“INGATAN BUGENVIL”

1.

Saat ia bangun dari tidurnya siang itu, rumahnya terasa bagaikan sebuah cangkang yang kosong. Tak ada siapa pun di rumah selain dirinya. Sebuah catatan ditinggalkan di atas meja telepon, tepat di bawah kalender bertuliskan “April 1997” yang menampilkan panorama kebun bunga tulip dengan sebuah kincir angin di latar belakangnya. Ayahmu menemani Ibu berbelanja di supermarket, tulis ibunya dalam tarikan huruf-huruf yang telah ia kenal selama dua puluh empat tahun usianya.

Ia membayangkan ayah dan ibunya sedang berboncengan dengan Honda Astrea merah-hitam kesayangan sang ayah. Dua kantong berisi barang belanjaan dicantelkan pada bagian depan motor, sementara sisanya dipegang oleh ibunya di belakang. Sepanjang jalan, keduanya saling bercengkerama satu sama lain dengan wajah yang dipenuhi oleh tawa dan sukacita.

Dari jendela, dilihatnya matahari sedang bersinar terik. Sesungguhnya ia masih tak percaya kedua orang tuanya memutuskan pergi pada siang sepanas ini. Bahkan udara yang dihirupnya pun terasa panas dan ia merasa sangat kegerahan.

Suasana di sekitar rumahnya tampak begitu sunyi dan lengang. Tak ada satu orang pun yang lewat, entah itu para tetangga atau anak-anak mereka. Terik sinar matahari dan kesunyian yang terbentang di hadapannya memunculkan sebuah perasaan asing—seakan-akan ia benar-benar seorang diri di sebuah dunia yang baru dikenalnya. Dunia yang entah bagaimana juga terasa familier, seperti merupakan bagian dari masa lalu yang samar-samar.

Ia pergi ke kulkas untuk mencari sesuatu yang dapat menyegarkan tubuhnya, lalu menemukan sekaleng 7-UP bertengger di bagian dalam pintu kulkas. Setelah beberapa teguk cairan mengaliri kerongkongannya, baru disadarinya satu hal. Sejak tadi, sebaris bunyi monoton berulang kali terdengar dari arah kamar mandi. Bunyi tetesan air dari keran bocor yang belum juga mereka perbaiki. Ia mengikuti bunyi itu. Suaranya kian mengeras seiring langkahnya mendekat.

Ketika sampai di depan pintu kamar mandi yang terbuka, ia menyadari tempat itu seolah memiliki zonanya sendiri yang tak terpengaruh oleh udara panas di sekitarnya. Saat ini, kamar mandi adalah satu-satunya tempat yang terasa teduh dan dingin di rumah. Ia pun memutuskan untuk duduk di depan pintunya. Kedua kakinya ia selonjorkan di atas lantai, sementara tangannya menumpu ke belakang.

Ia tak tahu yang mana. Mungkin udara panas atau kekosongan rumahnya atau mungkin juga kesunyian asing di dalam dadanya yang membawanya pada ingatan dari hari Minggu lalu. Kedua orang tuanya tak tahu, tapi hari itu ia bertemu dengan Ru. Mungkin mereka telah lupa pada Ru, mungkin pula mereka masih mengingatnya.

2.

Hari Minggu lalu pukul satu siang, ia menunggu Ru di bangku sebuah taman wisata. Mereka telah bertemu secara tak sengaja beberapa hari sebelumnya di sebuah kedai kopi populer yang penuh dengan pengunjung. Pada pertemuan tak terduga itu, Ru berkata kalau ia sedang melakukan perjalanan dinas ke kota ini. Mereka lalu membuat janji untuk bertemu lagi sebelum Ru kembali pulang ke kotanya.

Ru temannya semasa kecil. Saat ia berusia dua belas tahun, keluarganya sempat tinggal di sebuah tempat bernama Perumahan Bugenvil—namanya diambil dari jenis bunga yang menghiasi taman di tengah perumahan itu. Di sanalah Ru menjadi temannya. Awalnya ia mengira keluarganya akan seterusnya tinggal di tempat itu, tapi kenyataannya tidak. Sekitar satu tahun kemudian, ayahnya kembali mengajak mereka pindah ke tempat lain.

Ru datang pukul satu lewat lima, mengenakan kemeja putih bergaris-garis biru yang dimasukkan ke dalam celana jeans. Ia sendiri mengenakan blus merah berkerah renda dan rok berpotongan span.

Mereka berjalan menyusuri taman wisata, melewati orang-orang yang sedang menikmati panorama sambil bersantai di bawah keteduhan pohon atau pondok-pondokan yang telah disediakan. Ru kemudian mengajaknya melihat sebuah sungai kecil yang berada di sisi lain taman. Bagai dihipnotis, ia mengikuti langkah laki-laki itu satu demi satu, sementara ingatannya kembali pada Perumahan Bugenvil.

3.

Ia ingat pemandangan yang dilihatnya saat mereka sekeluarga pertama kali sampai di depan sebuah rumah bercat putih, dua belas tahun yang lalu. Jalanan perumahan yang tampak sunyi dan tenteram, cabang-cabang pepohonan yang bergerak lembut ditiup angin, juga cahaya matahari yang berkedip-kedip indah di sela daun-daunnya.

“Meski kecil, rumah ini manis sekali, kan?” Ibunya menarik tangannya menuju teras rumah baru mereka. Saat itu tahun 1985. Tubuh ibunya masih begitu ramping dengan rambut ikal hitam yang bergoyang-goyang seiring gerak tubuhnya yang lincah. Ayahnya masih sibuk menurunkan barang-barang dari atas truk pindahan dengan bantuan sopir truk.

Di saat yang sama, ia melihat seorang anak lelaki di halaman rumah yang terletak di samping rumah mereka. Anak itu duduk di atas sepedanya sambil memperhatikan mereka dari kejauhan. Itu pertama kalinya ia melihat Ru.

Ia dan Ru bertemu lagi keesokan harinya. Keluarganya sedang bersantai di teras, sementara Ru bersama ayah dan ibunya baru saja turun dari sebuah becak motor. Mereka tampak baru pulang dari sebuah acara. Ayah Ru berambut ikal, sama seperti rambut milik ibunya. Raut wajahnya liar dan jenaka, berbeda dengan raut wajah ayahnya yang lebih lembut dan tampak selalu serius.

Ru dan keluarganya tak langsung masuk ke dalam rumah. Mereka memutuskan mampir dan berkenalan dengan tetangga baru. Dari percakapan para orang tua, ia dan Ru tahu kalau usia mereka sebaya dan sama-sama baru naik ke kelas 6. Tahun depan mereka akan masuk SMP.

Kebersamaan sore itu menggiring pada kebersamaan lain. Para ayah sering kali saling membantu pekerjaan menangani rumah, seperti membetulkan genting atau memperbaiki keran yang rusak. Ibu-ibu mereka asyik di dapur, mencoba-coba resep dari buku masakan sambil berbicara ini-itu, sementara ia dan Ru menjadikan kedua rumah mereka sebagai arena bermain lari-larian atau petak umpet. Kalau bermain petak umpet, Ru sering kali kalah bersuten hingga harus berjaga dan ia yang bersembunyi lebih dulu.

Suatu kali ia memutuskan bersembunyi di balik lemari besar yang terletak di samping pintu menuju dapur rumahnya. Dari sana, ia bisa melihat ibu Ru dan ibunya sedang saling bercerita. Ibunya tampak mendengarkan ibu Ru dengan penuh perhatian sambil sekali-kali mengusap lengannya.

Perhatiannya teralih ketika sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang. “Ketemu!” Ru berteriak di telinganya. Ia lekas memukul pundak anak lelaki itu sebagai tanda protes karena telah dikagetkan. Ru tertawa begitu keras sampai-sampai ibu Ru mengingatkannya dari dapur agar tak ribut di rumah orang.

4.

Dapur di rumah lamanya di Perumahan Bugenvil pernah menjadi tempat yang penuh keajaiban baginya. Ia ingat siang-siang di masa lalu yang dihabiskannya bersama sang ibu di sana. Cahaya matahari dari jendela yang terletak tepat di depan bak cuci piring menyinari ruangan yang redup karena lampu tak pernah dihidupkan di siang hari.

Di dapur itu, ia sering menyaksikan ibunya mencuci piring sambil turut bernyanyi-nyanyi mengikuti alunan lagu dari radio tape. Seringnya lagu milik penyanyi kesayangan ibunya, Madonna. Seperti pada suatu siang, ketika ia masuk ke dapur untuk mengambil air minum.

“Tolong besarkan sedikit volumenya,” pinta ibunya saat menyadari kedatangannya. Ia pun bergegas menuju meja yang terletak di sudut dapur. Di sana, sebuah radio tape JVC warna hitam diletakkan berdampingan dengan toples-toples bumbu, juga botol-botol saus dan kecap. Di meja yang sama pulalah, kaset-kaset koleksi ibunya bertebaran, beberapa di antaranya bersampul wajah Madonna. Tempat itu seakan merupakan muara pertemuan dari kedua dunia ibunya.

Setelah membesarkan volume radio tape, diamatinya potret Madonna pada sampul salah satu kaset. Ibunya ternyata memperhatikan apa yang dilakukannya dan berkata, “Tahu tidak, kenapa ia menata rambutnya seperti itu?”

Ia memperhatikan rambut Madonna yang ditata berantakan. Sebagian helaiannya sengaja dikeluarkan dari ikatan bandana berpita besar yang menjadi ciri khasnya pada masa itu, sedikit memberi kesan liar dan tak rapi.

“Soalnya dia tak mau diatur-atur. Aku suka semangatnya!” sambung ibunya. Ia tak dapat menahan senyum melihat ibunya begitu antusias.

Ibunya kembali sibuk menyabuni dan membilas piring, gelas-gelas, dan berbagai alat bekas memasak sembari terus bernyanyi. Irama dance-pop dengan sedikit sentuhan disko khas tahun ’80-an dalam tembang “Lucky Star”[1] milik Madonna mengalun ceria dari radio tape di sudut dapur.

You must be my lucky star

‘Cause you shine on me

Wherever you are

Ibunya mulai menari, menggerak-gerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Lalu dengan kedua pergelangan tangannya, diangkatnya rambut ikalnya yang mengembang dengan indah itu tinggi-tinggi hingga ke puncak kepala. Ia kemudian melepaskan rambutnya begitu saja dengan satu gerakan luwes yang mempesona.

Ibunya tampak begitu bebas, seolah tak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengekangnya. Tubuhnya membentuk siluet gelap yang melekuk indah di hadapan jendela yang bercahaya putih, sebab matahari sedang bersinar terik di luar sana. Kedua tangannya terus saja ia rentangkan ke atas, sebelum kemudian diturunkannya perlahan, membentuk semacam lingkaran tak kasat mata yang menyelubungi tubuhnya.

Ia begitu terpesona. Siluet tubuh ibunya mengingatkannya pada sosok dewi yang sering dilihatnya di buku cerita bergambar miliknya. Ia mulai berkhayal kalau ibunya adalah jelmaan salah satu dewi kahyangan yang turun ke bumi ini.

Sosok dewi itu lalu berjalan ke arahnya dan meraih kedua tangannya. Ia pun menyambutnya. Dapat dirasakannya tangan ibunya yang dingin, basah, serta beraroma sabun cuci piring dalam genggamannya. Ibunya mengajaknya berdansa, kedua tangannya ditarik maju mundur bergantian oleh perempuan itu, seiring irama “Lucky Star” yang masih mengalun.

Ia terpekik girang. Mereka terus saja berdansa dan menari sembari tertawa-tawa, euforia ibunya menular padanya. Imajinya melayang: seorang dewi dan anak perempuannya dalam keindahan nirwana. Ia terlena dan terus terbawa, sampai kemudian alunan musik itu pun berhenti dengan tiba-tiba.

Ia menyadari kalau ayahnya baru saja masuk ke dapur dan mematikan radio tape yang sedang berputar.

“Jangan ribut-ribut, ya! Aku sedang ingin hening!” kata ayahnya sebelum berlalu meninggalkan dapur.

Ia tak lagi menghitung, entah sudah berapa kali ayahnya menghentikan kesenangan mereka karena berbagai alasan: sedang ingin tidur, sedang capek, sedang tak mau mendengar suara bising, hingga ia mulai merasa bahwa mungkin ayahnya memang tak suka kalau mereka sedikit bersenang-senang.

Ia menoleh ke arah ibunya. Raut wajah perempuan itu tampak menahan kesal dan kecewa. Bibir ibunya sejenak membuka, seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi urung dilakukannya. Perlahan, ibunya kembali berjalan menuju bak cuci piring dan melanjutkan pekerjaannya dalam sunyi.

Dibingkai oleh jendela yang tak lagi terlalu bercahaya karena matahari telah meredup, ibunya kembali menjelma manusia biasa yang dapat ia lihat corak pakaian dan kulitnya. Siluet dewi yang memesona itu telah menghilang.

Di dapur rumah mereka kini, sosok itulah yang sering kali tampak tekun melakukan berbagai pekerjaan: memasak, menata meja, mencuci piring. Lekuk tubuhnya telah berubah dan kerutan halus mulai menghiasi wajahnya.

Entah sejak kapan, ia tak pernah menyaksikan lagi sosok itu bernyanyi ataupun menari.

5.

Ia kembali mendengar suara Ru. Bukan Ru kecil yang berteriak mengagetkannya kala bermain petak umpet, melainkan Ru dewasa yang memberitahunya kalau mereka telah sampai di tujuan.

Di hadapan mereka, terhampar sebuah sungai kecil dan dangkal. Ia dan Ru melepas alas kaki masing-masing dan mulai mencelupkan kaki ke dalam air. Setelah puas, mereka duduk di tepian sambil memandangi air sungai yang mengalir lembut di antara kerikil dan bebatuan.

Ru menoleh kepadanya, “Masih ingat pesta bakar-bakar?”

Ia mengangguk, tersenyum. Mungkin aliran air di hadapan mereka telah mengingatkan lelaki itu pada hal yang menjadi kegemaran mereka semasa kecil.

Ada ritual bersama di antara dua keluarga. Terkadang, orang tua mereka mengadakan pesta kecil-kecilan bakar ikan dan daging di halaman belakang. Di sana, terdapat tanah yang membentuk cekungan kecil. Ia dan Ru diberi izin mengalirkan air dari selang ke cekungan itu hingga terbentuk kolam-kolaman untuk mereka bermain air. Di saat yang sama, para ayah dan ibu sibuk membakar ikan dan daging yang akan mereka nikmati nantinya.

Pada salah satu pesta, ibunya pernah mengikat longgar rambut ikalnya ke belakang dengan sebuah bandana berpita besar. Sebagian helaian rambutnya ditata berantakan dan dibiarkan keluar begitu saja dari ikatan bandana. Tak lupa dikenakannya lipstik berwarna merah dan riasan mata yang mencolok—ia sedang meniru Madonna.

“Sudah mirip Madonna, belum?” tanya ibunya sembari mengedipkan sebelah mata. Wajahnya penuh harap menanti pujian.

“Mirip sekali, Bu!” serunya. Ia ikut kegirangan melihat tingkah genit perempuan itu. Dibelai-belainya rambut dan bandana ibunya sambil bergumam ‘cantik, cantik’. Ibunya makin tersipu.

Namun ayahnya yang sejak tadi diam saja tiba-tiba berseru: “Norak, ah! Gak cocok!” Laki-laki itu lalu tertawa, nadanya merendahkan. Air muka ibunya serta-merta berubah mendengar tawa ayahnya.

Semuanya hanya terdiam menyaksikan suasana tak mengenakkan di hadapan mereka, termasuk ayah dan ibu Ru.

“Suka-suka aku, dong!” balas ibunya penuh perlawanan. Mungkin ibunya sudah tak dapat menahan rasa kesal dan kecewanya lagi. Suara perempuan itu terdengar lantang dan berani. Tapi ia tak bisa lupa mata ibunya yang berkaca-kaca kala mengatakannya….

6.

Kadang-kadang sepulang sekolah, ia dan Ru senang bersepeda menuju taman berbentuk lingkaran yang terletak di tengah-tengah perumahan. Taman yang seluruhnya ditanami bugenvil dengan bunga-bunga merah muda bermekaran dari ranting-rantingnya yang panjang dan menjuntai dengan indah, namun berduri. Entah sudah berapa kali ia dan Ru bersepeda mengelilingi taman itu.

Kalau sudah kelelahan, ia dan Ru akan meletakkan sepeda mereka begitu saja, lalu berbaring melepas lelah di bawah kerimbunan pohon bugenvil.

“Ibu menangis kemarin, waktu Ayah menertawainya karena berdandan dan memakai pita besar. Waktu Ibu meniru-niru Madonna. Kasihan sekali Ibu.”

Suatu siang, sambil berbaring menikmati keindahan bunga-bunga bugenvil berlatar langit biru di atas mereka, diceritakannya hal itu pada Ru.

“Ibumu cantik kok dandan seperti itu. Ayahku bilang begitu padaku.”

Ia kaget mendengar ucapan Ru. “Eh? yang benar?”

“Dia bilang ayahmu itu berengsek. Katanya aku tak boleh jadi lelaki seperti itu kalau sudah besar.”

Mereka cekikikan mendengar kata berengsek. Rasanya lucu mengetahui orang dewasa berkata kasar, padahal anak kecil sering dilarang mengatakannya.

***

Ia merasa waktu tak pernah bergerak dari saat itu, ketika ia dan Ru saling bercerita di bawah keindahan bunga bugenvil. Di taman yang berbeda, hari Minggu lalu, ia dan Ru duduk bersisian di tepi sungai. Matahari mulai turun menuju peraduannya, sore telah menjelang. Saat Ru mengajaknya untuk berdiri dan mengenakan kembali alas kaki mereka, ia tahu kebersamaan mereka hari itu akan segera berakhir.

Mereka berdiri berhadapan. Ru berkata kalau kedua orang tuanya masih tinggal di rumah lama mereka di Perumahan Bugenvil. Ia sendiri tak lagi tinggal di sana, hanya sekali-kali datang untuk menjenguk. Sementara rumah bercat putih di sebelah rumah Ru—rumah yang dulu pernah menjadi rumahnya, dengan dapur di mana ia pernah menyaksikan ibunya menjelma dewi, telah lama dihuni oleh keluarga lain.

7.

Tak ada yang bisa hilang dari Perumahan Bugenvil. Tak ada yang bisa hilang dari hari ketika ia dan Ru bermain petak umpet untuk kesekian kalinya. Awalnya, mereka meminta izin pada orang tua masing-masing untuk bermain di luar. Tapi baru saja mengayuh sepeda sebentar, langit tiba-tiba mendung. Mereka akhirnya pulang dan memutuskan bermain petak umpet saja di rumahnya. Mereka tak bermain di rumah Ru karena hari itu ibu Ru sedang sakit dan tak mau diganggu oleh suara ribut apa pun.

Lemari besar yang dulu diletakkan di samping dapur telah dipindahkan ke dalam kamar orang tuanya. Hari itu, ia merasa adalah ide yang bagus untuk bersembunyi di dalamnya. Ia tak akan ketahuan lagi seperti dulu karena hanya bersembunyi di balik lemari.

Namun, Ru memang paling ahli dalam permainan petak umpet. Ru akhirnya membuka pintu lemari tempatnya bersembunyi dan lagi-lagi berhasil menangkapnya. Mereka baru saja akan tertawa saat terdengar suara langkah-langkah yang mendekati kamar. Ru tampak terkejut, ia takut dimarahi. Ru ingat mereka sebenarnya dilarang masuk kamar orang tua tanpa izin. Anak lelaki itu lalu bergegas ikut masuk ke dalam lemari bersamanya agar tak ketahuan.

Dari dalam lemari, ia mendengar suara ibunya dan seorang lelaki. Siapa? pikirnya. Ayahnya pergi bekerja dan baru akan pulang selepas sore nanti. Setelah didengarnya baik-baik, ia baru menyadari suara lelaki itu adalah suara ayah Ru. Sedang apa ayah Ru dan ibunya?

Setelahnya ia mendengar suara derit ranjang ibunya. Derit terus-menerus yang seolah tak berujung dan tak akan pernah berhenti. Ia juga mendengar suara ibunya, jenis suara yang belum pernah didengarnya. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Ia tak yakin apa ia boleh mendengar ibunya bersuara seperti itu.

Tiba-tiba ia merasa sangat takut. Ia menatap Ru. Mulutnya membuka, ingin mengajak Ru keluar dari dalam lemari. Ia yakin Ru pasti juga mendengar apa yang didengarnya. Tapi ia terkejut saat tangan Ru tiba-tiba membekap mulutnya kuat-kuat. Ru melarangnya bersuara. Di dalam lemari tak sepenuhnya gelap, hingga ia dapat melihat mata Ru berkaca-kaca, persis seperti mata ibunya dulu. Ia belum pernah melihat Ru menangis. Ia jadi ingin ikut menangis karenanya. Mereka terus bertatapan dalam diam hingga suara-suara itu lenyap dan kamar kembali sunyi seperti sebelumnya.

Mungkin setelah memastikan tak ada lagi siapa pun di kamar, Ru membimbingnya untuk keluar dari dalam lemari. Lalu ia melihat ibunya sedang memasak di dapur seperti biasanya. Mungkin, ketika ibunya bertanya apakah hujan turun saat mereka sedang bermain di luar tadi, ia hanya menjawab bahwa langit mendung, tapi hujan tak pernah turun. Ia tak mengatakan hal lain hingga ibunya tak pernah tahu bahwa ia tak ke mana-mana. Bahwa ia berada di dalam lemari, bersembunyi bersama Ru. Ia tak begitu ingat runut-runutannya. Hal-hal yang terjadi setelah peristiwa itu hanya menyisakan kelebat samar dalam ingatannya.

Ia tak berkata apa-apa pada ayahnya tentang kejadian itu. Entah bagaimana, ia yakin Ru juga melakukan hal yang sama dan tak memberi tahu ibunya. Di dalam lemari, di hari mendung yang akhirnya tak pernah hujan itu, mereka seakan menyepakati sebuah perjanjian tak terucap: diam.

Sejak saat itu, ia dan Ru semakin jarang bermain. Di sekolah pun semakin jarang bertemu, sampai akhirnya tak pernah lagi.

Setelah pengumuman kelulusan, ayahnya tiba-tiba saja berkata kalau mereka akan pindah lagi. Ia akan masuk SMP di kota lain, kota yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Ketika mereka akhirnya pergi, ia juga tak berpamitan pada Ru.

Ru dan keluarganya menjelma masa lalu.

***

Hari Minggu lalu di taman, Ru memeluknya erat sebelum mereka berpisah. Ia membalas pelukan itu dan mereka saling mengucapkan selamat tinggal. Ru tak menyinggung sedikit pun tentang peristiwa yang mereka alami, bahkan hingga punggung-punggung mereka berbalik dan saling menjauhi satu sama lain.

8.

Ia baru berdiri dari persemadiannya di depan kamar mandi saat didengarnya pintu depan dibuka. Ayah ibunya telah pulang dari berbelanja. Terdengar suara gumaman dan langkah-langkah mereka yang berjalan menuju dapur.

Di dapur, ia melihat ibunya terus saja bercakap-cakap dengan ayahnya sembari menyusun barang belanjaan ke tempatnya masing-masing.

Ia tak dapat lagi menahan sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya. Ia begitu penasaran akan jawabannya.

“Ibu ingat Ru dan keluarganya?”

Ibunya tampak berpikir sejenak sambil meletakkan sebuah kaleng sarden di rak penyimpanan sebelum akhirnya berkata, “Tentu saja. Bekas tetangga di rumah lama kita, bukan? Ada apa dengan mereka?”

Sama sekali tak ada yang berubah dari raut wajah ibunya.

Ia tersenyum. “Tak ada apa-apa,” jawabnya.

Ibunya kembali sibuk menyusun barang-barang, kembali tenggelam dalam percakapan bersama ayahnya. Suara mereka terdengar sayup-sayup, seolah berasal dari sebuah tempat yang sangat jauh. Ia lalu melihat ibunya tertawa-tawa sambil memijat lembut pundak sang ayah. Ayahnya pun turut tertawa menerima pijatan itu.

Seluruh adegan itu tampak terlalu indah di matanya.

Ia teringat pada perselingkuhan ibunya. Anehnya, bukan hal itu yang paling mengganggunya.

Ia malah bertanya-tanya ke mana perginya sosok perempuan yang pernah bernyanyi dan menari-nari dengan penuh kebebasan bersamanya—siluet seorang dewi di jendela dapur rumah lama mereka berkelebatan dalam ingatannya. Perempuan yang menunjukkan perlawanan di balik matanya yang berkaca-kaca, ketika suatu kali suaminya menertawakan penampilannya. Ia ingat pula pada suara asing penuh gairah yang keluar dari mulut perempuan itu, yang suatu saat didengarnya ketika sedang bersembunyi di dalam lemari, suara yang seperti bukan milik ibunya….

Hari-hari setelah peristiwa itu seolah menggelincir begitu saja dari genggamannya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri sampai tak menyadari tahun-tahun yang berlalu, sampai tak mengetahui kapan tepatnya sosok itu hilang. Mungkin perempuan itu tertinggal di Perumahan Bugenvil, membeku di dalam sebuah rumah bercat putih yang pernah mereka tinggali.

Mungkin ia telah kehilangan perempuan itu tepat di hari ketika ayahnya membawa mereka pergi dari Perumahan Bugenvil.

Tiba-tiba ia ingin lekas beranjak pergi dari hadapan ayah dan ibunya—mungkin kembali duduk di depan pintu kamar mandi. []

Keterangan       : [1] Tembang milik Madonna; tahun rilis 1983.

Varla R. Dhewiyanty
Latest posts by Varla R. Dhewiyanty (see all)

Comments

  1. Zeppy Reply

    suka sekali sama cerita ini… kisah tentang kenangan masa kecil yang indah namun menyisakan luka, dan tentang kehilangan sosok yang masih hidup tetapi tak lagi sama…

  2. Ernesta Muktiono Reply

    Saya suka ceeita yang penggambaran tokohnya tidak terlalu mencolok seperti ini

    • Puput Mentari Reply

      Setelah sekian lama, akhirnya saya bisa mampir dan menemukan cerpen secantik ini. Luka masa lalu memang tak bisa diobati ya

  3. Ricardo Reply

    Asik cara bertuturnya. Pengenalan tiap tokoh pun tidak berlebihan. Ide selingkuh disisipkan tanpa memberi aba aba dari awal cerita justru menjadikan seluruh cerita menarik. Tidak terjebak dengan membahas perselingkuhan pun satu ketrampilan yg jitu. Keren sih ini.

  4. Maria Laurika Reply

    Membacanya seperti ada sesuatu yg manis dan pilu di dada tentang rasa di waktu yg telah terlewati .

  5. Aqila Reply

    Saya suka sekali

  6. isajameela Reply

    ga bayangin peran utamanya selamanya punya memori campur aduk seperti itu, saya sangat suka ceritanyaa

  7. Komodo Reply

    Cerita ini seperti melakoni pikiran kita yang jauh di masa lalu (masa kecil) dan ke masa depan (dalam diri kedua orangtua). Bahwa kita punya masa lalu yang patut dikenang dan juga masa depan yang datang begitu saja bersama umur.

    Sebuah cerita yang manis dan menggetarkan!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!