
Sungguh kebetulan yang ironis. Ketika mengambil buku kecil itu dari tas cangklong, membaca kalimat-kalimat awalnya sambil menyesap es kopi gula aren yang sedikit agak kemanisan, saya sedang ada di sebuah pelataran kafe berjenama internasional, di tepi sebuah pantai buatan, dengan pohon-pohon palem berjajar jarang yang belum lama ditanam, sambil memandangi sebuah pulau kecil tak jauh di seberangnya. Duduk nangkring tak terlalu nyaman akibat matahari Makassar sudah terlalu sengit dan kasar, meski jam baru saja melewati angka 10 waktu setempat, saya, bagaimanapun, sedang menjadi turis pagi itu. Dan, tanpa merasa perlu menunggu, orang di balik buku kecil itu langsung menyerang. Sejak kalimat pertama.
Kopi yang terlalu manis selalu menyisakan aftertaste pahit di mulut tak lama setelah kita menghabiskannya. Tapi mulut saya sudah pahit bahkan ketika permukaan kopi masih tinggi, dengan bongkah es batu masih bergelimangan. Dan, tak diragukan, sebagiannya disebabkan kalimat-kalimat di buku kecil itu.
Itu buku yang bukan hanya tak cocok untuk orang yang nongkrong santai menyesap kopi atau mengisap rokok sambil memandang ke laut; itu buku yang seharusnya tak dibawa dalam perjalanan, apalagi untuk pelesiran. Karena, untuk kondisi yang sangat tidak tepat, buku ini bisa saja membuat Anda akan menuju pintu darurat pesawat dan nekad melompat, atau membakar kasur di hotel tempat Anda menginap.
Buku itu kecil saja, hanya 90 halaman, dengan ukuran 18 x 11 cm. Juga memakai judul “kecil”, A Small Place, yang dalam edisi bahasa Indonesia-nya (diterbitkan oleh Lafald Pustaka, 2006) tidak diterjemahkan. Tapi ia menyimpan amarah yang besar, atau sangat besar, meluap-luap, bahkan agresif. Dan sasaran amarah pertamanya adalah para turis. “Turis adalah manusia-manusia buruk rupa,” sembur buku itu. A Small Place ditulis oleh Jamaica Kincaid, seorang novelis-esais dari Antigua, yang menjadi bagian dari Antigua dan Barbuda, sebuah negara kepulauan mungil yang terletak di antara Samudera Atlantik dan Laut Karibia.
Nama Kincaid hanya sayup saja saya dengar: beberapa tulisan tentang sastra Karibia, atau terkait dengan sastra Karibia, yang kebanyakan menyebut Naipaul, Walcott, atau yang lebih muda seperti Benjamin Zepaniah, kadang menyebut namanya; juga, ketika orang-orang bicara tentang novel-novel poskolonial, nama Kincaid akan sesekali nongol di luar Achebe, Wa Thiong’o, Chimamanda Ngozi, Rushdie, Roy, atau Ghosh. Tapi saya tak tahu jika ada buku Kincaid yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Dan demi menemukan nama-nama yang saya kenal di kolofon buku, saya pikir apa salahnya menyimpan buku kecil ini. Mungkin akan menyenangkan untuk dibaca di kereta atau di bus antarkota, begitu pikir saya. Anak judulnya, “Sebuah Narasi Poskolonial”, cenderung saya abaikan; saya menganggap itu sengaja ditambahkan, seperti yang dilakukan banyak buku yang terbit di Jogja, mungkin untuk menambah nilai jual.
Dan itu salah. Dan saya salah besar karena membawanya sebagai bacaan ringan di pesawat. Dan saya beruntung karena hanya sempat membaca pengantarnya ketika masih berada di udara.
***
Antigua adalah salah satu pulau di Karibia yang lebih awal diinjak oleh Columbus, sebelum ia kemudian “menemukan” Benua Amerika. Konon, Columbus-lah yang memberinya nama Santa Maria de la Antigua. Penjajah Inggris kemudian mulai mendudukinya pada 1632, menyingkirkan penduduk pribuminya (orang-orang Indian Arawak) sampai tak tersisa, mengisinya dengan para budak yang mereka bawa dari Afrika Barat, dan menjadikan pulau kecil itu sebagai salah satu penghasil tebu dan tembakau terkemuka dunia. Perbudakan dihapuskan 200 tahun kemudian, namun Antigua (dan Barbuda—yang selama ratusan tahun bahkan dikuasai hanya oleh satu keluarga tuan tanah kulit putih Codrington) harus menunggu 150 tahun lagi, tepatnya pada 1981, untuk merdeka,.
Namun, kemerdekaan tak serta-merta membuat pulau mungil ini menjadi tempat yang lebih baik—sesuatu yang terdengar akrab bagi negara-negara bekas jajaran. Vere Bird, seorang tokoh serikat buruh di masa kolonial, seorang pahlawan bagi rakyatnya, naik ke tampuk kepemimpinan, dan sejak itu seperti enggan turun. Ia membentuk kabinet yang korup dan nepotis, dan menjalankan roda pemerintahan layaknya bisnis keluarga, dengan menempatkan anak-anaknya sendiri sebagai menteri; dan ketika akhirnya turun setelah 13 tahun berkuasa, ia “mewariskan” jabatan perdana menteri kepada anak laki-lakinya, Lester Bird. Karena itu, Kincaid menyamakan keluarga Bird di Antigua dengan keluarga Duvalier yang secara turun temurun—dan kejam!—menguasai Haiti, tetangga Karibia mereka.
Dari perkebunan kolonial, Antigua dan Barbuda menjadi salah satu tujuan utama pelesiran, sebuah pilihan populer kebanyakan negara kecil tropis di Karibia. Diapit oleh Laut Karibia di barat dan Samudera Atlantik di timur, Antigua (dan Barbuda) disukai para turis (kebanyakan kulit putih, tentu saja) karena pantai dan sinar mataharinya, dua hal yang dengan bangga tergambar pada bendera kebangsaan mereka. Saking pentingnya pariwisata, delapanpuluh persen pendapatan negara ini didapat dari sektor ini. Tak mengherankan, orang-orang kaya dunia dan para selebritas Barat (pembawa acara Oprah Winfrey, politisi Italia dan taipan sepakbola Silvio Berlusconi, desainer Giorgio Armani, dan musisi Eric Clapton, sekadar untuk menyebut) membangun rumah musim panas mereka di pulau ini.
Turis, dan turisme, beserta semua ironi yang melingkupinya (hotel-hotel mewah, sementara sekolah dan rumah sakit bobrok; mobil-mobil bagus, sementara jalan-jalan rusak parah, dst.), tapi terutama lapis-lapis kolonial dan rasial yang melatarinya, inilah yang membuat Jamaica Kincaid meradang. Bagi Kincaid, turisme melestarikan kolonialisme, mengabadikan segregasi rasial yang telah berlangsung beratus tahun, dan terutama membuat rakyat Antigua terbiasa untuk terus-terusan menjadi pelayan, sesuatu yang tak terlalu jauh dari perbudakan yang telah dialami nenek-moyang mereka. Ia mencemooh bahwa pendidikan terpenting di Antigua adalah sekolah-sekolah perhotelan, yang upacara wisudanya disiarkan oleh radio dan televisi nasional.
“Mengajarkan menjadi pelayan yang baik adalah juga mengajarkan menjadi ‘bukan siapa-siapa’ yang baik, karena seorang pelayan adalah… seorang yang bukan siapa-siapa,” katanya.
***
Selain turisme, yang cukup menarik, amarah Kincaid juga ditujukan kepada bobroknya kondisi perpustakaan di Antigua. Perpustakaan itu, yang roboh oleh gempa bumi tahun 1974, dan ditinggalkan begitu saja dengan palang bertuliskan “Perbaikan Ditunda”, adalah salah satu gambaran paling jelas tentang kebobrokan yang ditinggalkan penjajah Inggris di Antigua. Perpustakaan itu tak diperbaiki, tak juga dibangun yang baru, dan buku-bukunya dipindahkan begitu saja ke ruangan kecil di sebuah ruko di atas sebuah toko kain, dengan kondisi memprihatikan.
Kincaid melihat perpustakaan sebagai sesuatu yang kompleks sekaligus personal. Seperti perpustakaan yang roboh dan ditinggalkan begitu saja oleh pemerintah kolonial Inggris, demikian juga pemerintahan yang bobrok dan korup yang jadi penerusnya, yang tidak tertarik dengan perpustakaan yang baik. Pada perpustakaan yang bobrok itu, yang diliputi oleh debu dan lumut, yang penataannya kacau, dan para pustakawannya tidak tahu menahu tentang buku, juga para pengunjungnya yang terlihat bodoh, Kincaid bisa melihat betapa buruknya mutu pendidikan pasca-penjajahan di Antigua.
Sebagai gadis kulit hitam cerdas namun melarat, dan karena itu terpaksa putus sekolah, Kincaid mencintai perpustakaan itu, juga gedung tuanya, kusen-kusennya yang dicat kuning, berandanya yang luas, jendela-jendelanya yang besar, rak-raknya yang penuh buku, kesunyiannya, juga sinar matahari yang masuk ke sana. Tapi, ironisnya, Kincaid juga sadar, di perpustakaan inilah pemerintah kolonial mengajari rakyat Antigua, termasuk gadis putus sekolah sepertinya, hal-hal baik tentang penjajah kulit putih mereka: tentang batapa baiknya mereka, tentang betapa cantik dan tampannya mereka, tentang alasan-alasan mengapa mereka pantas menduduki Antigua selama hampir empat abad.
Menjadi lebih ironis ketika Kincaid tahu bahwa pihak-pihak yang paling bersemangat untuk mendukung perbaikan perpustakaan di Antigua adalah orang-orang kulit putih yang terhubung dengan The Mill Reef Club, sebuah klub privat, eksklusif, dan rasis, yang hanya menerima orang-orang kulit putih dari Amerika Utara sebagai anggotanya. Lembaga itu berdiri sejak jaman kolonial, dan masih terus eksis ketika Antigua dan Barbuda telah merdeka. “Mereka diizinkan untuk tinggal dan melangsungkan cara hidup mereka saja sudah buruk,” omel Kincaid. “Memang Antigua ini tempat macam apaan, sehingga orang-orang seperti itu diperbolehkan berpendapat tentang apa pun.” Orang-orang di klub itu, lanjut Kincaid, “menyukai orang-orang Antigua hanya jika mereka menjadi pelayan.”
Kincaid menjadi lebih keki ketika ia ingin bertanya kepada Menteri Pendidikan soal perpustakaan itu, namun yang bersangkutan tidak ada di Antigua, karena sedang berada di Trinidad untuk menonton pertandingan kriket. “Itu karena,” seperti yang diketahui Kincaid, “ia bukan hanya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tapi juga Menteri Olahraga.”
***
Jamaica Kincaid terlahir sebagai Elaine Cynthia Potter Richardson pada 25 Mei 1949, di St. John, Antigua. Pada usia 17, ia dikirim ibunya ke New York untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga, setelah setahun sebelumnya putus sekolah karena kekurangan biaya meskipun terkenal cerdas. Di sela-sela pekerjaaannya, ia melanjutkan sekolahnya pada malam hari. Dari sinilah ia bisa melanjutkan kuliah dan mulai menulis.
A Small Place terbit pertama kali pada 1988, dan buku itu dilarang di Antigua dan Barbuda sejak itu. Kritikus menyukainya, tapi ada juga yang mencelanya. Susan Sontag menyebutnya “tajam menusuk”, karena “ia begitu jujur sekaligus sangat kompleks”. Namun serangannya yang frontal kepada pemerintahan Antigua dan Barbuda membuat tulisan itu ditolak oleh The New Yorker, tempat Kincaid bekerja selama 20 tahun. Para kritikusnya, khususnya dari kalangan dengan latar belakang yang mirip dengannya, menganggap Kincaid tak hanya menyerang pemerintahan Antigua dan Barbuda tetapi juga rakyatnya. Jane King, penyair asal St. Lucia, negara kecil lain di Karibia, menyebut Kincaid tak terlalu menyukai Karibia, dan karena itu lebih memilih tinggal di Amerika. Kritikus lain menganggap Kincaid bicara tentang Karibia untuk dan dalam posisinya sebagai orang lain, yaitu sebagai penulis Amerika pada umumnya.
- Rumah-rumah dan Buku-buku (yang Dilahirkannya) - 12 January 2026
- Buku di Ruang Tamu - 17 December 2025
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag. 2—Habis) - 22 October 2025

