Puisi Adri Sandra

Jendela dari Seluruh Mimpi

 

malam kesekian engkau tetap bermimpi sama

tentang sebuah jendela

hinggap kupu-kupu di tali gordennya

 

tapi udara kian dingin dan gelap semakin tua

hitam mengental dalam selimut tebalmu

 

suatu kali kupu-kupu itu terbang mengitari alam tidurmu

dan engkau bermimpi dalam mimpi itu

 

malam selanjutnya telah berpuluh mimpi mendatangimu

tentang apa saja yang belum engkau lihat sebelumnya

 

setiap mimpi punya jendela dan kupu-kupu

pada malam-malam yang engkau miliki

 

bila engkau terjaga nanti

di tiap pintu rumahmu hinggap beratus kupu-kupu

tapi bukan ia yang ada dalam mimpimu

 

dan jendela-jendela itu, ia ingin engkau bermimpi lagi

buat malam-malam selanjutnya

 

Payakumbuh, 2026

 

 

Hujan di Danau Hujan di Laut

 

bulan ini kujemput hujan mengguyur danau

buat penyiram kering tanahku dihisap kemarau

berawal matahari miring sepuluh tahun lalu

 

di sini daun-daun enau mengering merindu linting tembakau

ketika gumpal asap memisah dari api, biru langit dijilat panas bumi

 

namun engkau tak kulihat di pinggir danau itu

selain sunyi tambatan perahu dijangkau riak menepi

 

bila hujan jatuh di laut, adakah di sana engkau

menggulung rindu akar bakau pada asin garam

karena ombak tak menemu pasir di pantai

sepanjang siang dan malam

 

hujan di danau hujan di laut

di pinggirnya aku menunggumu membawa mata-mata ikan penuh air

untuk kubawa penyiram rimba pulauku

 

tapi aku tak menemumu

entah di mana engkau akan kutunggu, entah di mana aku kau nanti

sementara hujan tak juga jatuh di kering tanahku

 

Koto Panjang, 2026

 

 

 

 

Kota yang Sendiri

 

pohon-pohon itu pergi meninggalkan akar yang selalu menjalar

mencari makan entah untuk batang mana

di tanah itu kini tumbuh sebuah kota yang tak bisa dihidupinya

 

sementara orang-orang melepaskan urat leher,

menggantungnya di kabel-kabel

api meretas dan napas jadi abu

 

tak ada yang menghuni kota itu, akar-akar menggembung dalam tanah

berangan-angan hutan itu kembali bersama riuh margasatwa

 

kota itu sendiri, sunyi pun meninggalkannya

langit dan awan enggan memayungi,

matahari dan bulan tak memberi cahaya

 

siang dan malam menyingkir dari kota itu, angin mengubur diri

di bawah timbunan pasir dan batu-batu

 

Tanjungpati, 2026

 

 

Pagi Tak Kunjung Datang

 

kesunyian itu, kabut mengurung batu-batu di gunung

saat lidah malam menjilat gelap, aku jauh dari terang lampu

 

“kemarilah!”

 

puisi itu datanglah bersama ribut, melayang dari arah yang jauh

negeri belum pernah kutempuh, konon di sana hujan selalu tumpah

 

maka jari-jariku bergerak dalam gelap melukis bayangan

menulis ketiadaan; udara lembab sedikit basah

 

berbulan-bulan aku menunggu matahari pagi

kabut itu menghalangi pandanganku ke gunung itu

 

puisi yang kutulis belum sempat aku baca

lampu-lampu bergerak, hilang nyala diarak angin limbubu

 

di sana, curah hujan memadamkan apinya

 

Airhitam, 2026

Adri Sandra
Latest posts by Adri Sandra (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!