
Beliau adalah Khujah Muzhaffar bin Ahmad bin Hamdan Abu Ahmad. Allah Ta’ala membukakan pintu makrifat kepadanya di jalur kepemimpinan. Dan hadiratNya memberikan mahkota karomah kepadanya. Beliau begitu fasih menjelaskan apa saja kepada siapa saja.
Beliau juga memiliki ungkapan yang begitu tinggi, ungkapan yang terang sekali, tentang fana, tentang segala sesuatu selain Allah Ta’ala sesungguhnya tidak ada, baik segala isi langit maupun isi bumi. Kenapa segalanya itu disebut tidak ada? Tak lain segalanya berawal dari tiada.
Yang ada cuma siapa? Yang betul-betul ada dan tidak didahului oleh ketiadaan cuma satu. Yaitu, Allah Ta’ala semata. Tidak ada apa pun yang lain. Jadi, kalau ada sesuatu yang kekal, itu semata-mata karena dikekalkan oleh Allah Ta’ala. Surga dan neraka itu dikekalkan dalam konteks ini.
Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan bahwa Allah Ta’ala memasukkan beliau di jalan yang menuju kepada hadiratNya melalui pintu penghambaan, tidak melalui pintu yang lain. Sementara Allah Ta’ala memasukkan Syaikh Muzhaffar bin Ahmad melalui pintu kepemimpinan.
Kedua jalan itu berbeda sekali. Apa yang dilalui oleh Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair tak mungkin bisa dilalui oleh Syaikh Muzhaffar bin Ahmad. Demikian pula sebaliknya. Artinya apa? Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mendapatkan musyahadah atau menyaksikan Allah Ta’ala melalui pintu kesungguhan dalam beribadah.
Sementara Syaikh Muzhaffar bin Ahmad kembali dari musyahadah atau menyaksikan Allah Ta’ala menuju kepada kesungguhan di dalam beribadah. Mengagumkan, mengherankan. Untuk menuju kepada Allah Ta’ala yang meliputi segala sesuatu, ada tidak terhingga jalan dari saking banyaknya.
Sungguh, sangat mengherankan. Agamanya satu, Islamnya satu. Tapi ada tidak terhingga jalan untuk sampai kepada Allah Ta’ala. Padahal Allah Ta’ala bisa disaksikan di mana saja, bisa disaksikan pada apa saja. Tapi kalau hadiratNya tidak menghendaki, tidak mungkin Dia bisa disaksikan di mana saja dan pada apa saja.
Kalau dalam pikiran kita, segala sesuatu bergantung kepada diri kita. Tapi dalam perkara menyaksikan Allah Ta’ala, kita hanya pelengkap penderita, sebagai obyek. Sementara subyeknya, pelakunya adalah Allah Ta’ala. Sedangkan kita hanya sebagai obyek, sebagai pelengkap penderita. Tak lebih.
Ketahuilah bahwa keberadaan seluruh makhluk di alam dunia ini atau di alam yang lain hanyalah pengaruh kecil dari sifat wujud hadiratNya semata. Jelas sekali bahwa Allah Ta’ala itu betul-betul Maha Pengasih kepada seluruh makhlukNya, tanpa pilih kasih. Buktinya, setiap makhluk mendapatkan karunia wujud.
Tidak hanya mendapatkan karunia wujud, tetapi juga menanggung karunia dari perjalanan wujud ini. Kekayaan Allah Ta’ala berarti tidak terbatas, berarti tidak bertepi. Dan seluruh makhluk membutuhkan hanya sebagian kecil dari karunia-karunia tersebut. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu ‘Abdirrahman as-Sullami an-Nisaburi - 2 January 2026
- Syaikh Ma’syuq at-Thusi - 26 December 2025
- Syaikh Muzhaffar bin Ahmad - 19 December 2025

Wyinn
masyaallah