
Tiada lagi yang bisa mengubah keputusan Ayah. Ketidakmampuannya meloloskan diri dari rundungan kenangan-kenangan seburuk kanker seolah tinggal menyisakan dua pilihan untuk terus melanjutkan hidup: menghapus seluruh ingatannya atau menjual rumah kami. Dan tentu saja, dia tidak mungkin bisa memilih yang pertama.
Semua pintu dan jendela telah tertutup. Tirai-tirai diturunkan. Perabotan dipilah, beberapa diangkut menuju rumah kontrakan, sisanya jadi barang rongsokan. Ruang-ruang dalam rumah pun berangsur kosong, lembap, dan dingin serupa gua. Lalu spanduk bertuliskan “Dijual Tanpa Perantara” diikuti nama dan nomor telepon Ayah, menyusul terpentang di pagar rumah. Pertanda-pertanda itulah yang membuatku terus gelisah, paham bahwa rumah kami telah hampir bukan milik kami lagi.
“Turutlah ke mana saja Ayah pergi,” gumamnya terus menerus untuk menenangkanku jika aku mulai protes.
Hanya dalam beberapa hari sejak spanduk terpentang, telepon Ayah mulai sering berdering. Orang-orang membuat janji temu lalu datang melihat-lihat, mengukur setiap jengkal lantai dan kemiringan sudut-sudut rumah, bahkan sampai menaksir harga. Sejauh itu, tak ada kesan wajar pada seseorang yang telah bertekad untuk melepas harta kesayangan beserta seluruh kenangannya–yang sepatutnya tak terlihat sangat berat hati–di diri Ayah. Dia lebih banyak diam, malahan kerap menunjukkan sikap tak acuh. Sesekali dia sudi menanggapi pertanyaan-pertanyaan berulang seperti sejak kapan rumah itu berdiri, apa saja perbaikan yang pernah dilakukan, adakah kerusakan listrik, genting bocor atau air yang merembes dari tembok, tetapi tak pernah mau menemani orang-orang itu berkeliling. Boro-boro berpromosi agar calon pembeli semakin tertarik, sekadar membual tentang keunggulan rumah kami pun tidak. Ayah selalu hanya berdiri di pekarangan, seperti khawatir akan lemah hati atau mungkin begitu takut rumah ini berubah jadi lubang hitam menganga yang akan mengisap lalu memerangkap tubuhnya selama-lamanya jika dia berani melangkah melewati ambang pintu.
Beberapa kesempatan baik pun dia sia-siakan. Seperti ketika ada pasutri yang tampaknya sangat berminat dengan rumah kami, malah sengaja dia pukul mundur dengan peluru kata-kata sengit hanya karena sang suami mengajukan pertanyaan yang paling dibencinya, “Bapak bilang rumah ini benar-benar dibangun sendiri dari nol. Apa tidak sayang dengan nilai sentimentalnya? Mungkin ada alasan yang boleh kami tahu, kenapa Bapak ingin menjual rumah ini?”
“Apa saya terlihat seperti orang yang butuh curhat? Silakan cari rumah lain saja untuk buka praktik psikolog!”
Ada juga seorang lelaki, baru beberapa menit celingukan mirip maling di bagian depan dan belakang rumah, langsung berani menawar harga, namun sembari berbicara sompral menunjukkan kekurangan-kekurangan rumah kami. Kata Ayah kepadanya, “Dengan harga sebegitu, jika rumah saya ini adalah kue ulang tahun, tentu langsung saya berikan potongan pertama untuk Anda, yaitu bagian jambannya saja.”
Tentu tiada harga yang pantas untuk rumah kami. Bagaimana bisa itu dihargai jika terlalu banyak kenangan tak ternilai di sana? Berempat kami tinggal di dalamnya sampai pandemi datang memusnahkan kehidupan ibu dan kakak perempuanku seketika. Kenapa hanya mereka yang mati? Apakah karena aku dan Ayah adalah lelaki, punya fisik lebih kuat hingga mampu bertahan di masa-masa yang sangat mencekam itu? Jika benar kami adalah lelaki kuat, mengapa kami selalu murung hingga kini?
Sejak dua kematian itu, kami adalah dua orang yang tidak akan pernah sama lagi. Ayah hancur sejadi-jadinya, kesulitan untuk pulih atau sekadar menyalakan lagi api semangat hidupnya. Sementara aku menjadi sangat perasa, sedikit-sedikit protes, gampang marah, dan gemar menghancurkan barang-barang. Untung saja masa pandemi yang belum sepenuhnya berakhir kala itu membuatku lebih sering berada di rumah. Kata Ayah, jadwal masuk sekolah yang berselang hari demi pembatasan justru sangat membuatnya bersyukur. Jika tidak, pastilah lebih banyak lagi teguran guru padanya, juga tuntutan dari orang tua teman sekolah yang kurundung. Bahkan, lanjutnya dengan nada bercanda yang anehnya terdengar sendu, dia bisa sedikit mengirit karena tidak terlalu banyak barang milik sekolah yang harus diganti karena ulahku. Di rumah pun banyak barang kuhancurkan jika kemarahanku tersulut, tetapi dia hanya mendiamkanku, menungguku puas, lalu selalu punya cara untuk membuatku merasa menyesal. Biasanya dengan berbicara sendiri, seolah-olah mengobrol dengan ibu dan kakakku: “Ibu, Kakak, maafkan Ayah yang kurang bisa mendidik Adik. Adik itu aslinya anak baik, cuma jadi sering protes sejak kalian tidak ada. Lihat, kakinya sampai berdarah kena pecahan gelas yang dia banting sendiri ke lantai. Aduh, senjata makan tuan!”
Biasanya kemarahanku tidak langsung reda. Seringnya aku akan langsung berlari melalui pekarangan belakang, melewati rerimbun pohon bambu dan kebun singkong, menuju situ. Dahulu aku dan kawan-kawan sepermainanku memang kerap berenang bersama di sana, tetapi seiring berjalannya waktu aku jadi selalu sendirian. Beberapa mati karena virus sialan itu, sisanya mungkin sudah malas menghadapi perangai burukku. Karena, jika pun ada di antara mereka yang tengah asyik-asyiknya berenang, begitu melihatku datang, mereka akan segera menyingkir.
Situ itu, entah seberapa dalam, tidak ada yang pernah mengukurnya. Tidak ada pula yang berani berenang jauh ke tengah, ngeri dengan kumpulan eceng gondok dan tumbuhan-tumbuhan air bersulur panjang lainnya yang tak tampak di permukaan, tetapi terlihat sebagai bayangan hitam menakutkan di bawah air.
“Jangan berenang terlalu ke tengah!” kata orang-orang dewasa jika melihat kami bersenang-senang sampai lupa diri. “Atau sulur-sulur tumbuhan itu akan membelit dan menenggelamkan kalian!”
Kata-kata larangan seperti itu jelas menakuti kami. Tapi itu dulu. Dengan bertambahnya usia, jelas aku jadi makin berani. Bahkan dari semuanya, akulah si paling nekat.
Setelah memanjat sebatang pohon besar di tepian situ, biasanya aku akan merayap di salah satu cabang yang mengarah hingga beberapa meter di atas permukaan air lalu meloncat menceburkan diri sambil berteriak sekencang-kencangnya untuk melepaskan amarahku, “Metal Baja*!”
Butuh berjam-jam berenang atau sampai ujung jari-jari tangan dan kakiku mengeriput, barulah kemarahanku akan reda.
*****
Seperti takdir yang tak terelakkan, rumah kami akhirnya terjual. Hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu saja, sejak Ayah dan si pembeli mencapai kesepakatan yang berlanjut dengan akad jual beli di hadapan notaris, lepaslah sudah rumah kami beserta seluruh kenangan di dalamnya berbarengan tanda tangan terakhir Ayah di atas meterai.
Pemilik baru tentu saja tidak membiarkan rumah baru mereka tetap dalam kondisi awal. Perbaikan-perbaikan, juga beberapa tambahan segera dikerjakan. Pekarangan belakang yang dulu adalah tempatku bermain tanah sambil menemani Ibu menjemur pakaian, berganti hamparan batu beton. Tembok-tembok dalam rumah, beberapa bagian ada yang memuat coretan-coretan pensil dan krayon hasil keisenganku dan kakakku, yang sengaja dibiarkan sebagai pengingat masa kecil kami, digosok dan ditimpa dengan cat krem. Tembok bagian luar yang hijau pun berganti menjadi biru laut. Dalam beberapa minggu, perabotan berdatangan mengisi rumah sampai keluarga baru akhirnya benar-benar tinggal di dalamnya.
Habislah semua kenanganku, tetapi tidak kemarahanku. Kenangan adalah sesuatu untuk dipertahankan, jika akhirnya tak bisa, bukankah seharusnya dirusak sekalian? Mereka, penghuni baru rumah kami, akan segera tahu bahwa aku punya cara sendiri untuk melakukan protes. Maka ketika kenakalanku mencapai puncaknya, tidak ada yang bisa membendung, bahkan Ayah sekalipun.
Berkali-kali lelaki penghuni baru rumah kami menemui Ayah, bercerita tentang apa yang terjadi.
“Beberapa minggu setelah kami pindahan, ada yang iseng melempari rumah kami dengan batu hampir setiap malam. Kaca jendela bahkan ada yang pecah. Selalu rumah kami yang disasar. Menurut Bapak, apakah itu disengaja oleh seseorang?” dia bertanya. Tidak menuduh, tetapi mampu membuat wajah Ayah seketika pias.
“Sudah lapor ketua RT?”
“Sudah. Beliau akan memastikan sistem pengamanan lingkungan bekerja dengan baik. Itu saja jawabannya.”
Kali berikutnya dia mengadukan ada yang menerobos rumahnya lalu mengacau. Tidak ada yang hilang, tetapi seisi rumah sengaja dibuat berantakan atau setidaknya ada saja gelas dan piring yang pecah setiap kali rumah ditinggalkan kosong.
Terakhir, orang itu sepertinya sudah habis kesabaran dan nada bicaranya penuh curiga menuntut tanggung jawab Ayah, “Di beberapa tempat muncul genangan air, juga bunga eceng gondok. Kasur anak saya sering basah dan dia tidak mungkin mengompol. Semoga Bapak punya penjelasan karena saya pun telah banyak mendengar cerita orang-orang tentang anak Bapak.”
Setelah orang itu pergi, Ayah hanya duduk terdiam sangat lama seolah pantatnya sudah lekat dengan lantai rumah kontrakan yang dia tempati sendirian. Wajahnya murung, lebih murung dari biasanya.
Aku paham, ingatan yang sengaja ingin dia sisakan adalah semua kebahagiaan kami sebelum kematian Ibu dan Kakak. Kini dia malah semakin terbebani dengan kelakuan burukku, marahku, protesku, bahkan sampai ingatan buruk tentang situ tempatku biasa bermain-main yang justru adalah sebuah pukulan gong penyempurna seluruh kesedihannya.
“Ayah tahu kau tidak akan pernah mau mengerti,” katanya kemudian memecah keheningan. “Maka Ayah selalu bilang turutlah ke mana saja Ayah pergi. Tinggalkan semua, Nak. Cukupkan protesmu, Sayangku. Ayah ingin kehidupan baru. Ayah ingin melupakan rumah kita, pandemi sialan, juga sulur-sulur tumbuhan di situ keparat itu.”
Lalu dia menangis sembari kedua tangannya meraba-raba udara kosong, seperti ingin mendapatkan dan memelukku.
Cigugur, September 2025
Catatan:
[*] Metal Baja, lirik dan judul lagu yang sekaligus jadi judul album terakhir grup musik SAS
- Rumah Protes - 10 October 2025


indarka
tragis, tragis.
keren sekali penulisnya bisa mengatur demikian rapi sebuah rahasia: bahwa “aku” rupanya sudah mati tenggelam di situ (telaga). endingnya juga gong sekali. ayah meraba-raba angin, ingin mendapatkan dan memeluk “aku”.
merinding….
allesyaa
Cerita ini sangat menyentuh dan gelap, menggunakan metafora kuat (kenangan sebagai kanker, rumah sebagai lubang hitam) untuk menyampaikan beban duka yang tak terucapkan. Fokus pada perpindahan emosional dari rumah ke rumah kontrakan, dan pada vandalisme yang mereka alami, dengan cerdik menunjukkan bahwa masalah mereka bukan pada tempat tinggal, melainkan pada trauma yang dibawa.
Leila
Keren.
sembilansembilan
duka yang kelam. rumah yang ditinggalkan memang selalu jadi kenangan, bahkan bagi orang yang dikenang.
Doddy
marvelous
IndySaleky
Ceritanya kerenn
deerae
bagus banget ceritanyaa!!!
Khikmatul Husna
Bagus banget..