Puisi Lailatul Kiptiyah

 

Tali Simulakra

 

Dicarinya celah: dari yang sekecil

retakan batu

hingga selebar ambang pintu

 

disambutnya tiap gelagat

dan siasat

mereka yang datang bertamu

 

lantas ditampungnya berlusin

lembaran kertas penuh

tanda tangan yang telah ditiru

 

“aku seorang lurah

namaku akan dituliskan

dengan huruf kapital tebal

dan gambarku saat menerima

penghargaan nantinya

akan di-post di halaman jurnal”

 

maka ia umumkan maklumat

bahwa yang akan berdiri

di sepanjang tepian air ini

adalah sebuah dinding

semacam jaring: di mana ikan-ikan

kumpul, beranak-pinak, bermain-main

 

sembilan belas jam kemudian

orang-orang menyaksikan:

batang-batang bambu yang mestinya

berdiri berjajar di ladang kacang

mendadak menancap tegak

mencagak: jembatan berpetak-petak

di atas air

 

menempuh berkilo meter jarak

muslihat demi muslihat

berjalinan rapat dan liat

 

jembatan itu serupa hewan

pemangsa: mengancam dan berbahaya

dicengkeram tangan pemiliknya

dengan simpul dusta dari tali

simulakra

 

Blitar, 2025

 

 

Memedi Sawah

 

Rupaku sehitam pasir

tubuhku bertopang tali

tipis dan renta, serupa rangka

gubuk milik orang-orang pesisir

 

mataku ceruk kering,

mimpikan genangan air

 

ke pundakku, burung-burung

tak ingin hinggap

sebab baginya aku adalah

hantu penunggu penuh waktu

 

di bawah kakiku,

garis-garis tanah memanjang
dimana butir demi butir benih ditidurkan

 

tubuhku terambing

menahan giras angin

 

sesaat sebelum rubuh, sebelum lepas

tali ikatan

kupandang tubuh mungil tunas, layu cemas

ihwal siklus hujan

 

Blitar, 2024

 

 

Magersari

 

Kembali ke tanah lahir

ia lupa banyak nama

juga peristiwa

 

namun tidak dengan rumah itu

: menghadap ke sungai, berdinding

anyaman bambu, beratap welit tebu

 

ia mengenal anak gadis dari

rumah itu, lebih tua beberapa

tahun darinya

 

suatu hari anak gadis itu mencegatnya

sepulang sekolah di kebun sebelum

rumah

 

“kemarin ibumu memukulku dengan
bambu saat melihatku

mencuri telur di kandang jerami

di sebelah barat rumahmu”

 

suara anak gadis itu gemetar

sepasang matanya memerah samar

ia terdiam, menelan ludah

ngungun, memandang ke lain arah

 

lama kemudian ia mendengar

keluarga anak gadis itu pergi

keluar dari dusun

sebelum pecah kabut pagi

 

meninggalkan rumah, tanah

setelah berpuluh tahun magersari

 

Blitar, 2024

 

 

 

Adagium

 

Sepasang roda, pada bajak dan garu

kubentang dada, kau injak luka baru

 

di petak-petak jalan, gerimis mengusap

batu-batu

gerak demi gerak ditahan, tangis kami menancap

di gedung itu

 

ke rimbun pakis, seekor kutilang

melompat dari mata siang

yang tak terkikis, setelah perang

resep-resep yang tak menyembuhkan

 

Blitar, 2025

Lailatul Kiptiyah
Latest posts by Lailatul Kiptiyah (see all)

Comments

  1. Khoerun Reply

    Puisi nya sangat bagus

  2. Mukminin Reply

    Keren

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!