
Berkata Syaikh Taqiuddin as-Subki di dalam Kitabnya at-Ta’zhim wal-Minnah tentang ayat: “Maka kalian akan sungguh beriman kepadanya dan akan membelanya,” QS. Ali ‘Imran: 81. Ayat ini termasuk pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Betapa agung kedudukan beliau yang mulia.
Sesungguhnya untuk mendatangkan perkara tersebut di zaman mereka sangat mudah bagi Allah Ta’ala. Maka risalah dan nubuwah Nabi Muhammad Saw umum untuk seluruh makhluk sejak zaman Nabi Adam sampai hari kiamat. Bahkan para nabi dan umat mereka semua termasuk umat beliau.
“Aku diutus untuk seluruh umat manusia,” sabda Rasulullah Saw. Bahkan, umat beliau sejak Nabi Adam sampai hari kiamat. Itulah sebabnya sabda masih tetap berlaku: “Aku telah menjadi nabi ketika Nabi Adam masih merupakan roh dan jasad.” Ada yang menyatakan bahwa beliau akan menjadi nabi.
Karena sesungguhnya ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Dan sifat Nabi Muhammad Saw pada kenabian pada waktu itu betul-betul mencakup segala-galanya, termasuk mencakup keseluruhan dirinya, yang telah lewat maupun yang akan datang. Karena itu, Nabi Adam melihat namanya di atas ‘arasy bersanding nama Allah Ta’ala.
Maka pasti bahwa waktu itu makna yang akan berlaku adalah makna yang terus-menerus. Seandainya yang dikehendaki semata-mata ilmu bahwa Nabi Muhammad Saw akan menjadi nabi yang terakhir sementara Nabi Adam masih merupakan roh dan lumpur, itu sama sekali bukan merupakan kelebihan.
Karena seluruh nabi telah diberi tahu oleh Allah Ta’ala tentang kenabian mereka, maka tidak boleh tidak hal itu harus diketahui oleh umatnya tentang kedudukan beliau di hadapan Allah Ta’ala. Dengan demikian, mereka menjadi bergembira karena hal tersebut. Betapa sangat beruntung mereka.
Jika engkau mengatakan bahwa aku ingin mengetahui tingkatan yang lebih tentang Nabi Muhammad Saw ketimbang nabi-nabi yang lain karena sesungguhnya kenabian itu adalah sifat dan yang disifati mesti ada, tidak boleh tidak. Bagaimana hal itu disifati sebelum wujudnya dan sebelum diutus menjadi rasul?
Kukatakan bahwa Allah Ta’ala menciptakan roh sebelum jasad sebagaimana isyarat yang telah disampaikan Nabi Muhammad Saw: “Aku telah menjadi nabi ketika Nabi Adam masih merupakan roh dan lumpur.” Hal itu menunjuk kepada rohnya yang mulia atau kepada hakikat dirinya.
Tentang hakikat-hakikat itu, sungguh akal-akal kita sangat terbatas untuk mengetahuinya. Yang pasti mengetahuinya adalah penciptanya sendiri dan siapa saja yang bisa menjangkau dengan cahaya Ilahi. Tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menjangkaunya, tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mengetahuinya.
Sesungguhnya hakikat-hakikat itu diberikan oleh Allah Ta’ala kepada segala sesuatu sesuai dengan waktu yang dikehendakiNya. Maka, hakikat Nabi Muhammad Saw diciptakan oleh Allah Ta’ala sebelum diciptakan Nabi Adam. Sungguh, betapa agung beliau, betapa sangat mulia beliau. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- FAIDAH BAHWA RISALAH NABI MUHAMMAD SAW UMUM UNTUK SELURUH MAKHLUK DAN PARA NABI DAN UMAT MEREKA ADALAH UMATNYA - 25 September 2026
- BAB TENTANG KEISTIMEWAAN NABI MUHAMMAD SAW - 18 September 2026
- SYAIKH ABU AL-HUSIN AL-WARRAQ DLL - 11 September 2026
