Puisi Elis Debora

 

Perjamuan Luka

 

Kusiapkan meja panjang

kususun luka-luka rapih di piring porselen

Ada luka kecil, luka dalam, luka bernanah

semua jadi hidangan malam ini

Aku duduk sebagai tamu sekaligus tuan rumah

menyuap sesal, meneguk pedih

Hingga perutku penuh airmata

dan gelas terakhir kuminum dengan gemetar

Selesai perjamuan, kutinggalkan meja

tapi lukaku tak pernah pergi

mereka hanya berganti piring

dan menungguku makan lagi

Kadang kuundang pula bayanganmu

duduk di kursi seberang

kau menatap hidangan luka itu

dan diam, sebab kau pun punya luka sendiri

Kami makan bersama, tanpa kata      

hanya denting sendok yang saling bersahutan

seolah luka-luka kami sedang saling berbisik:

“kita diciptakan untuk disantap, berulang-ulang”

Malam habis, meja kosong,

perjamuan selesai

tapi perutku tetap lapar,

haus akan luka yang tak pernah habis

 

 

 

 

Purnama Retak di Cangkir Porcelain

 

Kau titipkan bulan purnama di cangkir putihku

aku janji akan menjaganya

Tapi tanganku gemetar, cangkir terlepas

dan purnama itu retak

Pecahan sinarnya menancap di jemari

membuatku berdarah diam-diam

Kau tak pernah tahu, sebab aku tertawa

menyembunyikan luka di balik telapak tangan

Kini cangkir telah hilang bentuk

dan bulan tak lagi bundar

Hanya malam yang tahu

betapa sayangku pecah tak bersisa

Kupungut serpihan cahaya itu,

kusimpan di kotak kayu kecil

setiap malam kubuka,

menyapa purnama yang tak lagi utuh

Kadang kupikir, lebih baik ia retak di tanganku

daripada hilang tanpa jejak

sebab meski patah, ia tetap ada

meski tak sempurna, ia tetap milikku

Dan malam pun tetap datang,

meski purnama tak lagi penuh

ia menyinari luka,

dan luka pun ikut berkilau

 

 

 

 

 

Aksara yang Terlupa di Langit Timur

 

Ada aksara kuno tergores di langit timur

huruf-hurufnya nyaris terhapus kabut fajar

Seperti doa kakek buyutku

yang tak sempat disampaikan angin

Kupanggil satu per satu:

dal, qaf, tsa, mim, ya

Tapi mereka menolak turun

mereka lebih suka tinggal di awan

Tinggallah aku di bumi

menulis ulang yang terlupa

dengan tangan gemetar

dan tinta air mata

Kadang kupikir, mungkin langit punya bahasa

yang tak sanggup diterjemahkan manusia

atau barangkali aksara itu memang hanya untuk langit,

bukan untuk kupahami

Kusembah huruf-huruf yang membisu,

kubacakan salam yang tak pernah sampai

Di setiap pagi, kutengadah,

menunggu kabar yang tak kunjung jatuh

Malam pun tiba,

dan langit timur lenyap diselimuti gelap

tinggallah aksara itu, mengendap

jadi rahasia yang hanya diketahui Tuhan

 

 

 

 

Lembu Melahirkan Kursi di Punggung Angin

 

Seekor lembu duduk di pangkuan senja

menyulam bisikan batu ke dalam kulitnya

Ia menguap, dan dari mulutnya melompat kursi rotan

yang duduk nyaman di pangkuan angin

Di atas kursi itu, duduk bayangan bulan

memetik gigi patah yang tumbuh jadi pohon cemara

Sementara jari lembu berguguran,

menjadi hujan biji kaca

Angin mengendus bau kursi,

lalu bersin, memuntahkan sepuluh pintu tanpa rumah

Yang masuk ke pintu itu hanyalah waktu,

tanpa kaki, tanpa kepala, tanpa nama

Cemara tumbuh di sela napas lembu,

menyentuh langit yang mencair jadi susu asin

Dan kursi pun melahirkan tangga kayu,

menuju atap yang tak pernah selesai dibangun

Di ujung puisi, lembu dan kursi bersalaman

lalu berpisah di simpang bisu

Meninggalkan kita ternganga:

apa yang lebih nyata — kursi, lembu, atau angin?

Elis Debora
Latest posts by Elis Debora (see all)

Comments

  1. Putra Reply

    Sangat menarik dan terharu terhadap puisi tersebut

  2. eql Reply

    melarat pada kesedihan
    aku duduk sembari membaca kode
    dari kepedihan yang menurut jiwa
    ku pergi,mengambil,memakai,mentoleransi
    akan kenyataan yang tak bisa di elak kan

  3. eql Reply

    melarat pada kesedihan
    aku duduk sembari membaca kode
    dari kepedihan yang menurut jiwa
    ku pergi,mengambil,memakai,mentoleransi
    akan kenyataan yang tak bisa di elak kan

    sangat menangkan di balik arti pusi tersebut

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!