SYAIKH LUQMAN AS-SARKHASI #2

Menurut Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair semua jama’ah tertidur di khaniqah, sementara pintu khaniqah dikunci dari dalam. Beliau bersama dengan Syaikh Abi al-Fadhl duduk di sebuah reruntuhan. Beliau berbicara tentang makrifat. Lalu, beliau berhadapan dengan persoalan buntu.

Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair melihat dengan mata kepala sendiri seseorang yang terbang dari atas bubungan khanaqah sebagaimana burung terbang. Ternyata yang terbang itu adalah Syaikh Luqman as-Sarkhasi. Beliau duduk di dekat Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair.

Beliau menguraikan kesulitan di bidang makrifat yang dijumpai oleh Syaikh Abu al-Fadhl tadi. Beliau terbang lagi dan hinggap di sebuah hubungan khaniqah. Beliau berjalan di atas bubungan itu. “Apakah kau melihat martabat atau kedudukan Syaikh Luqman as-Sarkhasi?” tanya Syaikh Abu al-Fadhl kepada lawannya, Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair.

Yang ditanya menjawab: “Ya, aku melihatnya.” Beliau mengatakan bahwa tidak boleh mengikuti beliau begitu saja. Kenapa tidak boleh? Karena kita tidak memiliki ilmu sebagaimana beliau. Itulah sebabnya orang yang termabuk-mabuk kepada Allah Ta’ala tidak boleh diikuti. Titik.

Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair pernah ditanya oleh orang-orang: “Siapakah yang cerdes sekaligus lucu di Sarkhas?” Orang yang ditanya itu menjawab bahwa orang yang paling cerdas dan lucu adalah Syaikh Luqman as-Sarkhasi. Mereka semua menyatakan: “Subhanallah, di kota ini tidak ada orang yang lebih cerdas melebihi beliau.”

Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan: “Kalian tahu makna cerdas? Kalau kalian tidak tahu, baiklah saya katakan bahwa cerdas itu adalah tidak memiliki “hubungan” dengan apa pun. Satu-satunya hubungan yang paling kuat dan paling sublim adalah hubungannya dengan Allah Ta’ala. Tidak dengan surga. Tidak dengan neraka. Tidak dengan apa pun.

Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan bahwa dirinya berada di Sarkhas di rumah Syaikh Abu al-Fadhl bin Hasan ketika seseorang datang dan mengatakan bahwa si gila itu sakit keras. Beliau tahu persis bahwa si gila itu tak lain adalah Syaikh Luqman as-Sarkhasi, bukan orang lain.

Menanggapi pernyataan orang itu bahwa Syaikh Luqman as-Sarkhasi sakit keras, Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan: “Tolong bawakan aku ke ribatnya Fulan. Hari ini, sudah tiga hari beliau berada di sana dan tidak berbicara. Sekarang, pergilah sebagian kalian ke rumah Syaikh Abu al-Fadhl dan katakan bahwa Syaikh Luqman as-Sarkhasi telah pergi.”

Setelah Syaikh Abu al-Fadhl mendengarkan berita menyedihkan tersebut, beliau menyatakan bahwa beliau akan pergi ke sana. Bersama orang-orang, beliau masuk menemui Syaikh Luqman as-Sarkhasi. Setelah dilirik oleh Syaikh Luqman, beliau tersenyum.

Syaikh Abu al-Fadhl meletakkan diri di dekat kepalanya. Sementara Syaikh Luqman as-Sarkhasi memandang dirinya. Nafas beliau keluar dalam keadaan hangat. Beliau tidak menggerakkan kedua bibirnya. Salah seorang jama’ah mengatakan: “La ilaha illallah.”

Syaikh Luqman as-Sarkhasi tersenyum. Beliau berkata: “Wahai pemuda, aku akan keluar. Aku akan berpisah dengan kalian.” Beliau tetap dalam ketauhidan. Tetap cintanya meluap-luap kepada Allah Ta’ala. Syaikh Abu al-Fadhl mengatakan bahwa beliau telah wafat. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!