
Sulit bagi saya memahami takdir yang sedang berlaku. Kami bertemu delapan tahun yang lalu, saling jatuh cinta, menikah tiga tahun setelahnya, hingga akhirnya saya tidak dapat menahan diri untuk menggugat cerai. Saya tidak tahan lagi. Hati saya remuk, dan setahun terakhir ini adalah yang paling remuk. Berkali-kali mendesaknya mengucapkan kalimat talak, saya justru makan hati sendiri. Menanggapi desakan saya, ia sering hanya bergeming, dan jika perasaannya sedang baik, ia berkata, “Apa kau benar-benar tidak mencintai saya lagi?”
Itu kalimat klise, dan saya melengos atas kalimat itu, berusaha untuk pura-pura tidak peduli lagi. Lalu, tanpa saya duga, kali ini ia berkata, “Dengar, saya sedang tidak punya cukup uang untuk mengurus administrasi di pengadilan, belum lagi membayar pengacara.”
“Pokoknya ceraikan saya! Titik.” Saya menyadari ada titik-titik basah yang menggenangi pelupuk mata.
“Mau urus perceraian pakai apa? Memangnya kau mau menjual sisa pekaranganmu di Madiun yang tinggal dua meter itu?”
Saya memang punya sedikit pekarangan di pedalaman Madiun, kampung halaman saya. Ya, sepanjang dua meter, dalam artian sebenarnya. Tanah tersebut adalah warisan mendiang ayah saya. Saya telah menjualnya untuk menutup kebutuhan rumah tangga kami dan sengaja menyisakan ukuran panjang dua meter dan lebar satu meter untuk kuburan saya kelak. Hal itu mungkin berlebihan, namun saya perlu berjaga kalau-kalau ruang di pekuburan benar-benar tidak bersisa untuk sekadar menampung mayat saya, atau, pada kemungkinan lebih buruk, area pekuburan akan diratakan sebelum disulap jadi gedung-gedung megah. Maka, sudah sepatutnya saya menyiapkan area pekuburan saya jauh-jauh hari.
Jadi, dengan demikian, saya tidak akan menjual sisa pekarangan tersebut, apa pun yang terjadi. Dan dengan demikian, usaha saya untuk mendesaknya menceraikan saya, sekali lagi, gagal.
Saya menganggap rumah tangga kami adalah satu contoh rumah tangga yang gagal, dan anehnya, kami gagal bercerai.
—
Wak Gono menemukanku melahap pepaya di kebunnya. Aku yang masih menanggung lapar dan terpisah dari keluarga tak sanggup mengerahkan tenaga untuk melawan. Tanpa kutahu, sorot matanya yang tajam adalah perangkap paling awal. Ia bersembunyi sedemikian rupa hingga aku tidak menyadari. Sialnya lagi, ia telah mempersiapkan perangkap lain berupa jalinan kawat yang tidak cukup kokoh, namun nyatanya dapat mengurungku. Tak ada kesempatan bagiku melarikan diri, dan sejak saat itu aku kehilangan kontak dengan alam bebas. Wak Gono menjadikanku binatang piaraan.
Aku kemudian dimasukkan ke dalam kandang lebih besar, jadi tontonan anak-anak, dan menjadi bagian dari keluarga Wak Gono. Aku kemudian tahu, Wak Gono menyayangiku seolah aku adalah cucunya.
“Habiskan pepaya ini, anak manis. Cucu-cucuku tidak suka makan pepaya yang langsung dipetik dari kebun. Entah mengapa mereka lebih suka makanan dari restoran cepat saji.”
Wak Gono memberiku nama Pandan. Nama yang bagus, kupikir. Aku tak akan ke mana-mana lagi, sebab selagi bersama Wak Gono, hidupku aman sentosa. Aku tak perlu merisaukan jatah makan. Sayuran dan buah-buahan segar adalah jatah harian untukku, dan sepekan sekali Wak Gono tidak lupa menyediakan kepala ayam sebagai suplemen.
Demikianlah yang terjadi. Hingga suatu hari, karena satu musibah yang tak diharapkan, aku terpaksa berpisah dengan Wak Gono.
—
Tidak. Ia tidak melakukan kekerasan apa pun selama kami hidup bersama. Ia bahkan sekuat hati menahan diri dari berkata kasar begitu tahu saya melakukan kesalahan. Ia adalah sosok pria penyayang dan bertanggung jawab. Setelah diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik logam, ia rela berkeliling dari kampung ke kampung. Ia mengamen, meski sadar suaranya tidak cukup merdu.
“Ini semua demi kau, Sekar. Saya tidak boleh membiarkanmu kelaparan,” ucapnya kepada saya di suatu malam.
Lalu, mengapa saya repot-repot menggugat cerai? Apakah karena ia pincang? Demi Tuhan, tidak. Saya tidak keberatan dengan kakinya yang pincang. Benar, ia pincang, tak lagi dapat berjalan normal karena satu musibah setahun yang lalu. Siang itu, sebelum jam berangkat mengamen, ia pulang dari pasar di mana ia membeli kepala ayam. Seorang pengendara ugal-ugalan menyerobot kakinya dan langsung kabur tanpa seorang pun dapat mengejar.
Alih-alih geram, ia justru pulang dengan sesungging senyum. Di depan saya, ia menoleh ke arah si musang yang berada di kandang. Sambil mengulurkan kepala ayam ke si musang, ia berkata, “Lihat kaki saya, Pandan. Ini kenang-kenangan pengorbanan saya untukmu.”
—
Wak Gono kehilangan pijakan saat turun dari pohon kelapa. Suara jatuh dua kelapa yang dipetiknya disusul oleh suara ketiga: bunyi tubuh Wak Gono yang jatuh berdebam. Bunyi krak dari tulang belakang menyusul, membikin nasib Wak Gono berubah di sisa usianya. Ia jadi lumpuh, tak bisa mencarikan makanan atau sekadar menggendongku.
Beberapa waktu kemudian, setelah melalui rapat keluarga disertai pertimbangan dua anak dan dua menantu Wak Gono, aku dititipkan ke pasangan suami-istri bernama Agung Waluyo dan Sekar Arum. Itu mungkin baik bagiku, sebab dua anak dan dua menantu Wak Gono tidak punya waktu untuk merawat musang.
“Berjanjilah, kau akan merawat musang ini dengan penuh cinta,” ucap Wak Gono saat menyerahkanku kepada Agung Waluyo.
Agung Waluyo mengangguk. Saat berjalan pulang, ia terus mengajakku bicara, memberitahuku nama-nama binatang dan tumbuhan yang kami papasi di sepanjang jalan. Ia lalu menggendongku dan membelai-belai bulu di tengkukku setiba di rumah.
Sekar Arum pun menunjukkan cintanya kepadaku. Ia senang dengan aroma pandan yang menguar dari tubuhku. Ia menciumi dahiku, membelai dan menggelitiki pinggangku, dan dengan demikian aku kembali merasa aman.
“Ia sangat lucu dan jinak. Kita tidak akan kesepian lagi,” ucap Sekar Arum tanpa menyembunyikan kegembiraannya.
“Siapa tahu, lantaran merawat musang ini, kita akan memiliki anak. Ya, siapa tahu,” ucap Agung Waluyo.
Aku turut berbahagia di dalam kebahagiaan mereka. Diam-diam aku ikut melayangkan doa bersama harapan mereka. Aku adalah bagian dari mereka. Ya, dan jika boleh berkata lagi, aku adalah anggota keluarga di rumah sempit yang hampir menyerupai gudang ini.
“Kami mencintaimu, Pandan. Baik-baiklah kau. Rumah kami mungkin tak semegah rumah Wak Gono,” ucap Agung Waluyo.
Aku tidak keberatan. Aku bahagia belaka. Lagi pula, untuk apa melayangkan keberatan? Toh, rezeki tiap makhluk sudah dijamin.
Selang beberapa waktu, aku melihat Agung Waluyo pulang dari pasar dengan kaki pincang. Ia tersenyum, kepadaku dan kepada Sekar Arum. Melihat itu, Sekar Arum menangis dan memeluk suaminya. Aku seperti ikut merasakan nyeri di kaki Agung Waluyo, namun apa boleh buat, aku tidak mampu mengobatinya.
—
Saya menyayangi Pandan, namun saya turut mengkhawatirkan kesialan yang mungkin menimpa kami. Setelah Wak Gono jatuh dari pohon dan berakhir lumpuh, giliran suami saya yang terserobot sepeda motor dan pincang. Saya berpikir, menimbang, merenung, bertanya-tanya tentang keberadaan Pandan dan makna kesialan. Saya tidak menemukan jawaban.
Saat menjemur kasur di luar rumah, saya melihat seekor ular besar, mungkin dari jenis Piton, melintas. Ular tersebut menghampiri saya, membikin bergidik, namun saya tak sanggup meneriakkan kata minta tolong. Saya membeku, dan ular itu terus melintas, meninggalkan saya yang membeku. Saya kemudian melihat ular tersebut menghampiri Pandan, meliuk-liuk, menjulurkan lidah, lalu pergi tanpa pernah kembali.
“Tak apa. Piton itu mungkin teman Pandan,” jawab suami saya ketika saya menceritakan kejadian itu sepulang ia mengamen.
Saya tidak yakin dengan kalimatnya, sebagaimana ia tampak tidak yakin dengan kalimatnya sendiri.
“Itu mungkin pertanda buruk,” kata saya.
“Sudahlah. Sebaiknya kau ambil air wudu dan sembahyang.”
Saya diam sejenak, menoleh ke Pandan, mengamati tingkah-polahnya ketika melahap kol dan pepaya.
“Saya sudah sembahyang. Ngomong-ngomong, bagaimana hasilmu mengamen hari ini?”
“Lumayan, cukup untuk kita makan. Tapi kita belum bisa jadi orang kaya.”
“Tak apa.” Saya mendengus sebelum melanjutkan, “Dulu, saat kakimu tidak pincang, kau bisa memperoleh lebih banyak.”
Ia tak menjawab, hanya tersenyum dengan mata memandang warna malam. Saya dapat merasakan senyum itu mengandung kegetiran.
—
Pagi-pagi sekali Agung Waluyo membangunkanku, menyemprotkan air dari selang, lalu menyabuni sekujur tubuhku dengan sabun khusus. Aku merasa jadi lebih anggun, mungkin juga lebih cantik.
“Kita akan jalan-jalan ke pasar. Kau tak boleh nakal.”
Setelah mengeringkan tubuhku, ia mencium Sekar Arum yang tengah sibuk menumbuk cabai, bawang putih, dan terasi.
“Duh, bau terasi,” selorohnya begitu saja sebelum telunjuknya mengarah ke tubuhku. “Ini baru bau pandan dan wangi sabun.”
Sekar Arum berpura-pura sebal, lalu mencubit pinggang suaminya. Agung Waluyo mengaduh sebentar, lalu berlari keluar, dan melambaikan tangan.
Tanpa ragu aku mengikuti langkah kakinya yang pincang. Saat tiba di jalan raya, ia memanggul tubuhku. Sungguh, ia tidak perlu melakukannya. Aku bisa berjalan sendiri meskipun kian hari bobot tubuhku kian bertambah. Aku justru khawatir jika ia jatuh pingsan hanya gara-gara menggendongku.
Di pasar, aku jadi tontonan banyak orang. Beberapa orang melihat dengan takjub, beberapa yang lain merasa geli akan kehadiranku.
Seseorang yang kenal dengan Agung Waluyo, yang memiliki bentuk kepala seperti buah nanas, berbasa-basi ingin membeliku. Ia mengaku punya musang jantan dan bermaksud menjodohkanku dengan piaraannya itu.
“Tidak sekarang. Saya belum mau menjual musang cantik ini,” jawab Agung Waluyo.
Aku merasa lega. Dan, perlu kuakui bahwa aku senang dengan pengalaman berbelanja ini.
Setelah memperoleh satu kilogram kepala ayam, Agung Waluyo membawaku berjalan-jalan sebentar. Kami berhenti di satu bahu jalan tak jauh dari pasar. Tontonan topeng monyet menyedot perhatiannya, dan kami pun menonton. Makin lama makin banyak orang berjubel, tua dan muda dan anak-anak, menyaksikan monyet berpura-pura pergi ke pasar atau mengendarai motor mainan. Tontonan semacam itu bukan untuk musang, tentu saja.
Lima belas menit kemudian Agung Waluyo membawaku menjauh dari kerumunan penonton topeng monyet. Sambil berjalan, ia meraba-raba saku belakang celananya. Ia lekas berbalik, melangkah gusar dengan pincang yang membikinku iba. Mengetahui tontonan topeng monyet telah usai dan orang-orang telah bubar, ia berbalik lagi, melangkah lemas, dan aku dibikin makin iba.
—
Uang di dompetnya, jika saja tidak kena copet, dapat saya pergunakan untuk membayar tunggakan tagihan listrik. Dua bulan ini kami tidak membayar. Artinya, jika bulan depan kami tidak melunasi tunggakan tersebut, petugas dari Kantor Jawatan Listrik akan datang untuk mencabut aliran listrik di gubuk kami. Sial, sungguh sial!
“Tenanglah, Sekar, kita masih punya satu karung semen. Utuh. Kita tidak memerlukannya lagi. Teman saya yang sedang merenovasi rumah mungkin mau membelinya. Uangnya nanti bisa kau gunakan untuk bayar dua bulan tunggakan.”
“Begitu? Saya sarankan kautawarkan juga musang pembawa sial itu. Siapa tahu temanmu mau membelinya.”
“Apa maksudmu? Apa kau sadar dengan kata-katamu?”
Saya merasa tidak perlu menjawabnya. Saya hanya merasa perlu mengambil satu sikap setelah merasakan kemarahan yang membakar dada suami saya. Kemarahan itu turut membakar saya, dan saya jadi amat benci kepadanya.
Akibat kebencian itu, tiga hari saya mendiamkannya, memunggunginya saat berada di tempat tidur, dan tidak memasak makanan apa pun untuknya. Dalam tiga hari itu juga saya membiarkan kotoran Pandan menumpuk di tempatnya. Bau busuk dari kotoran binatang itu membuat emosi saya makin buruk, namun, bagaimanapun, saya menginginkan hal itu sebagai bagian dari upaya menyadarkan suami saya.
Setelah tiga hari itu, saya mulai membuka suara hanya saat suami saya bertanya, itu pun sangat sedikit. Sisanya adalah suara perabot dapur yang saya banting sebagai pelampiasan kekesalan. Agaknya saya belum dapat menerima kenyataan yang menyiksa ini, hingga kemudian jadi makin parah saat beberapa tetangga memamerkan perhiasan baru, mobil baru, atau buah hati baru.
Jadi, di mana kebahagiaan untuk saya? Saya kerap merasa tersiksa oleh kemesraan suami saya dengan Pandan. Saya merasa suami saya telah memberikan segalanya untuk Pandan tanpa mempedulikan perasaan saya.
—
Dulu, pada awal-awal berada di rumah ini, bisa kudengar cumbu-rayu disusul lenguhan dan desahan dari pasangan suami-istri itu. Mereka tampak bahagia dengan gairah yang berkobar, hati yang damai, kehadiran untuk melengkapi satu sama lain. Aku menganggap mereka sebagai pasangan surgawi yang ditempatkan di bumi untuk sementara waktu. Ya, mereka adalah pasangan surgawi, dan mereka akan membawaku ke surga kelak.
Sampai akhirnya aku disadarkan kenyataan. Apa boleh buat, anggapan tersebut memudar dalam kurun masa belakangan ini. Aku tidak mengerti mengapa Sekar Arum jadi sering membanting panci, wajan, dan periuk. Tidurku jadi tidak nyenyak karenanya. Dan lagi, Sekar Arum jadi kerap menjambak bulu di kepalaku dengan kasar. Itu hal yang menyakitkan, dan aku jadi kerap bertanya-tanya apa salahku.
Di luar perangai Sekar Arum yang kasar, aku masih menemui perangai lembut Agung Waluyo. Belakangan ini, semua keperluan makan dan kebersihanku adalah tanggung jawabnya, tanpa campur tangan siapa pun, termasuk istrinya. Aku makin iba pada kakinya yang pincang. Di luar rasa iba itu, aku menaruh hormat saat menghidu baunya sepulang mengamen: bau keringat seorang pria yang menantang jalanan dan terik matahari.
Di antara kekhawatiran yang tidak dapat kuungkapkan, Agung Waluyo masih tampak baik-baik saja meski belakangan sering berbicara dengan nada tinggi. Bagaimanapun aku harus memaklumi perubahan-perubahan ini.
—
Ia geram, menatap tajam ke saya. Sepasang mata kami saling beradu.
“Kau hanya memberikan dua pilihan tak logis kepada orang yang setengah mati berjuang demi kebahagiaanmu?” tanyanya kemudian.
“Jawab saja, kau lebih pilih Pandan atau saya?”
Ia tetap tak mau menjawab. Saya tak tahu lagi bagaimana mendesaknya, hingga kemudian satu setan datang dan mendorong saya berucap, “Sebaiknya kau ceraikan saya.”
“Saya mencintaimu, Sekar. Apa kau sudah tidak mencintai saya?”
Sekarang ganti saya yang tak dapat menjawab. Ada keheningan demikian berat. Percakapan dengan kalimat serupa di atas muncul berkali-kali di waktu berikutnya. Saya tak bisa menghindari kecamuk ini, dan kecemburuan yang besar telanjur membakar saya.
Saya malu mengakui, saya cemburu kepada binatang itu. Apa kata orang-orang di luar sana jika tahu saya mencemburui musang betina? Ah, kisah asmara macam apa ini?
Tetapi saya telanjur sakit. Saya tak peduli jika ada yang bilang bahwa saya termakan perasaan saya sendiri. Siapa pun yang mengatakan demikian, sudah tentu, tidak tahu rasanya menjadi diri saya, mungkin juga tidak pernah mengenal kesialan dalam hidup.
—
Tangannya mengayunkan gagang kemoceng yang berhasil mengenai kepalaku. Aku kaget, terbangun, menahan sakit dan ngilu yang tidak main-main. Tiga kali ia mengayunkannya dalam satu waktu, dan aku tidak dapat membalas.
Ia lalu mengeluarkanku dari kandang, menarik paksa tubuhku, dan dengan cepat memotong semua kuku di kaki depan dan kaki belakangku. Aku memberontak, namun Sekar Arum memiliki tenaga cukup besar.
Aku dimasukkan kembali ke kandang, lalu tiba-tiba segalanya gelap. Aku mendorong-dorong jeruji kandang dengan moncongku. Segalanya masih gelap. Tak berapa lama terdengar suara isak tangis. Itu isak tangis Sekar Arum.
Tak lama kemudian ada gerakan kecil seolah aku berpindah, namun aku tidak tahu apakah aku benar-benar berpindah sementara kandang ini masih gelap. Suara klakson dan mesin sepeda motor bersahut-sahutan, juga kicau burung manyar dari kejauhan. Aku mau dibawa ke mana?
Aku turut merasakan deru mesin di bawahku. Terdengar pula obrolan manusia, tangis anak-anak, dan perasaan pengap mengepungku dari segenap penjuru.
Aku tidak tahu bahwa empat jam lagi aku akan terpisah dari Agung Waluyo—dan Sekar Arum—untuk selamanya.
—
Bus meninggalkan Ngrawa menuju Ngadiluwih, melaju tak terlalu cepat, berhenti dan mengangkut penumpang di Jong Biru, Semampir, Purwoasri, dan Braan sebelum melaju lebih jauh.
Saya mengatakan pada kondektur bahwa saya ingin turun di satu daerah bernama Saradan. Kondektur muda itu mengangguk, lalu mencontreng satu tulisan di buku karcis sebelum merobeknya dari jilidan. Ia menyebutkan nominal ongkos seraya menyerahkan karcis. Tangan saya tidak sengaja menyentuh lengannya yang kekar. Saya dapat merasakan sesuatu yang berdesir dalam diri saya.
Desiran itu masih terasa saat ia melangkah agak menjauh. Desiran itu menjalari sekujur tubuh saat ia diam-diam melayangkan pandang ke saya. Saya menikmati desiran ini beberapa detik sebelum melupakannya sama sekali.
Saya tiba di hutan jati Saradan sesuai harapan, pada jam yang telah saya perkirakan sebelumnya. Perjalanan dari Ngrawa ke Saradan memerlukan waktu empat jam.
Pada waktu menjelang Magrib ini saya bisa dengan mudah melancarkan aksi yang telah saya rencanakan sejak tiga hari lalu. Saya akan membuang musang sialan ini.
Setelah menengok kanan-kiri, saya berjalan naik ke hutan jati beserta kandang berisi musang. Keduanya—musang dan kandang besi—cukup berat dan menguras tenaga saya.
Beberapa kali saya nyaris tergelincir, namun yang telah saya mulai harus saya selesaikan. Setelah ratusan langkah, saya merasa tak kuat lagi. Saya memutuskan berhenti. Saya letakkan kandang berbalut kain hitam ini di sini saja. Saya rasakan peluh mengucur dari dahi dan leher, lalu saya menenggak air dari botol minum hingga tak bersisa.
Saya tinggalkan Pandan beserta kandangnya. Saya sempat menoleh ke kandang itu, menangis tanpa tahu mengapa, lalu melangkah turun. Saya berharap Pandan tidur nyenyak hingga seorang mantri hutan menemukannya esok pagi.
Saya kembali berada di jalan lintas provinsi, bermaksud menumpang mobil pikap agar dapat menuju rumah salah satu sepupu. Lama menunggu, saya hanya mendapati truk-truk pengangkut sayuran atau mobil-mobil pribadi yang melintas. Saya tidak bisa mencegat kendaraan-kendaraan tersebut, sementara malam mulai turun.
Tak lama berselang, sebuah panggilan masuk ke ponsel saya. Anisa, menantu Wak Gono, menelepon
“Sekar, kau di mana?” Suara Anisa di seberang telepon terdengar panik.
“Saya di Madi…, eh, saya masih di jalan, Anisa. Ada apa?”
“Sebaiknya kau cepat kemari. Ke rumah sakit dekat pasar induk. Suamimu tertabrak mobil. Ada pendarahan parah di kepala.”
Saya lekas menutup telepon. Sial bagi saya karena sisa uang yang saya miliki tidak cukup untuk ongkos naik bus ke Ngrawa. Sebuah ilham kemudian terbetik di kepala saya. Saya harus mengambil kandang itu kembali, membawa Pandan turun. Sopir atau kernet truk yang sedang mengaso di rumah makan di sekitar tempat ini mungkin mau membeli Pandan. Berapa pun mereka mau membayar, saya akan terima, asal cukup untuk ongkos saya naik bus.
Dengan sisa tenaga, saya mempercepat langkah, setengah berlari, menempuh jalan naik ke hutan jati lagi. Seratus satu langkah—saya belum lupa. Saya ingat bagaimana kontur tanah tempat menaruh kandang tadi. Namun, begitu saya sampai, benda terbungkus kain hitam itu tidak ada. Dalam keadaan panik saya menyalakan lampu senter dari ponsel, mengitarkan cahaya ke segala arah demi segera menemukan Pandan. Ah, kepanikan ini membikin saya habis akal hingga saya mulai memanggil-manggil Pandan dengan setengah berteriak dan hampir menangis. Tak ada jawaban kecuali bunyi serangga malam.
Hingga beberapa menit pencarian, saya tetap tidak menemukan Pandan, dan bayang-bayang wajah Agung Waluyo membikin saya makin sedih. Saya sedang dihantui dosa sendiri. Di tengah hutan gelap ini saya hanya duduk, berdoa, menunggu, menangis.
Anisa menelepon untuk kedua kalinya—mungkin hendak meminta saya bergegas sebagaimana panggilan telepon pertama. Ya, itulah harapan saya, namun panggilan telepon kedua ini belum juga saya angkat. Bagaimanapun saya tidak mengharapkan kabar lain, kabar yang berpotensi membikin saya jatuh pingsan.[]
- Musang Pandan - 18 July 2025


Marni
keren cerpennya, jadi pengen baca lanjutannya
AziZ
Seru banget cerpen nya, nanti kabarin yah kalo ada lanjutannya
muhammadrefan
seru dan menarik cerpen nya,jadi tertarik pengen liat lanjutannya
Fi
Ohoho, apa yang terjadi selanjutnya? Next, next, next, he he