
Jariku menyentuh dua potong sabun dengan bentuk berbeda. Yang satu rata dan keras; yang lain cekung di tengah. Aroma lemon dan mawar atau mint dan berry, kadang menyatu dan kadang bergantian di udara. Namun, aku mencium aroma lain pagi ini. Aku menduga, ia baru saja masturbasi, mandi, lalu pergi.
Usai menutup pintu kamar mandi, aku mulai merinci interior rumah kami. Di sini, di dalam rumah ini, ada cerita di setiap benda.
Rak Sepatu di Belakang Pintu
Tak seorang pun yang tahu bahwa kami memiliki satu rak sepatu. Kecuali kau datang bersamaku, mendorong pintu terburu-buru, lalu lekas masuk dengan membanting pintu. Kau akan melihat rak itu di sisi sebelah kiri. Kosong. Ia baru berisi usai kuletakkan sepasang sepatuku di sana. Setelah membuka sepatumu lalu menaruhnya di samping sepatuku, barangkali, kau akan bertanya, Apa kau tidak kesepian? Tidak, aku tak pernah kesepian dan itulah alasanku tak pernah membawa siapa pun ke rumah kami.
Di rumah ini, aku memang sering bermenung seperti penyair yang kehabisan kata-kata. Namun, agar pikiranku tetap waras, aku mencoba memandangi apa pun yang ada di depan mata. Saat ini, pandanganku sedang tertuju pada rak sepatu yang merana. Rak itu tak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung dua pasang sepatu si pemilik rumah. Kendati demikian, sepatu kami terlalu sukar untuk sekadar berdampingan.
Pada lantai di depan rak sepatu, selalu terukir jejak baru. Empasan sepatu dengan pola menghadap pintu, menjelaskan kebiasaannya yang terburu-buru. Jejak itu tak tersentuh sapu, tapi luruh menjadi debu, lalu kembali berganti jejak baru.
…
Ketika kehabisan kata-kata, apa lagi yang mesti kulakukan sebagai penyair? Aku akan menoleh, mencari sudut pandang baru.
Ruangan Tengah dan Sebuah Meja
Ruang tengah kami terbilang kecil, tetapi tak terasa sempit. Kami seperti membuat kesepakatan dalam diam: tak akan menempati ruangan pada waktu bersamaan. Menjelang tidur siang, aku akan duduk sambil merokok. Aku tahu, di sini, ia pun sering bermenung sendiri sambil menggenggam pengharum ruangan beraroma melati. Dan, di pojok ruangan ada sebuah meja. Tunggu, aku melihat layar yang menyala pada meja yang menganga. Aku memang biasa menaruhnya di meja itu sebelum masuk ke kamar mandi.
“Halo!”
“Iya, Bang?”
“Sudah, Bang. Saya menaruhnya di balik keset.”
Usai menutup panggilan telepon dari si penjaga yang menggantikanku, aku melihat notifikasi di layar ponsel. Beberapa pesan lama yang belum terbaca dan “maaf, ketiduran” yang berulang. Di satu sisi, aku ingin membalasnya dengan kata-kata yang lebih puitis. Namun, aku mematikan ponsel untuk menghindari distraksi. Bukankah setiap penyair akan melakukannya? Lantas, sebagai seorang penyair, apa lagi yang mesti kulakukan untuk menjaring kata? Biasanya, aku akan melangkah, berjalan dari ruangan satu ke ruang yang lain.
…
Sebuah Dapur dan Segala yang Tersisa
Di bagian dapur rumah kami, aku sungguh terpana. Aku kembali menemukan pandangan yang tidak kunjung berubah. Sebuah rak kosong. Sebuah wastafel yang menampung satu piring plastik dan cangkir enamel; satu piring keramik dan gelas kaca. Di piring plastik itu ada kepala ikan yang kumakan kemarin sore. Sementara nasi sisa pada piring keramik dan tiga gigitan di tubuh ikan, menandakan bahwa pagi tadi, ia memang ketiduran lantas pergi terburu-buru.
Rasa laparku sering hilang saat menoleh ke panci kukus yang tergeletak di samping kulkas. Di panci itu, tentu saja masih tersisa nasi untuk sekali makan. Dan di saat-saat seperti ini, aku selalu mencari alasan untuk tak makan. Ada piring plastik dan cangkir enamel yang mesti kucuci, mesti mencari keberadaan ikan yang hampir basi, dan beberapa dilema yang membuatku kian tersiksa di ruangan ini. Akan tetapi, pada akhirnya, seperti yang selalu terjadi, aku akan tetap mengambil nasi dari dalam panci.
Aku duduk bersila, lalu menghindari tatapan ikan di piring plastik. Setiap satu suapan nasi, aku mengangkat kepala, lantas memandang kenangan yang melekat di pintu kulkas. Ada puisi lamaku, ada kata-kata indah yang ia kutip dari novel-novel yang pernah ia baca. Ada pertanyaanku yang bernada mesra dan ada balasan darinya yang tak kalah mesra. Namun, catatan-catatan itu telah menguning karena usia. Lima tahun sudah pernikahan kami. Segalanya menyusut, susut seperti kata-kata baru yang tak pernah dilengkapi tanda baca.
Di pintu kulkas, ada catatan kecil pada kertas yang paling putih: Aku telat. Terlambat pergi, atau terlambat pulang? Seraya memandangi plafon yang nyaris runtuh, aku merenggut catatan itu sambil meraba pena di kantong celana. Malam nanti, aku mesti berangkat lebih cepat. Maka, segera kubalik catatan kecil, lalu kutulis: Aku cepat—dan buru-buru kutempelkan di pintu kulkas.
Lantas, sebagai penyair yang merangkap penjaga malam, apa lagi kiat yang mesti kulakukan ketika tak kunjung menemukan kata-kata? Aku mesti berpaling. Aku akan pergi ke kamar sambil melupakan ambisi menulis puisi.
…
Sebuah Ranjang dengan Dua Bantal Bersekat Guling
Hanya ada tiga sekat di rumah kami. Pertama, sekat di kamar mandi; kedua, sekat di kamar tidur; dan sisanya sekat-sekat yang membatasi kami. Siang dan malam. Pergi dan pulang. Aroma jeruk dan harum mawar, bau rokok dan wangi melati, piring dari plastik dan keramik, cangkir enamel dan gelas kaca, dan seorang lelaki yang sering onani di sebuah ranjang dengan dua bantal bersekat guling.
Saat mataku menangkap bagian seprai yang masih kusut, aku merebahkan badan di bagian lain, pada bagian yang terasa dingin. Aku ingin tidur. Aku ingin melupakan segala rencana setelah lima tahun. Melupakan semua: cekungan sabun, bekas sepatu, wangi melati, pesan-pesan, dan segala catatan di pintu kulkas. Pulang malam; Tak sempat masak; Taruh kunci di ventilasi. Semuanya tanpa tanda baca dan hampir semuanya tak pernah kubalas.
Akan tetapi, entah sebab apa, tubuhku kembali bangkit. Setelah dua puluh lima langkah kaki, jariku menggigil menyusuri catatan kecil di pintu kulkas. Pada kertas yang mulai menguning, aku mencari catatan lama yang masih memiliki tanda baca. Mana puisimu? Ia menulisnya di hari ulang tahun keempat pernikahan kami. Di balik kertas itu, aku membalasnya: Aku bukan lagi penyair. Aku adalah pekerja yang kehabisan kata-kata. Dan, akhirnya, aku menemukan catatan terakhir yang ia tulis dengan tanda baca: Ingat, kau mesti bekerja.
“Kau baru pulang kerja?”
Aku menoleh, lalu mendapati wajah perempuan yang kian kusut. Aku bertanya, “Kau tidak bekerja?”
Ia berpaling, lantas mengempaskan pinggulnya ke kursi rotan. Tak lama, ia menanggalkan tas selempang dari bahunya, memangkunya, lalu meraih ponsel dan berkata, “Aku tak lagi bekerja.”
“Apa kau lupa?”
“Apa?”
“Rencana kita. Setelah lima tahun, kita—”
“Kita bisa menundanya.”
“Sudah bukan waktunya untuk menunda. Kita—”
“Aku dipecat!”
Ia berdiri, dan aku mengalihkan pandangan pada interior rumah kami. Saat ia melangkah ke kamar mandi, aku memutuskan kembali ke kamar tidur.
Untuk pertama kalinya di pernikahan kami, ranjang ini mesti menampung dua orang yang sama-sama tak sedang pergi. Sekelebat pikiran seketika singgah. Maka, mulai kuamati ranjang ini dengan hati-hati. Tanpa guling di bagian tengah, ranjang kami terbilang lebar. Kami bisa bersenggama dengan berbagai posisi seperti yang sering kuamati pada situs-situs tersembunyi. Akan tetapi, ia tak kunjung keluar dari kamar mandi. Ia lama sekali.
“Kau masih di kamar mandi?”
“Iya!”
Aku enggan bertengkar. Pada akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami, aku menarik selimut, lalu membayangkan senyum istriku saat bermasturbasi di kamar mandi.
Pincuran Tujuh, Januari 2026
- Interior Rumah Kami - 10 April 2026
- Pulau Ya - 24 June 2016

Jangkrik
Hmm
Muhammad Danil Saputra
Lahir di jakarta 05, November,2006 saya laki laki saya bisa akan bikin puisi yg berjudul ‘jangan pernah nilai orang dari sisi luarnya saja’
WS. Djambak
Boni memang ga da lawan.
Alfin
Saya pengen kerja
Shabrina
Mau tanyaa, naskah cerpen di web ini perlu pakai paragraf atau nggak ya?