Ini Bukan Khotbah, Ini Pergulatan Batin Manusia

in Rehal by

Judul: Khotbah di atas Bukit

Pengarang: Kuntowijoyo

Cetakan: I, Mei 2017 (terbit pertama kali 1976)

Tebal: 223 halaman

Penerbit: Diva Press

ISBN: 978-602-391-403-6

***

Saya mulai menyukai karya Kuntowijoyo sejak membaca kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga dua belas tahun silam. Bagi saya, karangan Kuntowijoyo memiliki ciri khas yang tidak dimiliki penulis lain. Ia absurd tetapi halus, sederhana, dan mudah dimengerti. Namun saya memiliki pendapat yang sama sekali lain ketika membaca Khotbah di atas Bukit (KdaB). Ia seperti tidak terjangkau oleh nalar saya sehingga dahi saya harus berkerut-kerut membacanya.

Nyatanya, saya bukanlah orang pertama yang menilai novel KdaB terlalu berat. Dalam buku Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya karya Wan Anwar (2007), KdaB yang saat itu masih dimuat sebagai cerita bersambung pada tahun 1971 di harian Kompas, pernah menjadi pembahasan yang hangat. Banyak pembaca mengirim surat dan menuntut agar Kompas menyuguhkan cerita yang lebih ringan seperti Karmila karya Marga T. Sejak itulah Khotbah di atas Bukit makin ramai diperbincangkan. Para sastrawan seperti Sapardi Djoko Damono dan Y.B. Mangunwijaya pun ikut menganalisa tentang novel Kuntowijoyo yang satu ini.

***

 

Khotbah di atas Bukit dimulai dengan perjalanan Barman, seorang kakek tua, dengan Popi, seorang perempuan muda menuju rumah di gunung. Rumah itu adalah hadiah dari anak semata wayangnya, Bobi, dan Barman senang karenanya.

Awalnya Barman menikmati keindahan yang ia dapatkan di hari tuanya. Ia bahkan tidak perlu susah payah berpikir, semua orang berkata begitu; Popi, Bobi, dan dokternya. “Popi, Tante. Jangan biarkan papiku berpikir, ya.” (hlm. 29). Namun takdir mempertemukan Barman dengan Humam, laki-laki yang agak mirip dirinya. Pertemuan itu singkat-singkat saja namun menancapkan kesan mendalam dalam hati Barman. Ia terus merenungkan kata-kata penuh makna yang keluar dari mulut Humam. Salah satunya adalah, “Kesendirian adalah hakikat kita, he.” (hlm. 59).

Barman mulai senang berjalan sendirian tanpa Popi. Bahkan ia semakin gemar bertualang sendiri setelah Humam meninggal. Ia berkeliling mengamati orang-orang dan bertanya apakah mereka berbahagia. “He, berbahagiakan engkau?” Orang-orang mulai mengikutinya dan mengharapkan jawaban. Mereka berharap Barman berkata lebih lanjut untuk menyiram hati mereka yang kering tanpa kebahagiaan. “Kita tidak berbahagia. Itu menderita. Adapun penderitaan itu meliputi kita. Menyelubungi, sampai matamu tak melihatnya.” (hlm. 188).

Barman pun sudah mengambil keputusan, sesuai dengan wahyu yang keluar dari mulutnya sendiri di atas bukit. Katanya kepada orang-orang itu, “Hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan!” Pada akhirnya keputusan atas nasib orang-orang itu tetap ada pada diri mereka sendiri. Barman tidak pernah bisa mencampuri kecuali hati dan urusannya.

***

Saya melihat novel ini menceritakan tentang pergulatan batin manusia. Seperti biasa, Kuntowijoyo selalu menyatukan dualisme seperti tokoh kakek yang dipasangkan dengan tokoh kanak-kanak, atau perempuan muda seperti pada novel KdaB ini. Si Barman tua seharusnya merasa senang dengan kenikmatan hidup yang sama seperti masa mudanya dulu. Setelah bertemu Humam, ia seolah tersadar dari tidurnya kalau semua hal yang telah ia lakukan ini adalah sia-sia belaka.

Humam bagaikan seorang guru yang dikirimkan kepada Barman. Seperti Nabi Khidir kepada Nabi Musa, Siddhartha Gautama kepada muridnya, atau lain-lainnya. Ia mengajak Barman untuk merenungi kehidupan yang lebih abadi. Humam lebih senang mengumpamakannya sebagai kelahiran kedua.

Alam ialah yang mahabesar. Kita hanya bagian-Nya. Jangan sedih atau gembira. Kembalilah ke sana. Ia akan menerima kehadiranmu.” (hlm. 69)

Pengetahuan baru yang Barman dapat dari Humam meyakinkannya bahwa kematian adalah kelahiran baru dan kebebasan sejati, semurni-murninya. Sampai di sini sepertinya Kuntowijoyo ingin menyampaikan bahwa kehidupan dunia tidak ada yang kekal, dan hanya kematianlah satu-satunya hidup yang abadi.

Terlepas dari berbagai kritik yang meramaikan, Khotbah di atas Bukit patut disejajarkan dengan novel sastra jempolan lainnya. Y.B. Mangunwijaya dalam satu artikelnya di Berita Buana, 2 Desember 1986, membandingkan novel ini dengan novel Rumah Perawan karangan Yasunawari Kawabata. Kedua kisah itu sama-sama menggetarkan walaupun memang berbeda jalan cerita. Sri Rahayu Prihatmi, dalam tulisannya di Kompas, 13 Oktober 1971, bahkan menyamakan kegelisahan dalam KdaB dengan kegelisahan dalam Menunggu Godot karya Samuel Beckett (Wan Anwar, 2007).

Khotbah di atas Bukit memang tidak populer seperti Karmila. Karena tujuan Kuntowijoyo bukanlah untuk membuat pembaca termehek-mehek atas nasib cinta yang buruk. Ia mengajak para pembaca untuk merayakan kehidupan dengan merenungi dan menikmatinya. Seperti kata Humam, “Engkau mesti belajar dari hidup ini.”

Fadhilatul Muharam

Fadhilatul Muharam

Seorang ibu rumah tangga yang senang membaca.
Fadhilatul Muharam

Latest posts by Fadhilatul Muharam (see all)