
Linguistic Matricide
Kau panggil diriku dari biji yang pernah
kautanam di antara rintih tanah dan bau janji.
Ibumu menanammu di jantung bahasa
yang urung kaukenal. Tetapi di tubuhmu, negara
telah menabalkan makna dengan tinta hijau
yang meleleh dari ingatan seekor raksasa.
Kutatap matamu, Perempuan! Tubuhmu ladang
tempat pengetahuan pertama dikuburkan.
“Masuklah,” katamu, “ke dalam luka-lukaku
—luka-luka pengetahuan.”
Maka aku pun menyusup di antara serat akarmu,
dan melihat dunia tumbuh dari pelarianmu.
Telah dibekali engkau dengan empat purwa-senjata:
(1) sekantung benih untuk menumbuhkan rahasia;
(2) sebatang jarum untuk menyulam ingatan lama;
(3) sejumput garam supaya tak kaulupa asin air mata,
(4) sekerat bau yang tak kuasa diwangikan algoritma.
Berlarilah, sebelum laut menelan semua tautan
yang ingin mencarimu, pintaku.
Dari jauh, kudengar engkau menangis.
Dengan apa harus kutebus segala diamku?
“Dengan pengetahuan yang kaupendam,” katamu.
“Pengetahuan yang suatu hari akan menghapus
segala macam bahasa bakumu.”
Oedipus Complex
Aku tak ingin kapalku
menjadi reruntuhan
cinta yang tak selesai.
Tak ada ibuku di telaga ini,
tetapi wajahnya mengapung
di setiap gelembung
udara serupa dosa
belum sempat diberi nama.
Setiap kali aku mendayung,
aku layar kehilangan
mata angin, menyusur arus,
berbelok ke rahim yang tertenung
menjelma gunung.
Setiap cinta adalah ziarah
menuju asal, tapi siapakah mampu ziarah
ke rahim ibu, ke mula-mulai waktu,
tanpa mengaramkan dirinya sendiri?
“Mari kita akhiri banjir-bandang ini
dengan mengijab Perjanjian Baru.”
Aku bukan Nuh.
Tak ada pasangan
yang kan kuselamatkan
kecuali hanya diriku sendiri
—juga bayang-bayangmu
yang masih basah.
Setiap perahu adalah rahim
yang terbalik, seperti cinta
adalah air yang naik
mencari langitnya sendiri.
Sulam Dendam
dendam adalah minyak yang mengilat bayangmu di nyalang mataku. dendam adalah darah dursasana yang kusuluh setiap subuh di tangan kiriku.
lumurkan
pelan
pelan
di sekujur
lukaku
suamiku, aku tak akan tidur malam ini. kugerai rambutku di rimba api agar arang-arangnya memercik di kening tololmu. kutitip dendam di dadu terakhir—gelanggang yang telah menjungkirkan nampan takdir. kutabur juga debu ke segelas air. tenggaklah, samiaji! supaya kaumengerti, dharmamu lakon usang di kelir dalang. sayangku, kutanam murka di kepal tanganmu, supaya gada yang kauayun kelak meretak mega di pangkuan dewa-dewa, yang hanya bisu memandang helai demi helai marwahku ditelanjangi. kijang jantan-kijang kelana, kusulam benang rambutku ke sarung panahmu, dan kubuhul mata busurmu dengan simpul mati agar segala kesumat lesat mencari dada yang pernah bunga mengkis-mengi oleh tawa, mengangkangi duka dukana
duryodana
tunggulah.
kini aku punya lima api yang tersangkur di zirah besi. kini aku punya lima jantung yang memompa racun kobra. kini, aku punya lima mulut yang tak lelah memamah tanah— demi menggali liang ajalmu. kini aku punya lima mata yang kan tugur sebelum bulan merah jatuh tersungkur, dan tanah yang pernah retak gelak-gejolak kelak menjelma seprai merah; katil yang mengigil oleh kental amis-darah—entah darahmu, atau darah dari leher kelima kuda karapku.
Memento Mori
Telah kusaksikan, seberkas cahaya
berpendar sebesar biji mrica
memutik dari lingga layu
— dan tak satu pun penjaga tahu
ke manakah ia berlalu.
Ke bibirmukah ia berserah?
Raja itu berkata, dengan suara letih
seakan tak lagi yakin pada matanya sendiri.
Ia nanap menatap tubuhnya yang gemetar.
Udara asin. Dan ia saksikan
cahaya itu meluncur ke sprei kasur,
di antara selimut kusut
— serupa nasib yang tak lagi mampu
dirapikan bahkan oleh kematian itu sendiri.
Wahyu tidak mati, tukasnya lagi,
wahyu tidak mati, karena ia hanya beralih
ke tubuh yang masih mengenal rasa malu.
Malam diam. Dupa tertebar di langit kamar
dan tak ada yang tahu bahwa malam itu
istana telah murca seputik cahyanya.
Seekor cicak jatuh dari dinding,
ketika lilin padam. Di luar baluwarti,
orang-orang lebih memilih
membincangkan harga beras
ketimbang kematian rajanya sendiri.
Kusembunyikan sesuatu
di balik napasku tatkala cahaya kecil itu
telah singgah ke tubuh kerisku.
Tapi aku tak tahu. Aku tak tahu.
Yang menerima wahyu, memang,
tidakkan siap, sebagaimana yang siap
takkan pernah menerimanya.
Pernah suatu kali
ia dengar bahwa wahyu kerap berjingkat
seperti kabut menelekung sebentang selimut
ke ubun seorang pria yang telimpuh
di antara doa dan nestapa
Wahyu lebih menyerupai luka kecil
yang tertoreh di mata penguasa, Pangeran,
di tubuh seorang pengemis yang memeluk
tubuh anaknya, seperti merengkuh lusuh
kata-kata—lesah putus asa.
Tapi yang memegang suluh tak selalu
mampu membaca pituduh.
Sebelum napas pemungkas timpas,
lelaki di ambang ajal itu meminta air.
Ia tapi berkata lagi, Air ini asin
—seakan menenggak takdirnya sendiri.
Mungkin ia sudah beranjak pikun,
atau ia hanya tengah teringat
pada laut yang pernah
dijualnya kepada bangsa asing.
Di detik itu, ia agaknya tak tahu,
tubuhnya sebentang peta bagi salah
dan lesah, di mana setiap pori-pori
ialah nama tempat segala khianat.
Yang menggadaikan tanah, menggadaikan
Langit di atasnya juga, Pangeran.
Ia masih mengingat malam itu.
suara serangga, bau darah ayam di dapur,
juga bisik perempuan di balik serambi:
Apakah raja telah mati?
Tidak! Raja belumlah mati.
Ia hanya kandil yang menggigil
ketika malam jekut, dan
seluruh api menolak disulut.
Tubuh itu akan terus memerintah.
Tubuh itu akan terus memberi perintah.
Menandatangani surat.
Berdiri di sebuah balkon.
Menatap langit-langit negeri.
Seraya tak pernah mengerti
bahwa ia telah kosong.
Bahwa ia langit yang kosong.
- Puisi Yohan Fikri - 3 February 2026
- Puisi Yohan Fikri - 9 July 2024
