Puisi Rio Fitra SY

 

Insinyur Kota Lada

 

Jalan ini hanya menuju

ke suatu tempat. Ke dalam

kaleng biskuit Batavia

di antara sarapan keluarga.

Ke dalam tepuk tangan

gedung sandiwara—akan

kudengar tepuk tanganmu

yang ragu-ragu. Ke sela-sela

bangku pegawai penyalin

surat, atau ke dalam bursa kopi

yang sedang tinggi. Ke dalam

seteguk kecupanmu.

 

Aku duduk menggambar

pola-pola sulaman. Ada keluarga

yang mampu makan

dari pekerjaan menyulam.

Lada tak masuk ke kualimu

pada tahun ketiga setelah

musim tanam. Aku mendengar

decas pedasmu disebabkan

hal yang lain.

 

Aku hanya akan menuju

ke suatu tempat. Ke dalam

sehelai syal India sembilan

puluh dua gulden. Ke dalam

kain flannel Den Haag.

Ke dalam surat-surat salinan

berkelakuan baik.

Ke dalam rumah dagang

yang menambah bendahara.

Ke dalam pekerjaan yang

membutuhkan pelukanmu.

 

 

 

 

Surat 1899

 

Aku terbuat dari surat-surat

yang kautulis dalam kesepian baru.

Aku tak punya mata, tangan, dan

dada yang benar. Dada sebentuk

lubang huruf-huruf belaka.

 

Surat tak punya pintu. Pintu

cuma tahu cara memisahkan

antara luar dan dalam.

 

Barangkali kau akan letakkan

aku di sisi mesin hitung, di tengah

lapangan penjemuran padi, di samping

rumah pelesir, di hadapan kincir patah,

di belakang kedai sabun,

di bawah meja obat.

 

Aku percaya padamu ketika baju

membuka rahasia tubuh, telegram

memangkas kalimat, atau jurus silat

yang lumpuh di hadapan selembar kertas.

 

Tapi, kau lebih percaya keterangan

bertandatangan dokter ketimbang

pelukan ibu yang merawat kesakitan-

kesakitan anaknya yang ditawan

oleh surat-surat gubermen.

 

 

 

Keanehan-Keanehan Baru

 

Aku adalah keanehan-keanehan baru.

Kaki yang pandai memakai sepatu.

Bahasa Belanda di ujung lidah Hindia.

Seorang perempuan yang menjual ikan

di pasar dengan sebuah buku

catatan di tangan.

 

Selembar kertas mampu menjebloskan

aku ke dalam kesepian dan kehilangan.

Tapi, penglihatan di balik kaca matamu

tidak cukup biru untuk menampung

haru laut mataku. 

 

Di sini udara bertambah panas

setiap kali bersalin baju. Kalender cuaca

berangka buruk. Jumlahnya selalu salah

bila dihitung. Seakan menghitung angka

surat kabar yang tak laku dijual.

Kau gapai lampu, padam masa lampau.

 

Jalan gelap pudur lagi bersimpang.

Aku ambil tongkat biar bisa

jatuh di mana saja.

 

 

 

Koofieboomstrat

 

Di Jalan Pohon Kopi itu ada pakansi yang begitu hening.

Orang-orang telah menyelesaikan panen taraf akhir.

Bibirmu kebasahan secangkir Malabar.

“Ini tempat yang tepat untuk merenung jauh,” katamu.

“Sebab kebun-kebun di kota dibisingi peradaban baru.”

 

Aku menghayati ilmu pengetahuan,

tiba-tiba sepi menyerang.

Di sini rindu tumbuh dan tumbang,

seperti orang Sumatera menulis puisi

pada daun kopi yang kemudian mereka seduh tiap hari.

Aku meneguknya dan berusaha menjadi baru

setiap pagi.

Rio Fitra SY
Latest posts by Rio Fitra SY (see all)

Comments

  1. izin komen Reply

    boleh-boleh

    • dinda Reply

      sangat menarik

  2. lia Reply

    sangat bagus aku menghayati

  3. Jesse Reply

    Waww menarik dan sangat bagus

  4. zahra Reply

    bahasanya cantik dan menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!