.
jam-jam
keramik itu
tatal
di antara
daun-daun sukulen
yang terpenggal memakan
dirinya sendiri,
mencatat detik
ketika ia memintamu pergi,
ketika ia memintamu kembali
selagi waktu
kehilangan daging,
menyisakan tiang kalsium
di balik korset baja.
katakan pada kami,
Santa Maria
doakan kami
para pesakitan kini
dan pada kematian kami,
saat lalat pertama mendarat
di atas putih gaun yalalag .
di sanggar kosong itu
kursi roda berhenti
dekat kanvas yang tak selesai,
pintu kayu terbuka terkatup,
penari mati.
sayap-sayap jerami
milik kecilmu tak pernah
menerbangkan pesawat mainan,
tetapi kau tetap terikat
tanah kerikil,
memegang rokmu
untuk memperlihatkan
luka nganga
sebagaimana Tomas meraba
rusuk Kristus untuk percaya:
kesakitan
adalah
keniscayaan
satu-
satunya.
maka, di antara
perban dan sanggul bungamu,
jerit tak sempat jadi nada.
hanya kain huipil, barangkali,
memerah marun mimpi:
pesta yang tak kunjung usai,
meski sepasang kakimu telah terkulai.
maut itu,
maut itu tak pernah datang
membawa segagang parang
bagi seekor kijang
yang menatap nanar
ke arah belukar.
(2026)
Mikraj
Kau pun berkata:
Mandilah
——sebelum kepak tiba,
dan kudengar riak-riak
membasuh sayap kita
Di pangkal akar,
telah mengalir
empat baris nahar
furat dan khamar
Tapi di manakah
lanskap ini berakhir?
Di manakah wangi sitrun?
Keteduhan tak bertepi,
di mana tujuh puluh tahun
berkuda hanyalah sekerjap
bayang pada daun
sebutir debu
di pelana
Mintalah!
Suaramu guruh jatuh, titah
membelah padang-padang tengadah
Nyala api di semak Jabal Sinai
Suaramu pun sepi melagu:
air pasang perlahan menggenang
mengecup bukit karang; baris
gerimis lambat melebat sebagai hujan
*
Beri aku
Ya Dzalmalakut, iman sehijau
mata zabarjud milik lelaki di kaki Uttruj
Beri aku dian abadi, bekal kekal
menghadap Engkau Yang Maha Luthfi
Beri jari-jariku sekerat berkat,
gunung dan besi lunak-berkarat
Beri kedua kakiku sepasang takhta,
hingga jin dan angin pun sujud menghamba
Beri telapak tanganku bokor cahaya:
menyuluh gelap pada retina
Beri nafasku ruh penyembuh, keramat
dan khasiat: Taurat bagi jiwa yang terluka
Injil bagi nasib yang menggigil
*
Telah Kusembelih malam hanya
untukmu, dan Kutaruh tujuh melati
baka, delapan panah cahaya, yang kan
melingkar di gelang tanganmu
Ayat-ayat pemungkas dari lumbung
bawah Aras, sebagai jimat bagi umatmu
Sebab jauh sebelum dunia dirakit dari debu
dan bahasa, kaulah “kata pertama”
yang menggelang-melingkar di sepasang kerajaanKu.
(2026)
- Puisi Yohan Fikri - 22 September 2026
- Puisi Yohan Fikri - 3 February 2026
- Puisi Yohan Fikri - 9 July 2024
