Puisi-Puisi Rini Intama

 

ANAK ANAK TAK LAGI LAHIR DARI BATANG POHON

Tanah tanah mencair, jadi jalan jalan luas

Bebatu dan akar tak bisa saling bercinta

Anak anak tak lagi lahir dari batang pohon

Sedang burung burung terbang menjauhi sarang

Menembus kabut, menuai angin dan aroma hutan mati

Dari tanah dan luka meranti

Tertulis sudah syair dari batu batu ofiolit

Tertanam harapan tinggi menyusuri lereng

Melewati reranting jatuh, akar lesap, daun kering

Begitulah burung burung

Sayap menerbangkan kentalnya rindu

Dari hilangnya tempat kelahiran

Terdengarlah detak jantung sungai

Mengurai rindu tersesat di belantara hampa

Dan melewati harapan harapan patah

Sebab pohon tumbang mengalirkan air

Sungai di halaman rumah

Menenggelamkan air mata

Tangerang, Januari 2021

 

PEREMPUAN YANG MENULIS KATA KATA

Pada semesta yang bergembira

Perempuan menyeduh panas di cangkir kehidupan

Menunggu berita dari tujuh arah mata angin

Yang mencumbui awan, jadi kabut dan hujan

Menemukan ribuan kata dari rimbunnya pilu

Dari desir angin dan langit berawan

Perempuan tersenyum membersihkan luka

Agar hilang terbakar waktu dan angan angan

Menyusuri jalan sunyi dan langit abu abu

Memetik ingatan tentang masa kecil dan hujan

Mencatat rangkaian luka dan kesedihan itu

Menyalakan aksara dalam ingatan

Mengalirkan detak

Memahat kalimat

Tangerang, Januari 2021

 

MENGUKUR BAYANG

Di sebuah masa

Saat mengejar bintang bintang

Kita berlarian di sepanjang pantai

Melupakan mimpi yang dikunyahi waktu

Bukankah Tuhan telah menundukkan lautan

Memberi Ikan ikan, menabur impian

Dari kilau mutiara dan tarian ombak

Lalu kita lihat bahtera berlayar

Semesta memeluk gunung gunung

Tanah dan lautan manusia dan cahaya langit

Kudengar riuh suara kemanusiaan

Di antara manusia dan padang luas

Bumi bicara tentang keesaan Tuhan

Dengan kitab penerang dan kata kata indah

Getar rindu telah menyerupai awan

Bergulung gulung di langit hingga ke ujung cakrawala

Aku kabarkan ke semua penjuru hati

Seperti gelap gulita di lautan yang dalam

Yang diliputi oleh ombak

Dan berpayung awan kelabu

Tangerang, Maret 2020

 

LELAKI BATU

Kutemui kau jadi pasir di dasar sungaisungai yang bisu

Yang tumbuh dari arus dan kesunyian yang hampir mati

Kutemui kau jadi batang kayu dari pohon yang tumbang

Yang tumbuh dari kebaikan musim

Juga dari tanah dan hutan yang hampir habis

Kutemui kau terkubur aroma kematian nurani

Di antara kelopak mawar dan melati
Di antara sejuk kabut dan angin gunung
Yang telah mengarungi sekian ribu mil perjalanan
Maka kumaknai kau sebagai batu

Yang lupa bagaimana berkata kata

Apalagi menyimak air mata kami

“temuilah hutan hutan itu”

Di segala arah mata angin yang mengabarkan kehidupan

Yang akan memaknai setiap sisi tubuhmu sendiri

Tangerang, November 2019

 

SYAIR HUJAN

Aku selalu suka hujan

Pada bulan bulan di akhir tahun

Sebab ini waktunya menulis kata

Di atas daun dan tanahtanah basah  

            “aku mencintaimu”

Lihat langit yang tak putus berdoa

Lalu jadi setapak jalan awan

Yang merangkul cahaya laut

Jadi pesan abadi matahari dan angin

            “ooh inilah tanda hujan menyalakan sungaisungai”

Ada kehidupan di pucuk daun dan mekarnya bunga

Setelah semua kesabaran dibungkus air mata

Tangerang, Oktober 2019

 

HUTAN YANG TERLUKA

Resah rimba adalah sabda alam

Membawa kata jauh ke ujung waktu

Di antara getir gelisah kami

Menyaksikan asap membumbung ke langit

Memenuhi kesenyapan nurani

Dan luka luka

Kudengar jerit Ilalang memaki ketidakadilan

Menguapkan bau duka

Dari tubuh tubuh memanggul cemas

“kamilah saksi dari percakapan bumi”

Tanah yang sepi menuliskan harapan

Dari doa dalam kenangan rimbun dedaun

Lalu bagaimana kami menyusuri kehampaan

Sedang hutan telah menangisi rindu yang sia sia

Tangerang, 31 Agustus 2019

Rini Intama
Latest posts by Rini Intama (see all)

Comments

  1. Endah Tjatur Winarti Reply

    Puisi Teh Rini selalu melahirkan rangkaian kata- kata yang memberikan kesan mendalam. ❤️❤️❤️
    Dan saya setia menunggu lahirnya buku Teh Rini di ujung rindu

  2. Dalbo Reply

    puisinya membuat saya takut, tapi gak bikin bosan baca

Leave a Reply

Your email address will not be published.