Puisi Yohan Fikri

 

Linguistic Matricide

 

Kau panggil diriku dari biji yang pernah

kautanam di antara rintih tanah dan bau janji.

 

Ibumu menanammu di jantung bahasa
yang urung kaukenal. Tetapi di tubuhmu, negara

telah menabalkan makna dengan tinta hijau
yang meleleh dari ingatan seekor raksasa.

 

Kutatap matamu, Perempuan! Tubuhmu ladang

tempat pengetahuan pertama dikuburkan.

“Masuklah,” katamu, “ke dalam luka-lukaku

—luka-luka pengetahuan.”

 

Maka aku pun menyusup di antara serat akarmu,

dan melihat dunia tumbuh dari pelarianmu.

 

Telah dibekali engkau dengan empat purwa-senjata:

 

(1) sekantung benih untuk menumbuhkan rahasia;

(2) sebatang jarum untuk menyulam ingatan lama;

(3) sejumput garam supaya tak kaulupa asin air mata,

(4) sekerat bau yang tak kuasa diwangikan algoritma.

 

Berlarilah, sebelum laut menelan semua tautan
yang ingin mencarimu,
pintaku.

 

Dari jauh, kudengar engkau menangis.

Dengan apa harus kutebus segala diamku?

“Dengan pengetahuan yang kaupendam,” katamu.

“Pengetahuan yang suatu hari akan menghapus

segala macam bahasa bakumu.”

 

Oedipus Complex

 

Aku tak ingin kapalku

menjadi reruntuhan

cinta yang tak selesai.

 

Tak ada ibuku di telaga ini,

tetapi wajahnya mengapung

di setiap gelembung

udara serupa dosa

belum sempat diberi nama.

 

Setiap kali aku mendayung,

aku layar kehilangan

mata angin, menyusur arus,

berbelok ke rahim yang tertenung

menjelma gunung.


Setiap cinta adalah ziarah

menuju asal, tapi siapakah mampu ziarah

ke rahim ibu, ke mula-mulai waktu,

tanpa mengaramkan dirinya sendiri?

 

“Mari kita akhiri banjir-bandang ini

dengan mengijab Perjanjian Baru.”

 

Aku bukan Nuh.

Tak ada pasangan

yang kan kuselamatkan

kecuali hanya diriku sendiri

—juga bayang-bayangmu

yang masih basah.

 

Setiap perahu adalah rahim

yang terbalik, seperti cinta

adalah air yang naik

mencari langitnya sendiri.

 

 

 

Sulam Dendam

 

 

dendam adalah minyak yang mengilat bayangmu di nyalang mataku. dendam adalah darah dursasana yang kusuluh setiap subuh di tangan kiriku.

 

lumurkan

pelan

pelan

di sekujur

lukaku

 

suamiku, aku tak akan tidur malam ini. kugerai rambutku di rimba api agar arang-arangnya memercik di kening tololmu. kutitip dendam di dadu terakhir—gelanggang yang telah menjungkirkan nampan takdir. kutabur juga debu ke segelas air. tenggaklah, samiaji! supaya kaumengerti, dharmamu lakon usang di kelir dalang. sayangku, kutanam murka di kepal tanganmu, supaya gada yang kauayun kelak meretak mega di pangkuan dewa-dewa, yang hanya bisu memandang helai demi helai marwahku ditelanjangi. kijang jantan-kijang kelana, kusulam benang rambutku ke sarung panahmu, dan kubuhul mata busurmu dengan simpul mati agar segala kesumat lesat mencari dada yang pernah bunga mengkis-mengi oleh tawa, mengangkangi duka dukana

 

duryodana

tunggulah.

 

kini aku punya lima api yang tersangkur di zirah besi.  kini aku punya lima jantung yang memompa racun kobra.  kini, aku punya lima mulut yang tak lelah memamah tanah— demi menggali liang ajalmu. kini aku punya lima mata yang kan tugur sebelum bulan merah jatuh tersungkur, dan tanah yang pernah retak gelak-gejolak kelak menjelma seprai merah; katil yang mengigil oleh kental amis-darah—entah darahmu, atau darah dari leher kelima kuda karapku.

 

Memento Mori

 

Telah kusaksikan, seberkas cahaya

berpendar sebesar biji mrica

memutik dari lingga layu

— dan tak satu pun penjaga tahu

ke manakah ia berlalu.

 

Ke bibirmukah ia berserah?

 

Raja itu berkata, dengan suara letih

seakan tak lagi yakin pada matanya sendiri.

 

Ia nanap menatap tubuhnya yang gemetar.

Udara asin. Dan ia saksikan

cahaya itu meluncur ke sprei kasur,

di antara selimut kusut

— serupa nasib yang tak lagi mampu

dirapikan bahkan oleh kematian itu sendiri.

 

Wahyu tidak mati, tukasnya lagi,

wahyu tidak mati, karena ia hanya beralih

ke tubuh yang masih mengenal rasa malu.

 

Malam diam. Dupa tertebar di langit kamar

dan tak ada yang tahu bahwa malam itu

istana telah murca seputik cahyanya.

 

Seekor cicak jatuh dari dinding,

ketika lilin padam. Di luar baluwarti,

orang-orang lebih memilih

membincangkan harga beras

ketimbang kematian rajanya sendiri.

 

Kusembunyikan sesuatu

di balik napasku tatkala cahaya kecil itu

telah singgah ke tubuh kerisku.

Tapi aku tak tahu. Aku tak tahu.

 

Yang menerima wahyu, memang,

tidakkan siap, sebagaimana yang siap

takkan pernah menerimanya.

 

Pernah suatu kali

ia dengar bahwa wahyu kerap berjingkat

seperti kabut menelekung sebentang selimut

ke ubun seorang pria yang telimpuh

di antara doa dan nestapa

 

Wahyu lebih menyerupai luka kecil

yang tertoreh di mata penguasa, Pangeran,

di tubuh seorang pengemis yang memeluk

tubuh anaknya, seperti merengkuh lusuh

kata-kata—lesah putus asa.

Tapi yang memegang suluh tak selalu

mampu membaca pituduh.

 

Sebelum napas pemungkas timpas,

lelaki di ambang ajal itu meminta air.

Ia tapi berkata lagi, Air ini asin

seakan menenggak takdirnya sendiri.

 

Mungkin ia sudah beranjak pikun,

atau ia hanya tengah teringat

pada laut yang pernah

dijualnya kepada bangsa asing.

 

Di detik itu, ia agaknya tak tahu,

tubuhnya sebentang peta bagi salah

dan lesah, di mana setiap pori-pori

ialah nama tempat segala khianat.

 

Yang menggadaikan tanah, menggadaikan

Langit di atasnya juga, Pangeran.

 

Ia masih mengingat malam itu.

suara serangga, bau darah ayam di dapur,

juga bisik perempuan di balik serambi:

Apakah raja telah mati?

 

Tidak! Raja belumlah mati.

Ia hanya kandil yang menggigil

ketika malam jekut, dan

seluruh api menolak disulut.

 

Tubuh itu akan terus memerintah.

Tubuh itu akan terus memberi perintah.

 

Menandatangani surat.

Berdiri di sebuah balkon.

Menatap langit-langit negeri.

Seraya tak pernah mengerti

bahwa ia telah kosong.

Bahwa ia langit yang kosong.

Yohan Fikri
Latest posts by Yohan Fikri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!