
Jendela dari Seluruh Mimpi
malam kesekian engkau tetap bermimpi sama
tentang sebuah jendela
hinggap kupu-kupu di tali gordennya
tapi udara kian dingin dan gelap semakin tua
hitam mengental dalam selimut tebalmu
suatu kali kupu-kupu itu terbang mengitari alam tidurmu
dan engkau bermimpi dalam mimpi itu
malam selanjutnya telah berpuluh mimpi mendatangimu
tentang apa saja yang belum engkau lihat sebelumnya
setiap mimpi punya jendela dan kupu-kupu
pada malam-malam yang engkau miliki
bila engkau terjaga nanti
di tiap pintu rumahmu hinggap beratus kupu-kupu
tapi bukan ia yang ada dalam mimpimu
dan jendela-jendela itu, ia ingin engkau bermimpi lagi
buat malam-malam selanjutnya
Payakumbuh, 2026
Hujan di Danau Hujan di Laut
bulan ini kujemput hujan mengguyur danau
buat penyiram kering tanahku dihisap kemarau
berawal matahari miring sepuluh tahun lalu
di sini daun-daun enau mengering merindu linting tembakau
ketika gumpal asap memisah dari api, biru langit dijilat panas bumi
namun engkau tak kulihat di pinggir danau itu
selain sunyi tambatan perahu dijangkau riak menepi
bila hujan jatuh di laut, adakah di sana engkau
menggulung rindu akar bakau pada asin garam
karena ombak tak menemu pasir di pantai
sepanjang siang dan malam
hujan di danau hujan di laut
di pinggirnya aku menunggumu membawa mata-mata ikan penuh air
untuk kubawa penyiram rimba pulauku
tapi aku tak menemumu
entah di mana engkau akan kutunggu, entah di mana aku kau nanti
sementara hujan tak juga jatuh di kering tanahku
Koto Panjang, 2026
Kota yang Sendiri
pohon-pohon itu pergi meninggalkan akar yang selalu menjalar
mencari makan entah untuk batang mana
di tanah itu kini tumbuh sebuah kota yang tak bisa dihidupinya
sementara orang-orang melepaskan urat leher,
menggantungnya di kabel-kabel
api meretas dan napas jadi abu
tak ada yang menghuni kota itu, akar-akar menggembung dalam tanah
berangan-angan hutan itu kembali bersama riuh margasatwa
kota itu sendiri, sunyi pun meninggalkannya
langit dan awan enggan memayungi,
matahari dan bulan tak memberi cahaya
siang dan malam menyingkir dari kota itu, angin mengubur diri
di bawah timbunan pasir dan batu-batu
Tanjungpati, 2026
Pagi Tak Kunjung Datang
kesunyian itu, kabut mengurung batu-batu di gunung
saat lidah malam menjilat gelap, aku jauh dari terang lampu
“kemarilah!”
puisi itu datanglah bersama ribut, melayang dari arah yang jauh
negeri belum pernah kutempuh, konon di sana hujan selalu tumpah
maka jari-jariku bergerak dalam gelap melukis bayangan
menulis ketiadaan; udara lembab sedikit basah
berbulan-bulan aku menunggu matahari pagi
kabut itu menghalangi pandanganku ke gunung itu
puisi yang kutulis belum sempat aku baca
lampu-lampu bergerak, hilang nyala diarak angin limbubu
di sana, curah hujan memadamkan apinya
Airhitam, 2026
- Puisi Adri Sandra - 3 November 2026
