
Terdengar seseorang membuka-tutup pintu depan. Ringan suara langkahnya lewat di telinga Basar yang duduk di sofa. Aroma deodoran semprotnya tercium sesaat.
“Felicia?” ucap Basar. “Kau memakai deodoran pria sekarang?”
Yang ditanya tidak menjawab; terdengar ia menaiki tangga.
Sesaat kemudian, seseorang membuka-tutup pintu depan lagi, sekilas angin menyentuh samping wajah Basar.
“Hai.” Ini jelas suara wanita. “Maaf lumayan terlambat.”
“Felicia?”
“Kau mengenali suaraku meski aku flu. Itu bagus.” Terasa Felicia duduk di sampingnya dan sofa berkeriut. Ia memakai parfum wanita. “Lapar?”
“Mamaku barusan kembali?”
“Ia ke kantor, bukan? Mobilnya tidak di depan.”
“Siapa yang tadi ke atas …? Ia belum turun.”
***
“Tidak ada siapa-siapa,” kata Felicia lantang dari lantai atas. Ia menuruni tangga sambil melanjutkan, “Mungkin pendengaranmu menajam? Kau jadi tertipu diri sendiri: kau mendengar langkah seseorang di luar sana.”
“Dan aku mencium deodoran pria dari luar sana?”
“Aku sudah cek semua ruangan.” Suara Felicia tepat dari depan lelaki itu. “Mau makan apa?”
“Terserah.”
“Kau masih kurang ramah.”
“Aku memang kurang berbakat untuk bersikap ramah, ingat? Kurang berbakat apa lagi aku? Mendengarkan? Menahan diri dari ocehanmu? Melihat?”
“Aku akan langsung memasak,” Felicia berkata sebelum Basar lanjut bicara. “Entah kau masih menyukai masakanku atau tidak. Mau mendengarkan televisi?”
“Mendengarkan televisi.” Basar terkekeh. “Bolehlah.”
Televisi menyala di depan Basar, dan terasa sesuatu mendarat di paha kanannya: remot. Felicia menjauh sembilan langkah dari belakang sofa, berbelok ke kiri, dan suara langkahnya teredam dinding yang memisahkan dapur dengan ruang depan. Terdengarlah laci demi laci dan pintu kulkas dibuka-tutup secara bergiliran.
Televisi menyuarakan berita kecelakaan. Di Jalan Gatot Subroto. Sebuah Toyota menabrak―
Basar mematikan televisi. Dingin menyebar dari belakang leher ke punggungnya. Samar-samar klakson mobil meraung di kejauhan.
Felicia mulai memotong-motong sesuatu di atas talenan. Sekali suara potong-memotong berhenti, digantikan suara keran yang mengucurkan air, dan dilanjutkan dengan potong-memotong lagi sebelum kompor menyala.
Dan, seseorang menuruni tangga. Langkahnya pelan. Dab, dab, dab: semakin lama, semakin jelas. Semakin dekat. Suara langkah itu lenyap di balik bunyi cssshhh! Basar mengendus tumisan bawang. Srrtttt, srrtt, srrtt: sutil kayu bergesekan dengan permukaan wajan.
“Felicia …?”
“Ya?” balasnya―dari dapur.
Basar menarik napas panjang. Di antara wangi tumisan bawang yang semakin pekat, tercium deodoran semprot pria.
Dengan satu gerak cepat, Basar menjulurkan tangan ke depan. Telapak tangannya menyentuh sesuatu. Kain. Di balik kain ada sesuatu yang padat. Perut.
“Kau bukan Felicia.”
Pipi Basar disayat. Ia menjerit. Seseorang itu berlari ke pintu depan―dan Felicia berlari dari dapur.
“Basar! Wajahmu!”
Basar menyentuh pipi kirinya dengan ujung jemari. Basah. Basah dan hangat. Panas menyebar di sekujur wajahnya yang berdenyut-denyut. Tangannya gemetar. Terdengar Felicia tergesa mengunci pintu depan dan menutup setiap jendela. Ruangan seketika menghangat.
“Pasti salah satu dari mereka ….” Air mata mengalir dan menusuk pipi kiri Basar.
“Aku akan menelepon polisi.” Felicia duduk di sebelah Basar. Suaranya tertahan di kerongkongan. “Seseorang itu sudah kabur―tapi aku tetap menelepon polisi!”
“Bagaimana kabar mereka?” Basar hampir tak mendengar suaranya sendiri. Denging memenuhi kepala. “Mereka bertiga, maksudku.”
“Di mana P3K?”
“Mama bilang mereka selamat. Patah tulang ringan. Aku tidak percaya.”
“Di mana P3K?!”
“Mereka bukan patah tulang ringan, Felicia! Aku ingat bunyinya. Bukan sekadar bunyi tulang patah. Ada sesuatu yang hancur di bawah ban mobilku!”
“Basar ….”
“Jujur padaku. Berapa orang yang mati?”
“Mereka semotor bertiga.” Felicia meletakkan tangan di pundak lelaki itu. “Mereka yang tolol, bukan?”
“Kau paham pertanyaanku? Ayolah, alihkan saja topikku terus!”
“Satu orang ….”
Basar mengembuskan napas. Punggungnya merosot di sandaran sofa. Terasa darah dari pipinya mengalir ke ujung dagu, lalu menetes.
“Mereka bertiga bersaudara. Ia yang paling muda, yang duduk di tengah,” lanjut Felicia. “Kedua kakaknya baik-baik saja. Anak nomor dua dijahit lengan kirinya; anak nomor satu dijahit dahinya. Cukup?”
“Mungkin yang tadi adalah anak nomor dua atau satu. Ia datang untuk balas dendam.”
“Dan ia sudah pergi. Aku akan menelepon polisi.”
Felicia menghubungi polisi dan menjelaskan apa yang terjadi dan menutup panggilan, sebelum kembali ke dapur untuk mencari P3K sesuai arahan Basar. Baju bagian dada lelaki itu basah dan hangat dan lengket ke kulit; Basar menariknya ke hidung dan mengendus-endusnya: amis.
“Ketemu!” Felicia berseru.
Saat itulah terdengar pergerakan samar seseorang. Di dekat pintu.
“Felicia …? Kau sudah mengunci pintu, bukan?”
Langkah Felicia mendekat dari dapur. “Tentu. Kita aman.” Ia duduk di samping Basar―krrrttt: risleting kotak P3K dibuka. “Tunggu! Kita bersihkan dulu lukamu di kamar mandi.”
“Aku mendengar seseorang bergerak di dekat pintu. Bukan di luar ruangan, tapi di dalam.”
“Mungkin hanya kucing di balik pintu. Orang tadi sudah kabur.”
“Hanya kucing …?”
“Hanya kucing. Pendengaranmu sangat sensitif.”
“Mungkin.”
Lengan dingin Felicia melingkari lengan Basar. Wanita itu menuntunnya mengitari sofa sekitar sembilan puluh derajat, maju sembilan langkah, dan berbelok ke kanan. Jari-jari kakinya menginjak keset yang lembap; darah menetes dari dagu ke punggung kaki kirinya. Felicia membuka pintu: pengharum kamar mandi menyengat hidung.
“Omong-omong,” kata Basar, “kau ulang tahun minggu depan, bukan?”
“Aku senang kau masih ingat. Tentu kau masih kuundang.”
Basar terkekeh. “Pacar barumu tak marah?”
“Amin.”
“Tentu ia tak marah. Lelaki sepertiku bukan saingan lelaki normal mana pun. Apa ia tahu kau di sini?”
“Darahmu menetes terus. Cepat masuk.”
Felicia hendak maju, tapi Basar bertahan di tempat. “Ambilkan ponselku.”
“Di sofa. Ambil nanti saja. Cepat masuk.”
Tiba-tiba Basar mendorong Felicia keras sampai menghantam pintu dan jatuh. Basar pun berlari sambil meraba-raba udara―pinggangnya menghantam sandaran sofa―lalu belok ke kiri, ke pintu keluar―dan sebelum mencapai pintu, seseorang mendorongnya dari depan―belakang kepalanya menghantam lantai.
Kepalanya berdenging. Basar mengatur napas. Seseorang melangkah di samping kepalanya. Bau lumpur kering dan apak sepatu.
Dari kamar mandi, terdengar Felicia berusaha berdiri dan terpeleset sekali. Kemudian langkah-langkahnya mendekat.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Felicia.
“Kau bukan Felicia.”
Lemari es di dapur berdengung. Mobil melesat di kejauhan. Air mengalir deras pada pipa di dalam dinding. Wanita itu menelan ludah.
“Felicia berulang tahun bulan lalu,” sambung Basar. “Felicia juga belum mempunyai pacar baru. Kau anak ke berapa, eh? Pertama? Kedua?”
“Aku yang pertama. Ia yang kedua.”
“Ia …?” tanya Basar.
Seorang pria berdeham. Pria yang berdiri di samping Basar.
Basar mencoba duduk―dadanya diinjak. “Ini belum separah adik kami,” kata sang pria.
“Tolong dipercepat,” sahut Basar. “Kalian berhak membalas dendam―dan bunuh saja aku secepatnya.”
“Tolol,” sahut si wanita. “Kami hanya ingin ganti rugi. Tapi pengacaramu―pengacara dari mamamu―sungguh setan alas. Dan kemarilah kami. Aku mengalihkan perhatianmu, dan adikku … lihat, tasnya sudah penuh.”
Si pria membebaskan dada Basar dari sol sepatunya. Basar refleks menarik napas panjang―dan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Ia terbatuk-batuk.
“Kalau tidak bisa melihat tasku,” kata si pria, “minimal kau bisa merasakannya.”
“Hanya mencuri? Silakan. Mencurilah dan pergi. Sesuai keinginan kalian.”
“Sesuai keinginan kakakku.” Si pria mengangkat tas dari perut Basar dan terdengar menyampirkannya di punggung. “Keinginanku berbeda.”
“Maaf. Adikku punya keinginannya sendiri. Tadi aku pun terkejut.”
“Dan silakan penuhi keinginanmu. Aku tidak akan melawan. Harusnya kau langsung menyayat leherku―bukan pipiku. Aku akan berterima kasih.”
Si pria membuka pintu dan melangkah ke luar tanpa menutup pintu kembali. Angin mendinginkan dada Basar yang terkena rembesan darah. Tidak ada suara seseorang pun yang lewat di luar sana. Pintu mobil dibuka di depan halaman rumah.
“Pasti kau hanya berpura-pura menelepon polisi tadi,” tebak Basar. Dingin lantai keramik menembus rambut dan membuat kepalanya ngilu.
“Aku cukup meyakinkan sebagai Felicia, bukan?”
“Cukup meyakinkan. Cara bicaramu mirip dengannya. Setidaknya cukup untuk menipu pendengaranku. Apalagi kalian sama-sama sering mengalihkan topik. Dan soal karakter suara, tidak berbeda jauh. Kupikir Felicia flu.” Basar menarik napas panjang. “Ke mana saudaramu?”
Si wanita menggeretakkan jari-jarinya. “Tidak sia-sia aku mewawancarainya hampir satu jam.”
“Di mana Felicia?”
“Ia banyak bercerita tentang kalian sambil menangis. Aku jadi iba. Ia masih ingin menolong lelaki yang dari dulu tak pernah mendengarkannya.”
Pintu mobil ditutup. Lalu seseorang―pria itu―melangkah kembali ke ruang depan.
“Di mana Felicia?” Suara Basar pecah. Ia hendak duduk, tapi dadanya diinjak. Kaki itu terasa telanjang. “Tolong! Biarkan aku minta maaf kepadanya!”
“Wow! Kau ingin meminta maaf?” Si wanita mendecak, mengangkat kaki dari dada lelaki itu. “Kalau kau sadar, kau belum meminta maaf kepada kami. Kepada adik kami.”
Si pria berhenti di samping kanan kepala Basar. Ada yang menetes-netes ke lantai. Napas Basar tertahan. Sesuatu itu menetes-netes tepat di samping kuping kanannya. Tiba-tiba, benda yang berat―lebih berat dari tas―menimpa tubuhnya.
- Ada Siapa di Rumah Ini Selain Kita? - 28 November 2025
- Intuisi Calon Korban - 7 June 2024
- Pelajaran Menjadi Detektif - 2 February 2024

ryo
agak menyeramkan
Adistia
Wih keren, feel nya berasa banget sepanjang baca cerita