Seperti Gulma Mikania Micrantha

Di tangan orang-orang yang tepat, seperti Murselo, bakat terlihat seperti perbaduan antara sihir dan muslihat.

Sebenarnya sudah tak ada yang bisa diharapkan di Lapangan Wariri, pada Kamis sore, 11 Juni 1998, selain debu dan rumput yang pucat. Wabah Karawang bahkan mengangkut kiper bertangan ubur-ubur, Ngadiono, ke pabrik perakitan motor, tempat dia mengganti sarung tangan bola dengan sarung tangan karet untuk menangkap baut dan menghadang serangan krisis.

Ketika itu bulan safar, fase sabit telah menurun, dan jejak el niño osilasi selatan terlihat pada ubi kayu kurus di kebun-kebun sisi lapangan; serta pada tanah retak di bawah labu kuning, yang di atas daunnya kini sedang berhadapan kepik dan kumbang labu yang menunggu peluit pertama untuk beradu.

Murselo, si mulut Panasonic, demikian orang-orang memanggilnya setelah peristiwa Kamis sore, sehari-hari membantu orang tuanya di bengkel.

Bengkel itu, secara formal adalah bengkel sepeda motor, namun truk pasir dan angkutan umum sudah lama tidak percaya pada formalitas. Lagi pula, papan nama itu sudah tercorat-coret reformasi. Bengkel itu menghadap lengkung jalan provinsi. Ukurannya seluas empat ruko. Terbuat dari papan beratap seng yang berkarat dan tertimbun ban bekas pada sisi kanan-depan. Ada sebuah pohon talok besar dengan ayunan yang terus bergerak sepanjang hari, selama bertahun-tahun, seakan membenarnya perihal mahluk gaib yang kesepian. Bengkel itu sendirian membelakangi kebun-kebun serta desa-desa yang tersembunyi di balik pohon kelapa dan ladang-ladang tak bernama. Dilihat dari ketinggian, kondisinya sekilas seperti sebentuk saloon koboi di era Wild West; hanya kurang kuda, adu tembak, musik blues, dan sisa kematian.

Di bengkel itu, radio republik aktif berbunyi. Juga keluhan ayahnya.

“Krisis bikin orang pontang-panting, ngalor-ngidul. Kita kehilangan semua pemain. Anak-anak pecatan konveksi tidak bisa apa-apa.”

“Dan sekarang, mereka pun lari ke Korea.”

“Itu bagus. Tapi seher[1]-mu ini perlu diganti. Di luar negeri, uangnya banyak. Sahal ikut?”

“Kularang. Aku bisa kelimpungan. Tangannya seperti mesin kalau bikin dekor janur.”

“Iya, kedengar begitu. Orang sewa tratagmu karena dekornya bagus-bagus.”

“Berarti dieselnya minggu depan bisa, ya. Karto Langut Dakir, kadus III, mau mantu.”

“Bukannya Atika minggat ke Taiwan?”

“Bukan. Tidak jadi besanan dengan Raden Broto. Dengan cucunya almarhum Asma Ranu Beja.”

“O, begitu, ya. Kucoba soal seher. Disambi kopinya.”

“Masih panas. Eh, di depan ayunan abadi itu bukannya Murselo? Dia tidak ikut-ikutan ke Karawang seperti Ngadiono atau Korea bareng Tukijo?”

“Iya. Lagi cek pitungnya Kasut Gimin Gupis, si calo tiket. Tidak boleh merantau dia. Aku perlu bantuannya. Bocah itu ingatannya bisa merekam setiap baut dan mur, seperti namanya. Kalau punya uang dan sekolah lagi, dia bisa membuat mesin apa saja.”

“Kenapa tidak? Berapa umurnya?”

“Delapan belas. Ah, uang dari mana. Lagi pula, dia ingin sekali jadi reporter bola.”

“Tidak ada bola lagi di Lapangan Wariri.”

“Ya, itulah. Kasihan dia. Sering sedih sendiri.”

Pilihan frasa ‘sering sedih sendiri’ yang diucapkan ayah Murselo pada San Sumo Kiring, mantan dukun yang kini memiliki usaha paket tratag untuk hajatan, bukan berlebihan. ‘Mur’ berasal dari kata mur dan ‘selo’ artinya longgar; baut yang longgar. Pada hari kelahirannya, baut yang kendor itu tak bisa mengunci mulut sehingga terus menerus menangis selama sembilan hari, sebelas jam, dan dua puluh lima menit. Bukan sejenis jeritan haus asi, tapi tangis yang ‘sedih sendiri’. Para pembesuk bayi pun disediakan penyumpal telinga dari bulatan kapas, agar tangis transendental itu tidak ikut masuk ke dalam pikiran, mengganggu malam dan hasrat duniawi, serta membuat mereka terus-menerus merasa sedih sepanjang siang tanpa tahu apa sebabnya.

Ayahnya bersyukur karena dengan cara seperti itulah pembersihan dosanya dilakukan. Ia mengakui di hadapan Tuhan bahwa selama anak itu dalam kandungan, tetangga-tetangga merasakan kebisingan dari kehadiran bengkelnya di tengah pemukiman. Sejak saat itu, seminggu kemudian, yang bertepatan dengan seminggu setelah penembakan John Lenon di New York, sebagaimana diberitakan radio republik, bengkel dipindahkan sebagaimana kini.

Tidak cukup sampai di situ, ketika Murselo bayi mulai bisa berguling, ia berguling-guling terus menerus, beberapa kali terjatuh dari ranjang, berguling ke dapur, ke kandang ayam, hingga ke galian sampah hingga nyaris terbakar pada suatu sore yang remang. Ketika bisa merangkak, ia merangkak ke segala arah dan suatu malam ia seperti citra visual dari lagu cecak-cecak di dinding. Ketika mulai bisa merambat, ia merambati apa saja seperti gulma mikania micrantha.

Ketika ia mulai bisa berjalan, ia berjalan terus menerus selama berhari-hari, bahkan tidur, ganti popok, potong kuku, dan kenduri akikah dilakukan dalam keadaan ia berjalan dan terus berjalan mengelilingi orang-orang kenduri, mengelilingi rumah, membentuk jalur sendiri di antara ruang, kebun, pada lantai, tanah, pasir serta tumpukan batu-batu kali.

Neneknya sampai memohon, “Berhentilah barang sebentar. Jangan kamu habiskan jatah jalanmu di dunia sejak dini.”

“Tidak apa-apa,” ayahnya menyela, “sagitarius. Hasrat kebebasan sejati.”

“Monyet logam,” istrinya muncul membawa minyak telon.

“Ambisius. Hanya berhenti setelah penasaran terpenuhi.”

Ketika memasuki sekolah dasar, ia terbukti membaca pula buku-buku semua tingkat hingga tamat. Akan tetapi, bakatnya yang paling menonjol adalah mengingat.

Ia bisa mengingat semua kunci dan baut di bengkel ayahnya lengkap dengan letak, tahun penggunaan, produksi, hingga kapan terakhir dipakai untuk apa. Tidak hanya itu, ia bisa menceritakan urutan kedatangan pelanggan dan perkiraan kerusakan di masa depan.  Namun, kutukan ‘sering sedih sendiri’ masih melekat hingga sepertinya tidak ada cinta gadis di dunia ini, hingga ayahnya pernah curiga jangan-jangan ia sedang merangkai besi dan kabel untuk dicium dan dinikahi suatu hari nanti.

“Hanya ampli dan toa bekas,” pinta Murselo.

“Buat apa?” jawab bapaknya.

“Aku rindu suara keramaian sepak bola.”

“Ikut nanti nonton parabola di San Sumo Kiring. Maroko lawan Norwegia, wasitnya Pirom Anprasert dari Thailand. Sisa oli kemarin di mana?”

“Dekat ember kunci. Aku tidak ikut, dengarkan dari radio saja.”

“Kamu tidak bisa melihat aksi Eggen dan Hadda.”

“Aku bisa membayangkannya dengan jelas. Apa yang kalian lihat sama dengan apa yang kudengar. Dengar cara seperti itu selama ini aku mendengar tangis dan bisikan dari benda-benda yang hilang dan tersembunyi.”

“Tunggu, otakmu seperti radar?”

“Gelombang elektromagnetik, makanya bisa menyatu dengan gelombang radio.”

Kedua anak bapak itu kemudian tertawa dalam humor internal yang hanya bisa dipahami oleh cincin-cincin resistor dan klep karburator.

Sebenarnya, ada satu rahasia.

Ia memang mendengarkan siaran radio dan suara gemuruh La Mosson di Montpellier, namun yang ia bayangkan adalah gemuruh masa bocahnya di Lapangan Wariri. Ia mendengar penyelamatan Barthez, namun yang ada dalam pikirannya adalah Ngadiono. Ia menyimak pergerakan Zidane, tetapi wajah orang itu adalah Tukijo, idola para bocah Wariri.

Makin ia memejam tatkala mendengar siaran radio yang hasilnya imbang itu, makin air matanya mengalir dalam sedih sendiri. Ia terkenang masa kecil. Ia kehilangan mereka.

Penderitaan, kemarau panjang, sulitnya pekerjaan membuat semua orang bubar merantau. Ia mulai menangis dengan suara bayi  transendental dan kini terdengar pilu di bengkel sendirian, hingga semut-semut hening cipta, papan-papan dan alat-alat gemertak, atap seng terisak, dan oli dekat ember kunci merembes menetes dalam lara.

Sehari kemudian, pada Kamis sore, dalam kering Juni, dalam cobaan safar, dan pergantian rezim, terdengar suara dari Lapangan Wariri. Suara yang membangkitkan kenangan dari kuburnya dan kubur dari kenangannya.

“Kamu dengar? Ada pertandingan bola, hei ada bola!” cetus seorang pengarit rumput.

“Siapa itu yang menyiarkan?” tanya rekannya.

“Aku tidak melihat ada tim lawan yang lewat.”

“Mungkin lewat jalur utara desa. Ayo cepat, masukkan rumputmu!”

Warga desa yang menaruh harapan pada hiburan dan pertaruhan pada masa sulit mulai muncul dari berbagai sisi. Akan tetapi, saat tiba di tempat, mereka mendapati lapangan kosong, jala gawang robek menggantung tertiup angin, debu-debu iseng sendiri, dan dua belas domba kebingungan mendapati diri mereka mendadak menjadi tontonan.

Namun, suara itu masih begitu nyata hingga menggema. Suara itu berasal dari Murselo di panggung bambu tinggi yang nyaris hancur dan ditinggalkan untuk selama-lamanya. Ia pasang ampli hasil perbaikan lengkap dengan toa. Ia siarkan amat detail, hingga orang-orang segera menyadari ini siaran pertandingan antara P.S. Wariri dan P.S. Cilongok yang pernah terjadi pada final liga kecamatan yang sempat ricuh dengan dua kartu merah, enam kartu kuning, delapan belas tekel berbahaya, tiga puluh satu pelanggaran kasar, dan tak terhitung ancaman pada wasit yang peluitnya ikut serak ketakutan. Tidak hanya itu, muncul hal kecil yang nyaris terlupakan, seperti saat Sawor terpeleset dan menabrak penjual kacang rebus, Ngadiono minta sebatang rokok, Tukijo menyingkirkan merpati pos yang tersesat di daerah pertahanan lawan, serta saat pesona Atika membuat permainan selalu berada di sisi barat, dekat pohon waru, di sana para pemain-pemain tak tahu diri malah menarik perhatian gadis itu dengan aksi-aksi konyol yang mendekati sirkus daripada kompetisi haus gol.

“Aku tidak melihat apa-apa.”

“Pejamkan matamu. Dengarkan dan lihatlah dengan semua kenangan yang kamu miliki.”

Orang-orang mulai memejamkan mata, menyelami kenangan yang hampir surut bersama datangnya krisis dan kepergian, penderitaan dan kemiskinan, dan, meski dalam kegelapan samar, berhasil menemukan kembali hari-hari terindah yang pernah mereka miliki di sisi lapangan ini bersama orang-orang tercinta yang sebagian sudah tiada.

Dipandu pemilik bakat yang mencampur sihir dan muslihat dalam kata-kata, mereka menemukan kembali pedagang keliling, penjual mainan, sobekan karcis, tangis bocah, tobong bambu, orang-orang yang memanjat pohon kelapa karena tak bisa beli tiket masuk, dukun-dukun gaib yang sibuk membelokkan arah bola, hingga cinta kasih pinggir lapangan yang, sialnya, hanya berakhir sebagai kisah.()

2026


[1] Istilah lain dari piston, komponen berbentuk silinder yang bergerak naik-turun di dalam silinder mesin truk.

Eko Triono
Latest posts by Eko Triono (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!