
Beliau adalah Fadhl al-Lah bin Abi al-Khair. Beliau adalah penguasa waktu pada masa kehidupannya. Artinya adalah tidak ada waktu yang berjalan sia-sia pada waktu hidupnya, tapi sepenuhnya diberi nilai keilahian oleh beliau. Makanya beliau disebut sebagai Sulthan al-Waktu pada saat hidupnya.
Beliau juga disebut sebagai Jamal Ahl ath-Thariqah pada masanya. Artinya adalah beliau merupakan personifikasi yang paling anggun untuk orang-orang yang masuk thariqah, bisa menjadi teladan yang dibanggakan bagi mereka. Beliau mengetahui dengan detail gerakan dan pembicaraan hati manusia.
Para sufi di saat itu sepenuhnya patuh kepada beliau. Seakan beliau merupakan sufi tertinggi di antara mereka yang menempuh perjalanan kepada Allah Ta’ala. “Pada suatu hari,” kata beliau “aku berjalan-jalan di kota Sarkhas. Di sana, banyak sekali tumpukan arang. Syaikh Luqman yang terkenal gila itu duduk di atas tumpukan itu.
Aku berniat untuk mengalaminya dan melihat tumpukan arang itu. Dia dengan segera menjahit pakaian yang bertambal dari bulu binatang. Aku berdiri memandangnya. Bayanganku jatuh ke pakaiannya yang terbuat dari bulu binatang. Setelah menjahit pakaiannya yang terbuat dari binatang itu, dia mengatakan kepada Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair:
‘Wahai Abu Sa’id, aku jahit namamu dengan pakaian dari kulit binatang yang bertambal ini.’ Kemudian dia berdiri dan memegang tanganku. Lalu berjalan, terus berjalan, hingga akhirnya sampai di khaniqah Syaikh Abu al-Fadhl. Dia terus mengabarkan kepada Syaikh Abu al-Fadhl:
‘Wahai Abu al-Fadhl, kau harus merahasiakan hal ini. Ini merupakan orang yang menjadi bagian dari dirimu.’ Syaikh Abu al-Fadhl mengambil tanganku. Dia menuntunku hingga ke dalam khaniqah. Dia mendudukkanku di atas sebuah reruntuhan. Dia mengambil satu kuras kitab.
Dia muthala’ah isi kitab itu. Muncul di dalam hatiku sebuah kerentek bahwa dia mempelajari kitab sebagaimana para santri. Aku melihat isi kitab itu. Syaikh Abu al-Fadhl tahu bahwa aku melihatnya. ‘Wahai Abu Sa’id, Allah Ta’ala telah mengutus seratus dua puluh empat ribu nabi untuk mengajak makhluk kepada hadiratNya’.”
Hingga akhirnya mereka yang diajak itu mengucap: “Allah, Allah, Allah.” Dan siapa pun yang mengucap kalimat itu akan tenggelam di dalamnya. Maksudnya adalah orang itu akan merasakan dikepung oleh hadiratNya. Betapa Allah Ta’ala memenuhi segalanya. Bahkan tempat yang kita kira kosong, itu pun berisi Allah Ta’ala.
Betapa kontradiktif. Di satu sisi Allah sangat nyata senyata-nyatanya. Hingga segala sesuatu di dunia ini adalah Allah Ta’ala. Di sisi yang lain, betapa Dia sangat samar sesamar-samarnya, hingga orang-orang yang ateis tidak pernah berjumpa Allah Ta’ala di mana pun di dunia ini.
Itulah sebabnya “Allah” disebut sebagai isim yang paling ma’rifat, tidak ada isim yang ma’rifat sebagaimana “Allah”. Pada saat yang bersamaan, tidak isim yang lebih nakiroh daripada “Allah”. Di satu sisi, “Allah” adalah isim yang paling tidak dikenal. Hingga dikatakan rasional kalau para ateis tidak pernah berjumpa Allah di mana saja. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku #2 - 17 April 2026
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku - 10 April 2026
- Syaikh Abu Zur’ah al-Ar-Dubili - 3 April 2026


M Fariz Syahbana
Keren