
Foto buku ada di mana-mana: di IG, di Pinteres, di seluruh halaman Google begitu Anda mengetik “buku” atau “book” atau “bookshelf” atau “library”. Tapi di manakah buku dalam desain-desain rumah, di iklan-iklan cat, di brosur-brosur hunian, di saluran-saluran bedah rumah di YouTube? Saya jarang menemukannya.
Buku di sini tentu bukan semata “buku” sebagai benda, sebendel kertas berisi tulisan dengan sampul dan judul tertentu, tetapi sebagai sebuah unit yang jadi bagian integral dari sebuah rumah, sebagaimana toilet atau tempat tidur atau dapur. Bukan pula salah satu dari jenis hiasan, biasanya terdiri atas empat atau lima eksemplar sembarang judul yang ditumpuk atau disenderkan, yang biasanya ditaruh berjejeran atau bahkan jadi tatakan kembang atau benda-benda antik atau pernak-pernik di sebuah rak minimalis cantik. Ia bukan barang yang membuat rumah Anda “tampak elegan dan memberi kesan intelektual”, tetapi benda yang, entah elegan atau tidak, mau tak mau merupakan pancaran intelektualitas Anda. Dan ia bukan empat atau lima atau lima belas atau dua puluh lima, melainkan seribu lima ratus atau dua ribu lima ratus atau bahkan lima ribu.
Ribuan buku mestinya ada di ruang perpustakaan, bukan di ruang tamu. Harusnya demikian. (Dan itulah gambar-gambar yang akan secara dominan Anda dapatkan jika mengetik “buku” atau “book” di Google atau di IG.) Namun, rumah dengan ruang perpustakaan adalah sesuatu yang ideal, jika bukannya hal wah dan sangat mewah, lebih-lebih untuk kota seperti Jogja yang standar harga rumah dan tanahnya naudzubillah. Karena, di luar ukuran standar rumah dengan ruang tamu dan dua kamar plus dapur dan kamar mandi, Anda mesti menambah ruangan seluas setidaknya satu ruang tamu atau dua kamar lagi, baru Anda akan mendapatkan perpustakaan tersebut dan bisa memasukkan ribuan buku itu. Atau, Anda membutuhkan loteng yang lapang (seperti rumah-rumah kelas menengah di Amerika), karena sekadar mezzanine tak akan mencukupi.
Rumah seperti itu tampaknya harus Anda bangun sendiri dari nol, karena rumah jadi, baik dari orang lain maupun dari perusahaan pengembang, biasanya tidak memiliki ruang semacam itu. (Rumah-rumah indah dalam brosur, jika ukurannya cukup besar, biasanya akan lebih memilih menyediakan kolam renang mungil eksklusif, atau taman belakang yang nyaman, atau halaman parkir yang luas, dibanding sebuah ruang kosong membosankan yang nantinya akan diisi hanya oleh buku-buku.) Namun, membangun sendiri atau membelinya, Anda akan membutuhkan anggaran yang besar atau sangat besar untuk memiliki rumah semacam itu. Kecuali Anda memiliki warisan yang lebih dari cukup, atau menjadi komisaris BUMN, atau menjadi anggota DPR-RI, atau dengan satu dan lain cara menjadi cukup kaya selama 10 tahun pemerintahan Jokowi, saya rasa Anda mungkin tak akan terlalu serius memikirkannya. Seperti saya.
Karena saya tak punya warisan, bukan pula komisaris BUMN atau anggota DPR, tak juga mendapat manfaat apa-apa selama Jokowi berkuasa, saya mencukupkan diri dengan ruang tamu saja. Dan, karena ruang tamu atau bahkan rumah secara umum tak benar-benar disiapkan untuk menampung ribuan buku, dan karena itu ia tak disebut-sebut dalam brosur-brosur kredit rumah, maka saya bersiap untuk bersiasat atas dampak ikutannya. Bukan hanya mengabaikan kesan rumah menjadi terasa sesak, kurang elegan, dan tidak artistik, tapi juga dengan sama sekali menghapus fungsinya yang semestinya. Misalnya, menyingkirkan tamu ke teras, seperti yang bertahun-tahun ini saya lakukan.
***
Saya punya kurang lebih enam rak dengan dimensi rata-rata 120 x 200 cm yang berjubel buku. Jika masih kos seperti 20 tahun lalu, saya yakin akan membutuhkan setidaknya dua kamar kos standar Jogja hanya untuk menaruh buku thok. Itu artinya saya membutuhkan kamar lain untuk tidur dan meletakkan meja-kursi, sembari menyelipkan lemari kecil pakaian jika diperlukan. Dalam rumah dengan ruang tamu standar seluas 6 x 3 meter, seluruh dinding ruang tamu akan tertutup dengan rak buku. Dan itu artinya tidak muat, sebab di situ ada jendela-jendela dan pintu-pintu dan kursi-kursi dan ruang itu sendiri, hal-hal yang menjadi tujuan mengapa ruang tamu disebut ruang tamu. Dan, oleh karena itu, tak mengherankan pada akhirnya buku-buku itu harus tercecer di ruang-ruang lain.
Akibatnya, setiap mencari rumah baru, yang saya pikirkan adalah bagaimana buku enam rak itu mendapat tempat. Dan itu membuat saya lebih banyak memfokuskan pada seluas apa ruang tamunya. Saya tak terlalu peduli carport-nya ada atau tidak, atau kamar mandi yang terlalu kecil, atau dapur yang tak cukup nyaman, atau kamar yang agak kesempitan; ya, saya akan lebih suka ruangan-ruangan “sisa” itu lebih luas dari seharusnya, karena siapa tahu ia bisa menampung satu-dua rak buku jika ruang tamu tidak mencukupi. Mau tak mau, ini membuat saya membutuhkan rumah yang relatif besar, sementara di sisi lain saya tak terlalu nyaman dengan rumah yang terlalu besar—oleh suasana lengang akibat ruang-ruang yang tak bisa saya lihat secara langsung ketika saya sedang membaca atau menulis, tapi terutama, dan tentu saja, oleh harga mahalnya.
Selalu ada desakan untuk sedikit “berkompromi”. Toh, buku-buku itu tak semuanya dibaca, atau tidak dibaca dalam waktu dekat. Kemunculan wacana dan kesan buruk tentang sundoku, kebiasaan menumpuk buku namun tidak dibaca, dalam 10-15 tahun terakhir, juga menjadi semacam kritik diri. Jadi, apa salahnya menguranginya sebagian, memberi ruang bagi yang lebih lazim di dinding ruang tamu, seperti foto keluarga atau plakat-plakat dan piagam atau lukisan pemandangan, atau seperangkat sofa dan vast bunga di meja kaca. Untuk itulah saya pernah mengirim satu pickup buku ke luar kota, atau secara berkala memindahkannya ke rumah di kampung halaman. Dan saya tak henti-hentinya menyesali itu.
Sejujurnya, saya ingin selalu dekat dengan buku-buku itu, dibaca atau tidak. Saya ingin mereka seatap dengan saya, karena saya membenci momen ketika saya betul-betul membutuhkan satu buku, kemudian mendapati bahwa buku itu tidak lagi berada di rak di rumah yang saya tempati. Saya lebih menyukai rumah yang penuh buku saya dibanding rumah itu sendiri.
***
Bagaimana pun, buku-buku memang bukan bagian dari rumah yang diidealkan oleh kebanyakan kita. Tidak dulu, tak juga sekarang.
Dalam tata ruang rumah Jawa yang sangat rumit itu, misalnya, kita agak sulit bayangkan ada buku di sana. Kita bisa temukan yang sosial (pendopo), yang spiritual (ruang pemujaan atau langgar), dan bahkan yang rekreasional (kandang burung atau ayam aduan, misalnya) di sana, tapi yang intelektual sepertinya tak cukup mendapat tempat. Tentu bukannya sama sekali tak ada, tapi saya membayangkan ia akan berupa sesuatu yang sangat tua dan langka dan karena itu punya kedudukan yang sangat istimewa, sehingga tempatnya yang paling tepat adalah di ruang penyimpanan benda-benda pusaka, bersama keris atau batu mulia atau sobekan jubah Nabi. (Barangkali bukan kebetulan jika hal yang sangat familiar dalam khazanah cerita silat kita selain senjata pusaka adalah kitab sakti.) Mungkin dari sangat sedikit rumah di Indonesia yang sejak awal memiliki ruang bagi intelektualitas adalah istana raja dan pesantren. Tapi, tentu saja, itu tidak bisa sembarang direplika, mungkin karena karakter eksklusif dan/atau sakralnya, dan dengan demikian selama ratusan tahun ia tetap tertahan di balik tembok tinggi yang mengitarinya.
Ketika proses pembaratan terjadi di Hindia awal abad ke-20, kondisi tak serta merta berubah. Memang sebagian kecil bangsawan dan anak-anak orang kaya bersemangat untuk menjadi Barat dan pergi ke Barat, kelompok kecil “tercerahkan” yang nantinya akan mengawali tradisi membaca dan menulis (ala Barat), menerbitkan koran dan majalah, dan mengoleksi buku, dan terutama menjadi penggerak utama gerakan nasionalisme awal. Namun, bagian lebih besar dari kelompok berprivilese ini banyak yang menjadi Barat dan kebarat-baratan hanya agar bisa masuk dalam dan cocok dengan struktur masyarakat kolonial, dan untuk itu mereka mengambil cara yang paling gampang: berpendidikan untuk menjadi ambtenaar. Sementara kelompok kecil pertama tak bertahan lama (dan kemudian boleh dibilang habis bersama habisnya ribuan hingga puluhan ribu kalangan terdidik dalam pembantaian Pasca-‘65), kelompok besar kedualah yang kemudian menjadi tipikal atau bahkan standar ideal yang masih terus bertahan hingga sekarang.
Dalam “Mendung Tanpo Udan” (Mendung Tanpa Hujan), sebuah lagu pop Jawa yang meledak secara gila-gilaan pada 2021, terdapat lirik yang menggambarkan sebuah rumah tangga (omah-omah, demikian lagu itu menyebut) ideal yang diwakili oleh suami bersarung yang membaca koran (sementara istri belanja ke pasar dengan memakai daster). Tapi, jelas, itu sama sekali bukan tentang membaca atau tentang tradisi baca, melainkan tentang kemapanan. Di rumah sebuah keluarga kelas menengah mapan di Indonesia, yang mana suami memiliki kebiasaan membaca koran di teras, boleh jadi kita temukan buku di dalam rumah, tapi kebanyakan tidak, karena keduanya memang tidak betul-betul berhubungan. Ketika koran semakin kehilangan tempatnya dalam kehidupan kelas menengah kota seperti saat ini dan sepenuhnya digantikan oleh gajet elektronik, kita menjadi semakin tidak yakin bagaimana mengira-ngira sebuah rumah memiliki buku di dalamnya atau tidak.
Tapi sekali lagi, kebanyakan rumah di sekitar kita, baik yang dibangun untuk dijual atau ditempati sendiri, tidak disiapkan untuk menampung ribuan buku. Rumah itu mungkin bisa dimasuki lukisan atau patung taman ratusan juta karya seniman entah siapa, dan berharap mendapatkan sedikit cipratan citra berbudayanya, tapi ribuan buku tetap tak akan diterima. Dan siapa pun yang memaksakan kehendaknya untuk memasukkan ribuan buku ke dalam rumah, ia tidak akan dilayani. Tidak oleh gambar-gambar desain interior, iklan-iklan cat dan bahan bangunan lain, atau brosur-brosur hunian, atau saluran-saluran bedah rumah di YouTube.
- Rumah-rumah dan Buku-buku (yang Dilahirkannya) - 12 January 2026
- Buku di Ruang Tamu - 17 December 2025
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag. 2—Habis) - 22 October 2025
