Puisi Bayu Pratama

Anhedonia

 

ia menggeser kursi ke tepi

kemudian merenung soal kelahiran

 

ia pernah mendengar. air matanya

berwarna ungu – begitu bertemu dunia

 

ia sekali lagi melihat pesta. berdenting

gelas-gelas di antara gelak tawa

 

ia ingin cemas. seperti pintu

terus berderak dipermainkan tamu

 

namun ia telah tumbuh – seperti rumah

bisu yang membatu di antara gulma

 

ia merasa langit tak berguna. bulan tak berguna

sejak tahun-tahun oksikontin menggeser usia

 

ia tahu dirinya berwarna ungu. seperti air mata

rasa hampa yang terus duduk di sampingnya

 

 

Moriendi 

 

Aquinas menulis tentang kematian yang baik

tapi siapa yang sempat belajar. bagaimana mati 

 

dengan lembut

 

lampu-lampu kota berputar. seperti planet 

kehilangan orbit

di kepala orang-orang lelah

 

barangkali eksistensi 

adalah kebiasaan yang sulit 

dihentikan – seperti doa

 

tanpa ujung pangkal

 

segala sesuatu sejatinya debu

menari-nari dalam cahaya

 

 

Veteriner 

: Roy Andersson  

 

baginya dunia adalah ruang 

bagi sekumpulan lelucon  

 

pintu terbuka dengan tanda 

dilarang masuk 

: suara yang bisa menghampiri 

tanpa mengetuk  

 

gigi palsu melumat  

makanan di restoran mahal 

denting stainless steel 

pada porselen  

 

jalan lurus bagi orang-orang. pucat 

menuju matahari yang menyusutkan

 

 

 

Silentii

 

di ruang kata. makna memercayai

dirinya sendiri

 

misalnya suara jam. belajar menyebut 

tuhan tanpa kapital

 

dari dekat jendela. tubuh menyeimbangkan

materi dan perasaan hampa

 

hari-hari tidak menutup pintunya perlahan

tidak ada ambang yang perlu diseberangi

 

tidak ada yang masuk

tidak ada yang keluar

Bayu Pratama
Latest posts by Bayu Pratama (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!