Penjaga Lupa

Lelaki dusun itu sudah tua. Ketika datang padanya sebuah berita, matanya yang layu tiba-tiba bercahaya penuh daya. Ia pun bersiap.

Keesokan hari, pagi-pagi buta, ia menaiki pedati, pergi ke arah kota. Cucunya, si pembawa berita, mencoba mencegah, tetapi sia-sia. Pedati itu menjadi kutu. Perlahan membelah jalan-jalan yang dingin di antara rumput, kebun jagung, dan sawah ladang; seolah kutu hitam yang menelusur belahan-belahan rambut di antara kabut dan halimun.

“Sudah lama aku menunggunya,” bisik lelaki dusun itu.

Suara batinnya sama tuanya. Sudah lama kudengar dari orang-orang, dari radio, betapa hebatnya mereka. Mimpi apa aku? Di sisa umur, diberi sempat untuk menatap cahaya pada wajah mereka. Mereka benar-benar ada di pulau ini. Hanya berjarak dua hari perjalanan. O, pulau yang diberkati.

***

Dua hari kemudian, ia sampai. Sore meliputi batas kota kabupaten kecil yang lengang. Senja sempurna megahnya, hawa membagi teduh, dan burung-burung pulang ke sarang. Semesta terasa penuh berkah. Lelaki dusun itu mengusap wajahnya setelah berdoa.

Tidak ada rintangan berarti selama perjalanan. Bukan hanya ia telah mengenal jalurnya dengan baik, saat terang maupun gelap gulita, tetapi karena ia yakin pulau ini sedang diberkati dengan hadirnya orang-orang pintar yang ditugaskan di sini.

Ia beristirahat di penginapan di batas kota. Pemiliknya sudah ia kenal. Tempat sederhana ini langganan orang-orang dusunnya ketika musim panen tiba dan mereka berdagang ke kota.

Mengira masih ada waktu, ia segera pergi ke tempat yang dituju, ke arah pusat kota kecil ini dengan berjalan kaki. Hari makin gelap. Lampu-lampu mulai membagi cahaya. Akhirnya, ia pun sampai di bangunan itu.

“Saya mau bertemu—”

“Baca ini!” Seorang penjaga mengetuk-ngetuk tulisan pada papan penanda yang diterangi cahaya.

Lelaki tua dari dusun yang sederhana itu tidak bisa membaca.

“Sudah tutup! Buka lagi besok pagi.”

“Oh, maaf.”

Pada kunjungan-kunjungan yang lain, ia tertarik menikmati suasana kota kecil ini. Namun, tidak untuk saat ini. Ada beban berat yang harus diselesaikan segera. Ia perlu istirahat.

***

Pagi harinya, ia kembali. Ia mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, namun terburuk dalam pandangan penjaga gerbang yang mengantuk akibat jaga malam.

“Saya yang kemarin datang.”

“Ya. Tahu. Ada apa?”

“Saya ingin bertemu dengan orang pintar—”

“Apa? Orang pintar?”

Penjaga gerbang itu, yang mengenakan topi kaku, seragam, dan bersepatu hitam keras dengan tongkat di pingganggnya, terheran-heran sebelum tertawa terbahak-bahak sebab praduganya sendiri.

Setelah puas menertawakan orang dusun yang tua dan penggemar mistik itu, ia menarik napas dan masih tidak habis pikir, “Pak Tua, dengar,” ia mendekat dengan langkah ilmu pengetahuan terhadap kegelapan, “bangunan-bangunan baru ini, memang tempat orang-orang pintar, tapi bukan orang pintar yang berarti para dukun. Ini namanya kampus. Sekolah, tapi tingkatnya paling tinggi. Sekolah tinggi. Paham? Ah, bagaimana menjelaskannya?”

“Saya tahu ini bukan tempat para dukun. Cucu saya sudah cerita. Saya juga pernah dengar dari radio.”

“Lalu?”

“Saya ingin bertemu dengan orang pintar di gedung itu.”

“Ada urusan apa?”

“Saya dengar ada orang pintar tentang pertanian di sana. Saya ingin meminta ilmu cara mengatasi tikus-tikus yang sangat rakus merampas tanaman-tanaman di dusun kami. Sudah lama kami mencoba membasminya, tapi selalu muncul lagi dan lagi.”

“Kampus baru ini memang punya jurusan pertanian. Ada ahlinya di sini. Tetapi, apa sudah buat janji bertemu sebelumnya?”

“Janji?” Lelaki dusun bingung.

“Mereka itu orang-orang pintar dan orang-orang pintar sangat sibuk. Mereka harus melakukan penelitian, mengajar, dan mengabdikan diri kepada masyarakat. Tidak bisa asal ditemui. Kamu pikir mau menemui dukun desa, bisa kapan saja.”

Lelaki dusun bahagia mendengar kalimat yang membuat dadanya berpendar penuh harapan bahwa orang-orang pintar sibuk mengabdikan diri pada masyarakat.

Namun, pendar itu meredup saat ia ditanya soal janji pertemuan. Masuk akal. Orang-orang pintar pasti sangat sibuk; banyak orang membutuhkan mereka. Jadwal mereka perlu diatur. Ia belum membuat janji. Bagaimana caranya membuat janji, sedangkan tak seorang pun dari mereka yang ia kenal? Pikirannya berkecamuk.

“Jangan khawatir, aku mengenal semua orang yang di dalam dan semua orang yang masuk,” kata penjaga itu, menanggapi dengan ekspresi yang selaras kakunya dengan seragam dan perangkat yang ia kenakan.

“Boleh dibilang,” kata penjaga gerbang, “sebenarnya, aku ini bukan sekadar penjaga gerbang kampus, tetapi penjaga gerbang ilmu pengetahuan. Sebutlah begitu. Tidak boleh orang asing masuk, kecuali atas izinku. Itu sebabnya tertulis: tamu harap lapor.”

“Jadi, Tuan bisa membantu saya?”

“Bukan hal sulit, asalkan—”

Penjaga itu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan keadaan, kemudian mencondongkan tubuh dan membisikkan sesuatu ke telinga lelaki dusun.

Lelaki dusun itu terkejut, tetapi penjaga itu segera berbisik kembali bahwa bukankah ke dukun desa saja harus membawa sesuatu? Apalagi ke orang-orang pintar dengan gelar yang sangat tinggi. Mereka sudah belajar bertahun-tahun mengorbankan waktu, dana, dan tenaga, maka sudah sepantasnya sebagai manusia biasa kita menghargai ilmu pengetahuan.

“Tetapi, saat ini saya tidak bawa apa-apa,” kata lelaki dusun dengan suara yang tua, “tunggu sebentar, saya akan segera kembali. Saya bawa pedati di penginapan batas kota.”

“Baiklah,” penjaga gerbang ilmu pengetahuan itu berkata dengan suara berwibawa, “jangan lama-lama. Mereka orang sibuk.”

***

Sesampainya lelaki dusun itu di penginapan batas kota, ia menemui pemilik penginapan untuk meminjam uang. Pada mulanya, ia memberi jaminan hasil panen dari desa bulan depan, tetapi pemilik penginapan menolak halus dengan mengatakan bahwa tempe di depan mata lebih ia sukai daripada roti di dalam mimpi.

“Kalau begitu, ambillah pedatiku. Itu terbuat dari kayu yang sangat bermutu,” kata lelaki dusun.

“Pulangnya?”

“Saya bisa naik sapinya, Tuan, jangan khawatir. Bukankah dahulu saya sering jalan kaki bawa madu ke sini?”

Ketika ditanya untuk apa uang itu? Ia ceritakan apa adanya.

Pemilik penginapan sekarang terlihat ragu-ragu. Cerita yang baru saja didengarnya seperti penipuan. Namun, apa mungkin orang berpendidikan berniat menipu? Tidak mungkin. Lelaki dusun menyakinkannya. Bertahun-tahun mereka telah belajar, membaca buku, hati dan pikiran mereka ditempa oleh ilmu hingga mencapai cahaya pencerahan dan gelar-gelar megah. Bagaimana mungkin akan menipu?

Lagi pula, bila persoalan tuntas, panen akan melimpah. Kita semua akan untung banyak. Pulau ini akan makmur. Pemilik penginapan kini sependapat; meski dalam hatinya terserah apa saja asalkan tidak merugikan bisnisnya.

Setelah mendapatkan uang, lelaki tua dari dusun itu bergegas. Tidak peduli badan letih. Pikirannya dipenuhi impian pembebasan desa dari tikus-tikus sialan.

Ia memberikannya kepada lelaki penjaga gerbang pengetahuan. Lelaki itu, yang tertidur sebab bertugas malam, sudah bersiap berkemas pulang, kemudian berkata kepada lelaki dusun untuk kembali lagi besok; mulai besok ia giliran berjaga siang hari.

***

Keesokan harinya, pada siang yang dijanjikan, lelaki dusun itu menemui penjaga gerbang ilmu pengetahuan.

“Orang-orang pintar itu sedang sibuk persiapan akreditasi, semacam penilaian keilmuan tingkat tinggi yang sulit dijelaskan kepada orang awam,” kata penjaga, “kembalilah seminggu lagi.”

Seminggu lagi, lelaki dusun yang awam itu, kembali menemui penjaga.

“Aku tidak bermaksud menipumu, demi Allah, aku sendiri kasihan melihatmu yang semakin lelah dan lama tidak pulang ke dusun,” kata penjaga, “apalagi mendengar sapimu telah dijual buat biaya hidup di kota, tetapi maaf, aku juga baru tahu; orang-orang pintar sibuk akreditasi dalam waktu lama. Ini kampus baru. Jika tidak terakreditasi, maka ilmunya tidak diakui. Artinya, tidak ampuh, tidak berguna. Alias sia-sia. Kembalilah sebulan lagi.”

Sebulan kemudian, lelaki dusun yang telah menjual sapinya demi ilmu pengusir tikus itu, kembali menemui penjaga. Ia membawa banyak oleh-oleh dari dusun dengan keranjang di punggungnya sehingga penjaga ilmu pengetahuan terlihat gembira dan berkata bahwa orang-orang pintar setuju akan membantu.

Mereka telah mengajukan proposal hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, salah satunya tentang membasmi tikus di ladang pertanian di dusun-dusun terpencil. Karena memerlukan dana besar, baik akomodasi, transportasi, seminar publikasi hasil riset, pembuatan spanduk, laporan, maupun sertifikat bertanda tangan, maka kampus kecil yang baru berdiri ini tidak sanggup kalau tanpa bantuan dana.

Tiga bulan lagi akan diumumkan hasilnya. Jadi, kembalilah tiga bulan lagi, penjaga itu menjelaskan.

***

Tiga bulan kemudian, lelaki dusun yang penuh harap itu kembali.

“Aku kagum dengan semangatmu, Kek,” kata penjaga, “tetapi, orang-orang pintar itu titip pesan bahwa proposal mereka ditolak, tidak lolos. Rekam jejak penelitian dan kelas kampus kami dinilai lemah. Tapi, jangan khawatir, tahun depan kami akan mencobanya lagi. Jadi kembalilah—”

“Apa saya bisa ikut belajar langsung saja, masuk kelas?” tanya lelaki dusun dengan suara yang menua.

“Kalau itu harus daftar dulu, syaratnya ijazah terakhir SMA atau sederajat, tes dahulu, kalau diterima lalu registrasi, bayar, baru bisa masuk kelas.”

“Saya bahkan tidak bisa baca, belum pernah sekolah.”

“Jangan khawatir, kembalilah setahun lagi.”

Setahun kemudian, lelaki dusun itu kembali menemui penjaga gerbang ilmu pengetahuan.

Ia berbicara panjang lebar, tetapi penjaga yang dikenalnya itu seperti tidak peduli lagi, tidak seperti biasanya. Padahal, tidak ada siapa-siapa selain ia dan dirinya. Mungkin si penjaga sudah lupa, pikirnya. Lelaki dusun itu menjelaskan, tetapi penjaga menoleh pun tidak. Malah menguap dan berkata aneh, “Sepi sekali. Rasanya merinding dan tiba-tiba bau melati. Mungkin aku perlu kopi.” Karena jengkel, tangan lelaki dusun mencoba menarik lengan penjaga ketika akan pergi.

Namun, tangan lelaki dusun ternyata tak mampu menyentuhnya, seperti menembus bayang-bayang, dan penjaga gerbang pengetahuan itu tetap pergi tak terpanggil lagi.(*)

(2025)

Eko Triono
Latest posts by Eko Triono (see all)

Comments

  1. teddy m Reply

    sudah lama tak baca cerpen mas eko triono. seperti biasa selalu keren.

  2. Azure Iips Reply

    Rasanya tak rugi menghabiskan beberapa menit untuk membaca cerpen ini. Rupa-rupanya, kisah yang bagus sekali.

  3. Gvelvet Reply

    Super, sekali. Bikin greget. Keren, Pak

  4. m.syakwan Reply

    kren

  5. Lumina celesia Reply

    Oohhh so saddd,kakek nya sampai beda alam belom tenang ,kek mending teror aja penjaga gerbangnya sampai fakultas nya ,,hehe btw keren kak tulisannya

  6. Salsabil Reply

    Sedih bacanya. Merinding juga, tetapi lebih banyak sedihnya.

    • elsa Reply

      Sebagai mahasiswa, sindiran halusnya kena banget di aku, mas.
      “Orang-orang berilmu itu sibuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat”
      Masyarakat yang mana?

  7. zen Reply

    alurnya aja sedii kirainn endingnya bahagia tapii…ouhh shittt bangett dehhh

  8. Jhony Reply

    wauuuuuuu

  9. ateng Reply

    keren kak keren bangett ,menghayati banget gua baca nyaa agak terharu dan kebawa emosian dikit

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!