
Perjamuan Luka
Kusiapkan meja panjang
kususun luka-luka rapih di piring porselen
Ada luka kecil, luka dalam, luka bernanah
semua jadi hidangan malam ini
Aku duduk sebagai tamu sekaligus tuan rumah
menyuap sesal, meneguk pedih
Hingga perutku penuh airmata
dan gelas terakhir kuminum dengan gemetar
Selesai perjamuan, kutinggalkan meja
tapi lukaku tak pernah pergi
mereka hanya berganti piring
dan menungguku makan lagi
Kadang kuundang pula bayanganmu
duduk di kursi seberang
kau menatap hidangan luka itu
dan diam, sebab kau pun punya luka sendiri
Kami makan bersama, tanpa kata
hanya denting sendok yang saling bersahutan
seolah luka-luka kami sedang saling berbisik:
“kita diciptakan untuk disantap, berulang-ulang”
Malam habis, meja kosong,
perjamuan selesai
tapi perutku tetap lapar,
haus akan luka yang tak pernah habis
Purnama Retak di Cangkir Porcelain
Kau titipkan bulan purnama di cangkir putihku
aku janji akan menjaganya
Tapi tanganku gemetar, cangkir terlepas
dan purnama itu retak
Pecahan sinarnya menancap di jemari
membuatku berdarah diam-diam
Kau tak pernah tahu, sebab aku tertawa
menyembunyikan luka di balik telapak tangan
Kini cangkir telah hilang bentuk
dan bulan tak lagi bundar
Hanya malam yang tahu
betapa sayangku pecah tak bersisa
Kupungut serpihan cahaya itu,
kusimpan di kotak kayu kecil
setiap malam kubuka,
menyapa purnama yang tak lagi utuh
Kadang kupikir, lebih baik ia retak di tanganku
daripada hilang tanpa jejak
sebab meski patah, ia tetap ada
meski tak sempurna, ia tetap milikku
Dan malam pun tetap datang,
meski purnama tak lagi penuh
ia menyinari luka,
dan luka pun ikut berkilau
Aksara yang Terlupa di Langit Timur
Ada aksara kuno tergores di langit timur
huruf-hurufnya nyaris terhapus kabut fajar
Seperti doa kakek buyutku
yang tak sempat disampaikan angin
Kupanggil satu per satu:
dal, qaf, tsa, mim, ya
Tapi mereka menolak turun
mereka lebih suka tinggal di awan
Tinggallah aku di bumi
menulis ulang yang terlupa
dengan tangan gemetar
dan tinta air mata
Kadang kupikir, mungkin langit punya bahasa
yang tak sanggup diterjemahkan manusia
atau barangkali aksara itu memang hanya untuk langit,
bukan untuk kupahami
Kusembah huruf-huruf yang membisu,
kubacakan salam yang tak pernah sampai
Di setiap pagi, kutengadah,
menunggu kabar yang tak kunjung jatuh
Malam pun tiba,
dan langit timur lenyap diselimuti gelap
tinggallah aksara itu, mengendap
jadi rahasia yang hanya diketahui Tuhan
Lembu Melahirkan Kursi di Punggung Angin
Seekor lembu duduk di pangkuan senja
menyulam bisikan batu ke dalam kulitnya
Ia menguap, dan dari mulutnya melompat kursi rotan
yang duduk nyaman di pangkuan angin
Di atas kursi itu, duduk bayangan bulan
memetik gigi patah yang tumbuh jadi pohon cemara
Sementara jari lembu berguguran,
menjadi hujan biji kaca
Angin mengendus bau kursi,
lalu bersin, memuntahkan sepuluh pintu tanpa rumah
Yang masuk ke pintu itu hanyalah waktu,
tanpa kaki, tanpa kepala, tanpa nama
Cemara tumbuh di sela napas lembu,
menyentuh langit yang mencair jadi susu asin
Dan kursi pun melahirkan tangga kayu,
menuju atap yang tak pernah selesai dibangun
Di ujung puisi, lembu dan kursi bersalaman
lalu berpisah di simpang bisu
Meninggalkan kita ternganga:
apa yang lebih nyata — kursi, lembu, atau angin?
- Puisi Elis Debora - 16 September 2025


Putra
Sangat menarik dan terharu terhadap puisi tersebut
eql
melarat pada kesedihan
aku duduk sembari membaca kode
dari kepedihan yang menurut jiwa
ku pergi,mengambil,memakai,mentoleransi
akan kenyataan yang tak bisa di elak kan
eql
melarat pada kesedihan
aku duduk sembari membaca kode
dari kepedihan yang menurut jiwa
ku pergi,mengambil,memakai,mentoleransi
akan kenyataan yang tak bisa di elak kan
sangat menangkan di balik arti pusi tersebut