Syaikh Ma’syuq at-Thusi

Nama beliau adalah Muhammad Ma’syuq at-Thusi. Termasuk seorang sufi yang sangat cerdas dan tergila-gila kepada Allah Ta’ala. Di daerah Thus, beliau memiliki kondisi rohani yang sangat prima dan sempurna. Beliau termasuk seorang sufi yang agung. Kuburan beliau juga di sana.

Setelah Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair bertolak dari Mayhanah menuju ke Nisapur, beliau sampai pada salah satu desa di desa-desa Thus, beliau menyuruh murid-muridnya untuk mencari Syaikh Ma’syuq. “Mintalah izin kepada beliau,” kata Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair kepadanya.

Seseorang yang diperintah oleh Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair itu memasang pelana kuda untuk ditunggangi. Kuda itu berjalan mengikuti jejak-jejak Syaikh Abu Sa’id. Dia juga diikuti oleh sahabat-sahabatnya. Setelah sampai pada suatu tempat yang mungkin melihat Thus, kuda Syaikh terdiam.

Ketika orang yang diperintahkan oleh Syaikh Abu Sa’id itu telah sampai, dia menyampaikan surat yang dibawanya. Syaikh Ma’syuq tersenyum. Beliau berkata kepadanya: “Masuklah.” Setelah beliau mengatakan kalimat ini, kuda Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair berangkat dari tempat itu. Beliau juga diikuti sahabat-sahabatnya.

Orang yang diperintahkan oleh Syaikh Abu Sa’id juga datang. Dia bermaksud menyampaikan jawaban Syaikh Ma’syuq. Dari tempatnya itu, Syaikh Abu Sa’id bermaksud untuk sowan kepada Syaikh Ma’syuq. Untuk apa? Tentu saja untuk mendapatkan berkah Allah Ta’ala lewat perantara beliau.

Syaikh Ma’syuq menyambut Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair dengan memeluknya, beliau juga menciumnya. Beliau berkata kepada Syaikh Abu Sa’id: “Istirahatlah di sini. Ilmuku ini, setelah kepergianku nanti, akan diwarisi oleh engkau. Orang-orang akan berbondong-bondong datang ke rumahmu.”

Syaikh ‘Ayn al-Qudhat al-Hamadzani pernah menulis di salah satu suratnya bahwa Syaikh Ma’syuq tidak shalat sebagaimana biasanya. Beliau tidak sadar bahwa beliau tergila-gila kepada Allah Ta’ala. Itulah sebabnya disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah samudera. Sementara para sufi merupakan cangkir-cangkir kecil.

Samudera walaupun dikasih minum oleh berbagai sungai setiap hari, bahkan setiap saat, ia tidak penuh-penuh. Itulah perumpamaan Rasulullah Muhammad Saw. Berbeda dengan cangkir-cangkir kecil: mereka dituangi dengan sedikit air saja sudah meluber-luber.

Artinya apa? Betapa terpukaunya Nabi Muhammad Saw kepada Allah Ta’ala. Tapi beliau tetap sadar, tidak tergila-gila kepada hadiratNya. Beda dengan para wali dan para sufi. Beliau-beliau cepat sekali tergila-gila kepada hadiratNya. Betapa kesadaran itu merupakan karunia yang sangat besar.

Itulah sebabnya para nabi tidak ada yang jadzab. Semua nabi itu sadar. Sebab, bagaimana mungkin mereka akan menuntun umatnya kalau mereka tidak sadar, kalau mereka tergila-gila kepada hadiratNya. Tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!