
Ketika masih memiliki belasan buku saja, satu-satunya hal yang saya inginkan adalah rak. Saya tak peduli seberapa besar atau seberapa tinggi, apalagi soal bagaimana bentuk dan dicat warna apa rak itu. Hanya rak saja. Saya hanya ingin buku-buku saya yang sedikit itu—yang sebagian besar bisa saya miliki karena berharga sangat murah dan, jika saya ingat-ingat, kebanyakan bukan buku yang terlalu bagus—berada di tempat yang sepantasnya. Karena, itulah harta saya paling berharga saat itu.
Tapi saya tak mampu beli rak, bahkan yang paling murah sekali pun. Setiap memikirkan membeli rak, yang waktu itu harganya kira-kira ada di kisaran 25-30 ribu, saya akan selalu memilih membeli buku yang kebanyakan masih di kisaran 7-12 ribu.
Maka, saya kemudian membeli dua kardus kosong. Satu kardus saya biarkan utuh dan saya perkuat dengan lakban, untuk dipakai menjadi semacam tatakan; satu kardus lagi saya bongkar sisi atasnya, saya letakkan secara miring di atas kardus tatakan, dan jadilah ia sebuah kubus panjang yang sisi depannya terbuka. Agar rapi, saya rapikan setiap tepian yang terbuka itu dengan lakban. Itulah rak buku pertama saya. Dan saya masih ingat rasa puas yang saya rasakan ketika memasukkan sedikit buku saya itu ke “rak” kardus itu.
(Barangkali karena yang benar-benar saya inginkan adalah rak kayu, saya begitu berbinar saat saya numpang di kos seorang kawan dan ia mempersilakan rak kayunya yang kosong untuk saya isi dengan buku yang saya bawa. Saking bersemangatnya, saya taruh semua buku yang saya punya, saat itu mungkin sudah di atas 50an, di rak tersebut. Saya lupa kalau itu rak gantung mungil, yang menumpukan seluruh bebannya kepada dua paku kecil di dinding tempat ia tercantel. Hanya butuh beberapa menit saja sejak saya menjejalkan semua buku yang saya punya, dan kemudian tidur-tiduran di lantai, rak malang itu lepas dari paku cantelannya, terjun bebas, dan menumpahkan semua buku yang membebaninya, menimpa saya dan teman saya yang berada di bawahnya.)
Saya menjadi lebih rewel soal buku dan rak ketika buku-buku itu mulai melewati angka seratusan. Bacaan dan minat makin meluas, demikian juga dengan referensi. Saya yang sebelumnya hanya membaca (dan membeli) buku-buku teks perkuliahan atau novel-novel tipis atau kumpulan-kumpulan cerpen jelek atau buku-buku puisi dari penyair kelas kampus mulai mengumpulkan buku-buku sejarah, politik, filsafat, antropologi, satu-dua buku ekonomi, bahkan—karena tugas-tugas kepenulisan yang mesti saya selesaikan—buku-buku pertanian. Tentu beberapa novel dan kumpulan cerpen yang lebih baik juga bertambah. Dan karena ia terunggun begitu saja di pojok kamar kos saya yang lembab, saya pada akhirnya tak mungkin menghindar lagi untuk memiliki rak.
Memiliki rak buku untuk pertama kalinya sangatlah menyenangkan. Anda bukan hanya mendapatkan etalase intelektualitas Anda—meski sebagian besar buku-buku itu hanya Anda yang lihat dan baca. Saya pikir, Anda juga mulai dituntut untuk menjadi pustakawan. Perpustakaan mungil itu tentu saja hanya Anda sendiri yang menjadi pengunjungnya, tapi pengunjung yang satu ini sangat penuntut: ia tak ingin dikecewakan; ia mau perpus mungil itu indah dan nyaman tapi sekaligus canggih; ia menuntut sebuah sistem yang efektif, yang membuat buku-buku yang ia ingin baca mudah dicari–meski, lagi-lagi, buku yang masih sangat sedikit itu tentu saja dihafalnya satu-satu.
Maka, berbagai percobaan dan metode dimulai. Yang paling standar adalah dengan mengumpulkan satu topik dan/atau genre dalam deret yang sama; bisa juga dengan mengumpulkan berdasar nama-nama, dengan menjadikan buku-buku dengan nama yang sama dikumpulkan dalam deretan yang sama, yang kemudian disambung oleh nama yang dianggap dekat asosiasinya. Bisa juga dengan mengurutkannya sesuai abjad, seperti di perpustakaan-perpustakaan besar. Tapi bisa juga kita memakai kriteria yang sangat personal, semisal berdasar warna buku.
Dalam cara paling tradisional, karya-karya Umar Kayam mesti mengumpul menjadi satu, yang nanti akan dipepet oleh karya-karya Kuntowijoyo, lalu Danarto, lalu Romo Mangun, dst. Sementara, meskipun saling membenci satu-sama lain, buku-buku Goenawan Mohamad biasanya akan berimpitan dengan Sutan Takdir Alisjahbana, yang nanti akan diikuti oleh beberapa buku Subagyo Sastrowardoyo, Umar Junus, Dick Hartoko, A. Teew, dan buku-buku sejenis itu.
Tapi baru sampai sini pun sudah mulai muncul masalah. Orang seperti Kunto dan Kayam, yang selain sastrawan adalah juga intelektual prolifik, apakah buku mereka mesti dikumpulkan jadi satu? Apakah Radikalisasi Petani dikumpulkan bersama Dilarang Mencintai Bunga-bunga, atau harus ditaruh di rak lain bersama Pemberontakan Petani Banten-nya Sartono, Darah Rakyat-nya Reid, dan Peristiwa Tiga Daerah-nya Lucas? Apakah Seni, Tradisi, Masyarakat mesti bersandingan dengan Sri Sumarah & Bawuk dan Mangan Ora Mangan Kumpul, atau justru dengan Sex, Sastra, Kita-nya Goenawan atau Hamba-Hamba Kebudayaan-nya Dami N. Toda dan Seri Esni Sinar Harapan lainnya? Apakah, misalnya, kita merasa perlu menyatukan karya akademik Abdul Hadi WM, Tasawuf yang Tertindas, bersama buku-buku kumpulan puisinya, atau justru menyatukannya dengan buku sejenis lain, misalnya dengan Sastra dan Religiositas-nya Romo Mangun? Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis itu akan berderet dan bertumpuk-tumpuk mengikuti bertambahnya jumlah buku kita.
Dan masalah menjadi lebih rumit jika Anda mulai mengumpulkan buku-buku kajian ilmu sosial, yang penulis dan temanya berimpitan atau bersaling-silang. Apakah Anda akan menempatkan buku David T. Hill (dan Krishna Sen) tentang Mochtar Lubis terpisah dengan kajiannya tentang pers dan film Indonesia? Apakah kita mesti menempatkan Asia Tenggara dalam Kurun Niaga dari Reid bersisian dengan buku-buku dari Van Leur, Furnivall, Anne Booth, dan Thomas Lindblad sebagai deretan buku-buku sejarah ekonomi Indonesia, atau justru mengumpulkannya bersama Ricklefs, Vlekke, atau Lombard karena karakter babonnya? Apakah Anda akan menempatkan buku Nancy Peluso berkumpul bersama buku-buku sejarah dan kajian hutan lain dari Dr. Warto dan Hasanu Simon dan Darmanto Simaepa, atau mengumpulkannya bersama buku-buku tentang komoditi dari Tania Li, Hery Santoso, Boomgaard, Sugijanto Padmo, Knight, dst?
Kerumitan Anda semakin bertambah-tambah jika Anda mulai mengumpulkan buku-buku yang jenisnya benar-benar berbeda. Misalnya, buku-buku tentang sepakbola dan olahraga secara umum—seperti yang saya punya. Buku jenis ini, yang pada awalnya terlihat sebagai sesuatu yang berada di luar buku, akan sangat aneh jika dicampur dengan buku-buku sastra atau kajian sosial, atau filsafat. Anda membayangkan mereka mestinya ditempatkan di rak yang berbeda. Masalahnya, buku-buku sejenis itu tidak banyak di Indonesia. Anda akan membutuhkan waktu yang panjang untuk mengumpulkannya dalam jumlah yang cukup sehingga ia pantas ditempatkan di rak yang berbeda. Jadi, dalam jangka waktu tertentu, Anda mungkin akan terombang-ambing antara menjejalkannya bersama buku jenis lain agar ruang yang kosong bisa dimanfaatkan atau memberikannya rak baru hanya untuk membuatnya begitu rumpang dan menyedihkan.
Ketika buku Anda di atas seribuan, barangkali Anda tak lagi terlalu memikirkan kerumitan-kerumitan seperti yang saya gambarkan di atas. Bukan karena itu tak lagi merisaukan Anda, melainkan karena kini Anda diganduli kerisauan yang lebih gawat: tempat. Anda mungkin sudah merasa sebagian persoalan tentang buku itu separoh selesai jika bisa menempatkannya secara pantas di rak. Tidak perlu rapi, tak juga harus terlalu sesuai dengan urutan yang kita idealkan, yang penting masuk rak. Karena, kalau tidak, ia akan memakan sebagian tempat tidur kita, meja kerja kita, ruang tengah, dapur, bahkan kamar mandi.
Biasanya, Anda tak bisa dengan begitu saja menyelesaikannya. Jika rumah Anda kecil-kecil saja, Anda dalam masalah besar. Jika rumah Anda cukup besar, Anda tak bisa mengisi sebagian besar ruangan dalam rumah dengan buku, dan karena itu Anda perlu memikirkan solusi lain. Jika Anda pindah rumah, buku-buku itu akan jadi masalah terbesar Anda. Dan bahkan jika Anda mengambil tindakan yang cukup drastis, misalnya dengan mengirimkan satu pikup buku ke rumah saudara di luar kota (seperti yang pernah saya lakukan), Anda hanya bisa menguranginya untuk sementara—karena seseorang dengan ribuan buku di rumah, ia sangat tahu bahwa masih ada ribuan buku lain yang belum dibaca atau dimilikinya di luar rumah, dan satu-satunya hal yang dilakukannya setelah mengeluarkan buku dari rumah adalah mengisinya kembali. Dan itulah yang saya alami.
Saya punya kawan yang bahkan tak bisa menggeser kursi kerjanya karena begitu banyak buku di kamarnya. Ruang kosong yang tersisa di situ tinggal tempat tidurnya saja. Demi memberi ruang lebih untuk buku-bukunya, ia pun memilih kasur yang lebih kecil dan bisa dilipat. Dan karena kadang itu masih tak cukup, ia pun sering tidur dengan badan sedikit melipat.
Maka, jika ada di antara Anda punya masalah dengan bercak kuning pada buku Anda, atau merasa tak cocok dengan kebanyakan bentuk pembatas buku yang disisipkan oleh penerbit di buku yang diterbitkannya, atau merasa tak nyaman jika menemukan orang-orang melipat halaman atau mencoreti buku-buku yang sedang dibacanya, atau geregetan dengan pilihan font dan tataletak jelek penerbit tertentu, barangkali yang perlu Anda lakukan adalah memiliki buku yang lebih banyak lagi. Tentu saja itu tak akan menyelesaikan masalah Anda. Tapi, setidaknya, masalah Anda bukan itu lagi.
- Rumah-rumah dan Buku-buku (yang Dilahirkannya) - 12 January 2026
- Buku di Ruang Tamu - 17 December 2025
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag. 2—Habis) - 22 October 2025


tias nurviani
Mahfud ikhwan
sungguh kebutuhan yang ironis .ketika mengambil buku kecil itu dari tas cangklong ,membaca kalimat -kalimat awalnya sambil menyesal es kopi gula
Agung
Sungguh sayang