
Pada suatu hari di bulan Oktober yang pengap dan gumpalan-gumpalan udara panas bergiliran keluar-masuk lubang hidungnya, ia berjanji untuk membiarkan perasaan-perasaan mengisi setiap jengkal rongga tubuhnya dan tak akan tergesa-gesa mengusirnya. Ia tidak akan lagi melawan ataupun pura-pura tak mendengar rengekan-rengekan di dalam dirinya. Begitulah yang ia baca pada sebuah artikel majalah minggu lalu, bahwa emosi dan perasaan-perasaan itu baru akan pergi kalau diberikan ruang dan ia, selaku pemiliknya, tak lagi melawan.
Sebagai akibatnya, sejak pagi tubuhnya terus saja terasa sakit. Perasaan-perasaan itu membuat setiap jengkal tubuhnya pegal dan nyeri: leher, tengkuk, otot lengan, otot paha. Dadanya kadang terasa ngilu, kadang pula terasa kosong, tapi tetap saja menyakitkan meski rasanya tak ada apa-apa di sana. Udara panas di sekitarnya pun tak membantu. Ia merasa seperti terkurung dalam sebuah toples kecil tanpa lubang udara, padahal rumahnya cukup luas dan punya banyak jendela.
Yang lebih tak mengenakkan lagi, ingatan-ingatan turut kembali—tapi ia tak akan mengusirnya karena telah berjanji. Kalau tak dirasakan, emosi yang datang dari ingatan itu akan datang lain kali, begitu terus tanpa berhenti, kata-kata dalam artikel berputar-putar bagai spiral di dalam kepalanya yang sudah penuh dengan memori.
***
Di kota tempat tinggalnya, Oktober harusnya sejuk dan basah. Setiap hari, orang akan marah-marah karena hujan tiba-tiba saja dapat menyerbu kala mereka berada di luar rumah. Mereka lupa, berbulan-bulan sebelumnya mereka berharap musim hujan lekas datang. Namun, Oktober beberapa tahun terakhir tak berjalan seperti itu. Oktober-Oktober tipe baru ini sudah sulit dibedakan dengan Juni yang panas dan kering. Mungkin karena siklus alam semakin kacau dan manusia juga turut andil.
Oktober satu tahun yang lalu, ia memutuskan berterus terang kepada Dru.
Ia kaget mendengar pengakuannya sendiri. Ia sempat mengira Dru tak akan berkata apa-apa, seperti biasanya. Tapi tentu saja ia bodoh jika mengira begitu. Pastilah kali ini Dru akan murka. Ia bisa melihat itu dari kedua rahang Dru yang mengeras. Memangnya siapa yang senang kalau dikhianati?
Dru menatapnya, tajam dan penuh penghakiman. Lelaki itu bertanya, kenapa?
Ia tak tahu cara menjawabnya. Ia tak tahu caranya mengakui kalau ia sudah ingin tidur dengan R sejak mereka bertemu di sebuah acara reuni dan R bertanya: Kamu baik-baik saja? Kamu tidak apa-apa?
Tidak ada yang pernah bertanya begitu kepadanya. Ia malu mengakui ia ingin tidur dengan seorang lelaki hanya karena alasan remeh semacam itu. Bukankah itu justru membuatnya tampak lebih menyedihkan? Atau sebenarnya tidak? Sampai saat ini pun ia tak betul-betul mengerti.
***
Ia bertemu dengan R di acara reuni SMA. Sesungguhnya ia tak ingin datang. Berada sendirian di antara terlalu banyak orang terkadang membuatnya merasa seolah akan tenggelam. Ia memutuskan datang karena Dru berjanji akan mendampinginya. Dru akan menyelesaikan pekerjaannya lebih dahulu dan mereka berjanji untuk bertemu di teras depan gedung pertemuan.
Namun, saat ia telah sampai, ponselnya berbunyi. Dru bilang kepala divisinya mengajak makan malam bersama. Tidak ada maaf, tidak ada pertanyaan apakah tak apa-apa jika ia datang sendirian. Hanya bunyi kesunyian setelah telepon dimatikan.
Tapi Dru memang tak pernah meminta maaf untuk ketidaknyamanan apa pun yang terjadi di antara mereka. Entah itu ketika Dru mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya, atau ketika lelaki itu kelihatan tak berminat mendengarkan apa pun yang ingin ia ceritakan.
Tentu saja ia paham kalau Dru punya banyak urusan dan sebenarnya ia pun telah terbiasa bicara pada dirinya sendiri. Dirinya pun sudah terlatih menanggapi dengan luwes, seolah sedang menanggapi orang lain. Bukankah begitu cara orang-orang beradaptasi dengan rasa sepi? Mereka belajar berbicara dengan dirinya sendiri.
Tetap saja, sebait maaf rasanya akan begitu menyenangkan—melegakan. Setidaknya itu akan membuatnya tak terlalu merasa tak kasat mata di hadapan Dru.
***
Ia baru saja akan pergi dari acara reuni itu ketika seorang teman perempuannya menyadari kedatangannya dan menariknya masuk. Ia tak bisa kabur lagi. Sehabis si teman perempuan meninggalkannya, ia terjebak di sudut aula, merasa sesak dan tak bisa bergerak. Percakapan, tawa, dan riuh tubuh-tubuh di hadapannya seolah benar-benar akan menenggelamkannya ke dasar lautan.
Saat itulah R datang, teman lelakinya semasa SMA, muncul bagai selembar kartu yang pernah dilihatnya di antara kartu-kartu kenangan masa lalunya. Anak lelaki pendiam yang selalu menjadi latar belakang di antara sosok-sosok lain yang lebih mencolok.
Ia menatap kerumunan di hadapannya, tak ada satu pun yang mencari tahu keadaannya. Tak ada satu pun yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Tidak pula dengan Dru selama ini.
Hanya R yang bertanya seperti itu, saat menemukannya bagai tikus yang hampir mati kehabisan napas.
“Ayo keluar. Kau sepertinya kekurangan oksigen,” ujar R seraya menggandeng tangannya, dan ia merasa baru saja terselamatkan.
***
Salah satu serangan paniknya terjadi saat ia dan Dru sedang berkendara menuju pernikahan seorang teman mereka. Tiba-tiba saja rekan sekantor Dru menelepon. Ia berkata ada sesuatu yang urgent. Dru diminta datang ke kantornya sesegera mungkin.
Ketika Dru menambah laju mobilnya, jantungnya seperti akan berhenti. Tanpa sadar dipegangnya erat jok tempatnya duduk. Ia memohon pada Dru untuk tak mengebut. Dru berkata kalau segalanya aman dan ia akan berhati-hati. Tapi ia merasakan betul mobil mereka meliuk cepat di antara kendaraan lain yang sedang melaju. Jantungnya mulai berdebar kencang dan ia merasa makin sulit bernapas. Dru terus saja fokus menatap ke depan tanpa sedikit pun memedulikannya, sedangkan ia mulai memejamkan matanya rapat-rapat, berdoa agar segalanya lekas berlalu.
Saat kendaraan mereka berhenti, ia membuka mata. Mereka telah sampai di halaman depan kantor Dru. Ia lekas memegang dadanya demi menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang. Di kaca spion, dilihatnya bayangannya: megap-megap seperti ikan mas terdampar di luar akuarium, sementara dahinya basah oleh keringat.
Detik itu ia mengira akan mendengar Dru bertanya, apakah ia tak apa-apa? Maaf, ya, sudah membuatmu panik dan cemas. Betapa ingin ia melihat Dru memastikan kalau ia baik-baik saja. Betapa akan sangat berartinya hal itu untuknya. Setidaknya kali itu saja.
Dru melirik sejenak padanya, “Kamu selalu saja mudah panik. Anggap saja shock therapy supaya kamu tak gampang panik, ya.” Lelaki itu tertawa kecil sebelum kemudian memintanya menunggu sebentar dan berlalu ke dalam gedung kantornya.
Lalu ia pikir, mungkin memang lebih baik jika Dru tak mengatakan apa pun sama sekali.
***
Ketika sedang bercerita kepada Dru, ia selalu merasa seperti sedang bercerita pada tembok yang sangat tebal. Segala rasa sakit yang tadinya telah keluar akan memantul dengan sangat keras dan kembali melesak masuk ke dalam dadanya. Dru ada bersamanya, tapi entah kenapa ia merasa sendirian.
Dru tak pernah tahu kalau perasaan-perasaan itu tak pernah pergi. Setiap hal yang diceritakannya dan tak didengar oleh Dru terus berdesakan di dalam dirinya. Ia mengabaikan teriakan-teriakan itu, karena merasakannya berarti menerima segala rasa sakit yang datang bersamanya.
Ia menenggelamkan semua perasaan itu dengan cara yang persis sama seperti ketika keramaian menenggelamkannya: mendesaknya ke sudut paling terpencil di dalam dirinya.
***
Di kamar hotel mereka, ia menyodorkan untaian benang berisi cerita-ceritanya dan R merajutnya.
Sewaktu umurku tujuh tahun, seorang pengasuhku melukai tanganku dengan pisau. Aku tak pernah mengadukannya pada orang tuaku.
Sewaktu kelas 2 SMP, dadaku dipegang teman lelakiku. Temanku yang lain bilang kalau aku suka itu dan aku menangis. Aku tidak suka tapi tak tahu harus bagaimana.
Setiap kali satu lembar rajutan selesai, R akan melemparnya ke luar jendela kamar hotel mereka. Rajutan itu lalu pupus menjadi abu hingga embusan angin malam membawanya. Setiap kali R mendengarkannya, sebongkah batu di dadanya meluruh hingga ia tak terlalu merasa sesak lagi.
Suatu kali, bulan purnama tampak di langit. R bilang bayangan di bulan adalah seorang nenek yang juga sedang merajut, tapi rajutan itu tak pernah selesai karena selalu ada seekor tikus yang memakannya.
“Si nenek itu tak tahu?” tanyanya.
“Si nenek tak tahu dan kita harus memakluminya karena ia sudah tua.” R berkata begitu sambil menghidu helaian rambutnya. Tangan R mengalir bagai air ke pinggangnya. Jika si nenek tahu dan rajutan itu pada akhirnya selesai, konon kiamat akan segera tiba, bisiknya lagi sebelum mereka kembali menjatuhkan diri ke atas ranjang.
***
Saat ia berusia sembilan tahun, ia melihat pesan-pesan tak bernama di ponsel ibunya. Pesan yang selalu disertai kata sayang, tapi bukan dikirim oleh nomor ayahnya. Ia bertanya tentang pesan-pesan itu kepada ibunya.
“Itu teman Ibu,” jawab perempuan itu. Ia bingung, teman apa yang memanggil temannya ‘Sayang’ berkali-kali? Ia punya firasat buruk tentang pesan-pesan itu. Setiap kali pesan semacam itu masuk dan ibunya tak tahu, ia membalasnya: Salah kirim, Bodoh! Jangan ganggu kita! Jangan kirim pesan lagi!
Pesan-pesan itu membuatnya kesal. Ia lebih kesal lagi melihat ibunya diam-diam berteleponan di kamar sambil cekikikan ketika ayahnya sedang asyik menonton TV. Ia merasa kasihan pada ayahnya. Kenapa ibunya berteleponan dengan orang lain seperti itu di belakang ayahnya?
Meski begitu, orang tuanya tak pernah berpisah. Mereka terus bersama hingga ayahnya dipanggil Tuhan delapan tahun lalu. Ibunya juga belum pernah menikah lagi hingga kini. Belakangan ini ia kembali mengira-ngira, apa yang sesungguhnya terjadi saat itu?
***
Sewaktu ia kecil, ayah dan ibunya bekerja dari pagi sampai malam hari hingga ia sering dititipkan pada pengasuh. Pengasuhnya ada banyak dan berganti-ganti. Ketika ia duduk di semester tiga perkuliahan, ia mendengar kabar bahwa seorang pengasuhnya—salah satu yang sangat lembut dan baik terhadapnya—meninggal dunia. Saat itu, ia tak sedikit pun merasakan kesedihan.
Ia baru merasa sedih hari ini, ketika ia sedang membiarkan perasaan dan ingatannya menari-nari dan rasa sakit berpindah-pindah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain. Ketika udara panas Oktober membuat keringatnya tak berhenti mengalir, lalu ia berpikir sungguh sebuah ide yang bagus untuk menikmati segelas teh dengan banyak es batu.
Ia baru merasa patah hati ketika sedang menuangkan sedikit air panas untuk menyeduh teh. Ia melihat warna cokelat kemerahan merembes perlahan ke segala arah dalam beningnya air di dalam gelas, seperti darah.
Ingatan pertamanya tentang darah, yaitu ketika pengasuhnya melukai punggung tangannya dengan pisau dapur saat ia merengek tentang sesuatu. Bukan pengasuhnya yang meninggal, tapi pengasuhnya yang lain. Pengasuhnya yang sudah meninggal dunia itu sangat baik—mungkin itu alasan kenapa ia cepat dipanggil Tuhan.
Ia ingat, seperti tanah musim kemarau yang retak, kulitnya merekah. Dari rekahan di kulitnya keluarlah cairan kental berwarna merah pekat. Ia begitu terpana sampai rasa perih yang timbul darinya pun terlupakan.
Si pengasuh lekas membawanya keluar. Mereka berlari ke semak tanaman kembang sepatu di samping rumah. Dengan gelisah, si pengasuh mencabut beberapa helai daun kembang sepatu dan tanpa ragu segera mengunyahnya. Daun hasil kunyahan itu dikeluarkan begitu saja dari mulut, lalu ditutupkan pada rekahan luka di punggung tangannya. Ia hanya bisa diam dan melongo menyaksikan apa yang dilakukan pengasuhnya.
Luka itu pada akhirnya dibersihkan dan ditutup dengan perban. Saat ibunya bertanya, ia hanya bilang jatuh dari sepeda. Ia tak mengatakan hal yang sebenarnya karena tak tega kalau pengasuhnya itu dipecat. Ia sering memergoki pengasuhnya menangis karena rindu pada orang tuanya di kampung, tapi tak bisa pulang karena butuh uang.
***
Pada saat ibunya menyadari keberadaan segaris bekas luka di atas punggung tangannya yang jelas-jelas adalah hasil irisan benda tajam dan bukannya luka karena jatuh dari sepeda, si pengasuh sudah tak lagi bekerja di sana. Ibunya berkata kalau ia bodoh karena tak mengadu dan karena ia tak mampu membedakan antara kebaikan dan kebodohan. Ia berkata kalau ibunya yang bodoh karena terlalu sibuk, sampai tak tahu kalau anaknya dilukai. Ibunya dengan lekas menamparnya.
Kini ia menatap bekas luka berbentuk garis di atas punggung tangannya. Tiba-tiba ia teringat pada sebuah ironi dan tertawa kecil. R pernah mengecup lembut bekas luka itu pada salah satu malam kebersamaan mereka setelah ia menceritakan asal-usul bekas luka itu padanya. Sedangkan Dru bahkan sama sekali tak pernah tahu sejarah bekas luka itu.
***
Oktober satu tahun yang lalu, tepatnya satu minggu setelah ia menerima sebuah telepon yang mengabari tentang R, ia memutuskan untuk berterus terang tentang lelaki itu pada Dru.
“Aku bisa memaafkanmu, tapi itu perlu waktu.” Begitu perkataan Dru kepadanya setelah pengakuannya yang mengagetkan.
Kemudian ia berkata kalau ia tidak minta maaf. Ia hanya ingin memberi tahu segalanya sebelum memutuskan pergi.
Dan itulah yang ia lakukan keesokan paginya. Ia pergi meninggalkan Dru.
***
Saat jarum jam menunjuk pukul lima tiga puluh sore, udara telah semakin mendingin dan kelegaan perlahan mulai mengisi setiap sudut rongga dadanya. Berbagai rasa sakit yang dirasakannya sejak pagi pun telah mereda. Meski begitu ia tahu, rasa sakit dan berbagai ingatan pahit masih akan mengunjunginya lagi. Kita hanya mampu memberi ruang di tubuh kita bagi rasa sakit dan ingatan. Namun, pada akhirnya mereka baru akan pergi ketika sudah waktunya, ketika kita telah bisa melepaskan segalanya, kembali diulanginya isi artikel itu.
Dari jendela rumahnya, dilihatnya sekeping bulan berwarna pucat mulai menampakkan diri di langit.
Ia senantiasa mengingat kisah yang R ceritakan tentang nenek yang sedang merajut di bulan setiap harinya. Ia selalu menghitung setiap lembar rajutan yang mereka buang keluar jendela dan yang pupus menjadi abu. Ia selalu mengingat segalanya, termasuk hari terakhir janji temu mereka. Saat ia menunggu di kamar hotel dan ponselnya berbunyi. Telepon dari seseorang yang mengabari bahwa R tidak akan pernah bisa datang. Beberapa jam sebelumnya, sebuah truk yang hilang kendali menabrak mobil yang R kendarai.
Saat itu, ia hanya bisa menatap hampa pada tumpukan benang di tangannya: cerita-cerita yang tadinya akan kembali R rajut menjadi selembar kain dan yang akan bersama-sama mereka lempar ke udara. []
- Satu Hari Oktober yang Pengap - 10 July 2026
- “INGATAN BUGENVIL” - 5 December 2025
