
Kairo, Kota Itu
Kota apa yang kau percayai sebagai pecah-pecah surga selain Kairo, Azelia. Arsitektur Giza yang kukuh menjadi matamu. Sebuah kota dengan kecemasan Romawi merawat bibirmu, partikel-partikel rindu berbaur. Kota apa yang kau percayai sebagai pecah-pecah surga selain Kairo, Azelia. Bayang-bayang Heliopis ke arah menuju dadamu. Cekungan Delta Nil menubruk segala kuasa, ke jauh masa depan yang tak tercatat di Babel tahun 640 SM. Kota apa yang kau percayai sebagai pecah-pecah surga selain Kairo, Azelia. Mitos-mitos kecil dari maut dan penaklukan. Dengan pawai-pawai kemanusiaan bergerak menuju sebrang, lalu hatimu mekar ke seluruh zaman.
Yogyakarta, 2022
Ismaileyya dan Kita yang Ingin Saling Lupa
Setelah kau tekun merawat perbatasan, patung-patung terbakar api matamu sebelum menaksir Khedive dengan air muka langit. Maka Paris kecil abad ke-19 di bentang jarak adalah aku. Seseorang yang lahir dari bibir sungai. Pusat kota menceruk di pipimu. Bagian yang menyimpan suara kepalsuan, tempat kita mengakses jutaan kesedihan dari dunia. Dan jika malam angslup sebuah masjid menidurkanmu ke jauh samudra. Ini kita, sepasang kekasih yang menolak maut sebagai rumah kedua. Dua orang dari cinta lugas, serpihan dendam, dan artefak kerinduan.
Yogyakarta, 2022
Sehari di Babylonia
Tuhan barangkali, bekerja dengan cara lain membangun kepala Nebuchadnezzar yang beku itu sebelum Sumeria benar runtuh. Kota itu segera menyepi, dari Baghdad yang asing. Taman gantung dengan pernak-pernik kesedihan berkeping-keping menyisa satu arca suci setelah berkaca pada arus jernih Efrat, cekung wajah sendiri. Kemudian, tubuh kota setelahnya: Adalah harum daging panggang dari riuh bedil dan senapan. Di mana Baghdad yang ranum itu, teriakmu menyatu dengan debu dan rindu, lirihku.
Sumenep, 2021
Pesan Siaran dari Stockholm
Pagi yang dingin, sebelum musim gugur pergi. Orang-orang memesan lagu nostalgia di radio tua ‘Anders & Gry With Friends’ seperti kepul tungku di ruang tamu, 13 menit doa dihanyutkan. Pada pengeras suara, landai lagu-lagu berganti tetapi ini abad ke-21, tidak ada runtuh Sumeria. Terdengar, “Kita akan berbaris menuju surga, di mana gadis telah menunggu.” Seperti kutukan segera orang-orang mengatup bibir dan telinga “Telah kita sucikan kebodohan” sepakat mereka.
Sumenep, 2021-2026
- Puisi M. Rifdal Ais Annafis - 29 September 2026
- Puisi M. Rifdal Ais Annafis - 4 February 2025
