
Puisi Yusriyyah Adibah
Pembalap di Tangga Perosotan
Baju indah merah
Bukan buatan sendiri rupanya
Apalah
Menjadi putri tanpa sopir pribadi
Hanya untuk satu detik
Ulat di ujung daun rambutan panik
Dia memuja mataku yang menarik
Tanpa tahu bibirku merencanakan kejahatan dengan berbisik
Aku benci ferrari karena terlalu mengagumi
Sepatu datar kurang karet ini pasti susah mengerem nanti
Aku tidak peduli
Akan kulampaui dia satu kali lagi
Sepeda Merah
Berkali kali aku tersenyum bawang kothong
Kakak yang kecewa harus jaga di rumah kosong
Mau bagaimana lagi
Usia ini masih dekat dengan bayi
Potongan genteng atap segi banyak
Berperan sebagai anak panah
Orang berikutnya berhasil mengenai maka aku kalah
Dan kakak kembali merana
Tidak kenal
Bahkan setelah berpapasan pun esoknya lupa
Segerombolan bocah bersepeda dari kampung sebelah
kring kring kring
Kami berhenti seketika
Bukan mati di medan perang karena kepala dapat menoleh
Penasaran pada ketua yang berani mengusik batas daerah
Harusnya mereka tahu bahwa asalnya dari wilayah 6 bukan wilayah 5
Tidak ada orang tua melerai paksa
Tatapan milikku berbeda
Mata ini menangkap kesan teman
Perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya
Senyum lebar tidak terduga
Tidak terbendung
Mekar
Duduklah dengan benar di atas boncengan sepeda merah
Aku takut kau nanti jatuh dan terluka parah
Angin terdengar seperti melodi cinta pertama
Debu bersatu membentuk bingkai perkenalan cerita
Putra Na
Benci menghanyutkan perahu perak milik peri
Bilah pohon malah menjahit diri sendiri
Marah pada nyanyian yang berisik
Pemeran utama lebih condong menjadi antagonis cerita
Kelam hitam bukanlah malam
Bicara “tidak” sekali lagi pada goa
Perintah pangeran tampan dari hutan seberang
Berkuku cantik warna merah muda
Tanah pulau fana itu dihantamnya kesal
Tak berdaya layaknya bayi terlahir menyesal
Datanglah pesan yang diantar dandelion terbang
Janji lampau enggan lagi bercahaya terang
Pertama Kali Membaca “yang” dalam Pidato
Ayo diakhiri
Aku sudah ingin belajar geometri
Menempel dengan lem membuat jariku lengket
Maka dia juga akan enggan bersalaman saat menerima paket
Menjadi pintar memang benar
Menjadi baik itu sulit
Jadi jangan menjadi bodoh
Orang jahat saja tahu kalau yang dulu dilakukannya itu tidak senonoh
Saat kecil orang lain akan bertepuk tangan melihatku berdiri
Maka hanya berdiri diam di panggung tidak akan dihina
Keringat dingin jatuh membasahi huruf yang kubenci
Setelah ya ada n dan g yang di usia lima belum bisa kubaca
- Puisi Yusriyyah Adibah - 16 December 2025

Agist Indah
Puisi yang sangat kreatif dan imajinatif! Menggambarkan keseruan dan kecepatan dengan kata-kata yang dinamis dan menyenangkan. Saya suka bagaimana puisi ini bisa membawa saya ke dalam dunia anak-anak yang penuh dengan kegembiraan dan petualangan.