
Cerita Burung Kuntul Kepada Anak-anaknya
dulu sungai adalah cermin
airnya jernih
burung kuntul sering minum di sungai itu
apa saja bisa menemukan dirinya, bisa membaca
di sungai itu
pohon, tebing, rumputan
burung kuntul kagum dengan sungai yang
membentang ke arah barat
yang dilalui di setiap sore hari
ketika pulang ke sarang
selepas mencari makan
ketika terbang burung kuntul sesekali
menengok ke bawah
sungai itu nyaris tidak ada ujungnya
“betapa panjang cermin itu,”
batin burung kuntul
“dulu sungai adalah cermin”
kata burung kuntul kepada anak-anaknya
sekarang merasa, bahwa dirinya sudah amat renta
Panggang, Jepara 2026
Mencari Cermin
dulu sungai tidak bisa dijadikan cermin
meski airnya jernih
karena airnya beriak pertanda dangkal
berbatu-batu
yang memandang ke sungai itu tidak
menemukan bayang-bayang
batu-batu di sungai licin berlumut
ditanam matahari
ketika sesekali airnya surut
yang ingin bercermin
beralih menuju danau atau rawa-rawa
meski sedikit airnya
ada ketenangannya
itulah cermin
Panggang, Jepara 2026
Cermin Buruk
seburuk-buruk cermin: ketika monyet melihat danau
yang kecil dari atas pohon jambu alas
sembari berteriak-teriak, si monyet menghindar
diajak terjun ke danau oleh bayangan di dalamnya
matahari juga berada di sana
bahkan lebih dalam lagi
:apakah hutan ini akan segera gelap ditinggal matahari?
tanya si monyet berkali-kali
Panggang, Jepara 2026
Salahku Sendiri
suatu malam aku bermimpi
cerminku pergi diajak angin
cermin berbingkai indah dan mahal itu
kesayangan keluargaku
tiada hari tanpa bercermin
entah ke mana cermin itu
dicari-cari tidak ketemu
hanya kelebatnya yang sesekali tampak
di malam lain mimpi yang lain
di luar rumah cerminku bicara
kusibak korden untuk menelisik
tak ada apa-apa selain kegelapan
barangkali ini dari kesalahanku sendiri
aku tidak pernah berterima kasih
kepada cermin
Panggang, Jepara 2026
- Puisi Sunardi KS - 8 September 2026
